HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Kamis, 13 Maret 2014

Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer, Bongkar Kejahatan 65?

13 Maret 2014

Rika Prasatya, peneliti di Forum Dialog (Fordial), Jakarta

Setiap tanggal 8 Maret, diperingati sebagai hari perempuan internasional yang nuansanya tampaknya ingin menonjolkan dan menggambarkan permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di berbagai negara, termasuk perjuangan kaum perempuan dalam menuntut hak-haknya.
Dalam skala global, khususnya untuk memperjuangkan “pembelaan” terhadap nasib perempuan yang kurang beruntung, maka peringatan hari perempuan internasional ini memenuhi signifikansinya. Apalagi berdasarkan hasil survei salah satu lembaga belum lama ini menyebutkan, bahwa 1 dari 10 perempuan sejak berumur 15 tahun di berbagai negara sudah mengalami kekerasan perempuan, 1-10 perempuan di dunia ini sudah mengalami pemerkosaan dan tindak kekerasan lainnya.
Momentum hari perempuan internasional tahun 2014 ini juga dimanfaatkan berbagai kalangan untuk menyuarakan aspirasinya, baik melalui aksi unjuk rasa, mengungkapkan pernyataan sikap, mengeluarkan petisi sampai kepada pertunjukan teater atau kegiatan seni lainnya.
Di Indonesia, menurut  rencana pada tanggal 7 s.d 9 Maret 2014, Institut Ungu berencana mementaskan teater berjudul “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2014 di Goethe Haus Jakarta. Naskah teater ditulis oleh Faiza Masduki sekaligus menjadi sutradara, diperankan oleh pemain terater yang cukup berpengalaman, Naniek L. Karim, Pipien Putri, Ruth Marini dan Helina Sinaga.
Berdasarkan informasi yang berkembang di kalangan aktivis perempuan, pentas teater ini didukung oleh sejumlah NGO dan lembaga donor dari Belanda, Swedia dan Amerika Serikat serta didukung beberapa LSM dari Indonesia, Elsam, Perempuan Mahardhika, Indonesia untuk Kemanusiaan dan Bites.
Menurut informasi yang berkembang terkait narasi cerita teater tersebut menyebutkan bahwa “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” mengangkat kisah pergulatan pikiran dan batin lima perempuan berumur 70-an sampai 83 tahun yang dulu pernah menjadi tahanan politik ‘65 selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka bertahan menghadapi hari-hari di masa tuanya dan bergulat dengan kenangan kegembiraan dan kebanggaan akan masa mudanya.
Dengan menggendong pengalaman pahit dan traumanya akibat kekerasan seksual, mereka menghadapi stigma yang ditempelkan padanya oleh penguasa. Semua ini harus dihadapi cucu salah seorang eyang-eyang ini, baik sebagai tantangan pribadi dan keluarga maupun sebagai perempuan muda yang memikirkan realitas negerinya. Masa lalu mereka merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang ikut membentuk generasi Indonesia sekarang.
Mempolitisasi Nasib Perempuan?
Jika melihat kepada judul teater ini yaitu “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer”, maka mereka yang aktif mempelajari sejarah dan ingat perkembangan sejarah di Indonesia, tidak akan sulit menerjemahkan untuk pertama kalinya bahwa teater ini tampaknya sangat berisi pesan dari kelompok kepentingan tertentu, terutama dari kelompok yang dalam orde baru menjadi korban utamanya. “Genjer-genjer” adalah sebuah lagu yang sangat terkenal dan sangat dipahami oleh para anggota PKI saat peristiwa 1965 (jika tidak salah).
Penilaian ini kemungkinan benar dan kemungkinan juga salah. Namun jika melihat narasi yang diambil dari literatur dan hasil survei,  rencana pementasan teater ini mengambil fakta-fakta yang ada di lapangan khususnya di Yogyakarta, Solo, Klaten, Sragen, Jakarta serta di Eksil Swedia dan Belanda hingga mengunjungi tempat isolasi para tahanan perempuan di Palantungan.
Memang tujuan kegiatan pertunjukan teater ini diwujudkan untuk memberi suara atau kesempatan “pembelaan” kepada para perempuan yang mengalami sejarah kelam pada tahun 1965 yang lalu, sehingga tidak mengherankan jika ada yang menilai kegiatan pertunjukan teater ini merupakan salah satu bentuk propaganda untuk melihat kembali sejarah kelam para perempuan korban politik ‘65. Apalagi keterlibatan sejumlah kelompok civil society dan NGO’s dari luar negeri yaitu Belanda, Swedia dan Amerika Serikat tentunya mungkin dengan maksud ingin menginternasionalisasi atau menduniakan kasus ini.
Menurut salah seorang pelaku sejarah tahun 1965 kepada penulis menilai, pentas teater ini yang akan dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari perempuan Internasional patut diduga untuk mengingat-ingat kembali pengalaman pengalaman pahit perempuan bangsa ini, para perempuan yang tergabung ataupun tidak tergabung dalam organisasi perempuan seperti Gerwani telah mengalami kekejaman sebuah rezim, walaupun masih dipertanyakan apa jenis kekejaman yang telah dilakukan rezim tersebut terhadap perempuan-perempuan ini.
Menurut catatan penulis, beberapa kelompok kepentingan dalam upaya merealisasikan tujuan perjuangannya atau untuk mensosialisasikan ideologinya juga menggunakan wahana komunikasi massa seperti pertunjukan seni, teater dan pembuatan film untuk wahana propagandanya.
Sebelumnya, film berjudul “Act of Killing” yang disutradarai Joshua Oppenheimer walaupun mendapatkan nominasi sebagai film dokumenter terbaik pada perebutan Oscar tahun ini, namun akhirnya panitia secara profesional memutuskan film dokumenter yang juga menyoroti soal kekejaman pada tahun 1965/1966 ini tidak pantas memenangkan hadiah Oscar.
Tidak hanya itu saja, sejumlah kelompok kepentingan juga sedang giat mempromosikan atau mensosialisasikan film dokumenter  berjudul “Jembatan Bacem” menceritakan tentang 3 orang saksi penghilangan paksa dan 2 orang survivor yang lolos dari upaya penghilangan paksa di atas Jembatan Bacem pada 1965/1966.  Film Jembatan Bacem diproduksi oleh Elsam dan Sekber ‘65 Solo menggambarkan sebuah tragedi hilangnya 71 orang hilang dari kamp penahanan Solo Mulyo pada 29 September 1966.
Hanya saja generasi muda saat ini akan sulit mengklarifikasi apakah semua film-film tersebut adalah propaganda kelompok tertentu atau adalah fakta sebenarnya. Inilah pelajaran pentingnya, sejarah harus dituturkan dan ditulis secara jujur dan bebas dari kepentingan apapun juga.
Sumber: TheGlobalReview 

Senin, 10 Maret 2014

Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966

Sabtu, 01 Maret 2014

Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi [1]



Oleh : 

Tempo.co

Sabtu, 1 Maret 2014 11:40 WIB

Djajeng Pratomo di rumah Panti Wreda (Zorgcentrum) De Zandtee, Schagen, Belanda, 2 Februari lalu.Tempo/Lea Pamungkas
Amsterdam- Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.   
Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.
Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu,Lea Pamungkas dari Tempo  menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan pertama dari lima tulisan yang disajikan disini.
Nama Djajeng tak dikenal dalam sejarah Indonesia. Tapi dia salah satu saksi hidup perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tapi juga saksi hidup kekejaman tentara Nazi.
Djajeng lahir di Bagansiapiapi, Sumatera Utara pada 22 Februari 1914. Anak Pasangan Raden Mas Pratomo- Raden Pratomo dan Raden Sujatilah. Lahir dengan nama Amirool Koesno. Ayahnya keturunan Keraton Pakualaman Yogyakarta.
Dialah lulusan pertama dokter Jawa dari sekolah bergengsi School toto Opleiding van Inlandsche Artsen-STOVIA, sebuah pendidikan untuk Dokter Pribumi. Dr Pratomo pindah ke Bagansiapiapi untuk memimpin sebuah poliklinik pada 1911 hingga meninggal pada 1939. Namannya diabadikan untuk nama rumah sakit umum daerah di Jalan Pahlawan Nomor 13, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Amirool kecil pindah ke Medan pada usia 7 tahun untuk masuk sekolah dasar. Dia meneruskan sekolah menengah di Yogyakarta dan HBS di Koning Willem School, Jakarta. Semua siswa dan gurunya Belanda tulen atau Indo. “Seingat saya hanya ada satu guru Indo,” ujarnya.
Setelah lulus dia meneruskan pendidikan ke Medische School, sekolah kedokteran di Belanda dan sang ayah mengirimnya ke Leiden. Adiknya, terlebih dulu sudah sampai di Belanda. Hanya setahun di Leiden, dia pindah ke Economische Hogeschool-sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam. Adiknya pun mengikuti jejaknya pada 1940.
LEA PAMUNGKAS | DIAN YULIASTUTI
Sumber: Tempo.Co