Minggu 04 Oktober 2015 10:12 WIB
Gendur Sudarsono
Lima puluh tahun belum cukup buat membuka tabir peristiwa 30
September (G30S) 1965. Terlalu banyak sisi kelam tragedi politik
sekaligus kemanusiaan ini yang belum terungkap. Peristiwa berdarah ini
mengorbankan tak hanya nyawa sederet jenderal, tapi juga ratusan
ribu orang yang kemudian dibantai. Mereka adalah orang-orang yang
dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia.
Satu hal yang kini semakin terang: besarnya peran Amerika Serikat
dalam G30 S dan rentetan kejadian setelahnya. Peran itu semakin terkuak
setelah Amerika membuka banyak data intelijen pada sekitar tahun 1965
bagi publik. Setidaknya ada 5 indikasi yang memperkuat dugaan
keterlibatan Amerika:
1. Kebijakan Dewan Keamanan Amerika 1955
Rencana menumbangkan Presiden RI sudah dimulai sejak Mei 1955,
sebulan setelah Sukarno menggalang gerakan non-blok lewat konferensi
Asia Afrika di Bandung.
Dewan Keamanan Amerika (National Security
Council-NCS) menggariskan kebijakan itu. Pada dokumen NSC 5518, yang
dibuka pada 1994, dinyatakan jelas bahwa operasi rahasia menjatuhkan
Sukarno perlu dilakukan jika ia semakin memberi angin kepada partai
sayap kiri.
2. Operasi penghancuran komunis
Sebuah
komisi khusus di Badan Keamanan Nasional (National Security
Agency—NSA) menyetujui operasi untuk menghancurkan komunis di
Indonesia. Persetujuan ini terungkap dalam dokumen rahasia Central
Intelligency Agency (CIA) bertanggal 23 Februari 1965 yang
dipublikasikan pada 2001. Komisi ini setuju CIA berkolaborasi secara
diam-diam dengan kelompok antikomunis di Indonesia.
3. Perhatian amat intensif terhadap politik Indonesia
Intensitas
itu terungkap dari ratusan dokumen CIA yang telah dibeberkan. Pada
3 Oktober 1965, misalnya, terungkap laporan dari Direktur Wilayah
Timur Jauh, FJ Blouin, kepada Pejabat International Security Affair,
McNaughton. Blouin memaparkan secara rinci situasi dan kontak-kontak
dengan pejabat di Indonesia.
Ia kemudian memprediksi yang akan terjadi.
Menurut dia, jika tentara merayakan Hari TNI pada 5 Oktober dengan
prosesi besar-besaran karena kematian para jenderalnya, hal ini menjadi
mementum tentara mengambil posisi menentukan.
4. Pengakuan bekas diplomat Amerika
Seorang
bekas diplomat Amerika, Robert J. Martens, sempat mengeluarkan
keterangan penting. Ia membongkar aktivitas CIA yang mendata sekitar
5000 tokoh PKI, mulai pimpinan pusat sampai ke daerah. Daftar ini
yang kemudian diserahkan ke militer Indonesia. Pengakuan Martens
ditulis oleh wartawan Kathy Kadane dipublikasikan lewat States News
Service pada 17 Mei 1990.
Martens belakangan membantah soal itu. Ia menyebutkan daftar yang
ia buat hanya sejumlah tokoh PKI berdasarkan liputan media komunis di
Indonesia. Duta Besar AS untuk RI pada masa itu, Marshall Green, juga
menganggap laporan itu sebagai “sampah”. Hanya, dalam laporan CIA
berjudul "Coup and Counter Reaction: October 1965-March 1966", jelas
terungkap Kedutaan AS di Jakarta terus melaporkan perkembangan nasib
tokoh-tokoh PKI ke Washington, misalnya, ditahan atau meninggal.
5. Bantuan Amerika ke pejabat TNI
Terungkap
adanya permintaan bantuan obat-obatan dan peralatan komunikasi dari
pejabat militer pro Suharto di Indonesia kepada Amerika. Telegram 1
November 1965 dari Marshal Green di Jakarta kepada Menteri Luar Negeri
Dean Rusk di Washington menggambarkan itu.
Masih banyak catatan lain mengenai indikasi keterlibatan Amerika
dalam peristiwa 30 September 1965 dan rentetan gejolak politik dan
kejadian berdarah setelah itu. Majalah Tempo edisi 5-12 Oktober 2015
mengungkap sepak terjang intel Amerika di Indonesia saat itu secara
mendalam dan lengkap.*
http://indonesiana.tempo.co/read/50321/2015/10/04/gendursudarsono/g30s-1965-lima-jejak-keterlibatan-amerika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar