Oleh: Eko Sulistyo*
Monday, July 04, 2016 | Opini Koran Sindo, 4 Juli 2016
Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran juga menjadi bagian
dari sejarah politik Soekarno sejak zaman penjajahan Belanda sampai
Indonesia merdeka. Meski Soekarno sendiri lahir dan besar bukan dari
lingkungan agama Islam yang ketat. Ayahnya seorang priyayi kecil
penganut theosofi dan abangan. Sementara ibunya berasal dari Bali yang
Hindu. Soekarno sendiri tumbuh dalam budaya Jawa abangan yang sinkretis
dan penggemar wayang, yang oleh Cliford Geertz disebut sebagai agama
Jawa.
Ketika bersekolah di Surabaya dan menjadi anak didik HOS
Tjokoroaminoto Ketua Serekat Islam, Soekarno muda lebih tertarik dengan
politik dan kemampuan orasi Tjokro yang memukau, yang kelak
mempengaruhi gaya orasinya.
Soekarno sendiri mulai membaca dan
menulis berbagai pemikiran Islam secara serius saat pembuangannya di
Ende dan Bengkulu sampai dibebaskan oleh pemerintah pendudukan Jepang
(1933-1942). Menurut data yang dikumpulkan oleh M. Ridwan Lubis,
Soekarno & Modernisme Islam (2010), sejak tahun 1926 – 1966,
Soekarno membuat 46 tulisan bertemakan Islam, lebih banyak dari tulisan
bertema marxis yang hanya 27. Namun semuanya masih jauh dibawah tema
besarnya tentang nasionalisme dan marhaenisme yang mencapai 355
tulisan.
Pada zaman penjajahan Belanda sholat Idul Fitri berjamaah
terbuka di dekat istana pertama kali diperbolehkan pada 1929 di
lapangan terbuka Koningsplein (Gambir). Ketika Jepang menduduki
Indonesia sholat Idul Fitri masih di tempat yang sama namun namanya
sudah diganti oleh pemerintahan pendudukan Jepang menjadi lapangan Ikada
(Ikatan Atletik Djakarta).
Di zaman pergerakan Soekarno beberapa
kali melakukan perdebatan di Hari Raya Idul Fitri. Dalam Lebaran tahun
1933 Soekarno terlibat perdebatan dengan Mohmad Hatta yang mengritik
taktik non-kooperatif Soekarno. Di koran Fikiran Rakjat, Soekarno
membalas kritik Hatta dengan kalimat “hari lebaran adalah hari
perdamaian”. Kehebohan saat Idul Fitri juga diciptakan Soekarno di
Bengkulu ketika dalam sholat Idul Fitri di lapangan Tapak Paderi dia
menyaksikan adanya tabir pemisah antara jemaah laki-laki dan perempuan.
Soekarno menyatakan menolak sembahyang karena ada pemisahan tabir
tersebut. Kemudian Soekarno menulis di koran Pandji Islam (1939)
sebagai protes dengan judul cukup provokatif “Tabir adalah Lambang
Perbudakan.” Tulisan ini melahirkan perdebatan dengan para tokoh
Muhamadiyah di Bengkulu.
Di Jaman Jepang, Soekarno dan Hatta
mengambil jalan politik koloborasi dengan pemerintahan pendudukan
Jepang. Soekarno menerima tawaran Jenderal Imamura, penguasa militer
Jepang untuk duduk sebagai penasehat dalam Departemen Urusan dalam
Negeri. Posisi ini memberikan ruang dan kesempatan bagi Soekarno untuk
kembali bicara dihadapan ribuan rakyat, “tempat ia selalu mendapatkan
ilham kekuatan” setelah sembilan tahun diasingkan. Pada 8 Desember 1942
Soekarno mengumumkan berdirinya PUTERA—Pusat Tenaga Rakyat. Pada
zaman Jepang sholat Idul Fitri diadakan pada pagi buta setelah selesai
subuh karena sebelum matahari terbit Jepang harus upacara Sekerei
(Sembah Dewa Matahari) di lapangan tempat sholat Idul Fitri.
Dalam zaman sulit dan penderitaan rakyat yang berat dibawah pendudukan
militer Jepang, Soekarno mengucapkan selamat Lebaran di zaman
peperangan. Dikatakan oleh Soekarno bahwa tiada satu bangsa yang tidak
menderita di masa perang, dan bahwa tiada bangsa dapat mencapai
kemenangan, kalau tiada tahan menderita. “Inna maal usri yusro” –
kebahagiaan sesudah kesusahan! “Bulan puasa diangggap sebagai medan
latihan diri untuk tahan menderita. “Marilah kita hadapi tahun yang
baru ini sebagai satu bangsa, yang benar-benar telah terlatih tahan
menderita di dalam bulan ramadhan.”
Ramadhan yang Bersejarah
Ramadhan yang paling bersejarah dilalui Soekarno pada zaman Jepang
adalah hari-hari menjelang proklamasi 17 Agustus 1945. Pada Mei 1945,
Mayjen Yamamoto Moichiro mulai berbicara tentang membangun Indonesia
merdeka. Badan Untuk Menyelidiki Usaha-Usaha Persipan Kemerdekaan
mengadakan sidang 1 Juni 1945 untuk bersama-sama mencari dasar
filosofis bersama. Dalam sidang ini Soekarno merumuskan konsepnya yang
kemudian dikenal dengan Panca Sila.
Pada 16 Agustus 1945 para
pemuda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok untuk mendiskusikan
mempercepat kemerdekaan. Para pemuda beserta Soekarno dan Hatta tetap
berpuasa, bahkan naskah proklamasi disiapkan sampai mendekati waktu
subuh dan hampir kelupaan makan saur. Proklamasi Kemerdekaan RI
dilakukan 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H.
Pembacaan proklamasi dan upacara dilaksanakan dengan sederhana dan penuh
khidmat dalam suasana Ramadhan.
Menurut Soekarno proklamasi saat
itu adalah tepat karena “kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan,
waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci”. Namun
angka 17 juga dipilih oleh Soekarno karena pertimbangan lain. “Tanggal
17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia,
Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17
rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.”
Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno dihadapkan dengan revolusi
sosial dan struktur negara baru yang lemah, mewarisi birokrasi buatan
Jepang. Perpecahan politik, ideologi dan konflik antar kelompok
meruncing dimana-mana. Soekarno yang sangat memperhatikan persatuan
bangsanya cemas dengan situasi yang berkembang. Ide untuk mempertemukan
para pimpinan politik muncul pada bulan Ramadhann 1946.
Menurut
sejarawan JJ Rizal, sejumlah tokoh pada bulan puasa tahun 1946
menghubungi Soekarno meminta mengadakan perayaan Lebaran pada bulan
Agustus dengan mengundang seluruh komponen revolusi yang berbeda dalam
pendirian politik maupun kedudukannya dalam masyarakat. Lebaran menjadi
ajang untuk saling memaafkan dan memaklumi serta menerima keragaman
dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Pertemuan para tokoh
tersebut lalu diberi istilah oleh Soekarno dengan “Halal bi Halal’ yang
diartikan sebagai silaturahmi dan saling memaafkan. Sejak itu istilah
halal bi halal populer sebagai ucapan di Hari Raya Idul Fitri (Tempo, 5
Nov, 2006).
Minal Aidin Wal Faidzin
Presiden Soekarno juga
dianggap sebagai sosok yang mempopulerkan ungkapan, “Minal Aidin Wal
Faidzin” pada Hari Raya Idul Fitri. Kalimat “Minal Aidin Wal Faidzin “
dalam menyambut Idul Fitri adalah kata yang diucapkan Soekarno pada
tahun 1958. Kalimat itu adalah penggalan sebuah doa yang lebih panjang
yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yang berarti
“Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan
dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali
(kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan.”
Dalam menyambut Idul
Fitri Soekarno juga pernah dihadapkan pada perbedaaan dua ormas Islam
terbesar, Muhamadiyah dan NU pada 1962. Muhammadiyah sepakat menetapkan
Idul Fitri 1381 Hijriah jatuh pada 7 Maret 1962.
Sedangkan NU besama
pemerintah menetapkan 8 Maret. Menyikapi perbedaan tersebut Presiden
Soekarno di hadapan rakyatnya mengingatkan jika persatuan merupakan
unsur penting untuk Indonesia. Menurut Pimpinan Muhammadiyah, H. Abdul
Malik Karim Amrullah (Hamka) juga menyatakan bahwa adanya dua Hari Raya
Idul Fitri bukanlah sebagai perpecahan di kalangan umat Islam karena
semua bernaung di bawah bendera Merah Putih dan bersemboyankan satu
kalimat syahadat.
Soekarno penah menolak hadir dalam sholat Idul
Fitri di halaman istana pada 1963. Soekarno menolak dengna alasan
keamanan, karena diduga ratusan kartu undangan telah disalahgunakan.
Ketidakhadiran Soekarno berdasarkan masukan dari Komandan Pasukan
Pengawal Presiden, Resimen Cakrabirawa, Kolonel Sabur agar Presiden
tidak menghadiri sholat tersebut. Saat itu Soekarno memang beberapa
kali mengalami upaya pembunuhan yang gagal. Seperti diketahui pada
sholat Idul Adha di depan istana 14 Mei 1962 seorang pria berusaha
membunuh Soekarno dengan pistol. Tapi upaya pembunuhan berhasil
digagalkan oleh pasukan pengawal presiden.
Pada tahun 1950-an
sholat Idul Fitri dipindahkan ke lapangan Banteng. Namun setelah
berdiri monumen pembebasan Irian Barat sholat Id terpencar di lapangan
dan mesjid yang ada di Jakarta. Sholat Idul Fitri kembali disekitaran
istana ketika Masjid Istiqlal berdiri sebagai masjid terbesar di Asia
Tenggara. Setelah Orde Baru berkuasa, Hari Raya Idul Fitri menjadi
murni kegiatan agama untuk menyerukan seruan moral dan etika kepada umat
Islam dan bangsa Indonesia. Dan di era Presiden Jokowi, presiden sholat
Id tidak di Masjid Istiglal melainkan di masjid di wilayah Indonesia
lainnya dan memanfaatkan momentum Lebaran untuk menyapa rakyatnya di
luar Ibu Kota.
______________
* Eko Sulistyo, adalah Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden.
http://www.balekambang.org/2016/07/soekarno-ramadhan-dan-idul-fitri.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar