Reporter : Ramadhian Fadillah | Rabu, 2 Oktober 2013 02:02
dn aidit. ©istimewa
Merdeka.com - Dalam dunia politik periode 1965, Ketua
Central Comite Partai Komunis Indonesia (CC PKI) Dipa Nusantara Aidit
punya musuh abadi. Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani menjadi
musuh bebuyutan yang selalu menjegal langkah politik PKI. Sebaliknya,
PKI pun selalu menyerang Angkatan Darat.
Kedua orang itu memang
tak pernah cocok. Ditambah lagi perseteruan Angkatan Darat dan PKI yang
maik meruncing, Yani dan Aidit ibarat anjing dan kucing.
Ketika
Yani dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat 22 Juni 1962, Aidit
khusus menulis puisi untuk menyindir Yani. Puisi itu diberi judul Raja
Naik Mahkota.
Udara hari ini cerah benar,
Pemuda nyanyi nasakom bersatu,
Gelak ketawa gadis Remaja,
Mendengar si lalim naik tahta,
Tapi konon mahkotanya kecil,
Ayo maju terus kawan,
Halau dia ke jaring dan jerat,
Hadapkan dia kemahkamah rakyat.
Aidit
tak menyukai gaya hidup Yani yang borjuis. Mulai dari mini bar, koleksi
jam tangan mewah, hingga hobi golf Yani. Yani yang lulusan pendidikan
militer Amerika juga dinilai sebagai agen neokolonial dan imperialisme
(Nekolim).
Serangan Aidit berlanjut, tahun 1963 saat Operasi
Trikora di Irian Barat selesai, PKI menuding Angkatan Darat memboroskan
anggaran dan menyebabkan negara bangkrut. Saat itu kondisi perekonomian
Indonesia memang morat-marit.
Yani marah, dia membalas serangan
Aidit. "Biar ada 10 Aidit pun tak akan bisa memperbaiki ekonomi kita,"
kata Yani seperti ditulis dalam buku Sejarah TNI Jilid III terbitan
Pusjarah.
Keduanya pun kembali terlibat seteru saat Aidit
mengusulkan pembentukan angkatan kelima dimana buruh dan tani
dipersenjatai. Aidit beralasan buruh dan tani akan dikerahkan untuk
Dwikora menghadapi Malaysia dan serangan Nekolim. Yani menolaknya. tentu
saja Angkatan Darat tak mau PKI punya kekuatan bersenjata yang
sewaktu-waktu bisa digerakkan.
"Kalau Nekolim menyerang, semua rakyat Indonesia akan dipersenjatai. Bukan hanya buruh dan tani," balas Yani.
Saat
itulah beredar Dokumen Gilchrist, Duta Besar Inggris untuk Indonesia.
Isinya menyebut ada kerjasama antara militer AS dengan sejumlah jenderal
Angkatan Darat yang tak loyal dengan Soekarno. Ada isu Dewan jenderal
yang siap mengkudeta Soekarno dan mendirikan pemerintahan baru. Nama
Yani masuk di dalamnya. Jelas saja Yani menolak isi dokumen tersebut.
Yani
tahu PKI akan segera menyerang, tapi dia meremehkan informasi yang
beredar. Intelijen Angkatan Darat ternyata gagal mendeteksi gerakan 30S.
Ketidakwaspadaan yang harus dibayar dengan harga sangat mahal. Yani
tewas diberondong pasukan penculik 1 Oktober 1965 dini hari di rumahnya.
Sejumlah jenderal pimpinan Angkatan Darat juga dihabisi. Mayat mereka
dimasukkan ke dalam sumur tua di lubang buaya.
Tapi kemenangan
juga bukan milik Aidit. Setelah G30S gagal, Aidit lari ke Jawa Tengah.
Beberapa hari kemudian Aidit tertangkap. Beberapa versi menyebutkan
Pasukan Kostrad mengeksekusi Aidit dengan berondongan peluru AK-47 di
sekitar Boyolali. Sama, jenazah Aidit pun dimasukkan dalam sumur tua.
Demikian
akhir permusuhan Yani dan Aidit, hampir serupa walau tak sama. Keduanya
bukan pemenang, hanya korban revolusi yang masih abu-abu.
http://www.merdeka.com/peristiwa/nasib-dn-aidit-dan-ahmad-yani-sama-sama-berakhir-di-sumur-tua.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar