Rabu 30 September 2015 12:23 WIB
Dalam sejarah politik dunia, komunisme sudah Bangkit. Berbagai
kekuasaannya sudah di berbagai negara. Tetapi, di negeri ini, ketakutan
terhadap bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu menggema di
setiap 30 September.
Membongkar akar ketakutan terhadap kebangkitan komunisme sangat
menarik. Sebab akar ketakutan ini pula yang selalu memunculkan tindakan
reaksinoer dari berbagai kalangan. Lihat saja, bagaimana Abdurrahman
Wahid, di sesalkan sebagian NU, saat memiliki gagasan meminta maaf
kepada PKI. Manakala terdengar kabar, Jokowi akan meminta maaf reaksi
itu menguat kembali.
Jika melihat dari tindakan kejam dan pembunuhan, hampir setiap rezim
berkuasa dan hendak mempertahankan kekuasaannya, selalu saja melakukan
kekerasan, penculikan, pembunuhan, penghilangan orang, penahanan tanpa
proses pengadilan. Tetapi terhadap kejahatan rezim ini tak mendapatkan
respons reaktif seperti terjadi kepada PKI.
Kejahatan Belanda yang tak hanya menguras habis kekayaan negeri,
Jepang tak kalah kejamnya, dengan menjadikan perempuan-perempuan bangsa
ini menjadi budak nafsu, tak juga mampu menimbulkan tindakan reaktif
seperti terhadap PKI?
Ketakutan terhadap bangkitnya komunisme, patut diduga berakar pada
pemahaman, PKI itu ateis, tak memercayai adanya Tuhan. Kebangkitan PKI
menjadi sangat menakutkan, dan membiarkannya sama dengan membolehkan
ateisme di negeri ini. Jadi tak semata-mata soal tindak pembantaiannya.
Jika menilik ulang gagasan dasar komunisme bukanlah pada soal agama.
Melainkan pemikiran kritis terhadap kapitalisme yang dalam pemikiran
Marx, sangat menghisap kelompok jelata, kaum miskin papa. Secara
ideologis, komunisme sedang melawan ideologi kapitalisme itu. Sama
sekali tak sedang melawan pemikiran agama, apalagi soal ketiadaan Tuhan.
Kalau kemudian, muncul gagasan lanjutan, agama dinilai sebagai
penjinak kritisisme kaum jelata, bisa jadi sebagiannya benar. Sebab,
ketika kaum jelata itu begitu kuatnya ditindas dan dieksploitasi secara
ekonomi, mereka tak ada jalan lain menyerah pasrah, seperti yang
diajarkan agama, mengenai kesadaran, setelah susah akan datang gembira.
Bagi komunisme, ajaran semacam ini menghalangi orang untuk melawan
ketidakadilan akibat ulah manusia.
Penilaian agama seperti ini tak cukup alasan untuk mengatakan gagasan
komunisme sebagai ateis. Sebab, akar gagasannya memang bukan pada
pemikiran agama-agama, melainkan pada ranah ekonomi dan sumber daya.
Lantas kenapa pikuk itu selalu saja terjadi? Mari kita semua merenung kembali dan secara jernih memikirkannya.
http://indonesiana.tempo.co/read/49951/2015/09/30/Membedah-Akar-Ketakutan-Bangkitnya-PKI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar