Oleh: Harsutejo
16 Juni 2016
Pada 1 Oktober 1965 telah terjadi penculikan dan pembunuhan enam
orang jenderal dan seorang perwira pertama AD yang kemudian dimasukkan
ke sebuah sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede oleh pasukan
militer G30S. Pasukan ini berada di bawah pimpinan Letkol Untung,
Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden.
Pada 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para
jenderal di Lubang Buaya, Mayjen Suharto, Panglima Kostrad menyampaikan
pidato yang disiarkan luas yang menyatakan bahwa para jenderal telah
dianiaya sangat kejam dan biadab sebelum ditembak. Dikatakan olehnya
bahwa hal itu terbukti dari bilur-bilur luka di seluruh tubuh para
korban. Di samping itu Suharto juga menuduh, Lubang Buaya berada di
kawasan PAU Halim Perdanakusuma, tempat latihan sukarelawan Pemuda
Rakyat dan Gerwani.
Perlu disebutkan bahwa Lubang Buaya terletak di
wilayah milik Kodam Jaya. Di samping itu disiarkan secara luas foto-foto
dan film jenazah yang telah rusak yang begitu mudah menimbulkan
kepercayaan tentang penganiayaan biadab itu. Hal itu diliput oleh media
massa yang telah dikuasai AD, yakni RRI dan TVRI serta koran milik AD
Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha. Sementara seluruh media massa
lain dilarang terbit sejak 2 Oktober.
Jadi sudah pada 4 Oktober itu Suharto menuduh AURI, Pemuda Rakyat dan
Gerwani bersangkutan dengan kejadian di Lubang Buaya. Selanjutnya telah
dipersiapkan skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer
untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI secara besar-besaran dan
serentak. Dilukiskan terdapat kerjasama erat dan serasi antara Pemuda
Rakyat dan Gerwani serta anggota ormas PKI lainnya dalam melakukan
penyiksaan para jenderal dengan menyeret, menendang, memukul, mengepruk,
meludahi, menghina, menusuk-nusuk dengan pisau, menoreh silet ke
mukanya. Dan puncaknya kaum perempuan Gerwani itu dilukiskan sebagai
telah kerasukan setan, menari-nari telanjang yang disebut tarian harum
bunga, sambil menyanyikan lagu Genjer-genjer, lalu mecungkil mata
korban, menyilet kemaluan mereka, dan memasukkan potongan kemaluan itu
ke mulutnya.
Maaf membaca, itu semua bukan lukisan saya tapi hal itu bisa kita
baca dalam koran-koran Orba milik AD yang kemudian dikutip oleh media
massa lain yang boleh terbit lagi pada 6 Oktober dengan catatan harus
membebek sang penguasa serta buku-buku Orba. Lukisan itu pun bisa kita
dapati dalam buku Soegiarso Soerojo, pendiri koran AB, yang diterbitkan
sudah pada 1988, .Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai. Anda juga dapat
menikmatinya dalam buku Arswendo Atmowiloto yang direstui oleh pihak
AD, Pengkhianatan G30S/PKI, yang dipuji sebagai transkrip novel yang
bagus dari film skenario Arifin C Noer dengan judul yang sama yang wajib
ditonton oleh rakyat dan anak sekolah khususnya selama bertahun-tahun.
Dan jangan lupa, fitnah ini diabadikan dalam diorama pada apa yang
disebut Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Meski monumen ini
berisi fitnah, tapi kelak jangan sampai dihancurkan, tambahkanlah satu
plakat yang mudah dibaca khalayak:
“Di sini berdiri monumen kebohongan
perzinahan politik”, agar kita semua belajar bahwa pernah terjadi suatu
rezim menghalalkan segala cara untuk menopang kekuasaannya dengan fitnah
paling kotor dan keji pun. Penghormatan terhadap para jenderal yang
dibunuh itu ditunggangi Suharto dengan fitnah demikian.
Fitnah hitam dongeng horor itu semua bertentangan dengan hasil visum
et repertum tim dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto
sendiri yang diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965, bahwa tidak ada
tanda-tanda penyiksaan biadab, mata dan kemaluan korban dalam keadaan
utuh. Laporan resmi tim dokter itu sama sekali diabaikan dan tak pernah
diumumkan. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara
berkesinambungan selama bertahun-tahun tanpa jeda. Dalil intelijen
menyatakan bahwa kebohongan yang terus-menerus disampaikan akhirnya
dianggap sebagai kebenaran. Bahkan sampai dewasa ini pun, ketika
informasi sudah dapat diperloleh secara bebas terbuka, fitnah itu masih
dimamahbiak oleh sementara kalangan seperti buta informasi.
Apa tujuan kampanye hitam fitnah itu? Hal ini dimaksudkan untuk
mematangkan situasi, membangkitkan emosi rakyat umumnya dan kaum agama
khususnya menuju ke pembantaian massal para anggota PKI dan yang dituduh
PKI sesuai dengan doktrin membasmi sampai ke akar-akarnya.
Dengan
gencarnya kampanye hitam itu, maka telah berkembang biak dengan berbagai
peristiwa di daerah dengan kreatifitas dan imajinasi para penguasa
setempat. Selama kurun waktu 1965-1966 jika di pekarangan rumah
seseorang ada lubang, misalnya untuk dipersiapkan menanam sesuatu atau
sumur tua tak terpakai, apalagi jika si pemilik dicurigai sebagai orang
PKI, maka serta-merta ia dapat ditangkap, ditahan dan bahkan dibunuh
dengan tuduhan telah mempersiapkan “lubang buaya”‖ untuk mengubur
jenderal, ulama atau dan tokoh-tokoh lawan politik PKI setempat. Dongeng
tersebut masih dihidup-hidupkan sampai saat ini.
Segala macam dongeng fitnah busuk berupa temuan “lubang buaya”‖
yang dipersiapkan PKI dan konco-konconya untuk mengubur lawan-lawan
politiknya ini bertaburan di banyak berita koran 1965-1966 dan terekam
juga dalam sejumlah buku termasuk buku yang ditulis Jenderal Nasution,
yang dianggap sebagai peristiwa dan fakta sejarah, bahkan selalu
dilengkapi dengan apa yang disebut “daftar maut”‖ meskipun keduanya
tak pernah dibuktikan sebagai kejadian sejarah maupun bukti di
pengadilan.
Seorang petani bernama Slamet, anggota BTI yang tinggal di pelosok
dusun di Jawa Tengah yang jauh dari jangkauan warta berita suatu kali
mempersiapkan enam lubang untuk menanam pisang di pekarangannya. Suatu
siang datang sejumlah polisi dan tentara dengan serombongan pemuda yang
menggelandang dirinya ketika ia sedang menggali lubang keenam.
Tuduhannya ia tertangkap basah sedang mempersiapkan lubang untuk
mengubur Pak Lurah dan para pejabat setempat. Dalam interogasi terjadi
percakapan seperti di bawah.
- Kamu sedang mempersiapkan lubang buaya untuk mengubur musuh-musuhmu!
- Lho kulo niki bade nandur pisang, lubang boyo niku nopo to Pak? [saya sedang hendak menanam pisang, lubang buaya itu apa Pak?]
- Lubang boyo iku yo lubange boyo sing ana boyone PKI!– [lubang
buaya itu lubang yang ada buaya milik PKI].
Baik pesakitan yang bernama
Slamet maupun polisi yang memeriksanya tidak tahu apa sebenarnya lubang
buaya itu, mereka tidak tahu bahwa Lubang Buaya itu nama sebuah desa di
Pondokgede, Jakarta.
Dikiranya di situ lubang yang benar-benar ada
buayanya milik PKI. Ini bukan anekdot tetapi kenyataan pahit, si Slamet
akhirnya tidak selamat alias dibunuh karena adanya bukti telak
terhadap tuduhan tak terbantahkan.
Demikian rekaman yang saya sunting
dari wawancara HD Haryo Sasongko dalam salah satu bukunya. (Dari
berbagai sumber, petikan naskah belum terbit).
Sumber: Majalah Tempo, Kitab Merah: Kumpulan kisah-kisah Tokoh G30S PKI
http://www.berdikaribook.red/tentang-lubang-buaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar