16 Oktober 2016 | 19:44
Masih ingat kata-kata Karl Marx: agama adalah candu bagi massa-rakyat.
Anda bisa tidak setuju dengan pernyataan filsuf Jerman itu, tetapi
banyak praktik keberagamaan di berbagai pojok dunia ini yang
membenarkannya.
Itu juga yang terjadi di Irlandia di tahun awal abad 20. Saat itu,
agama menjadi senjata untuk menegakkan kedamaian hidup para kapitalis
dan tuan tanah. Siapapun yang hendak menggugat tatanan itu akan segera
dicap sebagai “komunis”.
Sutradara film Inggris Ken Loach berusaha mengangkat zaman gelap Irlandia itu ke layar lebar melalui film berjudul: Jimmy Hall
(2004). Film berdurasi 106 menit itu menceritakan perjuangan seorang
seniman kiri, Jimmy Gralton, dalam melawan kesewenang-wenangan tiga
serangkai: tuan tanah, kapitalis dan kaum agamawan.
***
Siapa sebenarnya Jimmy Gralton ini?
Jimmy lahir di Effernagh, negara Leitrim, Irlandia, pada 1886. Dia
adalah anak petani miskin. Kemiskinan juga yang membuatnya putus sekolah
pada usia 14 tahun. Namun, berkat ibunya yang menjalankan perpustakaan
keliling, Jimmy kecil banyak membaca.
Seperti banyak pemuda-pemuda miskin Irlandia lainnya, Jimmy sempat
bermigrasi ke Inggris untuk mencari pekerjaan. Dia sempat menjadi
tentara Inggris, tetapi menolak untuk dikirim memerangi India. Dia
kemudian bekerja sebagai buruh pelabuhan. Hingga, pada 1900-an, dia
pindah bekerja ke New York, Amerika Serikat.
Jimmy pulang kampung di tahun 1921. Saat itu Irlandia sedang dilanda
pemberontakan sosial. Di desa-desa, termasuk di kampung halamannya
Jimmy, terjadi pergolakan antara petani melawan tuan tanah. Banyak
petani penyewa yang diusir paksa oleh tuan tanah.
Dia menggabungkan diri dengan Komite Aksi Langsung (Direct Action
Comitte) Leitrim, sebuah komite perjuangan lokal untuk membantu petani
dan penyewa yang terusir dari tanahnya. Dia juga bergabung dengan Grup
Pekerja Revolusioner, cikal baka Partai Komunis Irlandia, di Leitrim.
Yang menarik, Jimmy membuat sebuah tempat pertemuan yang menyerupai
aula. Dia menamai aula itu dengan menggabungkan nama dua tokoh pemimpin
pemberontakan Paskah di Irlandia (Easter Rising) tahun 1916, yaitu
Patrick Pease dan Patrick Pearse dan James Connoly: Pearse-Connoly Hall.
Ini bukan aula sembarang aula; ini aula perlawanan. Di aula itu orang
berdansa dan belajar segala hal: menari, menyanyi, melukis, menjahit,
tinju dan lain-lain. Di situ juga orang berdikusi soal-soal politik dan
persoalan-persoalan rakyat.
Itulah yang membuat para kapitalis dan tuan tanah, yang disokong oleh
gereja Katolik, sangat ketakutan dengan aula itu. Mereka menyebutnya rumah setan.
Tahun 1922, Jimmy dipaksa pergi dari kampung halamannya menuju New
York, Amerika Serikat. Dia tinggal di sana selama 10 tahun. Dan baru
pulang kampung setelah negeri Paman Sam dicekik depresi ekonomi besar.
***
Film Jimmy Hall berkisah seputar kepulangan Jimmy (Barry
Ward) ke kampung halamannya di tahun 1932. Saat itu, Irlandia baru saja
beralih kekuasaan ke tangan Eamon de Valera, seorang pemimpin perang
kemerdekaan dan penentang hukum Inggris.
Pemerintahan de Valera memberi harapan. Setidaknya bagi Jimmy dan
banyak kaum progressif. Itulah, antara lain, alasan kuat yang mendorong
Jimmy kembali ke kampung halamannya: semuanya sudah berubah.
Tetapi kenyataan tidak demikian. Perampasan tanah petani oleh tuan
tanah terus terjadi. Banyak petani penyewa yang terusir dari tanah dan
gubuknya lantaran telat membayar sewa. Sementara kaum muda, yang
sebagian menganggur, tidak menemukan ruang bebas untuk mengekspresikan
diri. Di sisi lain, konservatisme masih mencekik kuat kehidupan rakyat.
Awalnya, Jimmy berharap kepulangannya untuk hidup damai sekaligus
berbakti kepada ibunya. Namun, mana ada manusia progressif-revolusioner
di dunia ini yang bisa diam melihat penindasan? Itulah yang membuat
Jimmy membangun kembali aulanya.
Singkat cerita, aula kembali berjalan: dansa, musik, melukis, tinju,
diskusi politik, hingga pertemuan-pertemuan politik. Anak-anak muda desa
seakan menemukan oase baru di tengah keringnya kehidupan akibat dicekik
oleh krisis ekonomi dan konservatisme.
Tetapi gereja dan kaum konservatif tidak senang. Pater Sheridan (Jim
Norton), pemimpin gereja setempat, merupakan orang yang tidak suka
dengan Jimmy dan aula-nya itu. Dia menganggap Jimmy dan Aulanya sebagai
ancaman terhadap ketertiban sosial dan norma-norma gereja Katolik.
Pater Sheridan tahu betul bahaya Aula itu. “Pertama menari, kemudian
buku. Dimulai dengan kakinya, kemudian naik ke otaknya,” kata Pater
Sheridan. Dan itu memang betul: dansa/tarian membebaskan kaki. Setelah
kaki terbebas, maka kepala/otak pun menuntut bebas. Dan ketika otak
dibebaskan, maka ia mulai mempertanyakan dan menggugat segala hal.
Termasuk menggugat tatanan yang tidak adil.
Tetapi Pater Sheridan ini menarik. Di satu sisi, dia sangat
anti-komunis. Tetapi di sisi lain, dia sadar ada kemiripan antara
seruan-seruan komunisme dengan agama (khususnya Katolik). Seperti slogan
komunis yang terkenal “dari setiap orang berdasarkan kemampuannya,
menjadi setiap orang berdasarkan kebutuhannya” itu mirip dengan
“cintailah sesama manusia seperti kau mencintai dirimu”. Ya, sama-sama
menggerakkan seruan persaudaraan.
Namun, bagi Pater Sheridan, komunisme adalah ancaman bagi ketertiban
sosial. Komunisme, dengan perjuangan kelasnya, mengganggu tatanan sosial
yang mapan, membuat si kaya dan si miskin bermusuhan, buruh berhadapan
dengan pengusaha, dan petani menentang tuan tanah.
Yang lebih berbahaya, kata Pater Sheridan, Gralton dan gerombolannya
adalah komunis. Mereka atheis. Mereka mengingkari keberadaan Tuhan,
Trinitas dan kelahiran dari Sang Perawan.
“Jadi, kami memberi kalian pilihan: Yesus atau Gralton?” tegas Bapa Sheridan dalam khotbahnya.
Begitulah upaya Gereja, yang merasa punya tugas dan wewenang untuk
mencegah ancaman terhadap keutuhan masyarakat, mencegah orang-orang,
terutama kaum muda, mendekati Jimmy Gralton dan Aulanya.
Itulah yang disebut oleh Marx dalam risalahnya, A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, yang
ditulis 172 tahun yang lampau: “Penderitaan religius, pada saat yang
bersamaan, adalah ekspresi dari penderitaan riil dan protes terhadap
penderitaan riil tersebut. Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas,
jantung-hati dari dunia yang tak berperasaan, dan jiwa dari situasi yang
tak berjiwa. Agama adalah candu bagi massa-rakyat.”
Yang dikritik Marx bukan ajarannya, tetapi praktek keagamaan yang
melanggengkan penindasan. Agama yang bertugas menjaga ketertiban sosial
demi kenyamanan sang penindas. Agama yang menidurkan kaum tertindas di
bawah janji-janji surga demi melanggengkan eksploitasi dan keserahan
sang penindas.
Saking konservatifnya agama saat itu, musik jazz pun dimusuhi. Hanya
karena musik Jazz berasal dari Afrika dan mengobarkan kemarahan dan
goyangan pinggul.
Namun, bagi Jimmy, konsep keutuhan masyarakat itu–yang didasarkan
pada kepercayaan yang sama dan kepentingan yang sama–sangat absurd.
“Bagaimana mungkin kepentingan pekerja tambang atau pekerja industri
bisa sama dengan pemiliknya (kapitalis)? Bagaimana mungkin kepentingan
Tuan tanah bisa sama dengan petani tak bertanah?” katanya.
Dia juga mengutuk anggapan bahwa kemiskinan dan kesengsaraan itu
takdir atau kehendak Tuhan. Katanya, kemiskinan itu hasil dari perbuatan
manusia, buah dari sebuah sistim yang penuh eksploitasi dan
keserakahan.
“Kita harus berdaulat atas hidup kita sendiri. Kerja untuk kebutuhan,
bukan untuk keserakahan. Dan bukan hanya bertahan hidup layaknya
anjing, tetapi untuk hidup dan menikmatinya. Bisa menari, bernyanyi,
layaknya manusia bebas,” kata Jimmy.
Singkat cerita, aktivitas Jimmy dan Aulanya terus mendapat tekanan
dari gereja dan milisi fasis. Mulai dari intimidasi hingga teror.
Hingga, pada suatu malam menjelang Natal, Aula yang kaya dengan
kreatifitas itu terbakar untuk kedua kalinya.
Jimmy sendiri akhirnya dideportasi paksa ke AS. Dia dinyatakan
sebagai “orang asing ilegal” di kampung halamannya sendiri, di negeri
yang menjadi tanah-airnya, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Dia
dilarang pulang ke negerinya hingga ajal menjemputnya 29 Desember 1945.
***
Film ini memang politis, seperti film hasil garapan Ken Loach yang
lainnya. Dan ini bukan satu-satunya karya besar Ken Loach tentang
Irlandia dan perjuangan rakyatnya. Pada tahun 2006, dia melahirkan film
berjudul The Wind that Shakes the Barley, yang berkisah tentang perjuangan kemerdekaan Irlandia.
Yang menarik, kendati sangat politis, film-film Ken Loach tidak hambar dari kisah cinta. Termasuk di film Jimmy Hall
ini. Ada kisah cinta tak terpatahkan antara Jimmy dengan kekasihnya,
Oonagh (Simone Kirby). Kendati berulangkali terpisahkan karena persoalan
politik, cinta keduanya tetap berkobar di hati masing-masing.
Kusno
Jimmy Hall (2014) | Durasi: 106 menit | Negara: Inggris,
Irlandia, Perancis | Sutradara: Ken Loach | Pemain: Barry Ward, Simone
Kirby, Jim Norton, Francis Magee, Aileen Henry dan lain-lain
http://www.berdikarionline.com/ketika-agama-menjadi-candu/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar