30/05/2016 | 15:24 WIB
PURBALINGGA – Sempat diganggu intimidasi dari sebuah organisasi
kemasyarakatan (ormas), rangkaian Festival Film Purbalingga (FFP) 2016,
akhirnya mencapai babak puncak. Sabtu (28/5) malam lalu, FFP 2016
menggelar malam penghargaan di GOR Mahesa Jenar Purbalingga.
Hasilnya,
untuk tahun ini, film-film pelajar bertema korban ’65, berhasil
mendominasi penghargaan FFP 2016. Film-film yang diproduksi pelajar SMA
Negeri Rembang Purbalingga itu menggondol tiga kategori sekaligus.
Yakni, film berjudul Izinkan Saya Menikahinya, sutradara Raeza Raenaldy
Sutrimo berhasil menjadi Film Fiksi SMA Terbaik sekaligus Film Fiksi SMA
Favorit Penonton. Film berdurasi 10 menit ini mampu menyisihkan lima
film lainnya.
Sutradara fim tersebut, Raeza mengatakan, dia
bersyukur mampu menjadi yang terbaik, meski tak didukung oleh
sekolahnya. Dia berharap prestasi yang diraoh oleh ekstrakurikuler resmi
sekolahnya tersebut, bisa mendapat perhatian dengan diraihnya
penghargaan tersebut.
Film yang diproduksi Gerilya Pak Dirman Film
ini berkisah kasih asmara seorang tentara bernama Suryono yang akan
menikahi seorang bidan, Suryati. Namun karena kakek Suryati seorang
mantan tahanan politik (eks tapol), sehingga atasan Suryono tak
mengizinkan mereka menikah.
Menurut salah satu juri fiksi, Agustav
Triono, juri memandang adanya lompatan tema yang signifikan di
sepanjang sejarah FFP. “Kami juga melihat keberanian pelajar mengangkat
persoalan politik nasional menjadi salah satu penanda perkembangan
wacana film pelajar di Banyumas,” jelasnya.
Pada Kategori
Kompetisi Dokumenter SMA, film Kami Hanya Menjalankan Perintah,
Jenderal!” sutradara Ilman Nafai siswa SMA Negeri Rembang Purbalingga
menjadi Film Dokumenter SMA Terbaik. Film yang menampilkan kisah tiga
mantan pasukan Cakrabirawa semasa hidupnya.
“Sebelum membuat
fiksi, kami produksi dokumenter dulu. Dari awal sudah tidak didukung
sekolah karena takut dengan konten film yang kami produksi. Hak kami
mendapatkan dana produksi tidak turun. Bahkan, setelah film jadi, kami
sempat didatangi pihak Kodim Purbalingga,” jelas Ilman.
Dewan juri
fiksi menilai, film ini mengisi film yang selama ini kurang digali dari
sebuah isu sensitif tentang korban 65, yakni dari sisi Cakrabirawa.
“Film ini menambah teori baru seputar sejarah 65, terutama melihat
referensi yang selama ini ada,” ujar dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed,
Muhammad Taufiqurrohman.
Sementara pada Kategori Dokumenter SMA
Favorit Penonton keluar sebagai terfavorit film Galian C, sutradara Wely
Alfian dari Papringan Pictures ekskul sinematografi SMA Negeri Kutasari
Purbalingga.
Pada Kategori Kompetisi Fiksi SMP, programer tidak
merekomendasi film yang masuk untuk dinilai juri. Namun ada satu film
berjudul Mangkat Sekolah, sutradara Sugeng Setiadi dari SMP Muhammadiyah
Sinematografi Sokaraja, Banyumas mendapat Penghargaan Khusus.
Penghargaan
Lintang Kemukus, yaitu penghargaan kepada seniman tradisi di Banyumas
Raya yang secara nyata berkontribusi atas kesenian dan kebudayaan,
diberikan kepada pegiat budaya Jawa dari Cilacap Muslam Guno Waseso.
Penghargaan lain berupa penulisan cerita terbaik tema “Buruh Migran”
hasil workshop penulisan skenario bekerja sama dengan Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Pemenang
pertama diraih Eko Febri Prasetyo dari Universitas Muhammadiyah
Purwokerto dan Eko Junianto siswa SMA Negeri Bobotsari Purbalingga.
Direktur FFP Bowo Leksono mengatakan, sempat ada selilit dalam
perjalanan FFP 2016 selama sebulan yaitu pembubaran pemutaran film oleh
organisasi massa. “Ini merupakan awal kami mengawal film-film pemenang
FFP 2016 dan film-film lain ke pemutaran dan festival-festival di luar
Purbalingga,” tegasnya. (tya)
http://radarbanyumas.co.id/film-bertema-eks-tapol-dominasi-penghargaan-festival-film-purbalingga-2016/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar