Kamis, 02/06/2016 17:27 WIB
Oleh : Ade Irmansyah
KBR, Jakarta- Pemerintah enggan memberikan komentar apapun
terkait Simposium Tandingan yang digagas oleh para purnawirawan TNI dan
gabungan Ormas di Balai Kartini. Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi
mengatakan, Presiden Joko Widodo hingga saat ini belum mengeluarkan
komentar apapun terkait pagelaran Simposium tersebut.
"Pak Presiden belum bilang apa-apa soal itu, jadi saya tidak bisa bicara
apapun juga soal itu," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara.
Senada dengan Johan Budi, Menteri Sekretaris Negara, Pramono Anung
mengaku tidak mengetahui apapun terkait Simposium tersebut. Oleh
karenanya kata dia, pihaknya tidak bisa komentar apapun terkait
Simposium tersebut.
Terkait statemen Kivlan Zein yang mewacanakan
kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), dia mempersilahkan awak
wartawan untuk mengonfirmasi masalah tersebut kepada Kivlan Zein.
"Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Jadi dari pada saya salah, saya tidak
mau komentar apapun soal itu," ujarnya dikantornya kepada wartawan.
Saat dihubungi via telepon, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden
(Wantimpres) Sidarto Danusubroto juga tidak ingin mengomentari acara
Simposium Tandingan tersebut. Kata dia, yang juga menjadi penanggung
jawab acara Simposium yang digagas oleh pemerintah, pihaknya tidak
memiliki wewenang mengomentari masalah tersebut.
Sebelumnya, Ketua Panitia Simposium tandingan, Kiki Syahnakri
membeberkan hasil rekomendasi sementara terhadap pemerintah. Kata dia,
rekomendasi itu menolak ideologi komunisme dan perlunya pendidikan
karakter Pancasila.
Kiki berharap, Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam)
dapat memfasilitasi pertemuan antara pihaknya dengan panitia Simposium
1965 pimpinan Agus Widjojo.
Dia tak mempermasalahkan apabila hasil rekomendasi bertolak belakang
dengan panitia Simposium 1965. Pihaknya bersikeras agar pemerintah tak
minta maaf kepada korban 1965 dari PKI. Dia juga tak setuju apabila ada
kompensasi dan penggalian kuburan massal korban 1965.
Kudeta
Wacana kudeta di antaranya disuarakan wakil dari Nahdlatul Ulama (NU). Wakil NU menyatakan bersiap untuk melakukan
bughat atau kudeta terhadap pemerintah jika keluar dari Pancasila. Hal
itu disampaikan salah satu ketua Pengurus Besar NU, Marsudi Syuhud dalam Simposium Anti-PKI yang digelar di Balai Kartini, Jakarta.
Marsudi mengatakan, sejak dulu para pendiri NU sepakat untuk
melindungi Pancasila dari rongrongan ideologi kanan atau kiri termasuk
di dalamnya PKI.
"Kita semua dulu sudah disepakati bersama. Ideologi yang timbul atau
tenggelam timbul lagi. Atau sekarang ditimbulkan. Lalu keluar dari
kesepakatan, dan tidak ada kesepakatan baru, maka hukumnya Bughat atau
kudeta. Boleh diperangi," kata Marsudi di Balai Kartini, Kamis
(2/6/2016).
Marsudi juga menyebut rekonsiliasi antara NU dan PKI sudah berlangsung
secara alami. Namun begitu, ia menolak jika sejarah kekerasan PKI hanya
dimulai dari 1965. Namun kata dia, mesti dilihat dari 1948.
Marsudi Syuhud menjadi pembicara di hari kedua dalam sesi Ideologi
Komunis dalam Perspektif Agama. Di sesi ini hadir pula Yunahar Ilyas
yang mewakili Muhamadiyah, dan Dewa Putu Sukardi (Hindu).
Editor: Rony SItanggang http://kbr.id/06-2016/simposium_anti_pki_wacanakan_kudeta___istana_enggan_komentari/81854.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar