Selasa, 19 April 2016 | 21:46 WIB
Penulis: Kristian Erdianto | Editor: Bayu Galih
JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis Koalisi untuk
Kebenaran dan Pengungkapan Kebenaran, Kamala Chandra Kirana,
mengungkapkan keberatan apabila proses rekonsiliasi menjadi titik awal
dalam menuntaskan kasus kekerasan Tragedi 1965.
Menurut Kamala, rekonsiliasi nasional merupakan dampak dari proses
pengungkapan kebenaran yang seharusnya lebih dulu diupayakan oleh
pemerintah.
Meskipun sulit, kata Kamala, proses pengadilan harus tetap dilakukan.
Proses tersebut dinilai merupakan satu-satunya upaya menuju
penyelesaian yang komprehensif dan berkeadilan.
"Meski sulit, ada hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan dalam
pengadilan," ujar Kamala saat menjadi panelis dalam Simposium Nasional
Membedah Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Selasa
(19/4/2016).
Selain itu, menurut Kamala, proses pengadilan itu nantinya akan
mendorong adanya pengungkapan kebenaran secara resmi oleh negara dan
pemulihan hak korban dari berbagai sisi kehidupan, seperti ranah sosial,
ekonomi dan budaya.
Oleh karena itu ia meminta Pemerintah segera membentuk komite ad hoc
yang independen untuk memfasilitasi adanya proses yudisial yang
akuntabel dan kredibel.
"Proses yudisial tersebut penting untuk memberikan jaminan keamanan
dan untuk membuka jalur komunikasi dengan publik," kata Kamala.
"Dengan begitu penyelesaian bisa dilakukan secara menyeluruh dan
efektif. Penegakan hukum dan HAM merupakan kewajiban negara," ucapnya.
http://nasional.kompas.com/read/2016/04/19/21465041/Proses.Yudisial.Dinilai.Perlu.Dilakukan.untuk.Selesaikan.Tragedi.1965?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd

Tidak ada komentar:
Posting Komentar