HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Minggu, 20 Mei 2018

Yayak Yatmaka: Mencatat Peradaban Membuka Kesadaran

Kamis, 17 Mei 2018

Pemboman Surabaya: Akar Terorisme Hari Ini dan Bagaimana Menghancurkannya

Kamis, 17 Mei 2018




Rakyat Indonesia dikejutkan oleh rentetan pemboman satu minggu terakhir ini. Tetapi ada yang sungguh berbeda dengan pemboman kali ini dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya, yang membuatnya tampak di luar nalar. Pelaku adalah 3 keluarga, dengan bapak ibu yang mengikutsertakan anak-anak mereka dalam aksi bom bunuh diri. Kegeraman di antara rakyat luas terhadap terorisme pun menjadi berlipat, karena melihat anak-anak tak berdosa yang dilibatkan dalam aksi keji ini. Banyak yang merasa kalau kita sedang memasuki sebuah zaman yang “edan” dan sungguh mereka tidak terlalu jauh dari kebenaran.
Serangkaian pemboman bunuh diri ini diinspirasi oleh ISIS dan dilaksanakan secara terencana di bawah arahan kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), salah satu faksi pendukung ISIS terbesar di Indonesia. ISIS sendiri lewat medianya Amaq telah mengklaim serangan-serangan ini.
Semua pihak telah mengutuk terorisme semacam ini sebagai kebiadaban yang paling keji, sebagai kegilaan yang hanya bisa lahir dari orang-orang yang pikirannya sudah tercuci oleh ekstremisme. Tetapi dari mana datangnya kegilaan ini? Dan mengapa kegilaan ini mengunjungi kita hari ini?
Asal Usul JAD dan ISIS
Sebelum JAD dan ISIS, momok Islam Fundamentalis atau ekstremisme adalah Al-Qaeda bentukan Taliban. Mereka mengumumkan ke seluruh dunia awal dari aksi teror mereka dengan pukulan besar ke jantung kekuatan imperialis AS pada 11 September 2001. Pemerintah AS membalas dengan meluncurkan invasi ke Afghanistan, dengan sumpah bahwa mereka akan membebaskan rakyat Afghanistan dari cengkeraman rejim Islam Fundamentalis Taliban dan membawa demokrasi dan kesejahteraan ke sana. Tetapi AS dan kekuatan-kekuatan imperialis lainnya dengan nyaman melupakan bahwa merekalah yang membina dan mendanai kekuatan-kekuatan Islam Fundamentalis di Timur Tengah untuk melawan gerakan sosialis.
Khususnya di Afghanistan, pada 1980an AS mendanai kekuatan-kekuatan gelap Islam Fundamentalis untuk meremukkan Revolusi Saur yang meledak di Afghanistan pada 1978. Revolusi Saur adalah sebuah revolusi populer yang bertujuan menghancurkan despotisme, feodalisme, pertuantanahan, dan imperialisme yang mencekik rakyat Afghanistan. Revolusi ini menelurkan sejumlah dekret progresif yang menghapus hutang kaum tani terhadap kaum tuan tanah dan tengkulak; menyita tanah dari kaum feodal dan tuan tanah besar dan mendistribusikannya ke kaum tani miskin; memastikan persamaan hak bagi perempuan; menghapus relasi feodal-patriarkal di antara suami dan istri; mengkriminalisasi pernikahan bawah umur dan pernikahan paksa; dan berbagai kebijakan modernisasi lainnya yang bertujuan membawa Afghanistan keluar dari peradaban gelap. Revolusi Saur diinspirasi oleh nilai-nilai sosialisme, dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya tidak bisa tidak mengarah ke penghancuran relasi feodal dan kapitalis di sana.
Kekuatan imperialis tidak ingin Afghanistan menjadi negara komunis, yang pengaruhnya bisa menyebar ke Pakistan, India, dan wilayah Timur Tengah. Untuk menghancurkan kekuatan komunis, AS lantas bersandar pada kekuatan anti-komunis, dan satu-satunya kekuatan anti-komunis yang bisa diandalkan di Afghanistan adalah kaum Islamis Fundamentalis, yang nantinya menjadi cikal bakal Taliban dan Al-Qaeda. Menurut satu estimasi yang paling konservatif, AS mengucurkan 600 juta dolar AS (8,5 triliun rupiah) untuk mendanai kaum Isfun, yang menyebut diri mereka Mujahideen. Selain menerima bantuan dari AS, kaum Mujahideen juga menerima ratusan juta dolar dari Arab Saudi untuk memerangi rejim Revolusi Saur dan kekuatan Soviet yang menyokongnya.
Setelah rejim Revolusi Saur berhasil diruntuhkan pada 1992, Afghanistan dikuasai oleh kaum Islamis Fundamentalis di bawah rejim Taliban. Di bawah rejim Taliban, hukum Syariat diterapkan dengan cara yang paling ekstrem dan reaksioner, dimana kaum perempuan secara efektif menjadi warga kelas kedua dimana semua hak-haknya dikekang, seperti tidak diperbolehkan sekolah, tidak boleh bekerja, tidak boleh naik motor, dsb. Relasi feodal dan tribalisme, yang dikombinasikan dengan interpretasi Islam yang reaksioner, menyeret seluruh masyarakat Afghanistan ke peradaban gelap.
Kemiskinan merajalela dan ekonomi menjadi terbelakang karena kekangan Taliban terhadap seluruh aspek kehidupan, sehingga seluruh perekonomian Afghanistan harus disokong lewat produksi opium dan heroin, yang menyuplai 90% permintaan dunia.
Kendati semua pembicaraan oleh negeri-negeri kapitalis Barat mengenai demokrasi dan hak kaum perempuan, mereka lebih memilih menyerahkan rakyat Afghanistan ke tangan kaum Islamis Fundamentalis yang paling reaksioner alih-alih melihat rakyat Afghanistan membebaskan diri mereka dari belenggu feodalisme. Masalahnya, anjing-anjing gila ini kemudian berbalik menggigit tangan sang tuan. Al-Qaeda menjadi jaringan teror mendunia dengan agenda mereka sendiri.
Setelah menderita serangan 11 September, AS serta NATO memutuskan untuk memukul mati anjing-anjing gila yang tidak tahu terima kasih ini. Invasi ke Afghanistan diluncurkan pada 2001 untuk menghancurkan Taliban. Namun, tidak disangka, kekuatan gelap yang sudah dihidupkan oleh imperialisme AS ini tidak bisa begitu saja dipadamkan dengan mudah. Ia telah menjelma menjadi monster Frankenstein. Sampai hari ini Afghanistan masih sangat tidak stabil. Kekerasan-kekerasan sektarian dan bom-bom terus mengguncang negeri ini. Pemerintahan boneka AS di Afghanistan de fakto hanya punya kendali di Kabul dan sekitarnya, sementara wilayah luas Afghanistan ada di bawah kuasa Taliban secara langsung atau tidak langsung.
AS juga menggunakan dalih 9/11 untuk menyerbu Irak dan menumbangkan rejim Saddam Husein. Ini menciptakan ketidakstabilan yang bahkan lebih parah di wilayah Timur Tengah. Mudah untuk menumbangkan sebuah rejim secara militer, tetapi satu tantangan yang jauh sangat berbeda untuk bisa mendirikan rejim baru yang stabil di Irak yang terpecah-pecah. Kekacauan akibat intervensi imperialis di Irak ini menciptakan lahan subur bagi perkembangan lebih lanjut Islam Fundamentalis. Di Irak-lah pendukung Al-Qaeda bermetamorfosis menjadi varian Islam Fundamentalisme yang bahkan lebih fanatik, ekstrem dan keji, yang kita kenal hari ini dengan nama ISIS.
Setelah Revolusi Arab memukul rejim Assad di Suriah, imperialisme AS mengira bahwa mereka bisa menggunakan kesempatan ini untuk menggulingkan Assad. Mereka lempar dukungan penuh mereka ke kelompok-kelompok anti-Assad yang notabene mayoritas adalah kaum Islamis Fundamentalis dengan hubungan langsung atau tidak langsung dengan Al-Qaeda dan ISIS. Bersama-sama dengan Arab Saudi dan Qatar, yang juga punya kepentingan di Suriah, AS mengucurkan ratusan juta dolar bantuan militer ke kelompok-kelompok Islamis anti-Assad yang mereka sebut “moderat”. Tetapi pada kenyataannya tidak ada kelompok Islamis moderat di Suriah, dan de fakto kekuatan imperialis mempersenjatai kelompok-kelompok Islamis Fundamentalis. Hal yang sama terjadi di Libya, dan kekacauan besar akibat intervensi imperialis di kedua negeri penting di wilayah tersebut menciptakan lahan subur bagi berkembangbiaknya ISIS. Irak, Suriah dan Libya yang porak poranda menjadi basis ISIS untuk menyebarkan jaring-jaring terornya ke seluruh dunia. Dari sinilah kita bisa telusuri asal mula sel-sel teroris di Indonesia, yang terutama: Jemaah Islamiyah (Al-Qaeda) yang bertanggung jawab atas pemboman Bali 2002, Marriot 2003, Dubes Australia 2004, Bali 2005; dan JAD (ISIS) yang meluncurkan pemboman Surabaya baru-baru ini. Mereka pada analisa terakhir adalah konsekuensi tak terelakkan dari imperialisme.
Mencabut terorisme sampai ke akar-akarnya
Setelah pemboman di Surabaya, semua politisi dan pengamat politik tergesa-gesa mengeluarkan pernyataan mengecamnya dan bersumpah akan mencabut terorisme sampai ke akar-akarnya. Rakyat lantas disuguhi drama politik saling menyalahkan, apalagi tahun depan akan ada pemilu. Fadli Zon dari Gerindra, lewat cuitannya, menyalahkan pemerintahan Jokowi yang dianggap lemah dalam menghadapi ancaman terorisme. Sementara Gerindra dituduh telah menghalang-halangi rampungnya RUU Terorisme, yang dianggap oleh lawan-lawannya Gerindra sebagai senjata pamungkas untuk menangkal terorisme.
