Historia | 2 Oktober 2013 | 13:22
Selama ini, salah satu dalih yang dipakai untuk menuduh
PKI mendalangi Gerakan 30 September (G30S) 1965 adalah isu Angkatan
ke-V. Bagi mereka yang memakai dalih ini, Angkatan ke-V merupakan
gagasan PKI untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani, sebagai persiapan
merebut kekuasaan.
Cerita ini terus-menerus dipropagandakan oleh sejarawan militer dan
Orde Baru. Tidak sedikit orang yang mempercayainya. Bahkan dikembangkan
cerita, bahwa Pemuda Rakyat dan Gerwani yang berada di Lubang Buaya,
yang menyiksa para Jenderal, adalah perwujudan “Angkatan ke-V”. Mereka
mendapat pasokan senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Saya berusaha melihat isu Angkatan ke-V ini dari versi lain. Salah
satunya adalah Soebandrio, yang menjabat Wakil Perdana Menteri RI di era
itu. Dalam buku berjudul
Kesaksianku Tentang G30S, yang terbit pada tahun 2000 lalu, Subandrio menceritakan sekilas perihal Angkatan ke-V.
Menurutnya, pada akhir 1963, Ia selaku Waperdam sekaligus Menlu
berkunjung ke RRT. Di sana ia disambut hangat. Pemimpin RRT
mengelu-elukan Bung Karno sebagai pemimpin anti-imperialis dan
anti-kolonialisme. Dalam pembicaraan saat itu, pihak RRT menawarkan
bantuan berupa peralatan militer untuk 40 batalyon tentara. Peralatan
itu meliputi senjata manual, otomatis, tank, dan kendaraan lapis baja.
Semuanya gratis dan tanpa syarat.
Saat itu, menurut pengakuan Soebandrio, pihaknya tidak langsung
menyatakan menerima. Begitu tiba di tanah air, ia menyampaikan hal
tersebut ke Bung Karno. Jawaban Bung Karno: Ya, terima saja. Akhirnya,
persetujuan Bung Karno itu disampaikan ke pihak RRT. Namun, belum ada
jadwal kapan perlengkapan militer itu akan dikirimkan.
Awal tahun 1965, kata Soebandrio, barulah Bung Karno muncul ide
mengenai pembentukan Angkatan ke-V itu. Tujuannya untuk menampung
persenjataan bantuan RRT tersebut. Saat itu, Bung Karno merasa
persenjataan keempat angkatan lain, yakni AD, AU, AL, dan Kepolisian,
sudah dianggap cukup. Sehingga muncullah ide untuk membentuk angkatan
ke-V.
Namun, seperti ditegaskan Soebandrio, Bung Karno belum merinci bentuk
Angkatan ke-V itu. Intinya, angkatan ini tidak sama dengan angkatan
yang sudah ada. Saat itu, kata Soebandrio, isu angkatan ke-V belum ada
embel-embel mempersenjatai buruh dan tani.
Manai Sophiaan, dalam bukunya
Kehormatan Bagi Yang Berhak: Bung Karno tidak terlibat G30S/PKI,
punya penjelasan yang mirip dengan Soebandrio. Ia mengungkapkan, isu
angkatan ke-V barulah sebatas wacana yang dihembuskan oleh Bung Karno.
Kalaupun mau dikonkretkan, maka ide Angkatan ke-V itu harus dibahas dan
disetujui tiga lembaga negara, yakni Sidang Kabinet (eksekutif), DPRGR
(legislatif), dan Dewan Pertimbangan Agung. Pada kenyataannya, dibahas
saja belum pernah, apalagi disetujui.
Menurut Manai Sophiaan, Gagasan Angkatan ke-V sebenarnya hanya
move politik
yang dilontarkan oleh Bung Karno. Ide itupun bertolak dari ketentuan
UUD 1945 pasal 30 tentang bela negara. Selain itu, ada kebutuhan untuk
menopang gerakan ‘Ganyang Malaysia’.
Namun, menurut Manai, pihak pers-lah yang membesar-besarkan isu
tersebut, sehingga mengundang reaksi dari Menteri/Panglima Angkatan
Darat saat itu, Jenderal Ahmad Yani. Ia pun menyampaikan
ketidaksetujuannya kepada Bung Karno. Para Jenderal yang lain juga
menyuarakan penolakan itu.
Penolakan Yani inilah yang memicu perbincangan luas. Plus
embel-embelnya: mempersenjata buruh tani. Bung Karno sendiri berencana
memanggil Yani untuk membahas hal tersebut. Jadwalnya: 1 Oktober 1965,
pukul 08.00 WIB. Sayang, beberapa jam menjelang pemanggilan itu,
Jenderal Yani dibunuh oleh pasukan G30S.
Yang menjadi pemantik hangatnya isu Angkatan ke-V adalah adanya 22
juta sukarelawan yang sudah mendaftar di Front Nasional guna memenuhi
seruan Bung Karno mengganyang Malaysia. Pihak kanan menghembuskan isu
bahwa 22 juta sukarelawan inilah yang akan disaring masuk ke Angkatan
ke-V. Padahal, keberadaan sukarelawan itu tidak ada kaitannya dengan
pembentukan Angkatan ke-V.
RRT Dan Bantuan Senjata
Saya kira, yang menarik untuk dicari tahu dalam masalah ini adalah
kepentingan RRT memberikan senjata gratis bagi Indonesia. Benarkah itu
bantuan tanpa syarat?
Pada tahun 1960, setelah retaknya kubu sosialis akibat konflik
Sino-Soviet, RRT berupaya merangkul negara-negara bekas jajahan, yang
sedang dilanda perjuangan anti-kolonial. Ini sejalan dengan teori tiga
kubu dunia-nya Mao Zedong saat itu: dunia pertama adalah negara-negara
kapitalis maju; dunia kedua adalah negara sosialis yang berada di blok
Soviet; dan dunia ketiga adalah negara-negara yang sedang berkembang di
Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang rata-rata bekas negara jajahan.
Bagi pemimpin RRT saat itu, Indonesia di bawah Soekarno bisa menjadi
motor bagi negara-negara dunia ketiga di benua Asia, Afrika, dan Amerika
Latin, guna mengimbangi kekuatan negara kapitalis yang dikomandoi oleh
AS maupun blok Soviet. Untuk itu, RRT mendukung Indonesia dalam kampanye
Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia. (Taomo Zhou: 2013).
Di sisi lain, Bung Karno punya konsep tentang dunia yang terbagi
dalam dua kubu, yakni OLDEFO ( Old Established Forces) dan NEFO (New
Emerging Forces). Oldefo mewakili negara-negara imperialis dan rezim
kompradornya di negara berkembang. Sedangkan Nefo mewakili negara-negara
yang baru merdeka, negara-negara sosialis, dan rakyat progressif di
negeri kapitalis. Dalam konteks ini, RRT berada dalam kubu Nefo, yang
berarti sekutu yang perlu dirangkul.
Konsep Pertahanan Rakyat
Kalau kita lihat uraian Soebandrio dan Manai Sophiaan, isu angkatan
ke-V dilontarkan oleh Bung Karno. Lontaran isu itu berbasiskan tiga hal:
i) kebutuhan menampung bantuan senjata gratis dari RRT; ii) kebutuhan
menangkal serbuan Inggris terkait konfrontasi dengan Malaysia; iii)
mengacu pada amanat pasal 30 UUD 1945 tentang bela negara.
Saya kira, isu mengenai Angkatan ke-V tidak perlu begitu diributkan
jika kita mengacu ke konsep pertahanan kita, bahwa pertahanan negara
bukan hanya tanggung-jawab tentara profesional, tetapi tanggung-jawab
seluruh rakyat. Ini diatur oleh pasal 30 UUD 1945. Itu pula makna konsep
hankamrata atau pertahanan keamanan rakyat semesta.
Konsep itu juga diatur dalam TAP MPRS No.II tahun 1960:
Politik
keamanan/pertahanan Republik Indonesia berlandaskan Manifesto Politik
Republik Indonesia beserta perinciannya dan berpangkal pada kekuatan
Rakyat dengan bertujuan menjamin keamanan/pertahanan nasional serta
turut mengusahakan terselenggaranya perdamaian dunia.
Kemudian, di Bab II Pasal 4, ayat (4) dan (5) TAP MPRS tersebut, ada penekanan bahwa “
Pertahanan
Negara Republik Indonesia bersifat defensif-aktif dan bersikap
anti-kolonialisme dan anti-imperialisme dan berdasarkan pertahanan
Rakyat semesta yang berintikan tentara sukarela dan milisi.”
Dengan demikian, isu angkatan ke-V yang dilontarkan Bung Karno
bukanlah hal yang salah. Tidak bertolak-belakang dengan amanat
konstitusi dan aturan jaman itu. Hanya saja memang, usulan tersebut
harus didiskusikan lebih lanjut untuk mendetailkan konsepsinya.
Hanya saja, dalam konsepsi PKI, memang ada penenakan pada buruh dan
tani. Hal ini tidak terlepas dari cara pandang bahwa buruh dan tani-lah
kekuatan pokok dalam revolusi. DN Aidit dalam risalah
PKI dan AD
(1963), menjelaskan mengapa buruh dan tani menjadi kekuatan pokok dalam
revolusi. Dan, dengan demikian, paling pokok untuk dipersenjatai.
Menurut Aidit, kaum buruh menjadi kekuatan pokok Revolusi oleh karena
mereka, berhubung dengan kedudukan sosialnya, adalah yang paling
konsekuen berjuang untuk Sosialisme, yaitu masyarakat yang bersih dari
penghisapan atas manusia oleh manusia. Karena paling konsekuen
memperjuangkan sosialisme, maka klas buruh pula yang menjadi klas yang
tidak akan berhenti berjuang sebelum hapus segala bentuk penghisapan.
Termasuk dalam melawan imperialisme dan feodalisme.
Sementara petani menjadi kekuatan pokok revolusi, kata Aidit, karena
mereka meliputi mayoritet yang terbesar sekali dari Rakyat dan yang
tertindas dari sisa-sisa feodalisme.
Isu perebutan Kekuasaan
Saya kira, isu angkatan ke-V menjadi sensitif dan kemudian
menggelinding kemana-mana bak bola panas karena situasi politik jaman
itu.
Di tahun 1950-an, politik Indonesia makin menajamkan polarisasi
antara kiri dan kanan. Salah satu pemicunya adalah: apakah revolusi
nasional sudah selesai atau belum selesai. Soekarno dan kelompok sayap
kiri, termasuk PKI dan sayap kiri PNI, beranggapan bahwa revolusi belum
selesai. Sementara kelompok tentara (Nasution Cs), Masyumi, dan PSI
menolak anggapan itu.
Di pertengahan tahun 1950-an, kubu kiri membesar secara politik
karena adanya kampanye nasionalisasi perusahaan Belanda, pembebasan
Irian Barat, dan lain-lain. Dan, tidak disangkal lagi, kelompok kiri
yang paling menonjol perkembangannya adalah PKI. Apalagi, dalam
pemilihan daerah di tahun 1957, PKI menang besar. Ini menciptakan
kekhawatiran besar bagi sayap kanan. Inilah yang memicu aksi sayap
kanan, yang disokong CIA/AS, untuk melancarkan pemberontakan
PRRI/Permesta. Nah, pasca pemberontakan PRRI-Permesta, hampir semua
sayap kanan berkumpul di belakang di tentara.
Banyak peneliti sejarah menilai, termasuk penulis Soviet, Kapitsa M.S dan Maletin N.P dalam
Soekarno: Biografi Politik, kehadiran Soekarno sebagai pemimpin besar saat itu sangat penting untuk menjadi
katup pengaman
guna mencegah terjadinya bentrokan diantara kedua kubu tersebut.
Inipula yang mendasari manuver angkatan 45, yang dimotori Chaerul Saleh,
mendorong ide ‘
Presiden Seumur Hidup’. Yakni: untuk mencegah adanya pemilu. Sebab, kalau ada pemilu saat itu, maka dipastikan PKI akan menang.
Di sini, ada tiga isu yang membuat pertentangan kedua kubu memanas
dan isu angkatan ke-V mengalami politisasi sedemikian rupa. Pertama,
kabar sakitnya Bung Karno. Kedua, isu Dewan Jenderal yang berupaya
melakukan kup terhadap Bung Karno. Ketiga, adanya dokumen Gillchrist.
Pada awal Agustus 1965, Bung Karno sakit. Dalam versi sejarah Orba
dikatakan, DN Aidit sampai mendatangkan dokter dari RRT untuk mengobati
Bung Karno. Kesimpulan dokter RRT: Bung Karno sudah kritis. Kalau tidak
meninggal dunia, beliau akan lumpuh. Cerita ini dikembangkan untuk
mendapatkan alibi bahwa PKI terlibat G30S. Logikanya sederhana: kalau
Bung Karno parah, AD akan merebut kekuasaan dan memukul PKI. Karena itu,
PKI harus bertindak duluan.
