15-08-2016
Penulis: Timo Duile
Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini di Indonesia memberi
sinyal munculnya bibit-bibit fasisme dengan mengatasnamakan nasionalisme
dan agama. Berikut perspektif pengamat politik asal Jerman, Timo Duile.
Mencurigai Kebangkitas Fasisme Gaya Baru di Indonesia
Pemberangusan buku kiri dan kegiatan bertemakan peristiwa 65, kebencian
terhadap kaum LGBT, kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas.
Perubahan apa yang terjadi di Indonesia. Apakah ini gejala lahirnya
benih-benih fasisme?
Bagian 1: Memikirkan Ulang Fasisme
Apa itu, fasisme? Kita mungkin membayangkan fasisme seperti rezim Nazi
di Jerman, rezim Falange di Spanyol, Italia di bawah pemerintahan
Mussolini atau mungkin pemerintahan partai Kodo-Ha di Jepang.
Jika kita bertanya seperti apa dan bagaimana sifat-sifat gerakan atau
politik fasis, ada beberapa ciri-ciri khas yang ada di semua gerakan
fasis yakni: Pertama, gerakan fasis berdasar pada prinsip kepemimpinan
yang punya otoritas absolut, sehingga individualitas manusia hilang dan
para pengikut menjadi massa yang seragam. Otomatis, manusia sebagai
individu hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan gerakan fasis. Azas
perintah dan kepatuhan berlaku tanpa pengecualian.
Kedua, dan oleh karena itu, militerisme merupakan elemen yang sangat
penting dalam ideologi dan politik fasis. Militarisme menjadi penting,
karena fasisme selalu butuh membayangkan adanya musuh, sehingga militer
dan pemimpin harus kuat untuk menjaga negara, karena suatu gerakan fasis
memiliki tugas utama untuk melawan musuh bangsa.
Gerakan fasis dipersatukan dengan tujuan yang sama, yakni: penghancuran
musuh. Itu ciri khas gerakan fasis ketiga. Musuh tersebut dikonstruksi
dalam sebuah kerangka konspirasi atau ideologi. Dalam pola pikir fasis,
musuh berada di mana-mana. Musuh berada baik di medan perang maupun
dalam bangsa sendiri sebagai elemen yang tidak sesuai dengan ideolgi
fasis. Karena itu, ciri khas keempat ideologi fasis adalah ideolgi
identitas. Biasanya, ideolginya mengajar bahwa suku/ras atau bangsa
harus murni, yaitu bebas unsur-unsur yang mengangap sebagai unsur yang
tidak asli.
Belajar dari sejarah Nazi
Kita bisa belajar dari sejarah ketika kelompok Yahudi, homoseksual,
maupun pemeluk agama lain atau ideologi lain bisa dianggap sebagai
musuh. Walaupun nampaknya tidak berbahaya, dalam ideologi fasis, massa
tak boleh mempunyai identitas yang beragam dan wajib seragam.
Individualitas hilang karena kebhinekaan dilarang, dan penghancuran
individu mewujudkan sebuah massa mengambang yang dipimpin pemimpin
karismatik.
Dalam negara fasis, ekonomi kapitalis pada dasarnya dilanjutkan dan
manusia hanya merupakan alat untuk pembangunan negara. Namun elit
politik dan elit ekonomi biasanya bekerja sama, dan ideologi mengenai
bangsa dan identitas membuat warga biasa menjadi tidak sadar atau tidak
peduli lagi terhadap hierarki ekonomi-politik.
Hierarki satu-satunya yang dipopulerkan kaum fasis adalah hierarki
antara bangsa atau kaum fasis dan musuhnya. Jika sudah teridentifikasi
sebagai musuh, maka layak untuk diusur dari angsa dan bahkan untuk
dibunuh. Dalam pola berpikir fasis, tidak ada ruang untuk semua
identitas, karena kondisi dunia yang dibayangkan fasis adalah kondisi
perang. Keadaan darurat berlaku sampai musuh tidak ada lagi, tapi musuh
tak pernah hilang, karena hal itu penting untuk menciptakan identitas
fasis.
Biasanya, musuhnya tidak nyata. Musuh hanya dibayangkan untuk selalu ada
dalam kepala fasis. Konspirasi Yahudi dalam pikiran Nazi hanyalah
bayangan, tapi hasilnya nyata, yaitu pembunuhan massal. Keadaan darurat
dijadikan sebagai legitimasi untuk melawan negara hukum karena hukum
dianggap hanya berlaku pada periode damai, tapi dengan pandangan fasis
bahwa musuh selalu ada, tentunya kedamaian juga mencadi niscaya.
Kelompok fasis selalu berada dalam kondisi terancam agar memiliki alasan
untuk mengancam identitas di luar bingkai fasisme ini: ideologi fasis
mengajar manusia untuk rasa takut dan terancam.
Memelihara ketakutan melalui musuh imajiner
Di Indonesia, sejak zaman Orde Baru, ada gagasan politik yang melihat
bangsa sebagai entitas organik, yaitu masyarakat sebagai tumbuh dimana
ada fungsinya masing-masing. Pikiran tersebut yang diperkenalkan oleh
tokoh-tokoh seperti Nasution berdasarkan filsafat politik yang melihat
masyarakat itu tumbuh: Setiap individu mempunyai fungsi yang pasti,
tugas utama individu adalah memenuhi fungsinya, memenuhinya atas nama
bangsa.
Filsafat politik organik ini merupakan salah satu dasar filsafat fasis:
Individu hilang, yang tinggal cuma fungsinya bagi bangsa atau negara.
Namun, Orde Baru belum tentu fasisme yang benar, walaupun militarisme
sangat kuat. Massa disebutkan massa menggambang, yaitu massa yang pasif.
Pada rezim fasis yang benar, massa juga pasif dan dipimpin, tapi dia
harus mengekspresikan semangat untuk membela bangsa dan siap untuk
berkorban. Rakyat biasa tidak terlalu bersemangat untuk berkorban diri,
dan itu mungkin sisa individualitas yang manusia orde baru
menyelamatkan.
Terus, bagaimana dewasa ini? Indonesia sudah menjadi sebuah demokrasi
lagi, tapi apakah kita bisa melihat unsur-unsur gagasan fasis sudah
bergerak lagi di Indonesia? Yang jelas, Indonesia bukan negara fasis,
tapi saya kira kita bisa melihat beberapa pikiran dan gagasan yang cukup
berpengaruh di Indonesia. Hal ini mungkin sudah merupakan dasar untuk
kemunculan ideologi fasis.
Misalnya, kalau kita melihat diskusi umum dan wacana di Indonesia,
nasionalisme dewasa ini terutama diwujudkan elit politik melalui PKI
yang dianggap sebagai musuh. Walaupun tidak ditemukan adanya keberadaaan
PKI baru yang nyata, banyak penjabat negara dan TNI terus-menerus
mengulangi peringatan mengenai ancaman PKI yang bangkit kembali. Melalui
wacana itu, budaya ketakutan dipilihara.
Selama masyaralat merasa
terancam dan percaya kepada musuh imajiner, masyarakat tidak mampu
menjadi dewasa dalam pikirannya, yaitu bertanggung jawab atas nasib
bangsa tapi ingin dipimpin saja. Karena itu, menciptakan ketakutan
irasional itu sangat berbahaya bagi demokrasi dan penjabat negara dan
TNI harus sadar bahwa itu kalau mereka mau melestarikan demokrasi.
PKI dibayangkan sebagai musuh dalam kepala seperti kasus Yahudi dalam
pandangan kelompok Nazi. Hal yang harus diingat adalah ideologi fasis
tidak butuh musuh yang nyata, tapi bayangan tentang adanya musuh itu
saja sudah cukup, bahkan lebih efektif karena bayangan ini tidak
tergantung lagi kepada realita.
Lebih lanjut tentang benih-benih fasisme dengan mengatasnamakan
nasionalisme dan agama di Indonesia, bersambung dalam edisi berikutnya,
dengan ulasan bagaimana fasisme tidak mampu menerima keberagaman.
_____
Penulis: Timo Duile, peneliti dan dosen di departmen Ilmu Asia Tenggara
di Universitas Bonn, Jerman. Dia belajar ilmu politik, antropologi,
filsafat dan Bahasa Indonesia di Bonn dan Denpasar.
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
http://www.dw.com/id/mencurigai-fasisme-gaya-baru-di-indonesia-bag1/a-19448865
Tidak ada komentar:
Posting Komentar