5 November 2016 | 14:01
Kita kerap mendengar seruan untuk menjauhkan Islam dari
gerakan politik. “Jangan gunakan Islam sebagai alat politik, begitu
kira-kira seruan mereka. Mereka menginginkan Islam diisolasi di ruang
“netral”.
Sebetulnya ruang netral itu tidak ada. Sebab, hampir semua ruang
kehidupan manusia itu terkait dengan politik. Mana bisa Islam terpisah
dari persoalan kehidupan? Mana bisa Islam tutup mata dengan penderitaan
umatnya?
Dan memang, jika kita menengok ke masa silam, Islam tidak berjarak
dengan politik. Itu terjadi pada permulaan abad 20, bersamaan dengan
kebangkitan perlawan rakyat Indonesia menentang kolonialisme, muncul
gerakan politik Islam atau Islam Politik.
Di awal abad ke-20, ada organisasi sosial-politik yang sangat
mencolok. Namanya: Sarekat Islam. Ini organisasi massa terbesar di
zamannya. Tjokroaminoto, pimpinan SI yang kerap disebut “Raja Jawa” itu,
mengklaim jumlah anggotanya mencapai 2 juta orang.
Sumber resmi mengatakan, SI lahir dari perkumpulan kaum pribumi yang
mengamankan Laweyan, daerah hunian saudagar batik di Solo. Pendirinya
bernama Haji Samanhudi. Awalnya, organisasi itu bermuasal dari
organisasi ronda bernama “Rekso Roemekso”. Pendapat ini diperkuat oleh
Takashi Shiraishi dalam bukunya, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa (1912-1926).
Namun, versi lain yang lebih akurat menyatakan, SI berasal dari
organisasi yang sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islamiyah (SDI).
Pendirinya adalah seorang bekas murid STOVIA yang terbakar api
nasionalisme Tiongkok, Tirto Adhi Soerjo, pada tahun 1909. Pendapat ini diusung oleh Pramoedya Ananata Toer dalam tetralogi bagian ketiganya, Jejak Langkah.
Namun, pada tahun 1913, sebagai upaya menjegal perkembangan SDI,
penguasa kolonial membuang Tirto ke Ambon. Kepengurusan SI pun berpindah
ke Haji Samanhudi dan kegiatannya berpusat di Solo.
Pendapat Pram itu hampir sejalan dengan pendapat Bung Hatta saat
menyampaikan ceramah berjudul “Dari Budi Utomo menuju Sarekat Islam” di
gedung Kebangkitan Nasional tanggal 22 Mei 1974. Menurut Bung Hatta,
pendiri SDI adalah Tirto di Batavia tahun 1909. Tirto kemudian melakukan
tur keliling jawa, termasuk Solo. Dengan demikian, SDI Solo yang
diketuai Haji Samanhudi adalah cabang SDI-nya Tirto Adhisuryo.
SDI di bawah Haji Samanhudi terus berkembang. Sayang, Haji Samanhudi
tidak bisa mengendalikan organisasi yang terus berkembang. Ia juga tak
kuasa melawan tekanan penguasa kolonial. Akhirnya, pada tahun 1912,
kepemimpinan SI diserahkan kepada Tjokroaminoto, seorang teknisi di
pabrik gula Rogojampi. Pusat kegiatan SI pun dipindahkan ke Surabaya.
Namanya pun berubah menjadi Sarekat Islam (SI).
Berkembang Dan Meluas
Di bawah kendali Tjokro, SI dirombak menjadi “organisasi gerakan”. Sejak itu, seperti diceritakan Ruth McVey di “Kemunculan Komunisme Indonesia”,
SI mulai terlibat dalam memperjuangkan taraf hidup dan perekonomian
rakyat. SI juga mulai menciptakan mulutnya untuk berpropaganda, yakni
koran. SI punya koran utama bernama “Oetoesan Hindia”, tetapi
cabang-cabang juga punya koran sendiri seperti Sinar Djawa (Semarang),
Kaoem Moeda (Bandung), dan Pantjaran Warta (Batavia).
SI juga mulai menggerakkan massa melalui rapat akbar (vergadering).
Vergadering pertama SI di Surabaya, tahun 1913, dihadiri oleh puluhan
ribu orang. Alhasil, dalam kongres I SI di Surakarta, tahun 1913, jumlah
cabang (Afdeling) SI meningkat pesat menjadi 48 dan keanggotaan
membengkak menjadi 200.000 orang.
Namun, upaya SI mendapat pengakuan penguasa Belanda mendapat
rintangan. Penguasa Belanda menolak permintaan SI atas pengakuan status
hukum sebagai perkumpulan. Sebaliknya, penguasa hanya mau mengakui SI
tingkat lokal.
Akhirnya, melalui Dr Rinkes, seorang penasehat Gubernur
Jenderal untuk urusan bumiputra, penguasa kolonial membujuk Tjokro
mengubah Afdeling SI menjadi SI lokal.
Dalam kongres SI kedua di Jogjakarta, April 1914, Tjokro berhasil
mengubah 60 Afdeling SI menjadi SI lokal. Saat kongres kedua itu anggota
SI sudah mencapai 440.000 orang. Baru pada tahun 1915, SI mendapat
pengakuan hukum dari Gubernur Jenderal Idenburg.
Menurut Ruht McVey, pertumbuhan SI bersamaan dengan meluasnya
keresahan rakyat, khususnya di pedesaan. Kehidupan petani di desa-desa
makin merosot akibat didesak oleh perkebunan swasta. Selain itu, kaum
tani dibebani pajak dan kerjapaksa. Yang menarik, SI berhasil mengolah
keresahan itu melalui advokasi dan aksi-aksi. Hasilnya jelas: pembesaran
organisasi.
SI pun berkembang dari organisasi kaum pedagang (borjuis kecil) di
perkotaan menjadi organisasi kaum miskin, yang menjangkau buruh-buruh
pabrik dan petani miskin di pedesaan. Tjokro pun mendapat gelar “Raja
Jawa tanpa Mahkota”.
Pertumbuhan pesat SI, terutama pergeserannya ke gerakan rakyat,
menciptakan keresahan di kalangan pengusaha dan orang-orang Eropa. Pada
tahun 1913, seperti dicatat Ruth Mcvey, seorang pengusaha gula di Jawa
memasang iklan di koran lokal: “Dicari, opsir militer hindia Belanda
yang berkemampuan, paham akan meningkatnya keresahan yang sedang
terjadi di kalangan masyarakat pribumi di Jawa, siap memberi nasehat
bagi pengurus perusahaan besar dalam mengatur pengamanan instalasi
mereka menghadapi serangan.”
Menggoda Kaum Kiri
Namun, pertumbuhan SI justru menggoda bagi kalangan marxis—saat itu tergabung dalam Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV),
yang sedang membutuhkan lahan subur untuk menebar benih-benih marxisme
dan sosialisme. Saking tertariknya dengan SI, yang notabene berkarakter
islamisme, orang-orang ISDV menganggap SI sebagai versi Indonesia dari
gerakan Chartist—gerakan buruh moderat di Inggris.
Namun, bukan cuma komunis di Hindia Belanda yang kepincut pada
perkembangan SI, tetapi juga pemimpin komunis sekaliber Lenin, pemimpin
Revolusi Rusia. Dalam tulisannya, Kebangkitan Asia, yang ditulis tahun
1913, Lenin menganggap SI sebagai gerakan demokratik di bawah panji
islam. “Perserikatan Nasional dari penduduk asli telah dibentuk di Jawa.
Ia telah memiliki keanggotaan sebesar 80.000 orang dan menggelar
rapat-rapat akbar. Tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhan gerakan
demokratik,” tulis Lenin.
Ini pula yang menjadi alasan ISDV untuk menjalankan kerjasama dengan
SI. Ruth McVey mengistilahkan strategi ISDV ini sebagai “strategi di
dalam blok/block within”. Hal itu dimungkinkan karena sifat
organisasi SI yang otonom (SI lokal). Selain itu, jaman itu keanggotaan
ganda (rangkap) dalam organisasi-organisasi masih dianggap lumrah.
Cabang yang berhasil “digarap” oleh ISDV adalah Semarang. Hal itu
dimungkinkan karena dua orang kader SI semarang, yakni Semaun dan
Darsono, sudah menjadi marxis. Pada tahun 1917, kepengurusan SI semarang
jatuh ke tangan Semaun. Sejak itu, SI semarang makin fokus menggarap
buruh dan tani. SI Semarang terlibat dalam memperjuangkan hak buruh
melalui mogok, membela kaum tani dari perkebunan, agitasi soal wabah
pes, kampanye menolak Indie Weerbaar, dan kritik tajam terhadap Volksraad.
Tan Malaka, salah seorang aktivis SI dan sekaligus anggota ISDV,
memuji kerjasama antara kaum marxis dengan SI tersebut. Ketika berpidato
di forum Kongres Komunis Internasional ke-empat, Tan Malaka
membela strategi itu: “Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan
mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan
popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita
berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam
juga melakukan agitasi pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan
slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk
kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang
sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama
yang berbeda.”
Pergeseran Ke Kiri
Radikalisasi SI Semarang membuat posisi Tjokro terusik. Radikalisasi
SI di bawah kaum kiri terus memanen dukungan. Tjokro pun berhadapan
dengan pilihan: tetap moderat/koperatif dengan Belanda atau mengikuti
radikalisme yang disodorkan kaum kiri. Kalau memilih yang pertama,
Tjokro akan ditinggalkan oleh massa. Sementara jika memilih yang kedua,
Tjokro akan dimusuhi oleh Belanda.
Tjokro memilih yang kedua. Ia pun mengubah nada bicaranya menjadi
radikal dan militan. Jika di Kongres SI di Bandung, 1916, Tjokro masih
menyatakan “SI bekerja demi kemajuan rakyat Hindia di bawah dan bersama
pemerintah Hindia Belanda”, maka dalam kongres SI di Batavia, tahun
1917, Tjokro telah berbicara tentang masyarakat “sama rasa” menuju
pemerintahan sendiri dan anti-kapitalisme.
