WeBlog Dokumentatif Terkait Genosida 1965-66 Indonesia
Senin, 22 Februari 2010
Catatan Rahasia Sebelum Munculnya G 30 S / PKI (Secret)
Senin, 22 Februari 2010
Rahasia Aidit
Kolonel Latief:
“Jenderal Suharto Terlibat G30S!”
_______________
Oleh Hilmar Farid (Sejarawan)
Aidit
memimpin PKI sejak Januari 1951. Baru beberapa bulan, partai yang baru
dipukul secara politik dan fisik menyusul peristiwa Madiun 1948 itu
kembali berhadapan dengan represi. Pada pertengahan Agustus, ribuan
pemimpin dan kader partai ditangkap di Medandan Jakarta. Ini terjadi
setelah serangan terhadap sebuah kantor polisi di Tanjung Priok oleh
gerombolan yang mengenakan simbol palu arit. Sekalipun pemimpin partai
membuat pernyataan tidak terlibat dalam serangan itu, pemerintah Sukiman
tetap mengirim aparat untuk mengejar kaum komunis. Aidit bersama Lukman
dan Njoto lolos dari kejaran.
Tepat empat tahun kemudian, September
1955, PKI menempati urutan keempat dalam pemilihan umum dengan 6,1 juta
suara atau meraih 16,4 persen dari total suara. Dua tahun kemudian,
dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI meningkat hampir 40
persen, bahkan di beberapa daerah mereka mayoritas. Jumlah anggotanya
yang semula hanya 4.000 orang meningkat puluhan kali lipat. Pada 1957
Aidit dengan bangga melaporkan bahwa jumlah perempuan anggota partai
sudah mencapai 100 ribu. Pada usia 32 tahun Aidit sudah menjadi pemimpin
salah satu kekuatan politik pasca-revolusi yang paling signifikan dan
hidup.
Apa rahasia Aidit mengubah partai yang semula terbelah ke dalam banyak faksi menjadi kekuatan politik yang solid dan andal? Pengambilalihan
partai dari apa yang disebut ”kalangan tua” oleh Aidit, Lukman, dan
Njoto, pada awal 1951 bukanlah proses yang mudah. Perdebatan berlangsung
di tingkat pimpinan pusat sampai kader-kader daerah. Dalam berbagai
kesempatan, Politbiro baru di bawah Aidit menggunakan tangan besi.
”Pengadilan” dibentuk untuk mendisiplinkan kader yang berseberangan
pandangan dengan pemimpin baru. Banyak dari mereka yang diadili kemudian
diturunkan jabatan dan status keanggotaannya, bahkan dikeluarkan dari
partai.
Setelah berhasil melakukan konsolidasi dengan menyatukan
unsur-unsur yang setuju pada garis kebijakan baru partai, Politbiro yang
dipimpin Aidit mulai membangun struktur organisasi yang ketat. Orang
yang bertanggung jawab melakukan tugas berat ini adalah Sudisman.
Seleksi dan perekrutan anggota dirapikan. Setiap calon anggota melalui
tahap pemeriksaan dan pengawasan selama lima sampai enam bulan
sebelum menjadi anggota penuh dan kemudian kader partai. Pada saat
bersamaan diberlakukan juga asas demokrasi di mana kader bisa
menyuarakan perbedaan pendapat dan kritik sehingga tidak terakumulasi
menjadi faksi seperti terjadi pada masa sebelumnya.
Pendidikan
politik mendapat perhatian khusus dan menurut Ruth McVey inilah kunci
yang membuat PKI mempesona banyak orang. Di tengah sistem pendidikan
nasional yang belum berkembang, jumlah sekolah dan guru yang terbatas,
kegiatan pendidikan yang diselenggarakan PKI di berbagai tingkat seperti
menjadi jalan menuju modernitas. Analisis Marxis, studi ekonomi
politik, sejarah masyarakat, yang diajarkan di sekolah dan kursus
politik milik partai tidak hanya menawarkan isi tapi juga cara ”berilmu”
baru.
Perluasan pendidikan ini dibarengi dengan berlipat gandanya
kegiatan penerbitan. Harian Rakjat, yang semula terbit terbatas untuk
kader dan anggota partai, pada awal 1957 sudah menjadi harian dengan
tiras 60 ribu eksemplar. Cabang-cabang partai mempunyai penerbitan
sendiri seperti Suara Ibukota di Jakarta, Suara Persatuan di Semarang,
Buletin PKI Djawa Timur di Surabaya, dan Lombok Bangun di Mataram.
Terjemahan karya asing ke dalam bahasa Indonesia banyak dilakukan. Di
Jawa Barat, kader partai membaca karya Mao dalam bahasa Sunda.
Namun
elemen yang paling penting dalam konsolidasi partai adalah tumbuhnya
komunitas yang berpusat pada organisasi partai. Kantor partai adalah
tempat yang hidup dan para pengurusnya adalah orang yang aktif dalam
komunitas. Organisasi secara konkret membantu anggota menghadapi
masalah, mulai dari tekanan politik pihak lawan sampai urusan
sehari-hari seperti melahirkan dan kematian. Menurut Donald Hindley, PKI
berhasil membangun komunitas-komunitas berbasis solidaritas dalam
masyarakat yang penuh ketegangan dan pertentangan.
Perkembangan pesat
ini hampir tidak mendapat hambatan berarti. Sejak 1951 Aidit
menitikberatkan perjuangan partai melalui jalan parlemen. Dengan
strategi front nasional PKI berhasil menciptakan ruang yang memudahkan
konsolidasi partai. Sepanjang 1950-an PKI praktis tidak pernah ”bermain
di luar jalur” seperti halnya partai-partai yang bertualang dengan
terlibat aksi pemberontakan di daerah-daerah, usaha putsch atau
persekongkolan untuk menyingkirkan pemimpin nasional. Tidak mengherankan
jika Soekarno melihatnya sebagai sekutu penting untuk mengimbangi
tekanan pihak militer. Semua ini berubah pada awal 1960-an. Angkatan
Darat dan kekuatan antikomunis kini melihat PKI sebagai ancaman nyata.
Ancaman bahwa PKI akan berhasil menguasai pemerintah melalui pemilihan
umum dan perjuangan parlementer membuat lawan politiknya diam-diam
mensyukuri Demokrasi Terpimpin. Ketegangan sosial dan politik meningkat
karena perekonomian memburuk. Para ahli psychological warfare dalam
maupun luar negeri sementara itu meramaikan suasana politik dengan
desas-desus, pengacauan informasi, dan aksi subversi.
PKI mulai
memasuki gelanggang politik baru. Tekanan berbagai pihak membuat
keputusan-keputusan penting semakin terpusat di tangan segelintir
pimpinan. Jarak dengan massa mulai terasa. Komunitas yang tumbuh di
sekeliling organisasi partai kini terpusat pada mobilisasi dan semakin
banyak pertimbangan survival yang melandasi kebijakan partai. Buruh
dilarang mogok, petani diminta menahan diri agar tidak mengambil alih
lahan, jika sasarannya adalah sekutu dalam front nasional.
Jarak
pemimpin dengan massa semakin terasa, sekalipun jumlah anggota partai
semakin bertambah. Itu membuat PKI seperti ”raksasa berkaki lempung”,
meminjam istilah sejarawan Jacques Leclerc.
Seruan Aidit untuk
memperkuat barisan partai dengan menambah jumlah anggota tidak hanya
disambut oleh rakyat di kampung dan desa yang melihat PKI sebagai pintu
menuju modernitas dan kemakmuran, tapi juga para pejabat dan mereka yang
dalam analisis sosial PKI disebut kabir alias kapitalis birokrat. Bagi
mereka menjadi anggota partai adalah jalan mengamankan posisi dalam
birokrasi dan membangun perlindungan diri menghadapi pergulatan sosial
yang kadang berlangsung keras dan penuh konflik. PKI pun tumbuh menjadi
tubuh besar yang lamban dan tidak lagi tangkas menghadapi perubahan.
Di
tengah keadaan ini Aidit mendengar berita tentang Dewan Jenderal yang
berencana menggulingkan pemerintahan Soekarno. PKI sebagai partai sudah
terlalu lamban untuk mengikuti dinamika yang berlangsung cepat. Keadaan
menuntut ketangkasan politik. Ketika keputusan menentukan harus diambil
dalam hitungan hari dan jam, Aidit pun terkucil dari Comite Central dan
kawan-kawannya sendiri. Selama September 1965 tidak ada lagi rapat
Politbiro. Aidit bersama sejumlah pemimpin partai terseret dalam gelap
politik klandestin, agen ganda, dan tipu daya.
Ada yang menyebutnya pengkhianatan. Ada juga yang bilang petualangan. Bagi saya, kata yang lebih tepat adalah tragedi. Sumber: Tempo Edisi. 32/XXXVI/01 - 7 Oktober 2007
Catatan Harsutejo tentang G30S 1965
1. G30S
Pada
dini hari menjelang subuh 1 Oktober 1965 sekelompok militer yang
kemudian menamakan diri sebagai Gerakan 30 September melakukan
penculikan 7 orang jenderal AD. Jenderal Nasution dapat meloloskan diri,
sedang yang ditangkap ialah pengawalnya. Lolosnya jenderal ini telah
dibayar dengan nyawa putrinya yang kemudian tewas diterjang peluru.
Keenam orang jenderal teras AD yang diculik dan kemudian dibunuh itu
terdiri dari: Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto (Deputi II
Men/Pangad), Mayjen Haryono MT (Deputi III Men/Pangad), Mayjen S Parman
(Asisten I Men/Pangad), Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad),
Brigjen Sutoyo (Oditur Jenderal AD).
Pada pagi-pagi 1 Oktober 1965,
sebelum orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Kolonel Yoga
Sugomo sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen serta merta menyatakan bahwa
hal itu pasti perbuatan PKI, ketika pengumuman RRI Jakarta pada jam
07.00 menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung.
Maka Yoga pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar
gudang. Ini PKI berontak”. Jangan-jangan Kolonel Yoga, Kostrad, dan -
siapa lagi kalau bukan Jenderal Suharto – telah mengantongi skenario
jalannya drama tragedi yang sedang dan hendak dipentaskan kelanjutannya.
Tentu saja pertanyaan ini amat mengggoda karena dokumen-dokumen rahasia
CIA pun mengungkapkan berbagai skenario semacam itu dengan diikuti
dijatuhkannya Presiden Sukarno sebagai babak penutup.
Menurut tuduhan
dan pengakuan Letkol (Inf) Untung, Komandan Batalion I Resimen
Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden RI yang secara formal memimpin
Gerakan 30 September, para jenderal tersebut menjadi anggota apa yang
disebut Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta terhadap kekuasaan
Presiden Sukarno yang sah pada 5 Oktober 1965. Karena itu Letkol Untung
sebagai insan revolusi sesuai dengan ajaran resmi yang didengungkan
ketika itu, mengambil tindakan dengan menangkap mereka guna dihadapkan
kepada Presiden. Dalam kenyataannya mereka dibunuh ketika diculik atau
di Lubang Buaya, Jakarta.
Tentang pembunuhan yang tidak patut ini
terjadi sejumlah kontroversi. Menurut pengakuan Letkol Untung hal itu
menyimpang dari perintahnya. Dalam hubungan ini telah timbul berbagai
macam penafsiran yang berhubungan dengan kegiatan intelijen berbagai
pihak, pihak intelijen militer Indonesia, Syam Kamaruzaman sebagai Ketua
Biro Chusus (BC) PKI, intelijen asing, utamanya CIA, dalam arena perang
dingin yang memuncak antara Blok Amerika versus Blok Uni Soviet dengan
Blok RRT yang anti AS maupun Uni Soviet. Menurut pengakuan Syam,
pembunuhan itu atas perintah Aidit, Ketua PKI. Pembunuhan demikian
sangat tidak menguntungkan pihak PKI yang dituduh sebagai dalang G30S,
akan dengan mudahnya menyulut emosi korps AD melawan PKI, sesuatu yang
pasti tak dikehendaki Aidit dan sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan
dibunuhnya Aidit atas perintah Jenderal Suharto, maka pengakuan Syam
yang berhubungan dengan Aidit sama sekali tak dapat diuji kebenarannya.
Dengan begitu Syam memiliki keleluasaan untuk menumpahkan segala macam
sampah yang dikehendakinya maupun yang dikehendaki penguasa ke keranjang
sampah bernama DN Aidit.
Banyak pihak menafsirkan bahwa Syam ini
merupakan agen intelijen kepala dua (double agent), atau bahkan tiga
atau lebih. Hal ini di antaranya ditengarai dari pengakuannya yang
terus-menerus merugikan PKI dan Aidit. Ini berarti dia yang posisinya
sebagai Ketua BC CC PKI, pada saat itu menjadi agen yang sedang mengabdi
pada musuh PKI. Dari riwayat Syam ada bayang-bayang buram misterius
yang rupanya berujung pada pihak AD, khususnya Jenderal Suharto. Aidit
yang dituduh sebagai dalang G30S yang seharusnya dikorek keterangannya
di depan pengadilan segera dibungkam karena keterangan dirinya tidak
akan menguntungkan skenario Mahmillub yang dibentuk atas perintah
Jenderal Suharto sebagaimana yang telah dimainkan oleh Syam atas nama
Ketua PKI Aidit.
Keterangan Syam mengenai perintah Aidit tentang
pembunuhan para jenderal tidak dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat
dipercaya. Beberapa pihak di Mahmillub menyebutnya perintah itu dari
Syam, tetapi siapa yang memerintahkan dirinya? Pertanyaan ini
mau-tidak-mau perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, siapa yang
diuntungkan oleh pembunuhan para jenderal itu? Bung Karno tidak,
Nasution tidak, Aidit pun tidak. Hanya ada satu orang yang diuntungkan:
Jenderal Suharto! Jika Jenderal Yani tidak ada maka menurut tradisi AD
Suharto-lah yang menggantikannya. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa
ketika Presiden Sukarno menunjuk Jenderal Pranoto sebagai pengganti
sementara pada 1 Oktober 1965, maka Jenderal Suharto menentang keras.
Jelas dia berambisi menjadi satu-satunya pengganti yang akan memanjat
lebih jauh ke atas, padahal ketika itu nasib Jenderal Yani cs belum
diketahui jelas.
Perlu ditambahkan bahwa rencana pengambilan
[penculikan] para jenderal telah diketahui beberapa hari sebelumnya
serta beberapa jam sebelum kejadian berdasarkan laporan Kolonel Abdul
Latief, bekas anak buah Suharto yang menjadi salah seorang penting dalam
G30S. Jenderal Suharto sebagai Panglima Kostrad tidak mengambil langkah
apa pun, justru hanya menunggu. Kenyataan ini membuat kecewa dan
dipertanyakan salah seorang bekas tangan kanan Suharto yang telah
berjasa mengepung Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, Letjen (Purn) Kemal
Idris. Masih dapat ditambahkan lagi bahwa keenam jenderal yang dibunuh
tersebut memiliki riwayat permusuhan internal dengan Suharto karena
Suharto melakukan korupsi sebagai Pangdam Diponegoro.
Ada fakta
sangat keras, dua batalion AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke
Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung
pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen Suharto
yang diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun
mengetahui dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta
jejaring intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen
Kostrad lewat tangan Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak
pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu dapat membuka kedok Suharto
menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu. Mungkin saja
jejaring Suharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalion
tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan
ke markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini
bersama pasukan Letkol Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah
sejumlah indikasi kuat keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S, ia
bermain di dua kubu yang dia hadapkan dengan mengorbankan 6 jenderal.
Lalu
siapa yang diuntungkan dengan dibunuhnya Aidit? PKI dan Bung Karno
pasti tidak, lawan-lawan politik PKI jelas senang (meski ada juga yang
kemudian menyesalkan, kenapa tidak dikorek keterangannya di depan
pengadilan), di puncaknya ialah Jenderal Suharto yang memang
memerintahkannya. Jika Aidit diberi kesempatan bicara di pengadilan,
maka dia akan mempunyai kesempatan membeberkan peran dirinya dalam G30S
yang sebenarnya, bukan sekedar menelan keterangan Syam di Mahmillub
sesuai dengan kepentingan Suharto cs. Jika ini berlaku maka skenario
yang telah tersusun akan kacau.
Sejak 4 Oktober 1965, ketika
dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang Buaya, maka
disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer
untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato
fitnah Jenderal Suharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang
Buaya sebagai wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan
dongeng horor fitnah keji tentang perempuan Gerwani yang menari
telanjang sambil menyilet kemaluan para jenderal dan mencungkil matanya.
Ini semua bertentangan dengan hasil visum dokter yang dilakukan atas
perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan kepadanya pada 5
Oktober 1965. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara
berkesinambungan oleh dua koran AD Angkatan Bersendjata dan Berita
Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain
diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya
harus mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam
studi Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih
berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan
Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang dimanipulasi sebagai “pelacur
bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi
moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.
Setelah
lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan organisasi kiri
lain berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan
mencapai puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut
sebagai golongan manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir dst yang
darahnya halal, maka situasi telah matang dan tiba waktunya untuk
melakukan pembasmian dalam bentuk pembunuhan massal. Dan itulah yang
terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan pasukan RPKAD di bawah Kolonel
Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga Oktober 1965, selanjutnya di
Jawa Timur pada minggu berikutnya dan Bali pada Desember 1965/Januari
1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie yang
membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia.
Dalam khasanah
sejarah G30S ada gambaran yang disesatkan bahwa situasinya seolah waktu
itu “dibunuh atau membunuh” seperti dalam perang saudara. Ini sama
sekali tidak benar, tidak ada buktinya. Hal ini dengan sengaja
diciptakan sesuai dengan kepentingan rezim militer Suharto guna
melegitimasi kekejaman mereka. Situasi telah dimatangkan oleh propaganda
hitam pihak militer di bawah Jenderal Suharto beserta segala
peralatannya yang menyinggung nilai-nilai moral dan agama tentang
perempuan sundal Gerwani sebagai yang digambarkan dalam dongeng horor
Lubang Buaya. Emosi ketersinggungan kaum agama beserta nilai-nilai
moralnya ditingkatkan sampai ke puncaknya untuk menyulut dan memuluskan
pembantaian anggota PKI dan kaum kiri lainnya yang disebut sebagai kaum
kafir yang dilakukan pihak militer dengan memperalat sebagian rakyat
yang telah terbakar emosinya.
Setelah seluruh organisasi kiri,
utamanya PKI dihancurlumatkan, sisa-sisa anggotanya dipenjara, maka
datang waktunya untuk menghadapi dan menjatuhkan Presiden Sukarno yang
kini dalam keadaan terpencil diisolasi. Dikepunglah Istana Merdeka oleh
pasukan AD di bawah pimpinan Kemal Idris, pada saat Presiden Sukarno
sedang memimpin rapat kabinet yang tidak dihadiri Jenderal Suharto pada
11 Maret 1966 yang ujungnya telah kita ketahui bersama berupa
Supersemar. Kudeta merangkak ini dilanjutkan dengan pengukuhan Jenderal
Suharto sebagai Pejabat Presiden (sesuatu yang menyimpang dari UUD 1945,
tak satu pun pakar yang berani buka mulut ketika itu), selanjutnya
sebagai Presiden RI. Maka berlanjutlah pemerintahan diktator militer
selama lebih dari tiga dekade yang menjungkirbalikkan segalanya, sampai
akhirnya Indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia dengan
utang sampai ke ubun-ubun.
G30S di bawah pimpinan Letkol Untung
dirancang untuk gagal, artinya ada rancangan lain yang tidak pernah
diumumkan alias rancangan gelap di balik layar dengan dalang-dalang yang
penuh perhitungan untuk melaksanakan adegan yang satu dengan yang lain.
Maka tidak aneh jika mantan pejabat CIA Ralph McGehee berdasar dokumen
rahasia CIA menyatakan sukses operasi CIA di Indonesia sebagai contoh
soal, “supaya metode yang dipakai CIA dalam kudeta di Indonesia yang
dianggap sebagai penuh kepiawaian sehingga ia digunakan sebagai suatu
tipe rancangan atau denah operasi-operasi terselubung di masa yang akan
datang”. Itulah kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal Suharto
sejak pembunuhan para jenderal, pengusiran BK dari Halim, pembunuhan
massal, pengepunngan Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, akhirnya
dijatuhkannya Presiden Sukarno. Keberhasilan operasi AS di Indonesia
disebut Presiden Nixon sebagai hadiah paling besar di wilayah Asia
Tenggara
Untuk melegitimasi segala tindakann dan memperkokoh
kedudukannya, rezim militer Orba menamakan gerakan Letkol Untung
tersebut dengan G30S/PKI, pendeknya nama keduanya saling dilekatkan.
G30S ya PKI, bukan yang lain. Di sepanjang kekuasannya rezim ini
terus-menerus tiada henti mengindoktrinasi dan menjejali otak kita
semua, kaum muda dan anak-anak sekolah dengan kampanye ini. Ketika studi
sejarah di Indonesia tak lagi bisa dikekang, maka banyak pakar menolak
kesahihan penyebutan tersebut. Studi netral hanya menyebut Gerakan 30
September sebagaimana yang tercantum dalam pengumuman gerakan di RRI
Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965, atau disingkat untuk keperluan
praktis sebagai G30S. Masih ada arus balik riak yang membakari buku
dalam tahun ini karena berbeda dengan kepentingan rezim atau pejabat
rezim sebagai bagian dari vandalisme masa lampau.
2. Gestapu, Gestok
Gerakan
30 September merupakan nama “resmi” gerakan sesuai dengan apa yang
telah diumumkan oleh RRI Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965. Nama ini
untuk keperluan praktis media massa kemudian ditulis dengan G-30-S atau
G30S. Sedang Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) suatu nama yang
dipaksakan agar berkonotasi dengan Gestapo-nya Hitler yang tersohor
keganasannya itu. Rupanya sang konseptor, Brigjen Sugandhi, pimpinan
koran Angkatan Bersenjata, telah banyak belajar dari sejarah dan jargon
nazi Jerman. Jelas nama ini merupakan pemaksaan dengan memperkosa kaidah
bahasa Indonesia (dengan hukum DM), kepentingan politik menghalalkan
segala cara. Nama Gestapu digalakkan secara luas melalui media massa,
sedang dalam buku tulisan Nugroho Notosusanto maupun Buku Putih
digunakan istilah G30S/PKI. Barangkali ini merupakan standar ganda yang
dengan sengaja dilakukan; yang pertama untuk menggalakkan konotasi jahat
Gestapo dengan Gestapu/PKI, sementara buku yang ditulis oleh pakar
sejarah itu bernuansa “lebih ilmiah” bahwa G30S ya PKI.
Sementara itu
sejumlah pakar asing dalam karya-karyanya menggunakan istilah Gestapu
ciptaan Orde Baru ini. Mungkin ada di antara mereka sekedar mengutip
istilah yang digunakan begitu luas dan gencar oleh media massa Orba
secara membebek tidak kritis. Dengan demikian dari istilah yang
digunakan saja tulisan itu sudah memulai sesuatu dengan berpihak secara
politik kepada rezim Orba yang berkuasa. Di antara pakar ini, Prof Dr
Victor M Fic, seorang sejarawan Kanada, telah menulis buku yang
“menghebohkan” itu karena secara murahan menuduh Bung Karno sebagai
dalang G30S. Di seluruh bukunya ia menggunakan istilah Gestapu, ketika
dia menggunakan istilah netral ‘Gerakan 30 September’ selalu diikuti
dalam kurung (GESTAPU).
Sementara orang mengartikan penamaan Gestok
(Gerakan 1 Oktober) hanya untuk gerakan yang dilakukan oleh Mayjen
Suharto pada tanggal tersebut daripada gerakan Letkol Untung. Tetapi
mungkin saja bahwa yang dimaksud Bung Karno adalah gerakan yang
dilakukan Letkol Untung menculik sejumlah jenderal dan kemudian
membunuhnya (terlepas dari adanya komplotan lain dalam gerakan yang
melakukan pembunuhan itu). Penamaan itu juga terhadap gerakan Mayjen
Suharto yang dilakukan menghadapi gerakan Untung serta mencegah
kepergian Jendral Pranoto dan Umar Wirahadikusuma menghadap Presiden ke
PAU Halim, sekaligus mengambilalih wewenang Men/Pangad Jenderal Yani
yang sudah dipegang oleh Presiden Sukarno serta membangkang terhadap
perintah-perintah Presiden untuk tidak melakukan gerakan militer. Tentu
saja penamaan Gestok tidak disukai oleh rezim Orba. Dalam pidatonya
pada 21 Oktober 1965 di depan KAMI di Istora Senayan, Presiden Sukarno
menyebutkan, “..Orang yang tersangkut pada Gestok harus diadili, harus
dihukum, kalau perlu ditembak mati… Tetapi marilah kita adili pula
terhadap pada golongan yang telah mengalami peruncingan seperti Gestok
itu tadi”.
Mungkin sekali ini maksudnya setelah pelaku peristiwa 1
Oktober (Untung cs) yang hanya berumur sehari itu diadili, maka juga
terhadap pelaku yang membuat runcing persoalan sesudah itu, siapa lagi
kalau bukan Jenderal Suharto cs. Dalam pidato Pelengkap Nawaksara di
Istana Merdeka pada 10 Januari 1967 Presiden Sukarno dengan jelas
menyebut pembunuhan para jenderal itu dengan Gestok lalu dilanjutkan
dengan bertemunya tiga sebab (a) keblingernya pimpinan PKI, (b)
kelihaian subversi Nekolim, (c) adanya oknum “yang tidak benar”.
Dalam
dokumen yang disebut “Dokumen Slipi” yang berisi hasil pemeriksaan Bung
Karno sebagai saksi ahli dalam perkara Subandrio dan merupakan
kesaksian terakhir BK (1968), “…1 Oktober 1965 bagi saya adalah
malapetaka, karena gerakan yang melawan G30S pada 1 Oktober 1965 itu
telah melakukan pembangkangan terhadap diri saya, sejak saat itu gerakan
yang melawan G30S tidak tunduk pada perintah saya, maka saya
berpendapat G30S lawannya Gestok…”. Jika dokumen ini memang benar
adanya, hal itu sesuai dengan seluruh perkembangan kejadian serta
analisis BK tentang G30S tersebut di atas. Brigjen Suparjo segera
menghentikan gerakan G30S sementara Mayjen Suharto meneruskan
Gestok-nya. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa Presiden Sukarno tidak
mengambil tindakan apa pun terhadap jenderal yang satu ini, justru
melegitimasi dengan mengukuhkan kedudukannya.
Sebenarnyalah peristiwa
G30S di Jakarta hanya berlangsung selama satu hari, sementara di Jawa
Tengah yang tertinggal itu berlangsung beberapa hari (sesuatu yang aneh
dan perlu dikaji lebih lanjut). Gerakan selanjutnya, yang disebut BK
Gestok, dilakukan oleh Mayjen Suharto dengan menentang dan menantang
perintah Presiden dengan menindas PKI dan gerakan kiri lainnya,
membantai rakyat dan pendukung BK, ujungnya menjatuhkan Presiden
Sukarno. Inilah tragedi sebenarnya dengan pembukaan pembunuhan enam
orang jenderal dan seorang perwira pertama oleh pihak militer sendiri.
3. Lubang Buaya
Pada
1 Oktober 1965 telah terjadi penculikan dan pembunuhan enam orang
jenderal dan seorang perwira pertama AD yang kemudian dimasukkan ke
sebuah sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede oleh pasukan militer
G30S. Pasukan ini berada di bawah pimpinan Letkol Untung, Komandan
Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden.
Pada 4
Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di
Lubang Buaya, Mayjen Suharto, Panglima Kostrad menyampaikan pidato yang
disiarkan luas yang menyatakan bahwa para jenderal telah dianiaya sangat
kejam dan biadab sebelum ditembak. Dikatakan olehnya bahwa hal itu
terbukti dari bilur-bilur luka di seluruh tubuh para korban. Di samping
itu Suharto juga menuduh, Lubang Buaya berada di kawasan PAU Halim
Perdanakusuma, tempat latihan sukarelawan Pemuda Rakyat dan Gerwani.
Perlu disebutkan bahwa Lubang Buaya terletak di wilayah milik Kodam
Jaya. Di samping itu disiarkan secara luas foto-foto dan film jenazah
yang telah rusak yang begitu mudah menimbulkan kepercayaan tentang
penganiayaan biadab itu. Hal itu diliput oleh media massa yang telah
dikuasai AD, yakni RRI dan TVRI serta koran milik AD Angkatan
Bersendjata dan Berita Yudha. Sementara seluruh media massa lain
dilarang terbit sejak 2 Oktober.
Jadi sudah pada 4 Oktober itu
Suharto menuduh AURI, Pemuda Rakyat dan Gerwani bersangkutan dengan
kejadian di Lubang Buaya. Selanjutnya telah dipersiapkan skenario yang
telah digodok dalam badan intelijen militer untuk melakukan propaganda
hitam terhadap PKI secara besar-besaran dan serentak. Dilukiskan
terdapat kerjasama erat dan serasi antara Pemuda Rakyat dan Gerwani
serta anggota ormas PKI lainnya dalam melakukan penyiksaan para jenderal
dengan menyeret, menendang, memukul, mengepruk, meludahi, menghina,
menusuk-nusuk dengan pisau, menoreh silet ke mukanya. Dan puncaknya kaum
perempuan Gerwani itu dilukiskan sebagai telah kerasukan setan,
menari-nari telanjang yang disebut tarian harum bunga, sambil
menyanyikan lagu Genjer-genjer, lalu mecungkil mata korban, menyilet
kemaluan mereka, dan memasukkan potongan kemaluan itu ke mulutnya….
Maaf
pembaca, itu semua bukan lukisan saya tapi hal itu bisa kita baca dalam
koran-koran Orba milik AD yang kemudian dikutip oleh media massa lain
yang boleh terbit lagi pada 6 Oktober dengan catatan harus membebek sang
penguasa serta buku-buku Orba. Lukisan itu pun bisa kita dapati dalam
buku Soegiarso Soerojo, pendiri koran AB, yang diterbitkan sudah pada
1988, .Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai. Anda juga dapat
menikmatinya dalam buku Arswendo Atmowiloto yang direstui oleh pihak AD,
Pengkhianatan G30S/PKI, yang dipuji sebagai transkrip novel yang bagus
dari film skenario Arifin C Noer dengan judul yang sama yang wajib
ditonton oleh rakyat dan anak sekolah khususnya selama bertahun-tahun.
Dan jangan lupa, fitnah ini diabadikan dalam diorama pada apa yang
disebut Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Meski monumen ini
berisi fitnah, tapi kelak jangan sampai dihancurkan, tambahkanlah satu
plakat yang mudah dibaca khalayak:
“Di sini berdiri monumen kebohongan
perzinahan politik”, agar kita semua belajar bahwa pernah terjadi suatu
rezim menghalalkan segala cara untuk menopang kekuasaannya dengan fitnah
paling kotor dan keji pun. Penghormatan terhadap para jenderal yang
dibunuh itu ditunggangi Suharto dengan fitnah demikian.
Fitnah hitam
dongeng horor itu semua bertentangan dengan hasil visum et repertum tim
dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang
diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965, bahwa tidak ada tanda-tanda
penyiksaan biadab, mata dan kemaluan korban dalam keadaan utuh. Laporan
resmi tim dokter itu sama sekali diabaikan dan tak pernah diumumkan.
Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara
berkesinambungan selama bertahun-tahun tanpa jeda. Dalil intelijen
menyatakan bahwa kebohongan yang terus-menerus disampaikan akhirnya
dianggap sebagai kebenaran. Bahkan sampai dewasa ini pun, ketika
informasi sudah dapat diperloleh secara bebas terbuka, fitnah itu masih
dimamahbiak oleh sementara kalangan seperti buta informasi.
Apa
tujuan kampanye hitam fitnah itu? Hal ini dimaksudkan untuk mematangkan
situasi, membangkitkan emosi rakyat umumnya dan kaum agama khususnya
menuju ke pembantaian massal para anggota PKI dan yang dituduh PKI
sesuai dengan doktrin membasmi sampai ke akar-akarnya. Dengan gencarnya
kampanye hitam itu, maka telah berkembang biak dengan berbagai peristiwa
di daerah dengan kreatifitas dan imajinasi para penguasa setempat.
Selama kurun waktu 1965-1966 jika di pekarangan rumah seseorang ada
lubang, misalnya untuk dipersiapkan menanam sesuatu atau sumur tua tak
terpakai, apalagi jika si pemilik dicurigai sebagai orang PKI, maka
serta-merta ia dapat ditangkap, ditahan dan bahkan dibunuh dengan
tuduhan telah mempersiapkan “lubang buaya” untuk mengubur jenderal,
ulama atau dan tokoh-tokoh lawan politik PKI setempat. Dongeng tersebut
masih dihidup-hidupkan sampai saat ini.
Segala macam dongeng fitnah
busuk berupa temuan “lubang buaya” yang dipersiapkan PKI dan
konco-konconya untuk mengubur lawan-lawan politiknya ini bertaburan di
banyak berita koran 1965-1966 dan terekam juga dalam sejumlah buku
termasuk buku yang ditulis Jenderal Nasution, yang dianggap sebagai
peristiwa dan fakta sejarah, bahkan selalu dilengkapi dengan apa yang
disebut “daftar maut” meskipun keduanya tak pernah dibuktikan sebagai
kejadian sejarah maupun bukti di pengadilan.
Seorang petani bernama
Slamet, anggota BTI yang tinggal di pelosok dusun di Jawa Tengah yang
jauh dari jangkauan warta berita suatu kali mempersiapkan enam lubang
untuk menanam pisang di pekarangannya. Suatu siang datang sejumlah
polisi dan tentara dengan serombongan pemuda yang menggelandang dirinya
ketika ia sedang menggali lubang keenam.
Tuduhannya ia tertangkap basah
sedang mempersiapkan lubang untuk mengubur Pak Lurah dan para pejabat
setempat. Dalam interogasi terjadi percakapan seperti di bawah. “Kamu sedang mempersiapkan lubang buaya untuk mengubur musuh-musuhmu!” “Lho kulo niki bade nandur pisang, lubang boyo niku nopo to Pak?” [saya sedang hendak menanam pisang, lubang buaya itu apa Pak?] “Lubang
boyo iku yo lubange boyo sing ana boyone PKI!” [lubang buaya itu lubang
yang ada buaya milik PKI]. Baik pesakitan yang bernama Slamet maupun
polisi yang memeriksanya tidak tahu apa sebenarnya lubang buaya itu,
mereka tidak tahu bahwa Lubang Buaya itu nama sebuah desa di Pondokgede,
Jakarta. Dikiranya di situ lubang yang benar-benar ada buayanya milik
PKI. Ini bukan anekdot tetapi kenyataan pahit, si Slamet akhirnya tidak
selamat alias dibunuh karena adanya “bukti telak” terhadap tuduhan tak
terbantahkan. Demikian rekaman yang saya sunting dari wawancara HD Haryo
Sasongko dalam salah satu bukunya.
4. Halim Perdanakusuma
Nama
lengkapnya ialah Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, atau
biasa disingkat PAU Halim atau Halim saja. Sejak meletusnya peristiwa
G30S, nama Halim selalu disebut. Pada 4 Oktober 1965 Mayjen Suharto,
Panglima Kostrad telah menuduh bahwa Lubang Buaya, tempat ditemukannya
jenazah para jenderal yang dibunuh pasukan G30S dan dimasukkan ke dalam
sebuah sumur tua, merupakan wilayah PAU Halim. Dalam kenyataannya
kawasan itu masuk wilayah milik Kodam Jaya, kira-kira 3,5 km di luar
kawasan PAU Halim. Penyesatan yang dilakukan oleh Suharto sejak dini
tersebut berdampak amat luas.
Perlu kita ketahui bahwa terdapat dua
nama Lubang Buaya yang berbeda tempatnya. Pertama dalam lingkungan PAU
Halim, tempat latihan terjun atau dropping zone, kini menjadi lapangan
golf. Sedang yang kedua berada di luar pangkalan sejauh 3,5 km,
dipisahkan jalan setapak yang dewasa ini menjadi Jl Pondokgede. Hal ini
tercantum dalam peta tahun 1936 sebagai yang digambar kembali dalam buku
Letkol (Pnb) Heru Atmodjo.
Kaum awam, bahkan para pakar Barat yang
menulis tentang G30S (seperti Ulf Sundhaussen, John D Legge, Coen
Holtzappel dsb) mencampuradukkan nama tempat Lubang Buaya, tempat
pembuangan jenazah para jenderal, dengan PAU Halim. Demikian halnya
dengan gedung Penas yang terletak di Jl Baipas (sekarang Jl DI
Panjahitan) sebagai Cenko I G30S, juga disebut Halim, padahal gedung itu
berada di luar wilayah PAU Halim. Dengan kekeliruan semacam itu,
mencapuradukkan nama 3 tempat sebagai Halim, akan berdampak pada
gambaran yang salah dan menyesatkan yang dapat menuju pada analisis dan
kesimpulan yang meleset.
Jika dua tempat di luar Halim itu disebut
sebagai Halim, maka terdapat gambaran seolah-olah PAU Halim
Perdanakusuma itu suatu tempat terbuka, hingga dengan mudah pasukan G30S
dapat masuk keluar begitu saja, bahkan membawa para jenderal AD untuk
dibunuh di sana. Sebagai yang disebutkan oleh Letkol (Pnb) Heru Atmodjo,
ketika itu (1965) PAU Halim merupakan pangkalan utama AU dengan Markas
Komando Operasi AU yang mengendalikan seluruh penerbangan pesawat AU.
Kemampuan pesawat pembomnya menjangkau jarak Bangkok dan Manila di utara
(markas SEATO dan Armada ke-7 AS) serta Perth di Australia yang dapat
dicapai dari pangkalan Iswahyudi, Madiun. Terdapat juga Markas Komando
Pertahanan Udara Nasional yang bertugas melindungi wilayah udara RI dari
kemungkinan penyusupan pesawat musuh.
Terdapat sebuah skuadron
pesawat VIP untuk Kepresidenan dan pejabat tinggi serta batalion PGT.
Dengan demikian kedatangan Presiden Sukarno ke Halim pada pagi hari 1
Oktober 1965, merupakan bagian dari pengamanan presiden dalam keadaan
tidak menentu, sesuai dengan prosedur baku yang ada. Kenyataan
keberadaan Presiden Sukarno di Halim pada 1 Oktober 1965 ini oleh pakar
sejarah Brigjen Prof Dr Nugroho Notosusanto disebut sebagai salah satu
dari tiga kelompok pmberontak, dua kelompok yang lain ialah Letkol
Untung cs dan DN Aidit cs. Kelompok Presiden Sukarno ini disertai oleh
sejumlah pejabat negara. Logika pakar Orba ini akan kita bicarakan lebih
lanjut dalam seri lain.
Halim juga merupakan Markas Wing 001 di
bawah Kolonel (Pnb) Wisnu Djajengminardo. Dengan demikian PAU Halim
merupakan tempat tertutup dengan penjagaan cukup ketat. Adapun Mayor
Udara Suyono, salah seorang tokoh G30S, menjabat komandan Resimen PPP
(Pasukan Pertahanan Pangkalan) yang markasnya ada di Kramatjati, di luar
wilayah Halim. Dalam banyak buku tentang G30S yang ditulis oleh para
ahli Indonesia maupun asing (bahkan sampai saat ini), digambarkan seolah
Mayor Udara Suyono ini penguasa PAU Halim, lalu seolah seluruh wilayah
Halim menjadi sarang G30S. Hal ini sama sekali tidak benar dan meleset
dari kenyataan.
Demikianlah penyesatan itu agaknya sudah menjadi
bagian dari skenario yang telah digodok matang, di antaranya untuk
menjatuhkan para petinggi AURI ketika itu, di antaranya Men/Pangau Omar
Dani guna menghancurkan para pengikut setia Bung Karno untuk digantikan
para pembebek Suharto. Di sepanjang kekuasaan rezim militer Suharto,
hal-hal itu tak pernah mendapatkan koreksi, justru dipelihara terus.
5. Gerwani
Gerwani
(Gerakan Wanita Indonesia) didirikan pada 1954, sedang cikal bakalnya
sudah berdiri pada 1950. Organisasi ini sangat aktif sampai tragedi
1965, terutama di kalangan rakyat kecil dari perkotaan sampai pedesaan.
Para pemimpin Gerwani terdiri dari kaum intelektual cerdik pandai maupun
kaum aktivis buruh dan tani. Mereka telah menghimpun kaum perempuan
untuk berjuang bersama kaum laki-laki merebut hak-hak sosial politiknya.
Di
bidang pendidikan mereka telah mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak,
utamanya untuk kalangan tak berpunya dengan bayaran kecil maupun gratis
di seluruh pelosok negeri. Gerakan ini juga giat mendirikan tempat
penitipan anak-anak bagi ibu pekerja dengan bayaran ringan maupun
gratis. Gerwani merupakan organisasi kaum perempuan paling luas
menjangkau seluruh pelosok Jawa khususnya. Mereka memberikan pendidikin
kesadaran akan hak-hak perempuan termasuk hak-hak politik dan kesadaran
politik. Mereka aktif juga dalam kesenian, kursus masak-memasak,
pemeliharaan bayi dan anak, kesehatan perempuan dan anak-anak. Pendeknya
organisasi ini telah melakukan pemberdayaan perempuan di seluruh
kalangan, utamanya kaum buruh dan tani serta kaum pinggiran, sesuai
dengan cita-cita Ibu Kartini. Gerwani ini pula yang menjadi primadona
sasaran fitnah keji rezim militer Orba dengan segala macam dongeng
horornya. (Lihat Lubang Buaya).
Pertama-tama propaganda hitam Orba
pada 1965 dimulai dengan menyerang Gerwani habis-habisan sebagai bagian
dari serangan terhadap PKI. Rusaknya nama dan porak porandanya
organisasi perempuan ini berarti rusak dan lumpuhnya separo organisasi
kiri Indonesia. Setelah itu dilakukan serangan fisik terhadap PKI dan
seluruh organnya sebagai bagian penumpasan lebih lanjut pada 1965/1966.
Tidak aneh jika kekejaman terhadap tapol perempuan anggota Gerwani
maupun yang didakwa Gerwani dilakukan dengan amat kejamnya, sering lebih
mengerikan karena harkat perempuannya. Seperti disebutkan dalam studi
Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil
untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani
sebagai gerakan perempuan kiri yang dimanipulasi sebagai “pelacur bejat
moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral
religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.
Kaum
perempuan tidak hanya mengalami penderitaan karena diciduk, ditahan,
dipenjarakan, dibuang, disiksa, tetapi juga ditelanjangi dan diperkosa
bergiliran dan dilecehkan martabat kemanusiaannya, dihancurkan
rumahtangganya, pendeknya mereka mengalami penderitaan luar biasa lahir
dan batin. Perkosaan telah menjadi kecenderungan umum para petugas
keamanan ketika berhadapan dengan tapol perempuan. Sering pelecehan
seksual dan perkosaan terhadap tapol perempuan menyebabkan kehamilan dan
yang bersangkutan melahirkan di tempat tahanan.
Penderitaan itu
menjadi lebih lengkap lagi karena mereka melihat kehancuran keluarga dan
nasib anak-anaknya, terpisah-pisah di tempat yang berbeda-beda dengan
kondisi terpuruk yang berbeda-beda pula dengan perlakuan buruk negara
dan masyarakat yang diprovokasi. Tak jarang para ibu ini telah
kehilangan jejak anak-anaknya selama bertahun-tahun setelah dibebaskan
dari penjara, bahkan sebagian sampai saat ini. Tak jarang pula setelah
orangtua mereka dibebaskan, anak-anak yang berkumpul kembali dengan
orangtuanya, terutama dengan ibunya, anak-anak memusuhi dirinya karena
merasa menjadi korban perbuatan ibunya, suatu penilaian amat tidak adil.
Itulah salah satu buah indoktrinasi menyesatkan rezim Orba selama
bertahun-tahun yang sangat merusak.
Suami seorang perempuan kembang
desa di Purwodadi yang anggota BTI ditangkap pada November 1965,
kemudian dibuang ke Pulau Buru. Setiap malam sang isteri kembang desa
ini digilir diperkosa oleh pamong desa setempat, tentara, pentolan ormas
agama dan nasionalis. Bahkan suatu kali datang seorang tokoh penjagal
kaum komunis yang ketika malam datang menidurinya dengan pakaian
berlumuran darah dan kelewang yang besimbah darah pula. Ini bukan
dongeng horor model Lubang Buaya, tetapi sejarah horor, sejarah hitam
legam kaum militer Orba sebagai panutannya yang telah menciptakan
kondisi dan konsep kebuasan tersebut. (Baca buku John Roosa cs [ed],
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Elsam, Jakarta, 2004).
Sungguh nama
baik Gerwani yang telah mengabdikan dirinya untuk Ibu Pertiwi dan rakyat
kecil umumnya itu, sebagai kelanjutan cita-cita Ibu Kartini telah
dinodai dan dirusak habis-habisan dengan fitnah jahat tiada tara. Dengan
upaya bersama semua pihak yang peduli, terlebih lagi kaum sejarawan dan
aktivis perempuan, hari depan negeri ini akan memberikan tempat yang
layak bagi Gerwani dalam sejarah bangsa.
6. Tokoh G30S, Letkol Untung
Tokoh
ini tipikal seorang militer lapangan, sama sekali bukan tipe
intelektual dengan otak cemerlang yang mampu melakukan langkah
manipulasi canggih penuh perhitungan. Ia anak bodoh tetapi berani dan
setia pada Sukarno. Hal ini amat berbeda dan berbalikan dengan Jenderal
Suharto beserta beberapa pembantunya seperti Ali Murtopo [dan Yoga
Sugomo] Begitu analisis Ben Anderson.. Sekalipun demikian ia salah satu
lulusan terbaik Akademi Militer. Letkol Untung salah satu pelaku G30S
yang sebelumnya pernah menjadi anak buah Suharto di Jawa Tengah dalam
Divisi Diponegoro. Ia pun pernah menjadi anggota “Kelompok Pathuk” di
Yogya meskipun bukan dalam kelas yang sama dengan Suharto atau Syam.
Mereka berpisah pada tahun 1950, kemudian bertemu kembali pada tahun
1962 ketika bersama bertugas merebut Irian Barat, ia berada di garis
depan. Mendengar kisah keberaniannya selama bertugas di medan Irian, ia
dianugerahi Bintang Penghargaan oleh Presiden, lalu ditarik menjadi
Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, suatu kedudukan cukup
strategis. Sebelumnya ia pernah menjabat Komandan Yon 454 Diponegoro,
pasukan yang memiliki kualitas yang kemudian terlibat G30S.
Letkol
Untung menikah pada umur yang agak terlambat pada akhir 1964. Acara
perkawinannya dilaksanakan di tempat cukup jauh di daerah udik di desa
terpencil Kebumen. Sekalipun demikian Mayjen Suharto memerlukan hadir
bersama isterinya ke tempat yang ketika itu tidak begitu mudah dicapai.
Ia merupakan satu-satunya perwira tinggi yang datang, ini merupakan
kehormatan besar bagi Untung dan menunjukkan hubungan keduanya cukup
akrab. Bahkan yang mempertemukan Untung dengan calon isterinya ialah Ibu
Tien Suharto. Soal kehadiran Suharto ini tidak pernah diungkapkan
olehnya sendiri
Letkol Untung pernah
dikirim belajar ke AS, tentunya CIA memiliki cukup catatan tentang
dirinya sehingga ia dapat direkomendasikan. Seperti tercantum dalam
catatan laporan CIA tertanggal 1 Oktober 1965 dalam CIA 2001:300,
memorandum untuk Presiden Johnson bahwa Untung memiliki “military police
background and was trained in the United States”. Sementara orang
menyebut catatan CIA ini tidak akurat karena Untung tidak pernah belajar
ke AS. Banyak pihak menyatakan ia seorang muslim yang taat, sangat muak
dengan korupsi dan tingkah laku kehidupan sejumlah perwira tinggi.
Menurut
David Johnson, Letkol Untung bukanlah tergolong pada apa yang disebut
“perwira progresif”, ia pun bukan tergolong perwira yang tidak puas. Ia
lebih tergolong sebagai seorang militer profesional yang berhasil. Ia
pun menunjukkan tanda-tanda memiliki pandangan anti komunis. Selama
beberapa bulan berkumpul di Penjara Cimahi, Bandung, Subandrio mencatat
bahwa Untung bukan orang yang menyukai masalah politik, ia tipe tentara
yang loyal kepada atasan. Ia risau dengan adanya isu Dewan Jenderal yang
hendak menggulingkan Presiden Sukarno. Kepribadiannya polos dan jujur,
hal ini antara lain dibuktikan dengan kenyataan, sampai detik terakhir
sebelum eksekusinya, ia masih percaya vonis mati terhadap dirinya tidak
mungkin dilaksanakan. “Percayalah Pak Ban, vonis buat saya itu hanya
sandiwara”, ujarnya kepada Subandrio. Ia percaya Suharto mendukung
tindakannya terhadap para jenderal dan akan memberikan bantuan seperti
dijanjikannya.
Dalam persidangan Letkol Untung terungkap ia baru
mengenal Syam dan Bono ketika dipertemukan oleh Mayor Udara Suyono
kepada sejumlah perwira dalam pertemuan pertengahan Agustus 1965 sebelum
gerakan. Untung yang tidak pernah sepenuhnya percaya kepada Syam,
mencoba melakukan penyelidikan tentang hubungan rahasianya dengan ketua
PKI. Hal ini tidak berlanjut, dan menganggap lebih bijak untuk tidak
menantang Syam berhubung ia terdesak waktu bagi penyelesaian agendanya
sendiri. Bagi Letkol Untung agenda mereka adalah mengambil
langkah-langkah untuk menggagalkan kudeta Dewan Jenderal serta
melindungi Presiden Sukarno. Kudeta itu diyakininya akan terjadi pada 5
Oktober 1965.
Berdasarkan kesaksian Mayor AU Suyono maka dapat
disimpulkan adanya berbagai pertentangan di antara tokoh gerakan dengan
ketegangan yang kian meningkat serta bermacam perbedaan pendapat selama
berjalannya waktu yang mendekat. Letkol Untung menjadi cemas dan mungkin
mempertimbangan untuk menghentikan semuanya. Rencana gerakan semula
adalah tanggal 25 September, tetapi karena pasukan dari Jawa Timur belum
tiba maka gerakan ditunda sampai 30 September.
Dapat disimpulkan
Untung bukanlah seorang komunis bawah tanah. Jika ia seorang komunis
semacam itu, ia mungkin sekali akan mendapatkan akses lebih mudah untuk
menghubungi langsung ketua PKI DN Aidit untuk memastikan kedudukan Syam
yang sebenarnya. Andaikata ia seorang komunis demikian maka dalam
kedudukan dan pangkat yang disandangnya ia bakal memiliki serangkaian
pendidikan dan pengalaman politik yang cukup memadai yang akan dengan
mudah membuang ilusi pribadi terhadap Jenderal Suharto, bahwa Suharto
telah berkhianat terhadapnya bagi keuntungan diri dan kelompoknya.
Dengan begitu ia akan menyadari kesalahan analisisnya terhadap Suharto.
Ia seorang prajurit yang setia kepada Bung Karno. Dokumen yang terkenal
dengan Cornell Paper menyebutkan sebelum peristiwa telah bertahun-tahun,
Sukarno, para jenderal [AD], pimpinan komunis dan golongan lain telah
terjerat dalam manuver politik yang rumit. Semua itu secara keseluruhan
menyebabkan Letkol Untung melakukan aksinya.
Letkol Untung dieksekusi
mati pada tahun 1969 di Cimahi. Demikianlah nasib seorang prajurit yang
naif politik itu tetap memendam ilusi pribadi besar sampai saat
terakhir, yang pundaknya telah menjadi panjatan sang manipulator. Adatah
itu memang realitas kehidupan di sepanjang sejarah. Pemeo menyatakan
itulah politik dalam kenyataan telanjangnya, menghalalkan segala cara.
(Petikan dari Harsutejo, “Sejarah Gelap G30S” / revisi).
7. Tokoh G30S, Kolonel Abdul Latief
Pemeran
G30S ini juga pernah menjadi anak buah Suharto di Divisi Diponegoro. Ia
ikut ambil bagian sebagai salah satu komandan kompi yang berani dalam
SU 1 Maret 1949 di Yogya yang dipimpin Letkol Suharto. Akhirnya Latief
menjadi Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya, suatu kedudukan
strategis. Sebagai Komandan Kostrad pun Suharto mendekati Kolonel Latief
antara lain dengan mendatangi rumahnya ketika Latief mengkhitankan
anaknya. Menurut Subandrio hal ini merupakan suatu langkah “sedia payung
sebelum hujan”, suatu saat ia akan dapat memanfaatkannya. Di samping
itu “Latief mengantongi rahasia skandal Suharto dalam Serangan Umum 1
Maret 1949” seperti yang tercantum dalam pembelaannya di depan Mahmilub
pada 27 Juni 1978.
Letkol Suharto tidak banyak mengambil bagian dalam
SU itu, ia hanya enak-enak berada di garis belakang yang aman sembari
makan soto di warung sebagai yang diceritakan Latief ketika pertempuran
seru terjadi dan cukup banyak korban jatuh. Adegan ‘Suharto makan soto
babat’ itulah yang disebut Subandrio sebagai “skandal Suharto”. Dalam
pasukan Kapten Latief yang masuk ke Yogya dari Godean itu bergabung juga
laskar Pesindo yang sudah bersiap di dalam kota di bawah pimpinan
Supeno dan Pramuji, menurut AM Hanafi merupakan kekuatan militan
serangan umum tersebut. Hubungan Latief Dengan Suharto
Latief
sendiri menyatakan karier kemiliterannya nyaris selalu mengikuti jejak
Suharto. Pada gilirannya membuat hubungan Latief dan Suharto bukan lagi
sekedar bawahan dan atasan, melainkan sudah sebagai dua sahabat. Suharto
tahu Latief tak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya.
Sudah sejak setelah agresi kedua, Latief merasa selalu mendapatkan
kepercayaan dari Suharto sebagai komandannya yakni memimpin pasukan pada
saat yang sulit. Ketika Trikora pun ia masih dicari bekas komandannya
itu, tetapi Latief sedang mengikuti Seskoad. Pada bulan Juni 1965 Mayjen
Suharto meminta agar Latief dapat memimpin suatu pasukan di Kalimantan
Timur, akan tetapi Umar Wirahadikusuma menolak melepasnya karena
tenaganya diperlukan untuk tugas keamanan di Kodam V Jaya.
Di luar
dinas Latief mempunyai hubungan kekeluargsaan yang cukup akrab dengan
Suharto dan sering berkunjung ke rumahnya. Ketika Sigit, anak Suharto
dikhitan, isteri Latief datang. Sebaliknya ketika Latief mengkhitankan
anaknya maka Suharto dan Ibu Tien juga datang ke rumahnya. Bahkan pada
28 September 1965 ketika Latief berkunjung ke rumah Suharto di Jl HA
Salim, ia membicarakan soal tukar-menukar rumah dinas. Latief menawarkan
rumah dinas baginya di Jl Jambu bekas kedutaan Inggris yang lebih besar
untuk ditukar dengan kediaman Suharto yang lebih kecil yang sedang
ditempatinya.
Menurut Subandrio, Suharto berhasil membentuk trio
bersama kedua orang tersebut di atas, keduanya memiliki posisi strategis
yang lebih tinggi dibanding trio yang pernah dibentuk sebelumnya
bersama Ali Murtopo dan Yoga Sugomo yang telah menghasilkan dirinya
ditunjuk sebagai Panglima Diponegoro, lalu naik pangkat menjadi Kolonel
dengan menggeser calon kuat Kolonel Bambang Supeno yang pengangkatannya
tinggal menanti tandatangan saja.
Kolonel Latief:
“Jenderal Suharto Terlibat G30S!”
Dalam
pembelaannya Letkol Latief tetap menuduh Jenderal Suharto sebagai ikut
terlibat dalam G30S. Ia tidak memiliki ilusi apa pun terhadap Jenderal
Suharto yang sedang berkuasa, orang yang setiap saat dapat mengirimkan
dirinya ke dunia lain atau membebaskannya, menilik dalam kenyataannya
selama rezim militer Orba, Jenderal Suharto berada di atas hukum. Dapat
disimpulkan ia memiliki suatu kesadaran politik cukup tinggi. Selama
penahanannya Latief mengalami siksaan luar biasa seperti dipaparkan
dalam pembelaannya. Menakjubkan ia masih bertahan hidup meskipun
badannya cukup rusak, semangat hidupnya luar biasa. Setelah tekanan
berbagai pihak di dalam dan luar negeri, ia baru dibebaskan dari penjara
pada permulaan 1999. Dengan keadaan badan yang rapuh, ia terkena
stroke, akan tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Sejak itu ia
harus dibantu seorang “penerjemah” untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Sekalipun demikian ia tetap aktif mengikuti berbagai pertemuan,
seminar, menulis makalah. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan penulis
pada permulaan 2001, ia sedang menyelesaikan bukunya tentang SU 1 Maret
1949.
Berbagai pertanyaan timbul terhadap kenyataan bahwa seorang
Latief tidak dihukum mati oleh pengadilan yang sekedar mementingkan
proses formal dan mengabaikan pembuktian material. Bahkan untuk tokoh
yang masih menjabat sebagai menteri pada tahun 1965 seperti Aidit dan
Nyoto, dengan entengnya ‘dibereskan’ oleh penguasa militer Orba. Rupanya
pengadilan terhadap mereka tidak menguntungkan sang penguasa. Sebagian
orang mencurigai Latief sebagai melakukan deal tertentu dengan Suharto,
sampai saat ini tanpa bukti, atau barangkali menurut logika intelijen.
“Seseorang di suatu tempat dalam rezim tampaknya menghendaki ia tetap
hidup,” begitu tulis Carmel Budiardjo. Seseorang itu tidak bisa lain
kecuali Jenderal Suharto. Untuk kepentingan apa ia menghendaki Latief
hidup, bagian dari suatu deal? Macam apa kesepakatan itu, terlalu mahal
untuk Latief dan terlalu riskan untuk Suharto, ini bila ditinjau dari
kacamata setelah G30S. Tentu saja Suharto pun selama berkuasa dengan
amat mudahnya setiap saat dapat melenyapkan Latief bagai menepuk nyamuk.
Kenyataan
bahwa Latief tidak dihukum mati, menimbulkan suatu spekulasi bahwa ia
memiliki keterangan yang lebih sempurna yang disimpan di luar Indonesia
dengan pesan supaya segera diumumkan jika ia dibunuh. Dalam majalah Far
Eastern Economic Review 2 Agustus 1990 diberitakan memoar Latief
disimpan di sebuah bank. Keterangan Latief memang memenuhi syarat untuk
menyeret Jenderal Suharto sebagai terlibat G30S golongan A, sesuai Pasal
4 Keputusan Kopkamtib 18 Oktober 1965, semua orang yang terlibat secara
langsung, mereka yang mengetahui rencana kup dan lalai melaporkan
kepada yang berwajib.
Ada satu hal lagi yang amat mencolok, Kolonel
Latief ditangkap sepuluh hari setelah kegagalan gerakan, tetapi ia
diadili 13 tahun kemudian pada 1978. Sedang vonisnya baru mendapatkan
kepastian hukum pada tahun 1982! Latief merupakan saksi kunci yang dapat
menggoyahkan kedudukan Jenderal Suharto. Pada masa permulaan bahkan
pada tahun-tahun permulaan pengikut BK masih cukup kuat, maka diperlukan
waktu bagi Suharto untuk mengkonsolidasikan diri dan kekuasaannya.
Dengan kata lain Suharto memerlukan waktu, pendeknya faktor waktu amat
penting dalam hal ini.
Itulah sebabnya setelah usaha menyiksa dan
mengisolasi Latief habis-habisan selama 10 tahun tidak juga membunuhnya,
dengan berjalannya waktu ia tidak terlalu berbahaya lagi. Suharto sudah
cukup kuat dan mampu mengangkangi hukum dengan mudah. Demikian ulasan
Joesoef Isak yang sangat menarik, faktor waktulah yang diperlukan oleh
rezim Suharto untuk menaklukkan kesaksian dan bahan apa pun yang
dimiliki Latief. Sudah jauh-jauh hari kenyataan ini telah
dimanipulasikan dengan keterangan juru bicara militer yang menyatakan
Latief dengan sengaja tidak mematuhi perintah dokter [berhubung
luka-luka yang dideritanya], sehingga ia tidak cukup sehat untuk muncul
di pengadilan, sebagai disiarkan Kompas 26 Maret 1966.
Peran apa
sebenarnya yang telah dimainkan oleh Kolonel Latief, semata-mata sebagai
seorang militer yang setia kepada Presiden Sukarno, seseorang yang
terseret masuk ke dalam perangkap Syam, atau orang Suharto yang sepahnya
dibuang setelah habis manis, atau yang lain? Kalau dia sepah yang
dibuang seharusnya ia dilenyapkan setelah dikorek keterangan yang
diperlukan kepentingan rezim, agar selanjutnya bungkam. Seseorang yang
menamakan dirinya sebagai mantan intel tiga negara sekaligus RI-CIA-KGB
mesinyalir Latief sebagai agen ganda, karena itu ia selamat terus (Detak
5 Oktober 1998:9). Masih dapatkah kita mengharapkan sesuatu yang lain
di samping pledoinya di pengadilan, demi kepentingan sejarah bangsa?
Sayang sampai meninggalnya tokoh ini pada 2005, tidak ada informasi baru
yang disampaikannya.
Trio Sel Komunis?
Dalam berbagai diskusi
informal tentang G30S sebagian orang mengutuk Latief sebagai pengkhianat
karena telah melaporkan gerakan yang diikutinya sendiri kepada Jenderal
Suharto. Hal ini perlu dipertanyakan apakah menemui Suharto sebagai
bekas komandannya dan orang yang cukup dekat dengan dirinya itu
inisiatifnya sendiri? Kalau bukan siapa yang memerintahkannya? Sebagian
pihak menyatakan dia itu sebenarnya anggota trio sel bawahtanah PKI
bersama Letkol Untung dan…. Jenderal Suharto di bawah binaan Syam [atau
Aidit?] sebagai bagian dari BC PKI. Dalam hubungan ini tak aneh jika ada
pihak yang menyebut Jenderal Suharto sebagai gembong PKI yang
berkhianat. Ada cerita seorang tokoh yang tidak mau disebut namanya,
pada permulaan Oktober 1965 menemui Aidit di Jawa Tengah ketika baru
tiba dari Jakarta, DN Aidit menyatakan, “Wah celaka, kita ditipu oleh
Suharto!”
Di sepanjang kesaksiannya, Kolonel Latief tidak sekalipun
menjatuhkan nama PKI, sangat kontras dengan Syam, Ketua BC PKI. Sayang
hal-hal di atas tidak dapat dirujuk silang dengan narasumber lain maupun
sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan [atau belum?]. Apakah
kita akan mimpi mendapatkan tambahan keterangan dari Jenderal Besar
(Purn) Suharto yang sedang didapuk sebagai koruptor hiu paling akbar di
dunia dan baru memenangkan Rp 1 triliun di Mahkamah Agung RI menghadapi
majalah Time? (Dipetik dari Harsutejo, Sejarah Gelap G30S, revisi).
7.1. Kolonel Latief, Gembong atau Korban?
Jika
Latief semasa hidupnya sudi menjelaskan secara rinci, terbuka dan jujur
dalam menjawab pertanyaan yang pernah diajukan kepadanya, mungkin akan
lebih mudah mendudukkan dirinya, meskipun tetap saja akan terbuka
kemungkinan kontroversi. Apalagi keterangan sejujur dan serinci apa pun
yang diberikan setelah sekian puluh tahun terjadinya suatu peristiwa
sejarah, tetap terbuka kemungkinan kerancuan. Sayang
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang diajukan ketika dia masih dapat
berkomunikasi dengan cukup, tidak pernah dijawabnya dengan jelas. Dapat
saya tambahkan bahwa pada tahun-tahun akhir hidupnya dia sulit
berkomunikasi karena serangan stroke yang telah menutup harapan adanya
keterangan berharga yang lain dari pihaknya, kecuali jika ada
peninggalan tertulis yang belum pernah dipublikasikan. Pertanyaan
tersebut di antaranya meliputi:
(1) Dalam sejumlah pertemuan mereka
yang menamakan diri Perwira Progresif (termasuk Latief) sebelum 1
Oktober 1965, dihadiri (bahkan dipimpin) sejumlah orang sipil yakni
Syam, Pono dan Bono dari Biro Chusus (BC, ejaan lama) PKI. Apakah ini
berarti konsep G30S dari PKI (baca: Syam/Aidit)? Bagaimana sebenarnya
hubungan orang-orang militer ini dengan BC? Apa sekedar karena sama-sama
alat revolusi sesuai dengan ajaran Bung Karno (BK) dan pendukung BK?
Atau suatu komplotan? Hubungan ini diungkapkan dalam buku putih Orba
sebagai komplotan PKI (atau sebenarnya komplotan Aidit?).
(2) Dalam
salah satu pertemuan (ke 5 pada 17 September 1965) anak buah Latief,
Mayor Inf Agus Sigit, Dan Yon 203, mendebat arahan Syam tentang rencana
G30S yang dipandangnya semrawut, tidak profesional. Usulan dia tentang
penutupan jalan masuk ke Jakarta dari arah Bogor, Tangerang dan Bekasi
pada saat gerakan, ditolak sebagai kekiri-kirian. Ia menyampaikan
pertanyaan tajam, apa sebab Presiden tidak memerintahkan segera
menangkap Dewan Djenderal (DD, ejaan lama)? Apa tidak mampu? Apa sebab
orang-orang dalam pertemuan itu yang harus menangkapnya? Selanjutnya
(karena tidak setuju) ia tidak lagi mengikuti pertemuan berikutnya,
bahkan kemudian pasukannya tidak muncul.
(3) Sebelum 1 Oktober Latief
setidaknya menemui Jenderal Suharto dua kali. Siapa yang menugaskan
dirinya? Apa benar dia datang di RS Gatot Subroto bersama Syam yang
berada di tempat agak jauh seperti kesaksian Syam?
(4) Latief sebagai
Dan Brigif I Kodam Jaya membawahi tiga batalion tetapi yang ikut
bergerak bersamanya cuma dua peleton Detasemen Kompi Markas. Lalu peran
apa sebenarnya yang dilakukannya pada 1 Oktober 1965, namanya tidak
tercantum dalam daftar Komando Gerakan, tetapi “hanya” sebagai anggota
Dewan Revolusi, sedang dari segi pangkat dia nomor dua setelah Brigjen
Suparjo. Apa sebab gerakan dipimpin Letkol Untung, kenapa bukan Brigjen
Suparjo yang paling tinggi pangkatnya?
(5) Berbagai macam persiapan
(misalnya gerakan dipimpin Letkol Untung yang baru lima bulan berada di
pasukan Cakrabirawa/Jakarta, pasukan yang mengambil bagian dalam gerakan
tidak jelas atau terlalu sedikit tidak seperti yang dilaporkan,
logistik tidak memadai), dokumen-dokumen G30S tidak menyebut kedudukan
BK. Dekrit No.1 menyebutkan, “Dengan jatuhnya segenap kekuasaan Negara
ke tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan
sendirinya berstatus demisioner”; dalam Keputusan No.2 disebut,
“Berhubung segenap kekuasaan dalam Negara RI pada 30 September 1965
diambilalih oleh Gerakan 30 September…” lalu ada penurunan pangkat.
Selanjutnya pasukan G30S membunuh tiga orang jenderal di tempat,
membunuh sisanya di Pondokgede/Lubang Buaya. Semuanya ini mengarah pada
suatu desain agar gerakan itu gagal.
(6) G30S tidak mempunyai rencana
alternatif, tetapi hanya ada satu rencana, itu merupakan permulaan
kegagalan dari kacamata militer maupun politik seperti ditulis Jenderal
Nasution. Atau ini sebenarnya bagian dari skenario karena G30S memang
dirancang untuk gagal?
Mantan Kolonel Inf Latief tidak pernah
menjawabnya sampai maut menjemputnya pada 6 April 2005 di rumahnya di
Tangerang. Kontroversi sejarah G30S masih akan panjang. (Dari berbagai
sumber dan narasumber).
8. Tokoh G30S, Brigjen Suparjo Dirancang Untuk Gagal
Ia
berasal dari Divisi Siliwangi, pasukan Suparjo lah yang telah berhasil
menangkap gembong DI Kartosuwiryo dan mengakhiri pemberontakan DI di
Jawa Barat. Kemudian ia ditugaskan ke Kostrad, lalu menjabat sebagai
Panglima Kopur II Kostrad di bawah Jenderal Suharto. Tokoh ini juga
cukup dekat dengan Suharto. Hampir dapat dipastikan bahwa tokoh ini pun,
seperti kedua tokoh sebelumnya yakni Letkol Untung dan Kolonel Latief,
seseorang yang memiliki kesetiaan tinggi kepada Presiden Sukarno.
Suparjo
merupakan anggota kelompok yang biasa disebut kelompok Kolonel Suwarto
(Seskoad Bandung), yang di dalamnya terdapat Alamsyah, Amir Makhmud,
Basuki Rakhmad, Andi Yusuf, Yan Walandow. Yang terakhir ini seorang
kolonel yang ikut pemberontakan Permesta, kemudian menjadi pengusaha. Ia
mempunyai hubungan lama dengan CIA dan menjadi petugas Suharto dalam
mencari dana dari luar negeri. Ia pun anggota trio Suharto-Syam-Latief
cs [Untung, Suparjo]. Begitu tulis AM Hanafi. Ketika Mayjen Suharto
melakukan perjalanan ke Kalimantan sebagai Wakil Panglima Kolaga, ia
menyempatkan diri menemui anak buahnya, Brigjen Suparjo. Sebagai
komandan pasukan tempur dalam hubungannya dengan konfrontasi terhadap
Malaysia, Suparjo sangat risau terhadap korupsi para pembesar militer AD
dalam pengiriman suplai ke garis depan. Kenyataan itu sangat mengurangi
kekuatan dan semangat pasukannya bahkan membuat frustasi. Malahan dia
tidak memiliki pasukannya sendiri yang dapat digerakkan dengan efektif.
Peran
apa pula yang dimainkan olehnya selain yang telah diumumkan oleh
Mahmillub? Adakah ketiga tokoh militer ini secara sendiri-sendiri atau
pun bersama (serta sejumlah yang lain) telah masuk ke dalam perangkap
yang dipasang Syam atas skenario Suwarto-Suharto-CIA? Ia disebutkan
sebagai memiliki hubungan erat dengan tokoh yang selalu ‘berada di
mana-mana’, Syam Kamaruzaman. Sejauh mana apa yang disebut sebagai
‘hubungan erat’ itu tidak ada penjelasan lebih jauh. Perlu ditambahkan
Brigjen Suparjo pernah mendapatkan pendidikan militer di Amerika yakni
di Fort Bragg dan Okinawa. Tentulah pemilihannya selain berdasar
kriteria di dalam negeri yakni pihak AD, juga telah melalui seleksi
ketat baku yang dikendalikan oleh CIA. Sampai di mana tangan dinas
rahasia CIA bermain dalam hubungan ini?
Di depan Mahmilub jenderal
ini telah menantang agar bukan cuma G30S yang diadili, tetapi juga Dewan
Jenderal (DJ). Untuk itu ia siap membuktikan keberadaan DJ, kegiatan
mereka masa prolog yang menjurus pada peristiwa G30S dan masa yang sama
serta bahan-bahan setelah kejadian. Tentu saja permintaan semacam itu
hanya menjadi suara di padang pasir tanpa gaung dalam situasi pengadilan
penuh rekayasa serta tekanan politik dan penindasan fisik masif rezim
Orba. Sedang permintaan sederhana yang amat wajar dari Sudisman di
Mahmilub untuk menghadirkan Suparjo sebagai saksi tidak dipenuhi.
Ia
pribadi yang disukai bawahannya, seorang militer yang setia kepada BK.
Ketika ditahan di RTM Budi Utomo, Jakarta, dalam keadaan diisolasi ia
mendapat simpati banyak orang, dari petugas maupun tahanan lain. Ia
tidak mau diistimewakan meskipun ia seorang jenderal. Ia membagikan
kiriman yang diterimanya kepada tahanan lain. Sikap dan tingkah lakunya
pada hari-hari terakhirnya di RTM sangat mengesankan, jantan, bermutu
jenderal, sopan dan ramah terhadap siapa pun. Demikian yang dicatat oleh
Oei Tjoe Tat. Salah seorang putra Jenderal Suparjo mengisahkan
detik-detik terakhir sebelum dia dieksekusi pada 16 Mei 1970. Ketika
bertemu keluarganya, dia meminta mereka menggenggam dan menghancurkan
sebuah apel, lalu dia memberikan ke masing-masing anaknya apel yang
telah digigitnya untuk dihancurkan. “Kalau kalian terdiri dari
kepingan-kepingan kecil, akan gampang dihancurkan. Tapi jika kamu
bersatu, mungkin akan hancur, tapi diperlukan kekuatan besar…….”. Pada
saat terakhir, “Saya lihat ayah berjalan menuju tempat eksekusi. Dia
mengenakan baju olahraga putih yang menurut dia bisa sekaligus untuk
kafan. Ayah tenang berjalan menuju lapangan sambil menyanyikan lagu
Indonesia Raya” Demikianyang ditulis Tempo 9 Oktober 2005.
Menurut
ulasan David Johnson dari perjalanan karier ketiga tokoh G30S, maka
hubungan mereka bukan karena mereka tergolong “perwira progresif”,
tetapi karena keterpautan ketiganya dengan Jenderal Suharto. Selanjutnya
penetrasi intelijen AD dan CIA terhadap AU dan Yon Cakrabirawa sangat
masuk akal seperti halnya penetrasi terhadap PKI. Menurut penulis yang
sama, ketiga tokoh ini merupakan aktor komplotan yang cerdik dari
rancangan CIA-Suharto. Jika demikian halnya, CIA juga akan melancarkan
operasi perlindungan dan pemberian identitas baru bagi mereka untuk
kemudian dimukimkan di luar Indonesia, suatu prosedur standar CIA. Akan
tetapi risiko besar akan kebocoran menjadi lebih cocok jika mereka
dilenyapkan setelah dimanfaatkan David Johnson yang menulis makalahnya
pada 1976 untuk keperluan penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Church
pada Kongres AS seputar peran AS dalam pembunuhan massal di Indonesia
1965/1966, luput mengamati peran cukup penting sang agen yang sangat
berpengalaman yang bernama Syam Kamaruzaman.
Sebagai diulas oleh
Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, jika G30S itu suatu gerakan militer yang
serius, [bukan sekedar dirancang untuk gagal, hs], seharusnya dipimpin
seorang jenderal seperti Brigjen Suparjo yang secara intelektual maupun
pengalaman lapangan memadai. Salah satu kupasan mutakhir sejarah G30S
ialah buku John Roosa (2007) yang menganalisis apa yang disebut sebagai
“dokumen Suparjo” yang juga dijuluki sebagai “jenderal merah.” [sayang
penulis belum berhasil mendapatkan buku ini]. Dalam buku Jenderal
Nasution (1988), dokumen ini telah diulasnya secara singkat, antara lain
sbb: (1) Tidak ada diskusi maupun rancangan Syam dkk menghadapi
kegagalan gerakan, semuanya beres, pasti menang; (2) Setelah gagal,
mereka bingung, tidak ada perintah jelas, pimpinan operasi tidak menarik
kesimpulan apa pun; (3) Pasukan tidak mendapat makanan, bahkan ada yang
minta ke Kostrad. Pasukan meninggalkan RRI tanpa ada instruksi; (4)
Rapat memutuskan menghentikan perlawanan, masing-masing bubar, pulang,
sambil menunggu situasi. Dari butir pertama, Jenderal Suparjo
memposisikan dirinya berada di luar Syam dkk. Hal ini sesuai dengan
kenyataan ia tidak ikut serta dalam serangkaian pertemuan persiapan yang
dilakukan Syam dkk. Dari butir ini dan selanjutnya menjurus dan
memperkuat kesimpulan, G30S dirancang untuk gagal. (Petikan dari
Harsutejo, “Sejarah Gelap G30S,” – revisi).
9. Gembong G30S, Syam Kamaruzaman
Telah
lama beredar desas-desus, Syam Kamaruzaman, gembong G30S yang misterius
itu masih hidup. Setelah jatuhnya Suharto pada 21 Mei 1998, desas-desus
itu menjadi lebih gencar dalam alam keterbukaan. Bahkan ada yang
mengaku pernah bertemu dengan Syam di Meksiko. Eksekusi 1986 bersama
Supono Marsudijoyo alias Pono boleh jadi benar, tetapi Syam “yang lain,”
begitu argumennya. Amat menarik, pihak AD telah mengidentifikasi paling
tidak 3 (tiga) “Syam” seperti tersebut di bawah. Selama itu penampilan
Syam berubah-ubah, ia misterius antara lain karena riwayat hidupnya yang
tidak jelas. Konon ia membujang sampai umur 40 tahunan, juga tidak
diketahui bagaimana keluarganya. Nama aslinya ialah Syamsul Qomar bin
Mubaidah, dalam dokumen 1960-an disebut Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah.
Nama samarannya Sjamsuddin, Djiman, Karman, Ali Muchtar, Ali Sastra.
Nama terakhir ini tertera di dalam KTP pada saat ditangkap di Cimahi 8
Maret 1967.
Menurut Letkol Ali Said SH, Syam bukan tokoh PKI sepele,
ia dapat disejajarkan dengan DN Aidit. Ia sebagai jendral intel PKI yang
menjadi anggota PKI sejak 1949. Teman-teman dekat Syam ketika muda
tidak percaya ia memiliki kaliber semacam itu. Sejak pindah ke Yogya
riwayat yang sebenarnya menjadi buram. Ada yang mengatakan ia adik kelas
Munir (kelak ketua SOBSI) di Sekolah Dagang. Ada yang mengatakan ia di
Taman Siswa karena menjadi anggota diskusi ‘Kelompok Pathuk’ 43 yang
mayoritasnya dari Taman Siswa. Menurut Prof Dr Ir Haryosudirjo, mantan
menteri masa Bung Karno, Syam bersekolah di SMT(eknik).
Syam
bertindak sebagai intel di Resimen 22 Brigade 10, Divisi Diponegoro
dengan pangkat Letnan Satu, eks Laskar Gabungan Yogya. Begitu komentar
spontan anggota tim Mahmillub, Subono Mantovani SH ketika melihat foto
Syam; di masa Yogya itu Subono Mantovani juga berpangkat letnan satu,
sebelumnya berada dalam satu kelompok Pathuk bersama Letkol Suharto.
Komandan resimennya ketika itu Mayor Haryosudirjo tersebut di atas.
Berdasar pengakuan Syam yang diceritakan kepada Latief, ia berada dalam
pasukan Suharto ketika SU 1 Maret 1949.
Syam seorang pemuda yang
mendapatkan arahan Johan Syahruzah, tokoh PSI di kelompok Pathuk. Para
pemuda Pathuk ini yang memprakarsai permintaan agar Sri Sultan mengajak
anggota BKR Suharto untuk berdiplomasi dengan Jepang guna menyerahkan
senjatanya. Di antara para pemuda itu terdapat Sumantoro dan Syamsul
Qamar Mubaidah. Bersama Suharto mereka mendatangi markas Jepang pada
masa kemerdekaan itu. Jadi Suharto telah mengenal Syam sejak permulaan
kemerdekaan Demikian tulis AM Hanafi.
Sekitar 1947 Syam mulai
berkenalan dengan DN Aidit yang mengajaknya untuk aktif di Pemuda Tani,
afiliasi BTI. Sebagai intel pada Batalyon 10 Yogya, Lettu Syam di bawah
Letkol Suharto. Sejak itu Syam berhubungan dekat dengan Aidit maupun
Suharto. Hubungan persahabatannya dengan Suharto berjalan selama 20
tahun. Suharto tentu saja tak pernah menyinggung sedikit pun kalau ia
telah mengenal orang misterius yang bernama Syam ini sudah sejak lama,
seolah ia orang yang tak pernah tahu menahu dengan tokoh ini. Pada tahun
1949 Syam pindah ke Jakarta membantu Munir di BTI. Sekitar 1950 Syam
mendirikan SBP(elayaran) dan SBB(ecak) yang bermarkas di Jl Guntur,
Jakarta. Sebagai ketua SBP pada 1950 ia membantu pembebasan Aidit yang
baru datang dari Vietnam [menurut mitos] yang ditahan di Tanjungpriok
karena tidak punya tiket. Pada tahun 1950-57 ia di SOBSI Jakarta,
lalu sebagai sekretaris. Pada 1957 ia diangkat sebagai pembantu pribadi
Aidit, Ketua PKI. Dalam setahun ia masuk kepengurusan sebagai anggota
Departemen Organisasi. Ia disebut sebagai pernah menjadi informan
Komisaris Polisi Mudigdo di Pati yang kelak menjadi mertua Aidit.
Barangkali dari sini pulalah Aidit kemudian menjalin hubungan dekat
dengan Syam, serta memberikan kepercayaan besar kepadanya. Peter Dale
Scott menyebut Syam sebagai seorang kader PSI, pada tahun 1950-an ini
juga ia sering datang dan menginap di rumah Suharto di Yogya.
Menurut
Subandrio, yang juga Ketua Badan Pusat Intelijen (BPI), pada 1958 Syam
perwira intelijen AD serta mitra lokal CIA. Dengan demikian Syam
mempunyai hubungan tertentu dengan CIA, baik secara langsung atau pun
tidak. Ketika Kolonel Suharto memasuki Seskoad di Bandung, Syam ikut
serta dalam kursus militer itu, demikian menurut penyelidikan Poulgrain.
Hubungan mereka begitu rumit. Kolonel Suwarto dididik di Amerika, ia
sahabat Guy Pauker, orang penting CIA dalam hubungan dengan Indonesia,
pernah mengajar di Barkeley, konsultan RAND Corporation yang
menitikberatkan kontak-kontaknya dengan kalangan militer AD Indonesia.
Suwarto pernah diundang Pauker meninjau perusahaan tersebut pada 1962.
Pauker mendapat tugas melakukan sapu bersih terhadap PKI. Antara lain
lewat Suwarto lah CIA melakukan operasinya misalnya dengan apa yang
disebut civic mission AD, yang sebenarnya merupakan civic action CIA
dalam melakukan kontak-kontak dengan kelompok anti komunis di kalangan
AD. Rupanya lewat jalur inilah Suharto pertama kali berhubungan dengan
CIA.
Berdasar pemeriksaan dokumen-dokumen yang ada di AS, Belanda dan
Indonesia, dalam majalah resmi PSI nama Syam tercantum sebagai Ketua
PSI Ranting Rangkasbitung, Banten. Dalam arsip Belanda Syam tercatat
sebagai intel Recomba Jawa Barat. Recomba merupakan pemerintah federal
boneka Belanda, bisa saja Syam menyelundup menjadi spion untuk mengorek
rahasia Belanda, akan tetapi hal ini aneh. Dalam berbagai koran 1950-an
ia disebut sebagai informan dari Komando Militer Kota (KMK) Jakarta. Sejumlah narasumber perwira yang menjadi tapol di Salemba menyebutkan
Syam pada tahun 1951 tercatat sebagai kader PSI yang mendapatkan
pelatihan partai itu di antara 29 kader yang lain.
Very helpful suggestions that help in the optimizing website. Thank you for valuable suggestions.RescuePRO Deluxe 6.0.0.7
BalasHapus