Oleh: Made Supriatna
Wiranto: Jadi, Jokowi sekarang memilih seseorang yang menjadi
terdakwa melakukan 'kejahatan terhadap kemanusiaan' (crimes against
humanity) menjadi menteri koordinator bidang politik, hukum, dan HAM?
Apakah tidak ada orang lain? Apakah dia sudah memikirkan konsekuensinya?
Setahu saya, dakwaan itu tidak pernah ditanggalkan. Pengadilan HAM PBB
memang tidak punya yurisdiksi terhadap Indonesia. Namun, persoalannya
akan jadi lain kalau si terdakwa berjalan di wilayah internasional.
Apakah Menko Polhukam yang baru akan berani pergi, katakanlah, ke
Afrika Selatan? Saya ingat, sewaktu putranya -- yang sedang menempuh
pendidiksn di sebuah madrasah di Afrika Selatan meninggal -- dia tidak
pergi kesana.
Adakah jaminan bahwa dia bisa leluasa pergi kemana
saja? Bagaimana kalau dia pergi ke satu negara untuk melakukan
kunjungan dan tiba-tiba dia ditangkap?
Saya tidak tahu apakah
status Wiranto setara dengan status Slobodan Milosevic dan Radovan
Karadzic, dua penjahat perang Serbia yang dijatuhi hukuman oleh Mahkamah
Internasional itu.
Juga, bagaimana dengan performa Republik
Indonesia menghadapi gugatan-gugatan HAM diluar negeri? Apakah RI masih
memiliki 'credential' karena menteri koordinator HAM ini justru dikenal
sebagai pelanggar HAM kelas berat? Sungguh ironis bukan?
Ingat,
banyak kasus kekerasan di negeri ini melibatkan orang ini. Dia yang
menciptakan PAM Swakarsa, yang kemudian meletuskan konflik dimana-mana.
Tahun 2014, ketika memilih antara Jokowi dan Prabowo, saya memilih
Jokowi. Saya tahu persis konsekuensinya. Pilihan saya ketika itu adalah
pilihan 'the lesser evil.' Bahwa Jokowi mungkin akan memberikan awal
baru (fresh start) untuk Indonesia. Optimisme saya ketika itu hanya 20%
saja. Besar kemungkinan dia akan jatuh ke tangan para 'baron' kekuasaan
yang sudah mengangkangi Indonesia sejak jaman Orde Baru. Dugaan itu
tidak salah.
Kita tahu bahwa Jokowi tidak memiliki basis
organisasi kekuasaan. Dia tidak punya partai. Dia juga tidak berusaha
untuk mengorganisasi pendukungnya dalam sebuah organisasi yang solid.
Ketika berkuasa, dia harus bertransaksi -- berjualan kiri dan kanan.
Jadilah pemerintahan yang mengandalkan kerja pada 'politicking' kiri
kanan. Dia berusaha memperdagangkan posisi politik dan kontrak ekonomi
dengan sekutu-sekutu politiknya. Sialnya, mereka yang menjadi sekutu itu
tidak pernah benar-benar terikat dalam aliansi. Hubungan mereka adalah
sepenuhnya transaksional.
Dalam hal ini, Jokowi harus terus
menerus bermanuver. Dia tidak memiliki institusi dan yang diurus adalah
Indonesia yang sangat besar dan kompleks. Dia tidak memiliki orang yang
diandalkan. Sangat menyedihkan melihat bahwa presiden dari sebuah negara
yang begitu besar tidak memiliki tim apa pun dan (ini yang lebih
penting) tidak mempercayai siapapun diluar yang dia kenal secara
pribadi.
Kabarnya, dia hanya mengandalkan penasehat dari
'kelompok Solo' dan keluarganya. Penasehat-penasehat ini pada hakekatnya
sangat 'komunalistik.'
Tentu, ini adalah sifat khas penguasa agraris.
dan, Jokowi tidak jauh-jauh dari konsep itu.
Saya kira, alam pikiran
Jokowi tentang kekuasaan tidak jauh dari Sunan, Sultan ... atau bahkan
Soeharto. Ya, Soeharto! Si Jagal besar itu.
Saya curiga, Wiranto
adalah usulan dari kelompok ini. Hanya sayangnya, kelompok ini sama
sekali tidak punya perspektif nasional. Apalagi pengetahuan akan dunia
internasional. Jangan lupa, Wiranto adalah orang Solo.
https://www.facebook.com/m.supriatma/posts/10153987751118533

Tidak ada komentar:
Posting Komentar