Mulya Nurbilkis - detikNews
Jakarta - Pengamanan presiden
ternyata sudah menjadi persoalan sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus
1945 silam. Setelah sempat hanya dikawal dengan Pasukan Pengawal
Presiden, adanya percobaan pembunuhan Presiden pada 1957 maka
dibentuklah Tjakrabirawa pada tahun 1962.
Dibentuknya
Tjakrabirawa ini membuat Letnan Maulwi Saelan yang saat itu bertugas di
Makassar lalu ditunjuk sebagai. Kepala Staff dan Wakil Komandan
Tjakrabirawa. Posisi ini yang membuat Maulwi berada di ring 1 Bung Karno
di saat paling kritis dalam masa peralihan kekuasaan yakni 1965-1966.
"Melalui
dia kami melihat Soekarno yang sebenarnya," kata Bonnie Triyana, salah
satu penulis buku Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno dalam
peluncuran buku di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus,
Rabu (1/10/2014).
Acara peluncuran buku ini juga dihadiri oleh
Maulwi yang datang dengan menggunakan kursi roda. Usia yang sudah lanjut
membuat seluru rambutnya memutih. Ia duduk di baris paling depan
bersama para veteran RI lainnya.
Penulis buku lainnya, Asvi
Warman Adam yang menilai Maulwi Saelaan tak hanya seorang penjaga fisik
Soekarno namun juga seorang Penjaga moral Soekarno.
"Karena Maulwi membenarkan banyak sejarah yang beredar di sekitar kita," Asvi.
Ia
mencontohkan bahwa Maulwi ada mendampingi Bung Karno pada 4 Agustus
1965 saat Bung Karno mengalami stroke ringan. Sehingga, tidak benar jika
ada sejarah yang menulis Bung Karno memanggil Kolonel Untung untuk
menangkap beberapa orang jenderal.
"Maulwi juga menjadi saksi tidak ada surat yang dikirim Letkol Untung
kepada Bung Karno yang dibaca di toilet pada 30 September saat
terjadinya G30S," sambungnya.
Ditulis Asvi jika peristiwa 18
Maret 1966 menjadi peristiwa Maulwi menunjukkan keberaniannya dan
ketenangannya pada Bung Karno. Saat itu Bung Karno berangkat dari
Istanan Merdeka menuju Istana Bogor . Ajudan presiden, Bambang Wijanarko
melaporkan kondisi sudah aman.
Namun, di air mancur Medan
Merdeka Barat, rombongan presiden terhenti karena jalan terhalang truk
militer milik RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). Diceritakan
dalam air mancur ada sebuah mobil lapis baja yang dilengkapi senapan
mesin dan terarah pada mobil presiden. Saat itu diceritakan Presiden
Soekarno marah karena Bambang Wijanarko melaporkan jalanan sudah steril
untuk dilewati.
Para pengawal yang menumpangi jip terbuka loncat
dari mobil dan berdiri mengelilingi mobil presiden. Pasukan RPKAD juga
sudah mengulang senjatanya dan bersiap memuntahkan timah panas ke mobil
yang ditumpangi presiden.
Saat itu, Maulwi Saelan turun dari
mobil dan berteriak meminta agar Pasuka RPKAD tak menembak. Ia meminta
bertemu Komandan Pasukan RPKAD. Setelah bertemu, komandan Pasukan, truk
truk RPKAD menepi dan rombongan presiden meneruskan perjalanan ke Istana
Bogor.
"Itu membuktikan Maulwi Saelan tak hanya Penjaga fisik
presiden tapi juga penjaga presiden agar terluput dari fitnah sejarah
yang dilontarkan terzin penguasa orde baru," pungkas Asvi.
Sumber:
http://news.detik.com/read/2014/10/01/190121/2707011/10/2/kisah-maulwi-saelan-penjaga-terakhir-soekarno-menguak-misteri-30-september-65

Tidak ada komentar:
Posting Komentar