.
Dengan pakaian itu-itu saja dan makanan jatah prajurit tentara,
Bung Karno menghabiskan masa pengasingan di Wisma Yaso, mengisi
hari-hari terakhir dalam kesunyian dan kesendirian.
Bosan makan ransum pasukan, Bung Karno meminta saya membelikan Nasi
Padang. Saat itu, restoran Padang belum banyak seperti sekarang. Dari
Wisma Yaso, saya pergi ke Pejompongan untuk membeli nasi Padang. “Wong
jatah prajurit, mana enak. Saya yang tentara saja bosen, apalagi beliau
yang Presiden,” katanya.
Inilah cerita sekelumit kisah perwira muda Angkatan Darat yang
menjaga Bung Karno di Wisma Yaso. Di sekitar tahun 1967, ketika itu Bung
Karno baru dipindahkan dari Istana Bogor ke Wisma Yaso. Ini setelah
Bung Karno diusir dari Istana Negara, tak lama setelah MPRS menetapkan
Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden pada 12 Maret 1967.
Di Istana Bogor, kondisi Bung Karno sudah mulai sering sakit dan
tidak terawat. Atas desakan putri beliau, Rahmawati kepada Pejabat
Presiden Jenderal Soeharto, Bung Karno dipindahkan ke Jakarta agar mudah
dipantau kesehatannya.
Suatu malam, di markas CPM Jl. Tanah Abang II ---sekarang menjadi
Markas Paspampres--- tiga perwira muda ini dipanggil komandannya. Ada
tugas khusus, yang datang mendadak malam itu. Menjaga seorang lelaki tua
di Wisma Yaso Jakarta, dengan perintah tegas tidak boleh ketemu orang
dan tidak boleh keluar dari wisma. “Malam itu, saya tidak tahu yang saya
tungguin itu Bung Karno. Saya baru tahu Bung Karno pagi harinya,”
ujarnya.
Namun, di Wisma Yaso pun Proklamator yang semakin menua ini dibiarkan
begitu saja. Tanpa perawat, baju yang dipakai pun itu-itu saja, celana
dan kaos oblong. Di rumah besar, beliau sendirian, tanpa keluarga dan
benar-benar diasingkan dari dunia luar. Tidak ada televisi, maupun surat
kabar. “Bahkan sebagai penjaga, radio saya punya pun diambil komandan
selama saya jaga di Wisma Yaso,” katanya.
Sedangkan untuk urusan makan, Bung Karno mendapatkan jatah makan sama
dengan ransum prajurit tentara. Makanan itu, dimasak di dapur umum.
“Saat itu, masih ada dapur umum Siliwangi,” katanya. Karena bosan itulah
Bung Karno meminta saya membelikan nasi padang. Jadi kami makan nasi
bungkus berdua, sampe rebutan ayam karena Bung Karno mau kasih saya.
Saya menolak untuk Bapak saja,” katanya.
Selama di asingkan di Wisma Yaso, tidak ada yang bisa menjenguk Bung
Karno. Saat masih baru di Wisma Yaso, Bung Karno masih agak sehat. Tiap
pagi dia sekitar pukul 10.00 WIB, Bung Karno harus meladeni pemeriksaan
oleh perwira-perwira AD yang tergabung dalam Tim Pemeriksaan Pusat
(Taperpu).
“Ada tiga empat perwira, pangkatnya letnan kolonel. Mereka membawa
mesin ketik, dan mengetik hasil interogasi itu. Saya hanya ingat satu
diantara pemeriksa itu Ali Said, yang pernah menjadi Jaksa Agung,”
katanya.
Jika, selesai pemeriksaan biasanya beliau duduk dan tiduran di kursi
rotan. Kalau malam, baru saya bisa ngobrol sama beliau. Itu pun karena
dua rekan saya sering pergi pacaran, jadi saya bisa leluasa berbincang
dengan beliau.
Biasanya saya pijit, kakinya. Lalu beliau cerita pengin punya isteri
dari seluruh nusantara. Beliau kan punya isteri Jawa, Sunda, Sumatera,
juga ada dari Manado. “Bapak belum punya isteri Papua, kata saya”.
Sambil guyon, beliau bilang “Ya lagi saya cari,” katanya menirukan
jawaban Bung Karno.
(Edy Budiyarso)
http://sejarahkita.org/kisah/314-ramsum-jatah-makan-bung-karno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar