HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Jumat, 16 November 2018

Film “Sum” Raih Penghargaan Ucifest 2018, Sayang Sutradara Tidak Bisa Hadir

16 November 2018

Parno Ridho Saputra (paling kiri), mewakili sutradara film “Sum”, foto bersama salah satu juri Ifa Isfansyah di malam penganugerahan Ucifest 2018.

Purwokertokita.com – Film dokumenter pendek “Sum” karya pelajar Purbalingga meraih penghargaan film terbaik kategori dokumenter pelajar dari Universitas Multimedia Nusantara Animation dan Film Festival (Ucifest) tahun 2018.

Malam penganugerahan digelar pada Kamis (15/11) malam, di kampus yang berada di Tangerang Selatan tersebut. Namun, sang sutradara, Firman Fajar Wiguna dari Brankas Film SMA Negeri 2 Purbalingga tidak bisa hadir pada penganugerahan lantaran tidak ada biaya.
“Karena penyelenggara tidak memberi akomodasi, kami tidak berangkat. Sekolah tentunya tidak mengizinkan. Ingin minta bantuan ke Ibu Bupati, tapi malu,” ujar Firman yang saat ini filmnya masuk nominasi di Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2018.
Firman diwakili Parno Ridho Saputro, kakak kelas sesama pembuat film saat pelajar yang sekarang sedang kuliah di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk menerima penghargaan.

Film dokumenter berdurasi 15 menit ini berkisah tentang perempuan bernama Sum. Ia merupakan bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI). Setelah menghuni penjara selama 13 tahun tanpa pengadilan saat Orde Baru, Sum hidup dalam kesendirian. Dirinya terus menunggu berbaliknya realita zaman.

Salah satu juri, Ifa Isfansyah, usai pengumuman pemenang mengatakan, film “Sum” dianggap mampu menawarkan keberanian untuk membicarakan suara-suara yang penting dan jarang didengar. 
“Tugas selanjutnya, bagaimana isu itu benar-benar terdengar artinya setelah film ini jadi, apakah pembuat film mampu untuk membuat suara-suara itu mampu didengar,” jelas produser yang film-filmnya melanglang di festival film luar negeri ini.
Selain “Sum”, film pelajar dari Banyumas Raya yang masuk nominasi di Ucifest yang tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun ke-9 yaitu “Umbul-Umbul” kategori fiksi pelajar dari SMK HKTI II Purwareja Klampok, Banjarnegara dan “Sawah Marjinal” yang masuk kategori non-kompetisi dari SMK YPLP Perwira Purbalingga.


Sebelum penghargaan ini, film “Sum” sempat menyabet penghargaan film dokumenter terbaik Festival Film Purbalingga (FFP) 2018, film terbaik dan film favorit kategori pelajar Solo Documentary Film Festival (Sodoc) 2018 dan nominasi kategori dokumenter pelajar Festival Film Kawal Harta Negara (FFKHN) 2018. (YS)

Sumber: PurwokertoKita 

Konferensi Genosida setelah 1948: 70 tahun Konvensi Genosida



Tanggal: 
7 Desember 2018 hingga 8 Desember 2018

Lokasi: 
Singelkerk, Singel 452 di Amsterdam

Harap dicatat: Konferensi ini akan diadakan dalam bahasa Inggris.
Lembaga NIOD untuk Perang, Holocaust, dan Studi Genosida menyelenggarakan konferensi internasional tentang ulang tahun ketujuh puluh dari Konvensi Genosida.

Korban Teror Merah Ethiopia (foto: Thijs Bouwknegt)
Pada 9 Desember 1948, PBB mengadopsi Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida. Meskipun ada komitmen untuk mencegah genosida dan menghukum pelakunya, beberapa kasus genosida telah terjadi sejak, misalnya di Asia, Afrika, dan daratan Eropa itu sendiri. Jutaan orang telah dibunuh secara kongkrit karena identitas kelompok mereka yang nyata atau yang dirasakan - nasional, etnis, ras, agama, politik. Jenis dampak apa yang telah dimiliki Konvensi, dan jenis perubahan apa yang relevan dalam periode pascaperang? Konferensi multi-disiplin ini akan menyatukan sejarawan, ilmuwan sosial, dan lainnya, untuk mengeksplorasi penyebab, kursus, dan konsekuensi genosida dari perspektif global.


Jumat 7 Desember 2018
17:00 Catatan Penyambutan
17:15 Keynote: Alexander Hinton, “Genosida sebagai Pharmacon: Pencegahan sebagai Racun, Pencegahan sebagai Cure”
18:00 Q & A

Sabtu 8 Desember 2018
9: 30-11: 00, Panel I: Perspektif Konseptual (ketua: Nanci Adler)
Dirk Moses, “Kejahatan Kejahatan? Biaya Hierarki dalam Hukum Pidana Internasional ”
Anton Weiss-Wendt, “Bukan Kejahatan Saya: Kekuatan Besar Menegosiasikan Konvensi Genosida, 1946-48”
Ingjerd Brakstad, "Genosida Budaya, Komisi Kebenaran dan Kesadaran Publik tentang Konvensi Genosida"
Jeremy Sarkin & Grażyna Baranowska, “Penghilangan Paksa dan Pembantaian”
11:00 Kopi
11: 15-12: 45, Panel II: Sub-Sahara Afrika (kursi: Thijs Bouwknegt)
Bert Ingelaere, “Percayalah pada Buntut Kekerasan Massal: Wawasan dari Histori Kehidupan Rwanda dan Burundian”
Solange Fontana, “Apa yang harus dilakukan etnisitas dengan itu? Mobilisasi, Kekerasan, dan Hubungan Sosial di DR Kongo Timur ”
Clemence Pinaud, “Kekerasan terhadap warga sipil di Sudan Selatan: Dari pembersihan multi-etnis hingga genosida”
Ornella Rovetta, “Tribunal Antara Utopia dan Diplomasi: Menilai Genosida terhadap Tutsi (1994-2015)”
12:45 Makan siang
14: 00-15: 30, Panel III: Asia Tenggara (kursi: Eveline Buchheim)
Simon Yin, "Peran Tiongkok dalam Genosida Kamboja"
Stephanie Benzaquen, “Sejarah Visual dari 'Genosida Kamboja'”
Grace Leksana, “Lima Puluh Dua Tahun Setelah Genosida 1965: Studi Mikro di Desa Jawa”
Patrick Hein, “Sebuah Perspektif Perbandingan tentang Kekerasan Kolektif di Asia Tenggara”
15:30 Kopi
15: 45-17: 15, Panel IV: Perpetration (kursi: Barbora Holá)
Kjell Anderson, “Apakah Membunuh Sulit? Refleksi dari Penelitian Perpetrator ”
Marcia Esparza, “Aksi Sipil: Reiterasi Kolonialisme”
Ayhan Işık, “Kekerasan Paramiliter di Turki: Pembantaian 1992 di Cizre”
Iva Vukušić, “Kekerasan Paramiliter dalam Arsip ICTY”
17:15 Reflections (Uğur Ümit Üngör)
17:30 SELESAI

Selasa, 13 November 2018

Tragedi Semanggi I dan Mandeknya Peradilan HAM di Indonesia


Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 13 November 2018

Ilustrasi Aksi Kamisan menuntut keadilan bagi korban pelanggaran HAM. tirto.id/Sabit

Hingga hari ini, korban pelanggaran HAM dalam Tragedi Semanggi I belum mendapatkan keadilan.
 “Jaga diri ya, Wan, situasinya kan seperti ini. Di kantor ibu dijaga ketat. Banyak sniper yang bertugas per lantai dan nanti akan ada tembakan bebas,” kata Maria Catarina Sumarsih kepada anaknya, Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan melalui sambungan telepon. "Wawan menurut, tidak keluar kampus."

Sumarsih, PNS di Gedung DPR RI, pada 13 November 1998, tepat hari ini 20 tahun lalu, sempat menelepon Wawan. Sumarsih melihat Gedung DPR dikelilingi milisi sipil Pasukan Pengamanan Swakarsa atau Pam Swakarsa. Pada siang harinya, Sumarsih bergegas pulang lantaran ada imbauan dari Wiranto yang kala itu menjadi Panglima ABRI.

Sementara itu di Atma Jaya, kampus Wawan, aparat keamanan sudah merangsek masuk ke dalam kampus. Desingan peluru sesekali terdengar. Wawan menghampiri salah satu aparat, meminta izin untuk membopong seorang korban tembakan yang terkapar di halaman kampus. Setelah mendapat izin, Wawan mengeluarkan kain berwarna putih sebagai tanda tim medis.

Namun, saat akan membawa korban, peluru tajam justru menghantam dadanya. Wawan pun tersungkur. 

“Dari pagi dia memakai id card tim relawan kemanusiaan. Di tasnya dia bawa obat-obatan. Itu di tasnya masih ada sampai sekarang, baunya obat-obatan,” kata Sumarsih kepada Tirto, Jumat (29/9/2016).
Menjelang pukul 17.00 WIB, telepon rumah Sumiarsih berdering. Inisiator pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) Kerusuhan Mei 1998, Ignatius Sandyawan Sumardi, menghubunginya.

Belum selesai Sandyawan menyampaikan informasi, Sumarsih menyela, 

“Bagaimana Wawan, bagaimana Wawan, bagaimana Wawan?” Hingga suaminya mengambil alih telepon rumah itu, Sumarsih hanya bisa menangis dan terus berdoa saat mendapat kabar bahwa Wawan berada di Rumah Sakit Jakarta.
Untuk sampai ke rumah sakit tersebut, dia harus melewati Universitas Atma Jaya. Sumarsih menggambarkan situasinya seperti perang. Suara senapan masih terdengar. Banyak kilatan percikan api di udara. Tak jauh dari kampus, banyak orang berlarian dan terjadi kemacetan karena mobil yang ingin putar balik.

Di basement Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih bergegas masuk kamar jenazah. Di situ, dia melihat anak sulungnya terbaring dengan jempol kaki kanan dan kiri diikat kain putih. Sumarsih lantas memeriksa sekujur tubuh Wawan. Sejenak dia letakkan kepalanya di perut Wawan yang terlihat tipis. 

“Wan, perutmu tipis. Kamu lapar ya, Wan? Oh, Wan, kamu ditembak,” tangis Sumarsih pecah untuk kesekian kalinya.
Di bagian dada Wawan ada lubang yang menembus baju warna putihnya. Bercak darah tak banyak, tetapi lubang peluru itu menganga sebesar tutup bolpoin. Di sekeliling lubang, kulit Wawan gosong. Warnanya merah kecoklatan, seperti luka bakar akibat disundut rokok. Ketika memandikan anaknya, Sumarsih mengetahui peluru tak tembus ke belakang tubuh, melainkan bersarang di dalam.

Sumarsih dengan berat hati akhirnya mengikuti saran orang-orang dekatnya untuk melakukan autopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat kembali melintasi Kampus Atma Jaya, mobil ambulans yang dia naiki diberondong senjata.

“Tundukkan kepala, tundukkan kepala, mobil kita ditembaki,” kata Sumarsih menirukan instruksi Nur, sopir ambulans. Setelah berondongan mereda, ambulans kembali melaju.


Peluru Tajam Standar ABRI

Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna, menjelaskan pada Sumarsih bahwa anaknya ditembak dengan peluru tajam standar ABRI. 
“Iya, kalau tidak percaya coba tanyakan ke Dokter Budi, dia orangnya baik kok,” katanya berupaya meyakinkan.
Hari-hari Sumarsih mendadak gelap. Dia tak siap bertemu siapapun. Di pojokan ruang tamu, tepat di samping tempat yang pernah dipakai untuk menyemayamkan jenazah Wawan, Sumarsih menghabiskan waktu duduk di sana. Kala itu dia terus merapal doa, menangis dan melamun.

Sumarsih mendapat cuti selama tiga bulan. Tiga minggu pertama, dia tak mengonsumsi apapun. Hingga di akhir minggu ketiga, dia hanya meminum setengah gelas air hangat dan sudah merasa kenyang. Ketika mencoba memakan nasi, tenggorokannya serasa seperti tercekik. Hingga kini, Sumarsih tak pernah lagi mengonsumsi nasi.

Tiap hari dia rutin mengunjungi makam Wawan sebelum berangkat kerja. Setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu dia berpuasa. Rutinitas itu mulai jarang dilakukan semenjak 2011, setelah pensiun dan divonis dokter menderita glaukoma.

Hingga kini, pada saat jam makan malam wajib bersama, Sumarsih selalu menyediakan satu piring yang diletakkan secara telungkup. Sendok dan garpu diletakkan di atasnya. Sedangkan di sampingnya, tersedia satu gelas yang sudah diisi air putih.

Obrolan di meja makan tersebut beragam, mulai dari aktivitas keseharian, politik, hingga menu makan besok. 

“Tiap makan bersama selalu begini. Itu kursi tempat Wawan biasa makan bersama kami dulu. Dia pernah cerita, di meja ini kalau namanya tercantum di list BAIS. Dia sempat ingin berhenti kuliah gara-gara itu,” ujarnya.
Wawan adalah salah satu dari 17 korban peristiwa Semanggi I. Beberapa korban lainnya ialah Tedy Mardani (Mahasiswa ITI ditembak dengan peluru tajam), Sigit Prasetyo (Mahasiswa YAI ditembak dengan peluru tajam) dan Engkus Kusnaedi (Mahasiswa Unija Pulau Mas ditembak dengan peluru tajam),

Masih ada Heru Sudibyo (Mahasiswa STIE Rawamangun), Muzammil Joko Purwanto (Mahasiswa UI), Uga Usmana (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah), Lukman Firdaus (pelajar), Agus Setiana (pelajar), Doni Efendi (Karyawan Toko di Pasar Bendungan Hilir), Rinanto (Satpam Hero Supermarket), Budiono, Sidik, Sulwan Lestaluhu, Sulaeman Lestaluhu, Wahidin Nurlete, dan Budi Marasabesy.


Pasien Obati Pasien Lainnya

Butuh waktu panjang bagi Sumarsih agar tak selalu menyalahkan diri karena kehilangan anak. Dia yakin tak sendiri merasakannya. Di luar sana, banyak keluarga korban kejahatan HAM yang dilakukan negara. Karena itu, seiring makin tebalnya pengetahuannya atas HAM, Sumarsih justru menjadi "pasien" yang mengobati "pasien" lain.
“Kami para orang tua korban, saling menguatkan,” ungkapnya.
Pernah suatu kali pada, pada Rabu (15/9/1999), melalui aksi damai, dia beserta para aktivis dan keluarga korban berniat audiensi ke Dephankam. Namun, di dekat McDonald Pasar Sarinah, mereka diadang aparat keamanan bersenjata lengkap. Suasana mendadak chaos. Peserta aksi damai dipukuli, ditendang, dan dikejar-kejar. Banyak yang patah tulang dan keseleo. Sedangkan koordinator lapangan Azas Tigor Nainggolan ditembak dengan peluru karet.

Sumarsih tak patah arang. Semangatnya justru kian menyala begitu merasakan penanganan demonstrasi yang dilakukan secara represif.

Pada 18 Januari 2007, Sumarsih bergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK). Ia dan Suciwati, istri Pejuang HAM Munir Said Thalib, didampingi para aktivis, berhasil mengumpulkan para penyintas dan keluarga korban pelanggaran HAM. Mereka menolak lupa atas berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan negara pada warganya melalui aksi 'Kamisan'. Aksi damai di seberang Istana Negara itu terinspirasi aksi ibu-ibu Plaza de Mayo Argentina yang menolak lupa pada kebengisan rezim junta militer.



Upaya JSKK sedikit mendapat angin setelah keluarnya rekomendasi DPR RI agar presiden membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, pada 28 September. DPR juga merekomendasikan agar presiden, segenap institusi pemerintah, serta pihak-pihak terkait, segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh Komnas HAM dinyatakan menjadi korban penghilangan paksa.

Rekomendasi itu merupakan putusan dari sidang paripurna yang kedua kalinya, setelah sebelumnya sempat deadlock. Sumarsih pernah bertindak nekat saat menyaksikan sidang tersebut.

“Saya masukkan telur ke kotak kue. Di atasnya kue pisang, di bawahnya telur. Dalam sidang paripurna saat deadlock, saya lemparkan telur. Telur pertama saya lempar ke Fraksi ABRI, terus ke pimpinan sidang, terus saya asal ngelempar, terus satunya ke Fraksi Golkar,” tutur Sumarsih.
Namun hingga kini, Pengadilan HAM ad hoc ternyata tak kunjung digelar. Meski begitu, aksi Kamisan tak pernah libur untuk menyuarakan pengungkapan berbagai kasus pelanggaran HAM.

Suciwati sendiri menegaskan bahwa langkah Presiden Jokowi mengangkat beberapa terduga pelanggar HAM, salah satunya Menkopolhukam Wiranto, merupakan langkah mundur. Jokowi justru menuntup pintu bagi penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

“Jokowi naik karena Hak Asasi Manusia, tapi kemudian ‎lupa. Kita bisa lihat. Yang jelas Wiranto itu dipecat karena kasus pelanggaran HAM, dia enggak belajar apa?” kata Suciwati kepada Tirto, Sabtu (30/9/2016).
Sementara Puri Kencana Putri, Wakil Koordinator KontraS, berharap Jokowi segera membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dia juga menyarankan Jokowi mendengar langsung keluhan dan pendapat korban beserta keluarga korban pelanggaran HAM.
“Orang-orang seperti Ibu Sumarsih dan para ibu yang anaknya diculik lainnya, masih ingin tahu di mana anaknya berada, siapa pelakunya, siapa yang harus bertanggungjawab,” tegasnya.
Tragedi Semanggi I menelan 17 korban jiwa yang sebagian besar merupakan mahasiswa. 
_________
Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 4 Oktober 2016 dengan judul "Habis Gelap Tak Kunjung Terang" dan merupakan bagian dari laporan mendalam tentang penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.


Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id 

Minggu, 11 November 2018

Megawati Sebut Ada Upaya Menutupi Fakta Sejarah G30S 1965


Reporter: Syafiul Hadi | Editor: Syailendra Persada
Minggu, 11 November 2018 10:17 WIB

Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam Diplomasi Ekonomi dari Fujian Normal University (FNU), Fuzhou, Cina pada hari ini, Senin, 5 November 2018. ISTIMEWA

Jakarta - Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengatakan masih banyak cerita sejarah bangsa Indonesia belum terungkap sampai sekarang. Salah satunya, kata dia, adalah peristiwa pada tahun 1965.
"Ketika tahun 1965 terjadi sebuah peristiwa di republik ini yang benar-benar menurut saya secara politik itu termasuk noda hitam dari republik kita," kata Megawati dalam pidato wawasan kebangsaan di acara Purna Paskibraka Indonesia, Jakarta, Sabtu, 10 November 2018.
Megawati menyampaikan pidato wawasan kebangsaan ini berkaitan dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November ini. Di depan seluruh anggota Purna Paskibraka Indonesia, dia menyinggung bagaimana generasi muda Indonesia tak mengeri sejarah karena masih banyak yang disembunyikan.

Pada tahun 1965, terjadi insiden yang disebut Gerakan 30 September. Cerita sejarah versi pemerintah Orde Baru menyebutkan kejadian ini merupakan pengkhianatan PKI dengan menculik dan membunuh beberapa jenderal TNI.

Menurut Megawati, peristiwa 1965 ini sampai sekarang masih ditutup-tutupi. Sebab, dia mencontohkan, masih banyak anak-anak sekolah yang tidak mengerti apa sebenarnya terjadi kala itu. 
"Saya jadi berpikir, seperti apa sebenarnya sejarah yang diberikan kepada anak-anak sekolah untuk mengetahui realita sejarah bangsanya yang benar," katanya.
Megawati menyayangkan bagaimana peristiwa sejarah di Indonesia masih belum lengkap secara asli. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menilai kejadian sejarah di negara ini tidak diurutkan dengan benar karena ada beberapa yang masih disembunyikan. 
"Tak boleh sejarah itu diputar balik," kata dia. "Suatu saat pasti akan terbuka kebenaran daripada sejarah itu sendiri."

Sumber: Tempo.Co 

Sabtu, 10 November 2018

Komunisme dan Emosi Yang Bertautan di Indonesia


10.11.2018 | Anggun C Sasmi


Dalam sejarah bangsa Indonesia, sekian lama orang hanya didoktrim bahwa komunisme menoreh episode hitam. Namun orang-orang tak pernah dibiarkan untuk mengenal atau memahaminya. Simak opini Anggun C. Sasmi.

Saya anak ke 2 dari 5 bersaudara. Lahir bukan dari keluarga yang berada atau bangsawan. Almarhum Bapak malah menyebut kami keluarga "kere-wan”.

Bapak saya dulu bukan hanya penulis buku dan seorang intelektual tetapi juga tukang guyon dan tokoh pemberontak di keluarganya sendiri.

Waktu kami mulai masuk SD, Bapak berkeputusan untuk menyekolahkan saya dan adik-adik di satu sekolah swasta Katolik sedangkan kami keluarga Islam. Keputusan ini sempat membuat gempa kecil di keluarga.

Para pakde dan bude datang bergiliran untuk "menasehati” Bapak dan membujuk kami untuk merubah pikirannya. Tetapi tekanan dan intervensi dari mereka tidak berhasil. Bapak menginginkan anak-anaknya mempunyai disiplin dan pandangan yang berbeda, terutama tentang agama. Hingga hari ini saya sangat berterima kasih atas keputusan almarhum, dan dari beliaulah saya belajar arti kata "tegar".

Saya termasuk anak yang suka belajar dan suka sekolah. Atmosfer dan masa-masa itu adalah saat yang sangat menyenangkan.

Kecil-kecil dipaksa nonton film horor


Hanya satu yang tidak saya sukai, setiap tanggal 30 September kami diharuskan menonton film G30S PKI. Bahkan sekolah saya sempat menyewa 1 bioskop yang tidak jauh dari sekolah untuk supaya beberapa kelas bisa menonton bersama. Murid yang absen hari itu diberi tahu untuk supaya tidak lupa menonton film tersebut yang memang ditayangkan oleh TV nasional.

Itu adalah film horor pertama yang pernah saya lihat! Ada banyak adegan penyiksaan dan pembunuhan yang sama sekali tidak wajar untuk dilihat oleh anak-anak kecil. Entah mengapa badan sensor di Indonesia yang tugasnya memberi etiket PG Ratings, film 17 tahun keatas, film dewasa dll, memberi pengecualian yang istimewa terhadap film ini.

Yang saya pahami dari film tersebut adalah PKI itu barbar, kejam, mereka harus diberantas. Itu saja yang saya tahu, selain itu tidak ada lagi. Saya mencoba bertanya ke Bapak dan jawabannya adalah nanti akan ada saatnya kita bicara tentang hal ini. Kala itu umur saya baru 8 tahun.

Sayapun mendengar kata "tabu” saat itu, tidak boleh diomongkan, bahkan mungkin bisa bahaya.

Kesannya seperti Lord Voldemort dalam film Harry Potter dengan julukan "He-Who-Must-Not-Be-Named”.

Masa pun berlalu dan pada akhir 1992, saya sudah menjadi penyanyi dengan beberapa hit album. Akhir tahun itu saya sedang memproduksi album terakhir di Indonesia yang saya beri judul "Anggun C. Sasmi… Lah!!!”. Terus terang sekarang saya tak habis pikir kenapa bisa memberi judul album seajaib itu?

Lagu-lagu sudah terekam, saya lalu harus membuat cover album. Mulailah cari opsi beberapa fotografer dan grafis desainer. Saya dengar dari teman-teman saya nama Dik Doank.

Setelah beberapa kali meeting dan melihat hasil desain mas Dik, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan bakatnya. Album saya dirilis dengan dua desain berbeda untuk kaset dan CD.

Setahun kemudian ada masalah besar dengan mas Dik Doank. Dia membuat cover dan booklet album mbak Atiek CB yang berjudul "Magis”.  Di salah satu gambar di booklet album, tampak gambar Mbak Atiek yang sangat terkenal dengan ciri khas kaca mata hitam dikelilingi guntingan foto dan gambar orang ada juga patung yang memakai kaca mata hitam. Bagus sekali idenya.

Tapi ternyata ada kontroversi yang besar. Di salah satu foto di booklet tersebut, ada satu orang yang memakai kalung palu arit. Tiba-tiba hal ini menjadi sebuah kasus yang mengguncangkan dunia musik di Indonesia. Hanya karena ada gambar palu arit yang kecil sekali di booklet album.

Lord Voldemort…

Saya meninggalkan Indonesia menuju ke Inggris untuk mencoba berkarier di luar negri pada akhir tahun 1994. Umur saya 20 tahun, masih muda dan polos sekali. Semua yang saya tahu dan pelajari hanya semua yang saya dapat di Indonesia.

Tahun 1995, saya meninggalkan Inggris untuk menetap di Perancis. Saya tiba pada saat kampanye presidensial. Dari semua partai yang mengkampanyekan kandidatnya, ada Partai Komunis! Terus terang bulu kuduk saya langsung berdiri! Teringat adegan-adegan sadis di film G30S PKI yang sampai sekarang tidak mungkin bisa saya lupakan.

Saya kaget kok bisa-bisanya satu negara membiarkan komunisme berada? Tahukah pemerintah siapa sebenarnya mereka? Apa yang telah mereka lakukan?

Kala itu tentu saja saya tidak mengetahui banyak hal tentang komunisme, bagaimana mungkin bisa tahu wong selama di Indonesia kita tidak mempunyai akses untuk mempelajari apapun tentang komunisme. Tidak tahu siapa Marx, siapa Trotsky.

Yang hanya kita dapati adalah kepastian bahwa komunisme menoreh episode hitam di sejarah bangsa Indonesia. Titik.

Membuka tabir dan meluruskan sejarah

Suami saya berasal dari Jerman. Seperti layaknya seorang putra bangsa, dia diwajibkan untuk mengabdi kepada negaranya dan menjadi prajurit. Saat berumur 19 tahun dia berada di Angkatan Udara Jerman. Tugasnya kala itu adalah mempelajari semua jenis pesawat militer (Luftraumbeobachter) sampai khatam, dan setelah itu ditugaskan untuk tinggal di hutan agar bisa mengintai, memata-matai dan mengkonfirmasi ke stasiun radar, semua jenis pesawat militer yang lewat dan dalam urutan yang jelas. Ini juga termasuk untuk pesawat-pesawat musuh Jerman kala itu.

Walau hanya beberapa tahun menjadi prajurit tetapi untuk kualitas tugasnya, suami saya diberi Medali Kehormatan, Ehrenmedaille der Bundeswehr dari Menteri Pertahanan.

Saya mengenal suami sejak sembilan tahun lalu dan kami memutuskan untuk menjadi pasangan hampir enam tahun ini. Salah satu yang saya sukai dalam hubungan kami adalah komunikasi, suami seorang intelektual, kami selalu ngobrol dan topiknya luas sekali, musik tentunya, kehidupan, budaya dan terutama filosofi karena dulu dia belajar di universitas mengambil jurusan ini.

Dia pun menjelaskan saya tentang tragedi hitam di Jerman, yaitu Nazisme. Bedanya semua orang Jerman sadar tentang sejarah mereka. Mereka mempelajari tentang kejadian yang dampaknya masih bisa dirasakan hingga hari ini di dunia. Pemerintah memberi mereka akses untuk menelaah fakta, memahami juga mempelajari berbagai aspek dalam kejadian ini. Dipelajari agar tragedi yang sama tidak terulang kembali. Ini membuat saya tergugah.

Komunisme adalah ideologi politik yang telah terbukti tidak berhasil. Obsolete. Sebenarnya hanya itu. Contoh konkretnya banyak di berbagai negara, Kuba, Cina, Jerman Timur versi dulu dan juga Rusia atau Soviet.

Tetapi kejadian 30 September memberi pengertian yang lain yang sampai sekarang telah mendarah daging di banyak sisi emosi orang di Indonesia.
Ada kesalahpahaman karena tidak adanya penjelasan ataupun pengertian. Hanya ada ketakutan. Ketakutan itu sampai ada di gambar palu arit kecil dalam booklet album Atiek CB, juga ada di Festival buku di Ubud yang terpaksa dibatalkan karena tadinya akan berdiskusi tentang peristiwa tahun 1965.

Apakah isu sensitif tidak mungkin dibicarakan sama sekali? Keterbukaan di Jerman memberi arti khusus yang berada di ingatan kolektif orang-orang Jerman. Mereka akan selalu ingat sejarah mereka yang amat sangat berat dan akan selalu menjadi bagian dari identas mereka, walaupun mereka mau ataupun tidak. Tetapi satu yang jelas, mereka tidak lupa.

"All that is sacred and taboo in the world are meaningless,” kata Anaïs Nin.

Sumber: DW.Com 

Kamis, 08 November 2018

Laut


1

Saduran adaptasi novel "The Old Man and the Sea" karya Ernest Hemingway



Cahaya fajar merambat di antara celah kabut subuh yang mulai transparan. Si Nelayan tua dengan nafas yang melenguh. Terus mendaki ketinggian dataran di atas pantai berpasir yang melandai.

Di kejauhan tersandar perahunya, sehabis bertarung dengan deru arung ombak yang berdebur berkesinambungan. Sejenak ia menatap jauh kesana. Sampai kesebalik ujung batas garis cakrawala. Di atas permukaan laut yang samar melangut.

Ia telah melampawi suatu fase dalam salah satu pengalamannya. Selaku daya juang manusia yang tangguh.. Bukan hanya melalui pertarungan yang keras dan sengit melawan alam. Dengan gelombang ombak yang menerjang tanpa ampun. Tapi juga terutama bergulat menghadapi mahluk-2 buas yang ganas merajai lautan.

Ketika, di tengah lautan hampir sepanjang hari. Umpan di mata kailnya lama tak tersentuh. Tiba-2 tersambar dan direnggut dengan kencang oleh seekor ikan Todak yang besar.

Nah, dari sanalah dimulai pertarungan di antara dua mahluk yang berbeda. Sepercik darah muncrat dari mulut ikan tangkapan yang terluka oleh mata kail. Telah mengundang sebagai pemicu. Segerombolan ikan hiu ganas memburu sang korban dalam pesta pembantaian yang dahsyat. Di antara mereka, selaku mahluk sejenis.

Mau tak mau si nelayan tua terpaksa turun tangan untuk bergabung dalam pertarungan segi tiga. Dengan mengandalkan sebilah dayung yang tergenggam di tangan kekarnya. Untuk menggempur ikan-2 hiu lapar yang semakin lama kian mengganas memangsa sang korban.

Kini, setibanya di ketinggian pantai. Matahari terbit yang berkelindan di antara arakan kabut subuh yang kian menipis. Nafas si nelayan tua yang terengah berdengus perlahan. Sambil berjalan menghela tarikan tali dibahunya. Yang terhubungkan kemoncong seekor ikan laut yang tinggal kerangka.

Seiring dengan sinar matahari pagi yang memancar terang benderang. Si Nelayan tua, bagaikan sosok manusia perkasa, berdiri di pantai. Tegak menjulang menggapai langit cerah.

Hatinya jauh dari rasa kesal dan kecewa. Betapapun ikan tangkapannya hanya tinggal kerangka tulang-belulang. Tak apa! Untuk santapan menu sarapan pagi bersama keluarganya yang menunggu di rumah. Telah menjadi masa lalu.

Ia kini tinggal sebatang kara. Karena ketika ia sedang melaut, semua keluarga termasuk bini dan anak-2nya. Telah menjadi korban tenggelam dalam lumpur dari peristiwa gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Bahkan kini ia disebalik kebanggaan berpikirnya. Bahwa ia sadar, manusia sebagai mahluk alam species terting gi yang telah ditakdirkan. Mau tak mau senantiasa hidup diuji terus menerus secara simultan. Melawan berbagai tantangan apapun, di manapun dan kapanpun.
Untuk menjadi mahluk pemenang yang tak terkalahkan....

2


Ia menitikkan air matanya sambil tersedu. Dihadapannya duduk serombongan keluarga korban peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang. Banyak di antara tamu lainnya ikut berkaca-kaca sepasang matanya. Terbenam dalam suasana duka-cita yang lirih.

"Kami bertekad bulat terus mencari! Sedaya upaya dan kemampuan kami yang ada terhadap korban tersisa lainnya", sambil menghapus airmatanya, ia berkata terbata-bata. Para tamu yang banyak, membiarkan saja ia terhenti berbicara. Lama terdiam. Bahkan sampai beranjak diri pergi meninggalkan ruangan.

Dia adalah Kepala Basarnas Marsdya, Muhammad Syaugi. Telah memimpin Tim Gabungan dalam pencarian para jenazah korban. Di antara reruntuhan pesawat yang pecah berkeping-keping. Remuk tercerai berai di area sekitar radius 500 meter. Di perairan laut Tanjung Karawang Jawa Barat.

Pesawat jatuh dalam keadaan kecepatan tinggi. Menukik tercebur di atas permukaan laut. Sehingga menurut para pakar, kehancuran pesawat justru pada saat itu. Ketika terbentur air laut yang menjadi keras. Jadi bukan karena meledak diudara.

Dengan mengorbankan 189 nyawa manusia. Terdiri dari para penumpang dan crew pesawat. Tanpa segelintir orangpun yang hidup selamat. Suatu tragedi kecelakaan pesawat yang paling mengenaskan. Di antara sekian peristiwa musibah semacam itu yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.

Terasa di bawah pemerintahan Jokowi, perhatian dan kepedulian atas musibah kecelakaan pesawat ini sedemikian besar. Medsos, media cetak dan elektronik, seperti TV. Meliput dan menayangkan breking-news secara reguler di waktu yang panjang. Di setiap hari selama berminggu'minggu.

Drama kemanusiaan yang krusial justru berkelindan merasuki ranah lingkungan mereka yang masih hidup. Ketimbang dengan nasib para korban 189 nyawa yang telah mati tersebut, bebannya menjadi nol total. Kecuali pencarian identifikasi nama-2 mereka untuk diketahui dan didaftarkan bagi keluarganya.

Seperti yang menimpa dan mendera nasib seorang aparat birokrasi pemerintahan bernama Syaugi. Yang menangis tersedu, ketika dibebani tugas dan tanggung jawab memimpin tim SAR gabungan. Untuk mencari 189 jenazah korban yang telah hancur terpencar dalam keadaan relatif tak utuh lagi. Berada terpendam di bawah lumpur dikedalaman dasar laut sekitar 35 hingga 40 meter.

Selaku aparat negara dengan perangkat mekanisme yang teratur secara reguler. Koordinasi tim pelaksanaan kerja yang terbantu oleh tehnologi relatif berkwalitas tinggi dan canggih. Ia mungkin laksana mesin robot yang dapat bergerak cepat secara dinamis tanpa banyak kendala. Dalam menghadapi tantangan tehnis di lapangan. Betaoa rumitnya sekalipun.

Namun, sebagai pribadi manusia yang punya kepekaan perasaan kemanusiaan. Iapun rentan meneteskan airmata tersentuh kesedihan. Tentu perasaan pak Syaugi tak hanya terharu oleh para keluarga korban yang berduka karena rasa kehilangan yang dalam. Namun terutama juga ketika beliau menyaksikan dan mengkhayati secara langsung di saat-2 berada di lokasi lapangan. Apa yang terjadi?

Bayangkan! Setiap hari di siang dan malam, mereka menerjuni dan menyelam dikedalaman laut yang penuh misteri. Menelusuri dan mengais sosok jenazah yang sudah terkeping-keping. Menjadi daging bangkai yang terpotong-potong secara terpencar dan terpisah. Di antara timbunan lumpur dan puing-2 serpihan rongsokan pesawat yang rusak dan hancur lebur.

Terpaksa mereka mengumpulkan potongan-2 tubuh manusia yang terserak kedalam kantong-2 plastik. Untuk kemudian diidentifikasi melalui prosesi secara khusus yang tentu saja lebih rumit.

Sehingga dengan demikian secara manusiawi adalah wajar. Jika kandungan airmata Pak Syaugi juga digenangi oleh suatu rasa depresi kelelahan psikis yang berat, tak terhindarkan. Bahwa rutinitas tanggungjawab kerja memimpin tim SAR gabungan yang kompleks semacam itu. Ternyata bukan berarti dapat menghilangkan rasa trauma kemanusiaan yang menyentuh.

Inilah yang mungkin dirasakan oleh seorang humanis Syaugi. Yang kebetulan membidangi Tim SAR kelautan. Selaku pimpinan elit birokrat pemerintahan demokratis Jokowi.

Pertanyaan akhir kita. Dimanakah berada rasa moral kemanusiaan seperti yang dimiliki pak Syaugi. Terhadap para jenderal AD, di bawah rezim otoriter Orde Baru. Ketika mereka terlibat dalam pembantaian massal (genosida) di peristiwa '65 ?

Konteks latar belakang sikonnya memang berbeda. Tapi dapat dipastikan. Jikapun ada jenderal yang berjiwa semacam pak Syaugi. Berada di bawah naungan sistem kekuasaan rezim fasis yang reaksioner. Maka ia akan menjadi jenderal yang tiarap, munafik, dipindah 4tugaskan atau menjadi korban pemecatan tidak hormat. Itu sudah lazim diberlakukan. Tapi yang terjadi dalam sejarah. Ada yang menonjol, malah adalah sebaliknya.....

Sumber: Misbach Tamrin 

Rabu, 07 November 2018

Militer Korea Selatan Mohon Maaf ke Ratusan Korban Pemerkosaan


Reporter: Non Koresponden
Editor: Maria Rita Hasugian
Rabu, 7 November 2018 17:48 WIB

Menteri Pertahanan Korea Selatan Jeong Kyeong-doo membungkuk untuk memohon maaf kepada ratusan perempuan korban pemerkosaan tentara saat unjuk rasa di Gwangju Mei 1980. [Yonhap]

Jakarta - Kementerian Pertahanan Korea Selatan secara resmi menyatakan permintaan maaf atas pemerkosaan lebih dari 200 perempuan termasuk gadis remaja saat berlangsung unjuk rasa besar-besaran kelompok pro demokrasi di Gwangju pada tahun 1980.
"Atas nama pemerintah dan militer, saya membungkuk dan menyampaikan maaf untuk yang tak terkatakan, bekas luka yang dalam dan luka yang dialami para korban tak berdosa," kata Jeong Kyeong-doo, Menteri Pertahanan Korea Selatan dalam konferensi pers di kantornya di Seoul, Rabu, 7 November 2018, seperti dikutip dari Yonhap News.
"Para korban termasuk remaja dan perempuan muda, termasuk pelajar perempuan dan wanita hamil yang bahkan tidak ikut berunjuk rasa," kata Jeong.

Selama konferensi pers yang ditayangkan secara nasional di televisi Korea Selatan, Jeong berjanji akan memulihkan harga diri korban dan mencegah peristiwa pahit ini agar tidak terulang kembali. Militer juga diingatkan untuk mendukung warga negara, bukan mereka yang berkuasa.

Sehari sebelum Kyeong-doo menyampaikan permohonan maaf, Perdana Menteri Lee Nak-yon sudah lebih dahuku menyatakan maaf kepada para perempuan yang menjadi korban serangan seksual pasukan militer pada 1980.

"Ketidakadilan menggerakkan kekuasaan negara untuk menginjak-injak hidup para perempuan... saya merasa sedih tak terkatakan dan menyesal," kata Nak-yon.

Pernyataan maaf Jeong disampaikan seminggu setelah tim pencari fakta pemerintah mengumumkan ada 17 kasus penyerangan seksual oleh tentara saat darurat perang dipicu unjuk rasa besar-besaran di Gwangju.

Menurut data resmi pemerintah, lebih dari 200 orang tewas dan hilang dalam unjuk rasa menolak pemerintahan yang dipimpin jenderal Chun Doo-hwan.

Unjuk rasa berdarah Gwangju terjadi saat kudeta militer di Korea Selatan pada Desember 1979. Jenderal Chun Doo-hwan merebut kekuasaan. Ribuan orang menjadi korban dalam kudeta militer.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, para pengunjuk rasa di kota di selatan kota Gwangju dan orang-orang yang melintas dipukuli hingga tewas, disiksa, dan ditusuk bayonet dan tubuh mereka ditembus peluru tajam.

Kelompok konservatif menuding para pengunjuk rasa sebagai pemberontak Komunis.

Seorang pengunjuk rasa bernama Kim Sun-ok dalam satu wawancara di televisi mengaku telah diperkosa oleh penyelidik pada tahun 1980. Saat itu aparat melakukan investigasi kasus pemerkosaan yang terjadi pada saat unjuk rasa. Hasilnya, penyelidik mendata terjadi 17 kasus pemerkosaan yang dialami perempuan Korea Selatan pada unjuk rasa tahun 1980. Namun Kim menolak permintaan maaf tersebut.
"Saya tidak mendengarkan itu karena pengalaman traumatis saya. Jutaan maaf tidak ada artinya kecuali mereka penanggung jawab dibawa ke pengadilan dan dihukum," ujar Kim.
Isu tentara pendukung jenderal Chun memperkosa para perempuan saat unjuk rasa besar-besaran di Gwangju lama disimpan di balik karpet sementara trauma para korban terus diabaikan. Presiden Moon Jae-in membongkar peristiwa pemerkosaan hingga muncul permohonan maaf secara resmi dari pemerintah dan militer Korea Selatan.

Sumber: Tempo.Co 

Benarkah Prabowo Dipidanakan Anak Tokoh PKI DN Aidit?

Oleh: Felix Nathaniel - 7 November 2018


Calon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto menyapa pendukungnya saat berkampanye di Wujil, Kabupaten Semarang, Senin (29/10/2018). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Setelah menjadi pendamping hukum bagi salah satu warga asal Boyolali, Jawa Tengah bernama Dakun untuk melaporkan Prabowo Subianto, Muannas Al Aidid diserang di media sosial. Perundungan itu salah satunya dilayangkan akun Twitter @Jokoedy6 yang diduga milik Djoko Edhi Abdurrahman.

Djoko mencuitkan foto Dakun dan Muannas dipasang bersebelahan dengan foto pimpinan Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara (DN) Aidit, pada Senin (5/11/2018). Dalam foto itu terdapat tulisan, "Ilya Aidit anak DN Aidit yang melaporkan Pak Prabowo."

Di bawah kedua foto itu, terdapat tulisan konspiratif: "Selama ini Pak Prabowo adalah orang yang paling tidak suka dengan komunis. Jadi sampai sini paham kan..??"

Cuit akun Twitter @Jokoedy6 sebelumnya, "Yg menarik perhatian, yg laporkan Prabowo ke polisi adalah anak tokoh PKI, DN Aidit, Ilya Aidit. Ketemu musuh bebuyutan!"

Isu tersebut dimunculkan usai Muannas Al Aidid melaporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya. Laporan ini terkait ucapan "tampang Boyolali" dalam pidato Prabowo di Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu. Prabowo diduga mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian.

Al Aidid Marga Keturunan Nabi

Muannas menampik tuduhan akun @Jokoedy6 itu. Menurut Muannas tuduhan tak punya dasar yang jelas dan sampai sekarang, tidak ada bukti Dakun ataupun dirinya adalah keturunan dari DN Aidit.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menyebut nama Aidid yang dipakainya dipelintir sejumlah orang tak bertanggung jawab seolah-olah namanya adalah Aidit. Al Aidid, kata Muannas, adalah nama Habaib atau nama yang kerap dipakai keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan data yang dihimpun Tirto dari Rabithah Alawiyah, nama Al Aidid tercatat sebagai nama Gabillah Saadah Alba’awaiy di dunia.

"Hubungan dari mana itu nama Habaib sama PKI? Itu kan narasi-narasi mereka [orang yang berseberangan dengan Muannas]. PKI terus. Tuduhan mereka cuma bisa gitu," kata Muannas kepada reporter Tirto, kemarin (6/11/2018).
Isu "Aidid keturunan PKI" sebenarnya sudah dimainkan sejak dia menjadi pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada 2017. Jonru Ginting yang berbeda pandangan dengan Muannas Al Aidid mempelesetkan namanya Al Aidid menjadi Aidit di status Facebook-nya.
Infografik HL Indepth Hoaks

Kabar bohong itu kemudian menyebar dan banyak meme bermunculan yang membingkai Al Aidid bagian PKI. Hasilnya, Jonru dilaporkan ke kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Mungkin ada kekhawatiran Pak Prabowo mereka pikir bakal kayak Ahok [dijerat pidana]. Dulu kasus Ahok, kan, hampir sama, dia mencalonkan terus melaporkan, terus ada gerakan massa. Kemudian kalau isu ini [pelaporan Prabowo ke Polda Metro Jaya] dibiarkan bergulir, ini bisa membahayakan Prabowo," kata Muannas mengklaim.
Masalah PKI ini, kata Muannas, tak muncul sebelum dia memutuskan jadi pendukung Ahok dan Jokowi. Pada 2008, Muannas Al Aidid ikut membela Rizieq Shihab dalam kasus penyerangan jemaah Ahmadiyah di Monumen Nasional atau lebih dikenal dengan Insiden Monas. Dengan pembelaan Muannas, Rizieq divonis penjara 1 tahun 6 bulan.

Sebelumnya pada 1999, Muannas juga bergabung dalam Tim Pengacara Muslim bentukan Achmad Michdan. TPM terkenal karena sering membantu advokasi terduga teroris seperti pelaku Bom Bali I dan II, pelaku bom Kedutaan Besar Australia, pelaku bom Cimanggis, dan juga Abu Bakar Ba’asyir.

"Dulu enggak ada [tudingan PKI] karena mereka tahu saya keturunan Habaib. Sekarang mereka hoaks, aja, dan fitnah karena enggak cocok dukungan. Ampun, dah," kata Muannas.

Elite Partai Harus Edukasi Simpatisannya

Muannas Al Aidid tak mau melaporkan akun @Jokoedy6. Menurutnya pelaporan itu hanya buang-buang tenaga.

Langkah Muannas diapresiasi Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax (MIAH) Septiaji Eko Nugroho. Septiaji berkata langkah itu tepat karena pelaporan pidana adalah cara terakhir untuk menyelesaikan masalah.

"Kalau ada konflik sosial untuk saling sebar hoaks, itu solusi adalah untuk mediasi," ujar Eko kepada reporter Tirto.
"Karena kalau pidana, pertama penjara akan penuh, dan kedua dendam. Dendam itu enggak akan pernah usai dan akan terus berlanjut," imbuhnya.
Solusi ini ditawarkan Eko lantaran ia menilai klarifikasi atas hoaks tidak akan punya hasil efektif. Eko mengibaratkan kejadian ini seperti echo chamber effect, yakni saat seseorang hanya mempercayai apa yang disajikan orang yang sudah mereka percaya sebelumnya, terlepas kabar itu hoaks atau tidak.
"Kuncinya adalah kerelaan dari para elit politik untuk meninggalkan ego mereka dalam berkontestasi politik untuk tidak menghalalkan segala cara," jelasnya.
Saat ini, Mabes Polri tengah sibuk memberantas hoaks yang bertebaran di masyarakat, salah satunya yang diberantas terkait tudingan pada Al Aidid. Namun Kepala Biro Penerangan Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menilai hoaks yang berupa pencemaran nama baik, sebaiknya diadukan karena polisi belum tentu bisa langsung bertindak
"Nanti tim siber akan menganalisis dengan para ahli untuk mengkonstruksikan peristiwa pidananya," tegas Dedi kepada reporter Tirto.
Reporter: Felix Nathaniel 
Penulis: Felix Nathaniel 
Editor: Dieqy Hasbi Widhana


Plesetan Al Aidid menjadi Aidit dimulai saat Muannas menjadi pendukung Ahok pada 2017.

Sumber: Tirto.Id 

Sabtu, 03 November 2018

'Holocaust Tidak Dimulai dengan Pembunuhan; Itu Mulai Dengan Kata-Kata. '

Joshunda Sanders | 3 November 2018
“Saya akan mengatakan kepada orang-orang muda sejumlah hal, dan saya hanya punya satu menit. Saya akan mengatakan, biarkan mereka ingat bahwa ada makna di luar absurditas. Biarkan mereka yakin bahwa setiap perbuatan kecil berarti, bahwa setiap kata memiliki kekuatan, dan yang dapat kita lakukan - setiap orang - bagian kita untuk menebus dunia terlepas dari semua absurditas dan semua kekecewaan dan semua kekecewaan. Dan yang terpenting, ingatlah bahwa makna hidup adalah menjalani kehidupan seolah-olah itu adalah sebuah karya seni. Anda bukan mesin. Ketika Anda muda, mulailah mengerjakan karya seni besar ini yang disebut eksistensi Anda sendiri. ” - Rabi Abraham Joshua Heschel pada tahun 1972, dikutip dari 2012 On Being Interview ini
Tanpa judul (jew) William Anastasi. 1987. Museum Yahudi.

Dalam seminggu sejak 11 orang dibunuh di sinagog Tree of Life di Pittsburgh , saya telah banyak memikirkan tentang Rabbi Heschel, tentang kekuatan kata-kata dan seni untuk penyembuhan, tentang apa tempat penulis atau pendongeng; seseorang yang merupakan orang luar untuk sebuah tradisi tetapi yang patah hati sama seperti dia orang dalam.
Seperti yang dikatakan Heschel di sini, “Setiap kata memiliki kekuatan.” Ini adalah tema, karena sejumlah tanda-tanda yang diadakan dalam kewaspadaan dan dibuat dalam berkabung setelah penembakan itu disampaikan, “Words Matter.”
Baru pada pagi Shabbat ini, satu minggu sejak tindakan keji ini, saya dapat mengingat hampir dua tahun yang lalu persis ketika saya mendengar sesuatu yang serupa untuk pertama kalinya.
Saat itu pada November 2016, ketika kaum nasionalis kulit putih berkumpul di Washington DC untuk memuntahkan retorika kebencian sebagai indikasi lebih banyak lagi yang akan datang. Propaganda Nazi diceritakan dalam bahasa Jerman asli, dan para penonton diyakinkan bahwa Amerika adalah milik orang kulit putih. Museum Peringatan Holocaust AS merilis pernyataan yang mengungkapkan peringatan mendalam. Pengingatnya bersarang di otak saya dan tidak akan meninggalkan itu termasuk kalimat ini:
"Holocaust tidak dimulai dengan pembunuhan, itu dimulai dengan kata-kata."
Saya lebih memperhatikan kata-kata daripada kebanyakan orang, karena saya adalah penulis yang telah mengabdikan hidup saya untuk bercerita. Musim panas ini, saya harus menjadi pendongeng kamp untuk sebuah kamp selancar yang, pada intinya, menjunjung nilai-nilai spiritual Yahudi. Ini adalah sensasi untuk banyak alasan.

Pertama, seperti semua penduduk New York, ada sedikit budaya Yahudi yang merupakan bagian dari masa kecil saya karena di mana-mana di seluruh kota yang beragam ini. Selain dari palet untuk bagel dan asap dengan caper (hanya dari New York, tolong) itu dengan beberapa kesedihan yang saya pelajari bahwa cara yang lebih mudah bagi kebanyakan orang untuk mengatakan nama saya - Shonda - kira-kira diterjemahkan menjadi malu di Yiddish. Di sekolah menengah pertama, di Akademi De La Salle, yang dipimpin oleh Christian Brothers, saya bersyukur memperdalam ekspos terhadap iman Yahudi melalui perjamuan Passover Seder tahunan sebagai komunitas yang diinvestasikan untuk mengenali keindahan tradisi Abraham yang selaras.

Tetapi pada intinya menjadi orang luar terhadap suatu tradisi, bahkan yang Anda hargai dan Anda rasa Anda tahu, adalah rasa takut. Takut pada apa yang tidak Anda ketahui, keterbatasan ketidaktahuan Anda sendiri. Mungkin Anda akan mengajukan banyak pertanyaan; mungkin Anda tidak akan bertanya cukup. Siapa yang dapat Anda tanyakan tanpa terdengar konyol? Apakah mereka ingin memberi tahu Anda? Akankah mereka mengira rasa ingin tahu Anda karena keinginan untuk menjadi bagiannya? Dan bagaimana jika itu terjadi? Dan bagaimana jika tidak?

Pada usia dua puluhan, saya belajar bahwa melanggar batas-batas apa yang tidak saya pahami di persimpangan budaya, identitas, sejarah, dan politik Yahudi dapat menjadi ancaman bagi keselamatan fisik saya. Saya pikir saya memiliki hak istimewa, di New York, untuk berbaur, tidak peduli betapa radikal atau kiri t-shirt saya mungkin muncul. Atau mungkin karena saya datang untuk bereksperimen dengan mengenakan kaos yang menyampaikan ide-ide yang lebih radikal ketika saya tinggal di Bay Area dan saya tidak bekerja. Meskipun demikian, saya sedang menunggu bus Muni yang mengenakan kemeja merah dan hitam yang saya dapatkan dengan kutipan Malcolm X yang terkait dengan Zionisme yang bahkan tidak dapat saya ingat sekarang.

Ini 15 tahun yang lalu, tepat ketika Perang Melawan Terorisme dimulai. Ada banyak demonstrasi sepanjang waktu, terutama di Teluk, meskipun tidak ada, saya diberitahu, seperti di tahun 60-an tentu saja. Sambil menunggu bus, saya berhasil menarik kemarahan seorang pria kulit putih yang lebih tua yang meludah ke arah saya.
Saya tidak pernah memakai baju itu lagi. Aku juga memperhatikan, lagi, bahwa aku bahkan tidak mengerti apa arti baju sialan itu. Saya hanya mencoba untuk mendukung apa yang saya pikir saya tahu.
Pada kesempatan lain, sebagai seorang reporter agama dan tugas umum, bahkan setelah memprofilkan seorang rabi Ortodoks pada Hari Natal, saya memberanikan diri untuk menyatakan pendapat saya tentang seorang penulis New York Times yang menulis tentang evangelis dan sentimen Pro-Israel.

Selama 72 jam berikutnya, saya menemukan diri saya tenggelam dalam sarang lebah virtual komentar di blog saya yang membuat saya bersumpah menulis tentang apa pun kecuali Hanukkah (relatif tidak penting, teman saya Eric meyakinkan saya dengan tawanya yang khas, tapi aman! Saya balas) untuk waktu yang cukup lama. Terlepas dari diri saya sendiri, saya tidak benar-benar mampu memenuhi janji ini dan akhirnya menulis tentang wanita yang mencoba memasuki rabbinate di Central Texas yang juga menyentuh syaraf di setidaknya satu pembaca, yang, dalam sejarah karir surat kabar saya, Saya bangga untuk mengatakan adalah satu-satunya orang yang pernah saya hubungi karena sikapnya yang merendahkan. Itu membuat saya dipanggil ke kantor Managing Editor, tapi untungnya, dia mengerti mengapa dia harus digantung.

“Tugas (menyempurnakan dunia) bukanlah milik Anda untuk diselesaikan, tetapi Anda juga tidak bebas untuk berhenti darinya.” - The Talmud
Spiritualitas Yahudi memberi saya pengingat tentang semacam ketahanan yang bergema. Ini adalah cermin, dalam banyak cara, untuk cara-cara orang-orang kulit hitam di negeri ini. Saya tidak tertarik pada pengampunan segera setelah pembunuhan sembilan pemimpin gereja dan anggota gereja Mother Emanuel pada tahun 2015. Mereka juga dibunuh di tempat perlindungan mereka oleh seorang teroris homegrown putih yang radikal di Internet. Laporan ADL bahwa 59 persen pembunuhan ekstremis domestik tahun lalu dilakukan oleh orang-orang dengan afiliasi sayap kanan, naik dari 20 persen pada tahun 2016.

Ide ini, tentang menyempurnakan dunia, terlintas dalam pikiran, karena laporan ini juga menyebut "pembunuhan nasionalis kulit hitam" sebagai masalah yang muncul. Ini tidak berhubungan dengan kebuntuan saat ini antara beberapa orang Yahudi dan Orang Kulit Hitam yang terkait dengan Gerakan Kehidupan Hitam dan sentimen Pro-Israel. Kompleksitas di sini bukan pekerjaan saya, tetapi mereka juga tidak harus tidak dinyatakan, bahkan di sini, tidak juga sekarang.

Kami adalah target, sekarang, seperti yang telah kami lakukan di masa lalu, dengan cara paralel. Inilah sebabnya mengapa bermasalah untuk menyamakan aktivis Kehidupan Hitam Matter (yang telah dibunuh, ditargetkan dan diburu di bawah satu set keadaan yang mencurigakan, saya mungkin menambahkan - termasuk penyelidikan yang sedang berlangsung oleh FBI) ​​dengan ekstremis sayap kanan, atau untuk menggunakan bahasa dari pemerintah, merujuk kepada mereka yang mewujudkan gerakan hak-hak sipil era ini sebagai Black Identity Extremists.

Tapi ini bukan pekerjaanku. Setidaknya saya tidak berpikir demikian. Saya tidak menginginkannya.

Tetapi tidak juga, seperti yang disarankan Talmud, dapatkah saya menyerah. Menyerah, berhenti, untuk seorang penulis, bahkan yang kreatif, adalah diam. Memalingkan muka. Memenuhi kata-kata paling kejam dengan tenang. Heschel juga mengatakan kebalikan dari kebaikan bukanlah kejahatan tetapi ketidakpedulian.

