Sebuah Pelajaran dari British Exit
Oleh : Salamuddin Daeng*
DUNIA dikagetkan oleh keluarnya British dari Uni Eropa (Brexit),
padahal kejadian itu telah diperkirakan sebelumnya oleh banyak pihak
bahwa sesungguhnya Inggris sejak awal tidak bersungguh sungguh bergabung
dengan Uni Eropa, buktinya Inggris tidak pernah mau meninggalkan
Poundsterling dan tidak mau menerima Euro sebagai mata uang mereka.
Brexit hanya menunggu memomentumnya saja untuk keluar. Krisis 2008 yang
melanda Eropa dan Amerika Serikat dan masih berlangsung sampai dengan
saat ini, menjadi saat yang tepat bagi inggris untuk mengambil keputusan
keluar.
Hingga saat ini krisis Eropa semakin parah, negara
negara Uni Eropa terperangkap utang yang besar. Yunani, irlandia,
portugal, spanyol, tinggal serpihan yang sulit diselamatkan. Ditambah
lagi dengan banyaknya imigrasi yang masuk ke EU yang semakin tidak
terbendung akan menajdi sumber masalah yang besar bagi Uni Eropa.
Inggris sebagai negara Kerajaan terbesar di dunia yang tekah berusia
lebih dari 1000 tahun ini tidak mau mati konyol atau tenggelam bersama
sama dengan Uni Eropa.
Sejatinya Uni Eropa bukanlah sebuah
regionalisme yang dibangun diatas kerjasama sebagaimana yang dibayangkan
banyak orang. European Union (EU) sejatinya adalah organisasi
perdagangan bebas yang dibangun diatas dasar persaingan. ituah mengapa
dalam perkembangannya perekonomian mereka saling memangsa satu sama
lainnya.
Apa yang kita saksikan dalam peristiwa Brexit ini
merupakan suatu contoh bahwa negara di dunia sekarang kembali ke
nasionalisme mereka masing masing. Ini juga berarti berakhirnya
kepercayaan terhadap globalisasi dan internasionalisme. Seluruh
organsiasi internasional yang menaungi globalisasi seperti WTO, G20,
APEC, telah gagal melahirkan keseimbangan global baru. Justru yang
terjadi adalah kekacauan dan krisis yang terjadi dalam tempo yang
semakin cepat, setelah krisis 98 melanda Asia, krisis hebat 2008 melanda
Amerika Serikat dan Uni Eropa dan Krisis utang publik 2014 melanda
China.
Kemana Inggris pergi ? Inggris kembali kepada kerajaan
Britania Raya, dengan The Commonwealth yang beranggotakan 53 negara di
enam benua yang berpenghuni dengan jumlah populasi mencapai 2,1 miliar.
Inggris tetap menjadi kekauatan nasionalis yang besar dan kembali kepada
konstitusi kerajaan meraka.
Bagaimana dengan Indonesia dan ASEAN
? Masih ingat tahun 2010 lalu, ketika indonesia mengalami defisit
perdagangan berturut turut dengan China sejak 2004 dan menguras devisa,
membangkrutkan industri besi baja, petrokimia, makanan minuman dan
mainan anak anak ? Indonesia hendak melakukan negosiasi dengan China,
dan ternyata tidak bisa...Indonesia harus mengajak seluruh negara ASEAN
untuk bernegosiasi dengan China, akhirnya gagal dan Indonesia mengalami
defisit perdagangan dengan China sampai dengan hari ini..
Kok
bisa ? Indonesia yang mendirikan ASEAN kok malah Indonesia yang harus
menderita oleh kebijakan yang dibuat ASEAN? disinilah masalahnya. ASEAN
yang dibangun 1967 sebagai organsiasi kerjasama telah diubah oleh para
pengkhianat menjadi organsiasi perdagangan bebas.
Puncaknya
setelah dibentuk konstitusi bersama ASEAN (ASEAN Charter) pada tahun
2007 dan diratifikasi Indonesia pada tahun 2008 (guagatan masyarakat Ke
Mahkamah Konstitusi dikalahkan oleh Mahfud MD dkk). Sejak saat itu ASEAN
telah menjadi entitas hukum sendiri secara internasional, akibatnya
kedaualatan Indonesia terenggut menjadi kedaualatan ASEAN.
Lalu
bagaimana Indonesia memandang Brexit ? Inggris telah keluar dari EU. Itu
artinya Inggris telah kembali kepada nasionilsmenya. Inggris juga
kembali kepada konstitusi kerajaannya dan melepaskan seluruh konstitusi
Eropa. Pelajaran dari Berxit tersebut terang benderang. Indonesia harus
merebut kembali kedaualatannya dari ASEAN. Indonesia harus kembali
kepada Konstitusi Pancasila dan UUD 1945 yang asli, mengurusi 34
Propinsi secara sungguh sungguh, menanggalkan demokrasi liberal
kapitalis, sebagaimana Inggris kembali kepada sistem kerajaan dan
mengurusi 53 negara persemakmurannya.
____
Salamuddin Daeng, Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno
https://www.facebook.com/salamuddin.daeng.5/posts/10210076307332444

Tidak ada komentar:
Posting Komentar