Ternyata, menurut versi Soebandrio, dokter Tiongkok yang dibawa Aidit
untuk mengobati Bung Karno bukanlah dari RRT, melainkan dari Kebayoran
Baru, Jakarta. Menurut Soebandrio, Bung Karno hanya masuk angin. Namun
demikian, isu sakitnya Bung Karno ini dibesar-besarkan sedemikian rupa.
Termasuk tuduhan bahwa PKI sudah mempersiapkan diri, termasuk
mengorganisir militer dan milisi, untuk merebut kekuasaan.
Isu lain yang juga heboh saat itu adalah Dewan Jenderal. Menurut
Soebandrio, ia mendengar isu Dewan Jenderal pertama sekali dari Badan
Pusat Intelijen (BPI). Tetapi masih informasi yang tidak lengkap. Hanya
dikatakan bahwa ada sekelompok Jenderal AD yang disebut Dewan Jenderal
merencanakan kup terhadap Bung Karno.
Selain BPI, Brigjend Supardjo dan Kolonel Untung juga sangat percaya
dengan isu Dewan Jenderal itu. Keyakinan itu pula yang mendorong
keduanya mengorganisir aksi G30S untuk menggagalkan kup Dewan Jenderal
tersebut.
Jenderal Ahmad Yani sendiri membantah. Menurutnya, Dewan Jenderal
memang ada, tetapi tidak seperti yang dituduhkan. Ia mengungkapkan,
Dewan Jenderal yang dimaksud hanyalah dewan kepangkatan yang memproses
kenaikan pangkat para jenderal.
Namun, menurut Soebandrio, isu Dewan Jenderal menjadi jelas
informasinya pada 26 September 1965. Artinya, hanya empat hari menjelang
G30S. Informasi itu datang dari empat orang, yakni Muchlis Bratanata,
Nawawi Nasution, Sumantri Singamenggala dan Agus Herman Simatoepang.
Dua yang pertama dari NU, sedangkan dua yang terakhir adalah IPKI.
Mereka bercerita, bahwa pada tanggal 21 September 1965, diadakan
Rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta. Rapat
itu membahas kabinet versi Dewan Jenderal. Tak hanya bercerita, keempat
orang itu menunjukkan tape rekaman. Dalam tape itu ada suara Letjend S
Parman sedang membacakan susunan Kabinet.
Pada saat berhembusnya isu Dewan Jenderal, beredar pula Dokumen
Gillchrist, yakni telegram (klasifikasi rahasia) dari Dubes Inggris di
Jakarta, Sir Andrew Gillchrist, kepada Kemenlu Inggris. Inti dokumen
itu: Andrew Gillchrist melapor ke atasannya Kemenlu Inggris, bahwa ia
sudah melakukan pembicaraan koleganya Dubes AS di Jakarta terkait
rencana operasi untuk menggulingkan Soekarno. Yang menarik, dokumen
menyebut adanya “our local army friends” yang siap membantu operasi itu.
Soebandrio dan BPI percaya keotentikan dokumen itu. Ia melaporkan hal
itu kepada Bung Karno. Menurut Soebandrio, Bung Karno merasa cemas
dengan dokumen itu. Yang menarik, kendati percaya keotentikan dokumen
itu, Soebandrio menganggap itu sebagai provokasi untuk memainkan situasi
politik di Indonesia. Termasuk memprovokasi pendukung Bung Karno dan
PKI untuk bereaksi duluan.
Saya kira, provokasi-provokasi itulah yang membuat isu Angkatan Ke-V
makin sensitif pula. Yang menarik, Prof Wertheim (1990) menyimpulkan
bahwa kemungkinan besar Tape Rekaman mengenai rapat Dewan Jenderal itu
hanya pelancungan alias pemalsuan. Tujuannya untuk menyakinkan pendukung
Soekarno dan pimpinan PKI akan keberadaan Dewan Jenderal yang
merencanakan kup pada 5 Oktober 1965. Dengan begitu, mereka bisa
menggelar aksi pencegahan lebih dulu. Dan jebakan ini berhasil.
Rudi Hartono,
pengurus Komite Pimpinan Pusat–
Partai Rakyat Demokratik (PRD); Pimred Berdikari Online
http://www.berdikarionline.com/isu-angkatan-kelima-dan-peristiwa-g30s/