Namun ketika pemerintah Jokowi ingin tegas dengan merampungkan RUU Terorisme agar memberi aparatus keamanan lebih banyak taring, Gerindra menjelma menjadi pembela HAM. Fadli Zon meminta agar kerangka HAM dihormati dalam pemberantasan terorisme, supaya “tidak asal tangkap”. Ia mengingatkan agar definisi terorisme dalam RUU Terorisme tidak semena-mena sehingga mengancam HAM dan demokrasi: “Jangan dijadikan ini semacam nanti alat untuk melanggar HAM di masa yang akan datang. Dipakai untuk kepentingan politik, kepentingan yang lain di luar untuk memburu teroris.” Ini datang dari partai yang sama yang ketua umumnya Prabowo adalah pelanggar HAM besar, yang bertanggung jawab menculik dan menyiksa aktivis pada jaman Orde Baru. Dimana Fadli dengan celoteh HAMnya ketika buruh, tani dan kaum miskin kota hak-haknya diinjak-injak, serikatnya diberangus, gajinya tidak dibayar, tanahnya diserobot, rumahnya digusur? Namun tidak hanya Gerindra saja. Semua partai politik hari ini diisi oleh elemen-elemen lama dan lanjutan dari rejim Orde Baru, dimana demokrasi dan HAM hanya jadi buah bibir kalau bersangkutan dengan rakyat pekerja. Kemunafikan dari Gerindra ini hanya adegan politik untuk mencetak skor untuk pemilu tahun depan.
Mari kita kembali ke usaha pemerintahan Jokowi untuk memberi aparat keamanan sarana-sarana yang diperlukan untuk bisa memerangi terorisme, dari RUU Terorisme, Perppu, sampai ke pembentukan semacam unit khusus anti-terorisme yang baru. Para pakar keamanan meributkan metode terbaik untuk memerangi terorisme. Semua yakin kalau cara yang diajukannya adalah yang paling mampu mencabut terorisme sampai ke akar-akarnya. Tetapi tidak ada satu pun yang mampu memberi menjelaskan akar terorisme Islamis Fundamentalis hari ini.
Seperti yang telah kita paparkan di atas, akar dari terorisme Islam Fundamentalis adalah imperialisme. Di Indonesia, akar ini menancap lebih dalam dan tumbuh subur karena metode politik pecah-belah agama yang kerap digunakan oleh kelas penguasa dan para politisi serta “pemuka agama” bayaran mereka. Pada Pilkada Jakarta kemarin, selapisan kelas penguasa memobilisasi FPI serta preman-preman berjubah putih reaksioner lainnya untuk mengobarkan kampanye Bela Islam guna menyingkirkan Ahok yang non-Islam. Pesan agar umat Islam harus memilih gubernur yang juga Islam – sampai sejumlah masjid menolak mensalatkan jenazah pendukung Ahok karena dianggap menistakan agama – disebar luas untuk memecah rakyat ke dua kubu: kubu Islam melawan kubu non-Islam. Politik pecah-belah agama ini jelas akan digunakan lagi pada pilpres tahun depan, dimana Amien Rais, yang juga memimpin aksi 212, lewat komentarnya “Partai Allah versus Partai Setan” jelas telah mengambil ancang-ancang ke arah sana.
Oleh karenanya menjadi lelucon yang tidak lucu ketika ketua Bidang Advokasi Gerindra, Habiburokhman mengatakan bahwa satu cara menghapus radikalisme adalah dengan semangat aksi 212. “Kita lawan radikalisme dengan semangat 212, semangat perdamaian dan semangat saling menghormati perbedaan,” tandasnya. Tidak ada yang damai sama sekali dengan aksi 212 dan kampanye politik di seputarnya, yang merupakan kampanye pecah-belah agama.
Kelas penguasa Indonesia selalu memelihara elemen-elemen reaksioner yang siap sedia menggunakan Islam untuk memecah belah rakyat. Prasangka-prasangka terbelakang rakyat pekerja terus disulut, bukan hanya prasangka agamis, tetapi juga rasial, suku, golongan, dsb. Tepat 20 tahun yang lalu ketika artikel ini ditulis, kita ingat betul bagaimana sentimen anti-Cina dikobarkan oleh rejim Orba agar rakyat pekerja mengarahkan kemarahan mereka pada kaum Keturunan dan bukannya pemerintah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas penderitaan mereka. Dengan demikian, apa tidak heran kalau lantas ada selapisan rakyat yang sungguh percaya kalau dunia yang mereka huni adalah dunia dimana kekuatan Islam sedang bertempur melawan kekuatan-kekuatan non-Islam yang terus mengancamnya, bahwa oleh karenanya adalah tugas umat Islam untuk membela agamanya dengan cara apapun dari gempuran kekuatan kafir. Jamaah Islamiyah dan JAD hanya merupakan konsekuensi ekstrem namun logis dari semua ini.
Untuk itu, kelas penguasa Indonesia-lah yang bertanggung jawab atas menguatnya Islam Fundamentalisme dan terorisme yang menyertainya. Tidak akan pernah ada perangkat hukum, kekuatan polisi dan militer, serta intel yang mencukupi untuk mencabut terorisme sampai ke akar-akarnya, terlebih karena kelas penguasa punya kepentingan memelihara kekuatan fundamentalisme. Bukankah AS dan negeri-negeri maju lainnya memiliki aparatus keamanan yang paling maju, yang menerima dana ratusan juta dolar untuk memerangi terorisme, dengan jaring-jaring pengawasan yang dapat mendengar percakapan semua warganya, dengan penjara-penjara rahasianya seperti Guantanamo yang menahan ratusan teroris? Ini tidak menghentikan serangan teroris sama sekali di AS ataupun Eropa.
Kebuntuan kapitalisme dan masa depan Sosialisme
Krisis ekonomi, politik dan sosial yang melanda kapitalisme hari ini adalah latar belakang utama bagi kebangkitan paham-paham ekstrem. Ketika masyarakat tampaknya memasuki jalan buntu, dengan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, degradasi moral di antara pemimpin-pemimpin dunia, dan perang tanpa henti, maka gagasan-gagasan spiritual ekstrem menjadi penjelasan yang masuk akal di antara selapisan rakyat yang resah akan situasi di sekeliling mereka. Keresahan ini tidak terbatas pada lapisan rakyat miskin saja, tetapi bahkan sebenarnya lebih memukul kelas menengah, yang sebelumnya kehidupannya stabil tetapi dengan krisis kapitalisme kestabilan tersebut terancam. Kelas menengah umumnya mengenyam pendidikan lebih tinggi dan oleh karenanya lebih mampu mengkaji kekacauan dunia di sekitar mereka, tetapi kajian mereka dangkal dan reaksioner. Inilah mengapa kita tidak perlu terkejut ketika banyak kaum Jihadis dan pemimpin mereka datang dari latar belakang kelas menengah dan borjuis kecil.  Kita tidak perlu terkejut ketika pelaku pemboman Surabaya bukan datang dari lapisan miskin. Lapisan kelas menengah dan borjuis kecil memang secara historis selalu menjadi basis dari kekuatan reaksioner.
Ketika masyarakat hari ini – yakni kapitalisme – sudah tidak bisa lagi menawarkan masa depan, maka jawabannya terletak pada masa lalu, kembali ke nilai-nilai Islam yang lama dan “murni”, setidaknya Islam menurut apa yang ada dalam benak dari para pemimpin Jihadis ini. Di sini ideologi dan gerakan Islam Fundamentalis menjadi salah satu refleksi dari kebangkrutan kapitalisme, seperti halnya Hindu Fundamentalis di India, atau Budha Fundamentalis di Myanmar dan Sri Lanka, atau Kristen Fundamentalis di AS. Fundamentalisme religius adalah pendistorsian dari penolakan rakyat terhadap status quo, yang ketika tidak bisa melihat ke masa depan maka menoleh ke masa lalu. Tetapi rakyat pekerja luas – setelah menyaksikan barbarisme dan kekejian dari Al-Qaeda dan ISIS – dengan cepat mengenali bahwa kegemilangan masa lalu yang dijanjikan oleh para pemimpin Jihadis ini ternyata berisi kegelapan yang pekat, dan dengan cepat menolaknya. Pada kenyataannya, penggunaan metode terorisme oleh kekuatan fundamentalis adalah tanda kelemahannya. Gerakan Islam Fundamentalis tidak memiliki basis massa yang luas dan kokoh.
Satu-satunya gagasan yang bisa menawarkan masa depan bagi umat manusia adalah sosialisme. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan perang hanya mungkin terjadi ketika segelintir orang menguasai tuas-tuas utama ekonomi dan politik. Babat kondisi-kondisi sosial dan ekonomi yang merendahkan martabat rakyat pekerja maka akan tergerus pula basis material yang menumbuhsuburkan fundamentalisme. Dengan menasionalisasi ekonomi, meletakkannya di bawah kepemilikan kolektif rakyat pekerja dan manajemen demokratik dan terencana oleh rakyat pekerja, maka kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan upah layak untuk semua orang yang ingin bekerja; kita bisa menjamin tanah untuk kaum tani, kesehatan gratis, pendidikan gratis dan berbagai program sosial yang akan mengangkat rakyat keluar dari kemiskinan. Ada kekayaan yang berlimpah hari ini, tetapi kekayaan ini dimonopoli oleh segelintir pemilik modal. Rebut ini dan kelola untuk kebutuhan rakyat, maka masa depan rakyat akan segera tampak cerah.
Pemerintahan sosialis juga akan menghentikan semua intervensi imperialis dan menjamin hak penentuan nasib sendiri yang sejati bagi semua negeri. Bila kaum buruh AS merebut kekuasaan dan membangun negeri sosialis di Amerika Serikat, maka hal pertama yang akan dilakukan oleh rejim sosialis ini adalah menarik mundur semua kekuatan militernya yang tersebar di seluruh dunia dan membubarkan angkatan bersenjatanya. Kaum buruh AS tidak punya kepentingan sama sekali untuk menindas rakyat Timur Tengah. Dengan demikian basis Islam Fundamentalis di Timur Tengah akan luluh lantak. Tanpa ada lagi kepentingan korporasi dan profit kapitalis, maka rakyat pekerja dari berbagai negeri dapat membangun persatuan kelas pekerja di atas basis duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Persaudaraan manusia yang sesungguhnya, tanpa memandang ras, suku, agama dan golongan, akan terbangun. Inilah masa depan sosialisme yang harus kita perjuangkan kalau kita tidak ingin kapitalisme menyeret peradaban kita ke kegelapan.

Sumber: MilitanIndonesia 

Selasa, 08 Mei 2018

8 Mei 1993 | Pembunuhan Buruh Marsinah dan Riwayat Kekejian Aparat Orde Baru

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 8 Mei 2018


Ilustrasi Marsinah (1969-1993). tirto/Sabit.

Detik arloji. 
Berdetak dan abadi 
masih berbunyi.
Marsinah. Ia aktivis buruh berlidah tajam dan organisator terpelajar. Marsinah melawan saat kekerasan aparat negara menjalar lebih cepat daripada wabah flu. Buruh perempuan yang rajin mengkliping berita koran itu nyala kritisnya dipetangkan rezim otoriter. Ia dibunuh di usia yang masih teramat muda, 24 tahun.

Pembunuhannya membawa kesuraman semakin akrab. Seolah-olah negara tak perlu melindungi hak hidup warganya, tapi justru berwenang merecoki hajat hidup mereka.

Satu bulan sebelum Marsinah dibunuh, Presiden Soeharto menghadiri pertemuan Hak Asasi Manusia di Thailand. Dalam forum itu, Soeharto menyatakan RUU Hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB tidak bisa diterapkan di negara-negara Asia. Jenderal tangan besi itu menjelaskan, di Asia warga tak bisa bebas mengkritik pemimpinnya, beda dengan budaya Barat.

Soeharto juga menekankan bahwa warga negara wajib menunjukkan rasa hormat pada pemimpin mereka, sebagaimana anggota keluarga pada kepala keluarga. Hal itu diuraikan Leena Avonius and Damien Kingsbury dalam “From Marsinah to Munir: Grounding Human Rights in Indonesia” yang terbit tahun 2008.

Soeharto melakukan intervensi yang kuat untuk memonitor dan mengatur protes buruh. Dia memiliki perangkat Surat Keputusan Bakorstanas No.02/Satnas/XII/1990 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 342/Men/1986. Jika ada perselisihan antara buruh dengan pengusaha, maka yang berhak memediasi adalah militer. Tak heran, para pekerja yang kritis dan mencolok harus kuat menghadapi intimidasi dan penangkapan.

Marsinah adalah buruh PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur. Buruh PT CPS digaji Rp1.700 per bulan. Padahal berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur ialah Rp2.250. Pemprov Surabaya meneruskan aturan itu dalam bentuk Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur, 50/1992, isinya meminta agar para pengusaha menaikkan gaji buruh 20 persen.

Kebanyakan pengusaha menolak aturan tersebut, termasuk PT CPS. Bianto, rekan Marsinah, menuturkan manajemen PT CPS hanya mau mengakomodasi kenaikan upah dalam tunjangan, bukan upah pokok. Permasalahannya, jika buruh tak masuk kerja karena alasan sakit atau melahirkan, tunjangannya akan dipotong.

Negosiasi antara buruh dengan perusahaan mengalami kebuntuan. Karena itu, buruh PT CPS menggelar mogok kerja pada 3 Mei 1993. Ada 150 dari 200 buruh perusahaan itu yang mogok kerja.

Seperti diungkap dalam laporan investigasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk Kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah (1995), pengorganisasian para buruh sebenarnya sudah matang beberapa hari menjelang mogok kerja.

"Tidak usah kerja. Teman-teman tidak usah masuk. Biar Pak Yudi sendiri yang bekerja," kata Marsinah, sebagaimana tercatat dalam Elegi Penegakan Hukum: Kisah Sum Kuning, Prita, Hingga Janda Pahlawan (2010). Yudi yang dimaksud adalah Direktur PT CPS, Yudi Susanto.

Mereka membawa 12 tuntutan (lihat infografik). Mulai dari menuntut hak kenaikan upah 20 persen hingga membubarkan organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di tingkat pabrik. SPSI adalah satu-satunya organisasi buruh yang dinyatakan legal oleh rezim otoriter Soeharto. Bianto menjelaskan bahwa kala itu reputasi SPSI buruk dan nyaris selalu berseberangan dengan kebutuhan kolektif buruh.

“Sementara bagi SPSI, serikat buruh adalah mitra bagi perusahaan. Satu kondisi yang sebenarnya terjadi karena SPSI disetir oleh kekuasaan Orde Baru,” ujar Bianto dalam wawancara dengan kabarburuh.com tiga tahun lalu.

Marsinah Ambil Alih Komando

Saat aksi mogok hari pertama, Yudo Prakoso, koordinator aksi, ditangkap dan dibawa ke Kantor Koramil 0816/04 Porong. Ketegangan perlahan mulai mengalir deras.

Dia diinterogasi karena telah mengorganisasi pemogokan dan dituduh melakukan protes dengan cara yang mirip aksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sorenya, Prakoso kembali ke pabrik karena dipaksa aparat Koramil.

Mogok kerja di hari pertama itu tak mempan. Prakoso disibukkan dengan pemanggilan oleh aparat militer. Akhirnya Marsinah yang memegang kendali memimpin protes para buruh.

Keesokan harinya, pada 4 Mei 1993, aksi mogok kerja kembali digelar. Pihak manajemen PT CPS bernegosiasi dengan 15 orang perwakilan buruh. Dalam perundingan, hadir pula petugas dari Dinas Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, serta perwakilan polisi dan Koramil. Pelibatan aparat negara dalam perundingan itu menimbulkan kecanggungan.

Meski begitu, semua tuntutan akhirnya dikabulkan, kecuali membubarkan SPSI di tingkat pabrik. Pimpinan perusahaan menganggap hal itu menjadi kewenangan internal SPSI.

Namun di hari itu juga, berdasarkan kronologi yang dirangkai Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM), Yudo Prakoso, buruh yang dianggap dalang pemogokan, mendapat surat panggilan dari Koramil Porong. Dalam surat bernomor B/1011V/1993 itu, Prakoso diminta datang ke kantor Kodim 0816 Sidoarjo. Surat itu ditandatangani Pasi Intel Kodim Sidoarjo Kapten Sugeng.

Di Kodim Sidoarjo, Prakoso juga diminta untuk mencatat nama-nama buruh yang terlibat dalam perencanaan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja.

Esoknya, 12 buruh mendapat surat yang sama. Mereka diminta hadir ke kantor Kodim Sidoarjo, menghadap Pasi Intel Kapten Sugeng. Tapi surat panggilan itu berasal dari kantor Kelurahan Siring yang ditandatangani sekretaris desa bernama Abdul Rozak.

Tiga belas buruh itu dikumpulkan di ruang data Kodim Sidoarjo oleh seorang Perwira Seksi Intel Kodim Kamadi. Tanpa basa-basi, Kamadi meminta Prakoso dan 12 buruh lain mengundurkan diri dari PT CPS. Alasannya, tenaga mereka sudah tak dibutuhkan lagi oleh perusahaan.

Kamadi dan Sugeng menyiapkan surat pengunduran diri yang menyatakan 13 buruh itu telah melakukan rapat ilegal untuk merencanakan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja. Mereka dianggap telah menghasut buruh lainnya untuk ikut protes. Berada dalam tekanan, akhirnya 13 buruh itu menandatangani surat pengunduran diri. PHK itu tak dilakukan pihak perusahaan melainkan oleh aparat Kodim Sidoarjo.

Berdasarkan laporan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), emosi Marsinah memuncak ketika tahu rekannya dipaksa mengundurkan diri. Dia meminta salinan surat pengunduran diri tersebut dan surat kesepakatan dengan manajemen PT CPS. Sebab dalam surat kesepakatan itu, 12 tuntutan buruh diterima termasuk poin tentang pengusaha dilarang melakukan mutasi, intimidasi, dan melakukan PHK karyawan setelah aksi mogok kerja 

"Aku akan menuntut Kodim dengan bantuan saudaraku yang ada di Surabaya,” kata Marsinah merujuk koleganya yang bekerja di Kejaksaan Surabaya.

6 Mei 1993, sehari setelah para buruh dipanggil ke Kodim, adalah libur nasional untuk memperingati Hari Raya Waisak. Esoknya buruh kembali bekerja, tapi tak ada satupun yang melihat Marsinah. Beberapa rekannya mengira Marsinah pulang kampung ke Nganjuk.

Pada 8 Mei 1993, tepat hari ini 25 tahun lalu, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.

Hasil visum et repertum menunjukkan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 cm dalam tubuh Marsinah. Luka itu menjalar mulai dari dinding kiri lubang kemaluan (labium minora) sampai ke dalam rongga perut. Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.

Setelah dimakamkan, tubuh Marsinah diotopsi kembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum, tulang panggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan ada serpihan tulang. Ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut.

Disiksa Militer untuk Akui Bunuh Marsinah

Tanpa surat penangkapan, aparat militer berbaju preman mencokok dua satpam dan tujuh pimpinan PT CPS. Penangkapan itu dibumbui tindakan kekerasan, semua diseret paksa dan kepala Karyono Wongso, Kabag Produksi PT CPS, ditetak aparat militer dengan gagang pistol. Mereka digelandang ke Markas Detasemen Intel (Den Intel) Kodam V Brawijaya Wonocolo.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) bertajuk Ke Arah Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan: Kajian Kasus-Kasus Penyiksaan Belum-Terselesaikan (1995), satpam dan pihak manajemen PT CPS itu disekap selama 19 hari di Kodam V Brawijaya. Tak ada satupun keluarga mereka yang tahu.

Bambang Wuryantoyo, 38 tahun, yang bekerja di bagian pengawas umum PT CPS, disiksa dan ditelanjangi. Kemaluannya disetrum berulangkali. Saat interogasi, kakinya ditindih kaki meja. Kemaluan dan perutnya disundut rokok.

Di salah satu kamar mandi Kodam V Brawijaya seorang petugas militer kencing di dalam gayung. Soeprapto, 23 tahun, satpam PT CPS dipaksa meminum air kencing itu. Penisnya digebuk pakai seikat sapu lidi dan disetrum. Mulut Soeprapto disumpal celana untuk meredam jeritannya saat disiksa. Kepalanya ditetak dan ketiaknya disulut rokok.

Rekan Soeprapto yang juga berprofesi sebagai satpam, Ahmad Sution Prayogi, 58 tahun, tak bisa mengunyah makanan selama lima hari. Sebab aparat Kodam V Brawijaya merontokkan giginya.

Mutiari, 27 tahun, ketua bagian personalia PT CPS adalah satu-satunya perempuan dalam penyekapan di Kodam V Brawijaya itu. Dia dihantam kekerasan verbal. Mutiari diancam akan ditelanjangi dan disetrum. Dia juga diperdengarkan dan diperlihatkan orang lain yang sedang disiksa. Penyiksaan itu menyebabkan Mutiari kehilangan bayi yang sudah dikandungnya selama tiga bulan. Ia keguguran saat itu juga.

Penis Yudi Susanto, Direktur PT CPS, juga disetrum. Dia dipaksa mengepel lantai salah satu ruangan Kodam V Brawijaya dengan lidah. Di pelataran basis militer teritorial itu, Susanto diminta mencabut rumput dengan mulut. Aparat militer pun tak segan meludah ke mulutnya, lalu Susanto diminta menelan ludah itu. Pernah juga Susanto muntah karena disuruh mengunyah kain lap kompor, lalu dia diminta cuci muka dengan air muntahnya sendiri.

Tujuan dari penyiksaan yang rutin itu agar satpam dan manajemen PT CPS mengaku telah merencanakan pembunuhan Marsinah. Padahal aparat Kodam V Brawijaya-lah yang membuat skenario palsu strategi perencanaan dan eksekusi pembunuhan Marsinah itu.

Pada 21 Oktober 1993, aparat Kodam V Brawijaya menyerahkan mereka ke Polda Jatim. Siksaan verbal maupun fisik juga mereka rasakan di Polda Jatim, meski dengan intensitas yang lebih rendah.

Proses persidangan para tersangka yang penuh kejanggalan tidak membuat mereka terbebas dari dakwaan. Mereka diputus bersalah dan divonis penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya dan Pengadilan Tinggi Surabaya, kecuali Yudi Susanto yang dibebaskan hakim Pengadilan Tinggi Surabaya. Jaksa Penuntut Umum yang menolak putusan bebas terhadap Yudi Susanto kemudian mengajukan pemohonan kasasi ke MA, permohonan kasasi juga diajukan delapan terdakwa lainnya.
Infografik Mozaik Tuntutan Marsinah Rev

Ahli Forensik Bersaksi

Setelah delapan orang divonis, Abdul Mun’im Idries, dokter dari Instalasi Kedokteran Kehakiman (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia turut ambil bagian sebagai saksi ahli. Dalam persidangan dia memaparkan kejanggalan barang bukti, kesaksian, dan hasil visum. Menurutnya, visum pertama tak sesuai standar pemeriksaan jenazah karena hanya bersifat parsial.

Dalam bukunya bertajuk Indonesia X-Files (2013), Idries mengungkapkan bahwa barang bukti proses peradilan berupa balok janggal. Ukuran balok yang digunakan menyodok bagian genital tubuh Marsinah tak sesuai dengan besar luka pada korban yakni 3 sentimeter. Menurutnya, satu luka pada bagian kelamin Marsinah tak sesuai dengan jumlah terduga pelaku yang berjumlah tiga orang.

Idries menegaskan bahwa pendarahan bukan penyebab kematian Marsinah, melainkan tembakan senjata api.

"Melihat lubang kecil dengan kerusakan yang masif, apa kalau bukan luka tembak?" ungkap Idries dalam tayangan Mata Najwa: X-File edisi 18 September 2013.

"Pelakunya siapa yang punya akses senjata,” lanjut Idries. “Kita kan enggak bebas memiliki senjata."

Pada 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tak terbukti melakukan perencanaan dan membunuh Marsinah. Hal itu tercatat dalam penelitian Iyut Qurniasari dan I.G. Krisnadi yang termuat di Jurnal Publika BudayaUniversitas Jember berjudul "Konspirasi Politik dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo Tahun 1993-1995".

Sembilan terdakwa dibebaskan, tapi siapa pembunuh Marsinah hingga kini tak pernah diungkap pengadilan.

“Persidangan dimaksudkan untuk mengaburkan militer tanggung jawab atas pembunuhan itu,” tulis Amnesty Internasional dalam laporannya, Indonesia: Kekuasaan dan Impunitas: Hak Asasi Manusia di bawah Orde Baru.

Trimoelja D Soerjadi, pengacara Marsinah, menuturkan, semua terdakwa secara bengis disiksa dan dianiaya. Intervensi militer itu adalah “Pengalaman yang getir, menyakitkan dan paling mengerikan serta menakutkan,” kata Soerjadi saat menerima Yap Thiam Hien Award untuk Marsinah di Jakarta pada 10 Desember 1994.

Hingga kini Marsinah ada di mana-mana. Dia menyelinap di berbagai produk payung hukum bagi hak buruh. Dalam putusan MK dan pengadilan, nama Marsinah kerap disebut. Misalnya dalam putusan 100/PUU-X/2012, Margarito Kamis menjelaskan bagaimana Marsinah menjadi tolak ukur bahwa buruh harus dilindungi.

Perjuangan buruh saat ini hanya catatan kaki bagi perjuangan Marsinah. Sisanya: kita yang berhura-hura di bawah bayang-bayang romantisme keheroikan Marsinah. Hingga kini kita belum terlalu peduli apakah ada serikat buruh dalam perusahaan. Kita belum serius memahami bahwa serikat adalah tempat saling berbagi kekuatan dan menumbuhkan kepekaan terhadap masalah rekan terdekat.

Diam-diam, hingga kini, represi tetap menjadi alat bagi siapa saja yang berkuasa. Masalah buruh tak pernah jauh dari 12 tuntutan yang dicanangkan Marsinah dan kawan-kawan. Kita hidup di sebuah negara dengan warisan tingkah yang brutal.

Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id 

Minggu, 06 Mei 2018

Marx dan Tauladan Bagi Remaja: Memperingati 200 Tahun Karl Marx*

  • Roy Murtadho* | 6 Mei 2018


  • Mendengar nama Karl Marx, yang berkelebat dalam kepala kita adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), yang digambarkan sebagai brutal dan biadab oleh Orde Baru Soeharto. Tulisan ini, tidak secara langsung, hendak meluruskan kesalah-anggapan tersebut. Tapi lebih sebagai catatan pribadi saya selama bersentuhan dengan pemikiran Marx di masa remaja. Di suatu waktu jauh di belakang kita, di awal reformasi, dimana berbagai gagasan dan pengetahuan tentang Marx dan Marxisme dimungkinkan kembali untuk dipelajari.
    Saat itu sebagai remaja di kota pelajar Yogyakarta, menemukan buku-buku Marxis tidaklah sulit. Siapapun bisa mencarinya di banyak toko buku atau di perpustakaan Ignatius Loyola. Selain cerita silat karangan Asmaraman S. Ko Ping Hoo, hampir almari saya penuh oleh copy-an buku-buku Marx, juga berbagai buku pengantar Marxisme yang sedang ramai diterbitkan. Namun di antara semuanya, buku yang paling mengesankan bagi saya adalah karangan Klasik Nyoto, ‘Marxisme Ilmu dan Amalnya’[1]. Selain ‘Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme’ karangan Romo Magnis dan ‘Tentang Marxisme’ karangan D.N. Aidit, buku Nyoto tersebut beredar secara luas dalam bentuk fotocopy di kalangan aktivis Yogya. Buku tersebut menarik, selain ringkas dan terang bagi para pemula untuk menjelaskan butiran-butiran pemikiran Marx dari seseorang yang membaca dan mengamalkannya, juga terdengar islami di telinga saya sebagai seorang santri.
    ‘Ilmu dan Amalnya’.[2] Tak ada santri yang tak terkesima dengan dua kata tersebut. Yang persis sama dengan sabda Nabi yang sangat masyhur: “Barang siapa beramal tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya”. Atau sebagaimana diungkapkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.” Hubungan Ilmu dan Amal ini persis seperti hubungan Iman dan Amal.[3] Keduanya tak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan. Lebih-lebih kata ilmu dan berbagai kata turunannya banyak sekali disebut dalam al-Qur’an. Karena itu kata ‘Ilmu’ dan ‘Amalnya’ sangat menakjubkan bagi saya.
    Dengan judul itu juga, Nyoto telah dengan tepat menggambarkan wajah utama dari seluruh bangunan pemikiran dan ikhtiar perjuangan Marx, sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Marx: “The philosophers have only interpreted the world, in various ways; the point, however, is to change it.[4] Suatu tugas mulia seorang pemikir untuk tak hanya memikirkan dunia tapi mengubahnya menjadi lebih baik bagi manusia.
    Saat itu, di antara sekian banyak remaja yang membaca Marx, mungkin saya merupakan salah satu dari mereka yang mendekati Marx. Pertama-tama, bukan sebagai filsuf dengan gagasan-gagasan agungnya, melainkan sebagai seorang pribadi. Pribadi yang mengagumkan. Mungkin kekaguman saya pada Marx, –agar terdengar ilmiah–, bisa juga dijelaskan melalui ungkapan Erich Fromm, yang melihat Marx sebagai pemikir yang ‘menempatkan pentingnya faktor manusia dalam karyanya’ (At every stage of his work he emphasized the importance of human factor).[5] Bahkan, di kalangan aktivis saat itu banyak yang mengatakan, seandainya ada nabi di abad modern, maka Marx-lah yang paling layak menjadi nabi tersebut.
    Saking kagumnya, saya pun membuat resensi atas karya Nyoto tersebut dan tulisan singkat untuk mading pesantren berjudul “Marx dan Al-Ghazali”. Tulisan yang terakhir lebih berisi cerita tentang ibu saya yang mengira gambar Marx di kaos yang saya pakai sebagai gambar Al-Ghazali. Karena memang rambut dan jenggot kedua tokoh tersebut sekilas terlihat mirip. Sama-sama panjang dan acak-acakan. Ibu bahagia sekali melihatnya. Saking senangnya hingga cerita ke saudara kalau saya santri tulen, sampai memakai kaos bergambar Al-Ghazali. Saya diam dan bahagia melihat ibu bahagia. Karena memang Marx dan Al-Ghazali begitu dekat di hati saya. Keduanya layak menjadi tauladan. Selain rambut dan jenggot, mereka juga punya banyak kemiripan. Sama-sama tekun belajar dan memilih hidup melarat. Tapi mungkin Al-Ghazali lebih zuhud ketimbang Marx. Marx masih punya Jenny von Westphalen, semantara Al-Ghazali hidup membujang hingga akhir hayatnya.
    ***
    Nyoto-lah, saya kira, melalui karyanya, yang mampu menggambarkan dengan baik pada sisi apakah Marx itu pantas menjadi tauladan yang baik (uswah hasanah). Di bab pertama ‘Marxisme Sebagai Ilmu’, Nyoto menjelaskan cara kerja ilmiah Marx dengan mengutip kembali Paul Lafargue dalam karyanya, Reminiscences of Marx. Di situ diceritakan, sebagai seorang pemikir, Marx sangat hati-hati dan cermat. Marx tak akan membicarakan sesuatu yang belum dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. Ia tak pernah menerbitkan satu pun karya sebelum meninjaunya kembali berulang-ulang hingga menemukan bentuk yang paling tepat. Bahkan, Marx tak pernah muncul di depan publik sebelum ia memiliki persiapan yang cukup.[6]
    Lebih lanjut, Nyoto menjelaskan, Marx mempelajari cukup banyak bahasa untuk kepentingan pekerjaan ilmiahnya. Dia bisa mengarang dalam bahasa Jerman, Inggris dan Prancis dengan sangat bagusnya. Dia juga membaca Dante dalam bahasa Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia mengerti bahasa Belanda dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol. Dan ketika berusia 50 tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai mempelajari bahasa Rusia, dan enam bulan kemudian dia sudah pandai menikmati syair-syair Puskin dan novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya.[7] Saya bayangin, kalau di pesantren, Marx pasti sudah digelari al-alim allamah karena kecerdasan dan penguasaannya atas banyak bidang pengetahuan.
    Bahkan, saking jeli dan rajinnya, berbeda dengan kita, Marx tidak menyusun buku-buku di dalam lemari bukunya menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.[8]
    Diceritakan betapa dia kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan. Bukunya di rumah cukup banyak, buku-buku yang dia himpun dengan teliti selama beberapa puluh tahun. Dan ketika dia bertandang ke kota-kota besar, ke Berlin atau London, ke Amsterdam atau Paris, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk ‘menjelajahi’ isi bibliotek dari museum-museum di kota-kota tersebut. Ini berbeda dengan pemuda saat ini ketika melancong yang dicari adalah cafĂ© terbaik untuk menghabiskan malam dengan sebungkus rokok dan segelas kopi. Atau malah berharap-harap menemukan kekasih baru di kota baru.
    Namun demikian, Nyoto mengingatkan bahwa kejeniusan Marx bukanlah ‘bisikan wahyu,’ melainkan hasil dari pekerjaan yang luar biasa, keuletan, ketekunan, ketelitian dan ketajaman otak.[9] Persis sebagaimana kiai saya dulu mengatakan bahwa kejeniusan al-Ghazali, dan Imam Syafii, bukanlah karena ilmu laduni yang given sebagaimana umum dipercaya banyak orang, melainkan buah dari kerja keras dan ketekunan belajar. Marx, meski sebagian besar waktunya digunakan untuk penyelidikan di lapangan ekonomi hingga melahirkan karya agungnya, Das Kapital,[10] perhatiannya tak hanya terbatas pada soal-soal kemasyarakatan tapi merambah pada ilmu-ilmu alam pada umumnya, seperti matematika dan biologi.
    Sebagai tambahan, ini penting khususnya bagi santri! Untuk mengetahui secara umum sosok Marx, Pidato Engels di saat pemakaman Marx, saya kira cukup mampu menggambarkan seperti apa sosok Marx yang jauh sekali dengan yang sering diomongin Taufiq Ismail.
    “Misi hidupnya adalah untuk menyumbang dengan satu cara atau cara lainnya untuk menggulingkan masyarakat kapitalis… untuk menyumbang bagi pembebasan kaum proletariat masa kini yang untuk pertama kalinya didasarkan oleh Marx akan kedudukan dan kebutuhan-kebutuhan mereka, akan kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka mendapatkan kebebasannya. Perjuangan adalah salah satu unsur Marx. Dan ia berjuang dengan suatu semangat, suatu kegigihan dan suatu keberhasilan yang hanya sedikit orang yang dapat menyamainya… dan karenanya menjadi orang yang paling dibenci dan paling banyak difitnah pada masanya… ia meninggal, dicintai, dipuja dan ditangisi oleh berjuta-juta teman-teman pekerja yang revolusioner dari pertambangan-pertambangan di Siberia sampai pantai-pantai California, di semua tempat-tempat di Eropa dan Amerika… namanya dan karyanya akan terus abadi sepanjang zaman”.[11]
    “Perjuangan adalah salah satu unsur Marx. Ungkapan Engels tidaklah berlebihan untuk menilai Marx. Mungkin ia merupakan sedikit dari filsuf-pejuang yang mampu mengaitkan antara teori dan praksis. Ia tidak menulis sebagaimana penulis kebanyakan saat ini yang hanya mengejar akreditasi atau menulis karena pesanan donor. Ketika Das Kapital baru saja terbit, penerbitnya membayar honorarium yang begitu kecilnya kepada Marx sehingga, kata Marx sendiri, honorarium itu tidak cukup buat membeli rokok yang diisapnya selama dia menyelesaikan Das Kapital.[12] Karena memang ia menulis bukan mau tenar dan kejar honor saja. Tapi jihad membela manusia.
    ***
    Apa itu yang disebut dengan meneladani Marx?
    Tentu saja, tanpa harus mengkultuskan pribadi Marx bak nabi. Tetapi, pertama, mengamalkan cara kerja ilmiah Marx, yang oleh Marx dikatakan mempunyai lima tingkatan: penyelidikan, percobaan atau eksperimen, pencatatan, perenungan, dan penyimpulan atau penggeneralisasian.[13] Kedua, menyatukan teori dan praktik. Karena menjalankan salah satunya, atau membangun separasi di antara kedunya, telah dengan sendirinya offside dari apa yang dibangun Marx. Ketiga, hidup ugahari. Bagaimana kita hendak memperjuangkan nasib kelas pekerja kalau cara hidup kita lebih borjuis ketimbang kaum borjuis itu sendiri. Persis dai-dai yang latah dakwah tentang kehidupan nabi yang tidurnya di atas pelepah kurma sementara dirinya sendiri tidur di atas spring bed yang mahal dan nyaman. Cerita nabi naik onta yang sangat kurus dan jelek sementara dirinya naik mobil keluaran terbaru yang sangat mahal.
    Di tengah situsai global saat ini, yang secara umum penuh dengan janji kebahagiaan semu oleh kapitalisme yang kemaruk dan terus menjalar ke rongga paru-paru kehidupan kita, bagi saya, meneladani Marx juga berarti bahwa perjuangan tak cukup hanya dengan kepalan tangan dan pekik perlawanan jika tanpa mengelaborasi kondisi mutakhir kapitalisme. Menjadi Marxis juga harus menjadi seseorang yang terbuka dengan banyak gagasan-gagasan baru yang datang belakangan jauh setelah Marxisme. Bukannya beringsut dari persoalan mutakhir sebagaimana seorang Marxis militan hanya memberi solusi revolusi dengan slogan: ‘apapun masalahnya revolusi solusinya’ yang persis sama dengan iklan di tv, ‘apapun makanannya teh botol sosro minumnya.’
    Seorang Marxis yang baik mesti mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang terus berkembang. Seperti munculnya sistem baru yang disebut David Harvey sebagai “akumulasi fleksibel”, yakni makin berkuasanya modal keuangan internasional di atas negara bangsa yang semakin mandul; globalisasi pasar tenaga kerja yang menyebabkan semakin cepatnya migrasi tenaga kerja murah asing dan melemahnya gerakan serikat pekerja; penyempitan ruang dan waktu melalui inovasi teknologi. Semua itu mesti diberikan jawabannya;[14] Semakin terorganisirnya kapitalisme secara ketat melalui persebaran, mobilitas geografis, dan respon luwes terhadap pasar tenaga kerja, proses-proses perburuhan, dan pasar konsumen, yang semuanya dibarengi dengan begitu besarnya inovasi institusional, produk dan teknologi.[15]
    Dan yang tak kalah penting, meneladani Marx dan membaca Marxisme, bukan demi terlihat gagah, apalagi pongah dan menakutkan bagi banyak orang. Tapi tugas maha berat memanggul kembali harapan Marx untuk mengubah dunia yang lebih berkeadilan dan damai bagi seluruh umat manusia. Marxisme mesti didekati sebagai ilmu, bukan dogma. Maka itu setiap tafsir, elaborasi atas pemikiran Marx, peng-amal-an atas pemikiran Marx dan pekik perlawanan atas ketidakadilan dan ketimpagan yang diciptakan kapitalisme, haruslah dimaknai sebagai ikhtiar mengubah dunia menjadi lebih baik dan damai. Marx merupakan pribadi tawadlu. Kejeniusannya, menurut saya, campuran antara kerja keras dan ke-tawadlu-annya, sampai-sampai ia mengatakan: Ich bin kein Marxist. Dengan itu, saya kira, ia hendak mengatakan bahwa orang tak boleh mandeg, jumud, dan sekedar taklid buta, tapi mesti terus menggali dan mengoreksi modus produksi kapitalisme.
    Ini sama dengan ketika kita membaca ayat “dzalika al-kitab la raibafihi” di awal surat al-Baqarah yang berarti: “tidak ada keraguan di dalamnya (kitab al-Qur’an)”. Bukan berarti sama sekali tidak boleh menyangsikannya, atau sekedar bertanya. Tidak! Justru dengan bertanya itulah seseorang akan sampai pada keyakinan yang kokoh. Karena menjadi seorang marxis tidaklah sama dengan cheerleaders yang kerjanya hanya sorak saja. Tapi membuktikan bahwa sosialisme ilmiah Marx, benar-benar ilmiah. Kalau memang benar sosialisme ilmiah Marx relevan untuk semua tempat dan waktu sebagaimana diungkapkan Nyoto, maka tugas seorang marxis adalah mampu menunjukkan letak kesahihan sosialisme ilmiah Marx. Jangan sampai sama dengan ustadz-ustadz di tv yang mengatakan “Islam salih li kulli zaman wa makan,”Islam benar di tiap waktu dan tempat. Namun gagal menujukkan kebenarannya. Seorang Marxis yang baik, sama dengan seorang Muslim yang baik, yaitu mampu menjelaskan kebenaran apa yang dipeganginya dengan bukti-bukti objektif.
    Saya tak pernah menganggap Marx tengah menggelar gagasannya untuk sekedar dirapal, semacam mantra mujarab yang dengan mengutipnya maka selesai semua persoalan. Maka kita tak perlu heran jika suatu saat nanti ada yang men-syarah (memberi komentar) “Theses on Feurbach” dan “Manifesto Komunis” dengan berbagai lapangan pengetahuan baru yang tengah berkembang. Juga jangan menuduhnya sebagai ahlul bid’ah (bidaah), seandainya nanti ada anggota MUI yang menafsir Marx dengan kaedah fiqihnya. Siapa tahu ada.
    Marx, melalui Nyoto (tentu juga Aidit), telah menjadi teman seperjalanan saya di masa remaja, di sela-sela mengaji di pesantren. Sedemikian, Marx, selain jenggot dan rambutnya yang acak-acakan serta kemalangan hidupnya. Ketimbang meneladani artis semacam Raffi Ahmad dan Syahrini atau politisi semacam Ruhut Sitompul, Marx layak menjadi taudalan semuanya, wa bil khusus bagi remaja.
    Wallahu’alam bi al shawab***
    *Penulis aktif di Litbang Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam
    Esai pernah disampaikan dalam diskusi Rabu-an Kelompok Epistemik SALIK (Santri Anti Liberalisme dan Kapitalisme).
  • Sumber: Transisi.Org 

Sabtu, 05 Mei 2018

Pasca Orde Baru: Masih Banyak Akademisi di Bawah Tekanan Pemodal

Oleh: Tony Firman - 5 Mei 2018


Diskusi bertajuk "Dua Dekade Pasca Soeharto: Penak Jamane Sopo?" diselenggarakan atas kerjasama Pusat Studi Hukum HAM Fakultas Hukum (HRLS) Universitas Airlangga dan Universitas Leiden Kantor Perwakilan Indonesia, Jum'at (4/5/2018). tirto.id/Tony Firman

Herlambang menyatakan, intelektual broker sudah tidak lagi menggunakan nalar sebagai akademisi.
"Seperti UGM yang didemo warga Kendeng itu salah satunya.” papar Herlambang.

Setelah reformasi berjalan selama 20 tahun usai tumbangnya pemerintahan Orde Baru, dunia intelektual akademisi kampus Indonesia masih saja berada dalam tekanan politik dan pemodal dalam membuat kebijakan dan perumusan masalah 

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pusat Studi Hukum HAM Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Herlambang P. Wiratraman usai acara diskusi bertajuk “Dua Dekade Pasca Soeharto: Penak Jamane Sopo?” di Gedung A Fakultas Hukum Ruang 303, Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (4/5/2018) siang. 

“Situasi legitimasi di dalam proses pembaruan hukum dilakukan oleh akademisi tanpa memperhitungkan secara kuat serta memahami bahwa ada tekanan politik," ujar Herlambang.

Ia mencontohkan, ketika masa awal transisi Orde Baru ke reformasi, kebijakan perburuhan diwarnai dengan meliberalisasi relasi ketenagakerjaan melalui sistem outsourcing yang merupakan pesanan.

Herlambang menilai, pola-pola tersebut yang masih mempengaruhi desain tata negara di Indonesia yang hari ini bercorak neoliberal.

“Akumulasi modal juga terjadi di daerah. Lalu mereka menundukkan atau membeli akademisi untuk merawat kepentingan oligariki di tingkat daerah. Itu yang terjadi sekarang dan jumlahnya banyak karena terjadi di berbagai daerah. Menarik kita lihat bahwa peran akademisi takluk di hadapan korporasi.” ujar Herlambang.
Menurut dia, kalangan akademisi yang memanfaatkan situasi seperti ini dengan mengabdikan diri sebagai intelektual broker. Dalam catatan Herlambang, intelektual broker sudah tidak lagi menggunakan nalar secara baik sebagai akademisi, tetapi membiarkan ilmunya diperkosa untuk kepentingan penguasa maupun untuk menindas.

“Tren semakin menguat ketika intelektual broker ini sekarang melekat ke polarisasi politik yang sedang terjadi sekarang. Tren semakin mengeras di tahun-tahun pemilu baik di daerah maupun pusat. Setelah itu biasanya ada dua pola lanjutan, terjerat korupsi dan terlibat eksploitasi sumber daya alam seperti UGM yang didemo warga Kendeng itu salah satunya.” papar Herlambang.

Di sisi lain, para akademisi yang kritis dan peduli terhadap ekologi dan hak-hak masyarakat justru mendapat serangan dari kelompok penguasa atau oligarki. Fenomena seperti ini semakin kuat terjadi yang menurut Herlambang karena faktor relasi modal kuasa dan politik.
Meski begitu, Herlambang melihat kondisi kampus dan akademisi di era reformasi masih lebih baik dibanding era Presiden Soeharto. Pasalnya, menurut dia, era Orde Baru tidak memberikan kebebasan akademis, birokrasi kampus yang tunduk di hadapan negara, mengontrol ideologi para akademisi, dan lainnya.

Diskusi bertajuk "Dua Dekade Pasca Soeharto: Penak Jamane Sopo?" diselenggarakan atas kerjasama Pusat Studi Hukum HAM Fakultas Hukum (HRLS) Universitas Airlangga dan Universitas Leiden Kantor Perwakilan Indonesia. 

Selain Herlambang, hadir pula pembicara lain seperti Yanwar Pribadi, pengajar dan peneliti dari IAIN Sultan Hasanudin Banten, Abdul Wahid sejarawan UGM, dan Myrna A. Safitri dari Badan Restorasi Gambut, Pendiri Epistema Jakarta.

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Alexander Haryanto
Sumber: Tirto.Id 

Jumat, 04 Mei 2018

Yang Terbuai di Perkebunan Deli

Maruli Sitompul | 4 Mei 2018 

Para kuli dipekerjakan selama mungkin dengan iming-iming kesenangan semu


Pekerja kuli kontrak perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Utara. Foto: KITLV.

AWAL bulan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu kuli kontrak perkebunan tembakau Deli. Masa gajian berarti akan segera tiba. Pihak perkebunan biasanya menyuguhi para kuli dengan serangkaian hiburan semisal pertunjukan wayang atau teater Tionghoa. Rombongan khusus dari Malaka atas biaya perusahaan perkebunan sengaja didatangkan. Itu adalah pesta besar ala masyarakat perkebunan Deli.
“Yang jauh lebih penting untuk mengurangi kebosanan dibandingkan dengan pesta-pesta khusus itu adalah permainan judi,” ungkap Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli. “Hiburan inipun secara resmi dibatasi hanya untuk masa lumbung (masa panen), dan untuk itu disediakan bangsal khusus.”  
Menurut Breman, para majikan mempersukar kebebasan para kuli bergerak di luar perkebunan. Permintaan cuti tak pernah dikabulkan untuk mencegah kuli melarikan diri. Dengan demikian, hiburan pun hanya dapat dilangsungkan di perkebunan. Judi dadu merupakan salah satu hiburan yang begitu digemari kaum kuli Deli.
Bisnis hiburan gelap ini dikelola oleh pemuka Tionghoa kaya setempat. Sementara pengorganisasiannya dilakukan para mandor yang menyalurkan kredit terhadap para kuli yang berniat meminjam uang. Pelesiran dan kesenangan yang dialami kuli kontrak ibarat penjara tak kasat mata. Mereka dibuai tanpa sadar. Tujuannya membuat kuli-kuli tersebut hidup dalam kemelaratan. Dengan begitu, kuli-kuli tak akan berdaya menolak perpanjangan kontrak yang disodorkan.  
“Selain membuka kedai kelontong yang melayani kuli-kuli sehari-hari, mereka menjual opium, mengelola rumah gadai, menjadi bandar judi dan membangun barak-barak pelacuran,” ujar Emile W. Aulia dalam roman Berjuta-juta dari Deli
Nikmat berujung Sengsara
Dalam roman lain Merantau ke Deli, sastrawan Hamka berkelakar bila sang buruh menang judi, berseri-seri lah mukanya. Ada pula yang geram menepuk-nepuk tangan ke paha. Sebabnya, uang gaji yang baru diterima pukul lima sore telah lenyap di meja judi pukul tujuh malam. Penyelenggaraan judi menjadi senjata bagi pengusaha perkebunan untuk menjerat kuli. Mereka yang telah datang ke Deli sebagai pekerja kebun sukar untuk kembali ke tempat asal karena harus memperbaharui kontrak.
“Tetapi biasanya alasan untuk memperbaharui kontrak adalah habis ludasnya uang simpanan tabungan buruh itu selama suatu pesta pasar malam yang diselenggarakan oleh onderneming pada setiap akhir tahun penanaman di mana segala hiburan termasuk perjudian diadakan,” tulis Karl Pelzer dalam Toean Kebun Toean Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria.    
Seperti judi, candu pun dibiarkan masuk ke lingkungan perkebunan. Obat penenang berupa daun opium yang dibakar dalam pipa ini diakrabi para kuli terutama dari Tionghoa. Bagi mereka, menghisap candu menjadi sarana kenikmatan pelepas penat sehabis bekerja setiap hari. Namun pengunaan candu menyebabkan ketergantungan yang justru melemahkan fisik. Selain itu, candu akan melilit kuli ke dalam kemiskinan karena memaksanya untuk berutang. 
Pemerintah kolonial punya kepentingan dibalik konsumsi candu para kuli. Breman mencatat, biaya pemerintahan dalam negeri, pengadilan, dan penempatan tentara seluruhnya dapat ditutup dengan uang borongan candu yang berarti dibayar oleh para kuli. “Penghasilan ini merupakan surplus yang tidak kecil untuk anggaran belanja daerah pada umumnya,” ujar Breman.
Pada 1901, pengeluaran pemerintah di Sumatera Timur sejumlah 2.200.000 gulden sedangkan pemasukan mencapai 5.300.000 gulden. Dari total pemasukan itu, candu menyumbang 2.259.500 gulden dan judi sebesar 2.321.980 gulden. Dengan demikian, Sumatera Timur mencuat sebagai kawasan penghasil devisa terbesar pemerintah kolonial dibanding hampir semua daerah di Hindia Belanda.
Nasib Buruh Perempuan
Selain judi dan candu, kuli perempuan yang dilacurkan juga menjadi komoditas komersil di kebun Deli. Perekrutan kuli perempuan baru dilakukan pada 1875. Mereka dipekerjakan untuk menggaru tanah, menyortir, memilah, menggantung, hingga mencari ulat tembakau. Memasuki abad 20, dari 62.000 pekerja di perkebunan Deli, hanya 5.000 yang perempuan.
Ann Laura Stoler dalam Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera, 1870-1979menyebut kuli perempuan didatangkan dari Jawa dan didatangkan dalam kondisi belum menikah. Mereka ditipu akan dipekerjakan sebagai kuli dengan penghasilan yang cukup tinggi. Tetapi sebenarnya, mereka juga dipekerjakan sebagai pelacur untuk membuat betah pekerja laki-laki - terutama kuli asal Jawa – untuk memperpanjang kontraknya. Lelaki Jawa sebagaimana diungkap Breman betapa sulit bertahan hidup di perkebunan tanpa kehadiran perempuan.  
Kuli perempuan terpaksa melacurkan diri. Mereka hanya menerima upah 1,5 gulden sebulan, setengah dari pendapat pekerja laki-laki dan tak mendapat tempat penampungan. Akibatnya, mereka punya fungsi lain di perkebunan: memikat pekerja laki-laki di malam hari.  
Dalam skripsinya “Pelacuran pada wilayah Perkebunan di Deli tahun 1870-1930” di Universitas Sumatera Utara, Wahyu Putra Kelana mencatat pelacuran terjadi pada setiap malam gajian. Di saat itulah kuli perempuan akan berdandan dengan cantik dan menjadi penari ronggeng. Setelah pertunjukan ronggeng, praktik pelacuran dimulai. Pengusaha perkebunan turut memfasilitasi dengan membangun tenda-tenda prostitusi di tanah-tanah kosong perkebunan.
Tak hanya kuli, beberapa tuan kebun menikmati praktik pelacuran di perkebunan. Mereka mengambil kuli perempuan yang cantik untuk dijadikan nyai. Adapun yang berparas biasa saja menjadi jatah kuli-kuli yang telah lama bekerja sebagai istri tanpa ikatan pernikahan yang resmi.
Maraknya pelacuran atau prostitusi membuat  penyebaran penyakit kelamin mewabah di perkebunan. Para kuli perempuan rentan terjangkit sifilis karena kerap berganti-ganti pasangan. Dampak lain yang ditimbulkan adalah terjadinya praktik pergundikan dan maraknya anak-anak yang lahir di luar nikah. 

Sumber: Historia