Sampai-sampai saya bisa mengartikulasikan apa yang saya yakini di jalan iman, hubungan dengan Tuhan atau spiritualitas lagi, ini adalah agama saya. Sejak syuting akhir pekan lalu, hanya itu yang kupikirkan.

Itulah mengapa saya tidak yakin apa yang harus saya katakan kepada teman-teman Yahudi terdekat saya, yang sekarang saya sebut sebagai suku saya. Diam merasa hormat sampai tidak. Doa terasa tidak memadai.


Membaca bagi saya adalah suci, seperti doa. Saya memiliki obsesi yang tidak alami dengan perpustakaan - meskipun saya kira ada hal-hal yang lebih buruk untuk terobsesi - dan overidentification saya dengan pengetahuan dalam bentuk buku selalu menyelamatkan saya, menghibur saya, memberi saya sesuatu untuk meredam kegelisahan saya ke samping dari yang sebenarnya emosi. Alih-alih banjir besar perasaan yang datang dengan menjadi orang yang intuitif, yang kadang terasa seperti membuka urat nadi dan membiarkan pecahan kaca masuk ke aliran darah Anda melalui katup jantung hanya dengan mengambil napas dangkal ribuan kali sehari, Saya dapat membanjiri otak saya dengan informasi! Konteks! Fakta! Data! Inilah sebenarnya mengapa saya mencintai dan membenci media sosial dalam semua kemuliaan performatifnya; Saya dapat mengalihkan perhatian saya dengan obat pilihan saya, yang lebih banyak hal untuk diketahui daripada perasaan.

Ini fantastis sampai saya sudah menguras diri dari keinginan saya untuk hidup atau saya memiliki kerentanan hangover (20 tahun penerbitan tentang kisah hidup Anda di internet dan sebaliknya akan melakukan itu) dan kemudian saya menempatkan diri pada waktu keluar dan mencabut sekitar 45 menit sampai rasanya seperti saya telah jatuh ke dalam lubang bumi dan saya harus menyambungkan kembali ke Matrix In Case of Emergency.

Bagaimanapun, musim gugur ini, obsesi saya dihargai dan dihukum dengan ukuran yang sama. Perpustakaan Umum New York menawarkan Kartu Budaya untuk pemegang kartu gratis! Buat reservasi di institusi New York dengan kartu perpustakaan Anda dan Anda dan seorang tamu dapat pergi kapan saja pemesanan tersedia. Saya tidak ingat kapan pengumuman itu, tetapi saya sudah mengalami kecemasan perpisahan karena kehilangan suku saya.

Saya sudah berpikir tentang betapa saya masih harus belajar tentang Yudaisme, betapa kaya dan indahnya budaya teman-teman saya. Saya membuat reservasi untuk mengunjungi Jewish Museum pada tanggal 1 November. Saya merasa sangat bangga dengan diri saya sendiri karena telah begitu teratur. Saya pindah.

Hal keren lainnya terjadi juga, karena saya di newsletter / listserv atau apa pun untuk ... Anda dapat menebaknya - perpustakaan umum. Aku terlalu dewasa untuk berdandan untuk Halloween dan aku bekerja untuk diriku sendiri hampir sepanjang waktu jadi aku tidak punya cara untuk memperingati musim. Tapi perpustakaan Manhattan utama akan memiliki parade kostum di acara Perpustakaan After Hours yang menampilkan Tim Gunn. Saya merasa benar-benar siap.

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan dewasa saya, saya memutuskan untuk keluar dan berdandan sebagai pustakawan seksi. Itu menyenangkan. Saya sampai di parade kostum akhir tetapi itu benar-benar layak. Tim Gunn selalu membuat banyak wajah. Saya mendapat gantungan kunci dan beberapa hal lain yang sama sekali tidak perlu karena mendukung perpustakaan ketika Anda memiliki studi informasi master hanya baik untuk jiwa, jika bukan pinjaman mahasiswa.

Bagaimanapun, aku sedang menuju rumah ketika seorang pria kulit putih yang lebih tampan dan tampan mendekati saya dan mengatakan bahwa saya cantik. Dia bertanya padaku apa yang aku lakukan di kota. Dia tampak relatif normal, kecuali dia tampak ... cemas.
“Saya mengajar.” Saya menyebutkan sekolah, kelas saya. Saya tidak tahu kenapa. Saya seharusnya tidak. Matanya melebar.
“Apakah Anda salah satu dari feminis yang mengajarkan tentang bagaimana laki-laki lemah dan perempuan dan anak-anak kuat? Para wanita yang memiliki, seperti, mentalitas budak? Seperti orang Yahudi kecil? "

Ini adalah versi terpotong dari cara dia mulai meningkat dan pergi. Tentang orang Romawi yang kuat. Pemberani. Laki-laki yang lemah. Dan budak yang lemah. Dan wanita. Dan anak-anak. Dan orang Yahudi.

Saya segera mulai mencari-cari karena suaranya semakin keras dan keras. Lendir terbentuk di bibirnya. Saya berpikir lagi tentang waktu di Teluk ketika saya diludahi.

Untungnya, kami dikelilingi oleh orang-orang tetapi saya masih khawatir dan mundur. "Aku akan pergi," kataku, berjalan pergi dengan cepat.
“Itu benar, larilah! Karena kamu brengsek cocksucking! ”Dia berteriak.
Saya terguncang. Saya memposting tentang hal itu di Twitter, lalu saya menghapus utasnya. Saya membuat akun Instagram saya pribadi, bahkan mengetahui bahwa yang dimiliki oleh Facebook dan masalah keamanan yang muncul di sana tidak begitu banyak tentang apa yang perusahaan miliki terkait dengan profil Anda begitu banyak seperti apa yang dilakukan teman-teman Anda.

Saya tahu hal-hal ini, namun, saya ingin menemukan jalan kembali ke keselamatan saya sendiri. Suaka. Langkah-langkah kecil ini terasa seperti solusi sementara terbaik, tetapi juga, tidak cukup. Kemudian, saya mendapat pengingat bahwa sudah waktunya untuk kunjungan saya ke Museum Yahudi.

Tanpa judul (Tears) Claire Fontaine. 2013. Museum Yahudi.

Saya pergi ke Jewish Museum pada 1 November. Di situlah saya menemukan apa yang saya temukan bahasa di Sababa musim panas ini sebagai sukkat shlomecha  saya - tempat penampungan sementara perdamaian - tempat tinggal saya sendiri.

The Isle of Tears, pengingat para imigran Yahudi diterima dan ditolak di Ellis Island dan banyak bahasa mereka, tergantung dari langit-langit dalam pameran umum, mengejutkan dan menenangkanku. Membawa saya kembali ke pekerjaan saya lagi.

Tanpa judul (Tears). Claire Fontaine. 2013. Museum Yahudi.

Kehinde Wiley, tentu saja, dan perspektif globalnya, gaya khasnya, selalu menjadi wahyu. Hadiah. Warna dan kerajinan, keputusan, royalti. Pernyataan dan keyakinan ini tentu saja memberi hidup.

Alios Itzhak, dari seri The World Stage: Israel. Kehinde Wiley. 2011.

Di bawah ini, titik fokus dari potongan pertunjukan dipentaskan pertama di Venesia pada tahun 1971: seorang wanita muda berdiri telanjang di depan cermin perlahan memotong rambutnya. Dia menempelkan untaian ke cermin ini. Deskripsi karya ini berbunyi:

“Bintang yang terkenal, aksi memotong rambutnya, dan, tergantung di dinding, kemeja sederhana mengingatkan pada seragam kamp konsentrasi mengingatkan pemirsa akan penghinaan yang dialami orang-orang Yahudi selama Holocaust. Momok Holocaust, yang menjulang di masa pasca-Perang Dunia II Italia masa muda Mauri, menentukan visi artistik intinya. Artis non-Yahudi membuat karya ini pada saat ia merasa rekan-rekannya melupakan masa lalu fasis mereka. Namun demikian, tubuh kerjanya melampaui perenungan kengerian yang terjadi kemarin, yang menyinggung keberadaan intoleransi etnis dan normalisasi di seluruh dunia. ”


Lemari Kecil dengan Kaos. Fabio Mauri. 1971. The Jewish Museum.

Sumber: Medium.Com