Tjokro tak hanya bermain ucapan, tapi mempraktekkanya. Pertama, ia
melancarkan gerakan Djawa Dipa, yang bertujuan menghapus bahasa Jawa
tinggi (kromo) dan menjadikan bahasa Jawa rendah (ngoko) sebagai bahasa
standar.
Gerakan ini juga mengganti gelar priayi dengan gelar Djawa
Dipa—sebutan “Wiro” untuk laki-laki dan “Woro” untuk perempuan yang
sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah dipanggil “Roro”.
Kedua, memassifkan perjuangan ekonomi melalui pembangunan gerakan
buruh. Ini dilakukan melalui Soerjopranoto dengan PFB (Personeel Fabriek
Bond—Ikatan Buruh Pabrik), yang menghimpun banyak serikat buruh. FPB
rajin menggelar pemogokan, sehingga Soerjopranoto digelari ‘Si Raja
Mogok”.
Ketiga, Tjokro mulai menyerap ajaran sosialisme dan memadukannya
dengan ajaran Islam. Ia menulis buku berjudul “Islam dan Sosialisme”,
yang berusaha mengelaborasi adanya kesamaan antara nilai-nilai islam dan
sosialisme. “Bagi kita, tak ada sosialisme atau rupa-rupa isme lainnya
yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang
berdasar Islam itu saja,” katanya.
Datangnya Masa Surut
Memasuki tahun 1919, pamor SI mulai menurun. Kasus Afdeling B, yaitu
pemberontakan rakyat Garut, Jawa Barat, yang dipimpin oleh SI, membuat
penguasa kolonial bersikap keras terhadap SI. Gara-gara kejadian itu,
Tjokro ditangkap.
Tak hanya itu, perjuangan ekonomi juga mengalami titik balik pada
tahun 1920. Saat itu, PFB menyerukan pemogokan umum. Namun, sebelum
pemogokan meletus, sindikat gula dan pemerintah kolonial mengambil
langkah antisipasi: ancaman PHK dan represi. kegagalan pemogokan membawa
malapetaka: banyak cabang PFB yang mundur.
Selain itu, peruncingan dengan kaum kiri juga menguat. Isu disiplin
partai pun mengemuka. Kelompok konservatif di tubuh SI menguat, terutama
Agus Salim dan Soerjopranoto, yang berkeinginan menendang keluar kaum
kiri dari SI.
Bersamaan dengan itu, muncul isu tak sedap di kepimpinan SI, yakni
Tjokro dan Brotosoehardjo. Isu ini dilancarkan oleh Darsono, seorang
propagandis SI sekaligus anggota ISDV. Brotosoehardjo dituduh
menggelapkan dan mempertaruhkan uang SI. Sedangkan Tjokro diserang
karena pinjaman sebesar 2000 gulden bagi SI dengan jaminan mobil SI yang
dibeli oleh Tjokro sebagai bendara untuk kepentingan sendiri sebagai
ketua. Tjokro juga diserang karena pengeluaran uang organisasi yang luar
biasa, yang dipakai untuk membeli mobil dan perhiasan istri keduanya.
Serangan itu membuat pamor Tjokro dan SI memudar.
Membalas serangan itu, SI konservatif menuding ajaran komunisme
bertentangan dengan Islam. Mereka mengutip tesis Lenin yang melarang
kerjasama dengan Pan Islamisme. Pertentang kedua belah pihak, yakni
kanan (SI Putih) dan kiri (SI Merah), makin tak terhindarkan.
Akhirnya, pada kongres SI di Surabaya, tahun 1921, sayap kanan dan
kiri dalam SI resmi berpisah. SI putih kemudian bertransformasi menjadi
Partai Sarekat Indonesia (PSI), sedangkan SI merah menjadi “Sarekat
Rakyat” dan terafilisasi dengan PKI.
Pelajaran Dari Masa Lalu
Ada beberapa pelajaran menarik dari gerakan politik Islam di masa SI itu.
Pertama, SI dibangun dibangun di atas basis ideologi yang
kuat, yakni islam, tetapi tidak kaku dan menolak pemikiran dari luar.
Kalau kita lihat, periode pertumbuhan SI justru terjadi ketika ideologi
islam dibuat terbuka untuk berdialog dengan ideologi lain, termasuk
marxisme. Justru, masa surut SI terjadi ketika ideologi islam makin
diketatkan.
Kedua, SI berkembang karena berhasilkan menyelaraskan
programnya dengan persoalan-persoalan rakyat. SI terlibat mengadvokasi
petani, memimpin perjuangan ekonomi kaum buruh, melindungi kepentingan
pedagang kecil, dan membuka lembaga pendidikan gratis.
Ketiga, pertumbuhan gerakan SI berjalan simultan dengan
lahirnya intelektual-intelektual islam yang hebat di jamannya, seperti
HOS Tjokroaminoto, Haji Misbach, Haji Agus Salim, dan lain-lain.
Keempat, keruntuhan gerakan politik islam, termasuk gerakan politik
lain, terjadi ketika pemimpinnya tak tahan dengan godaan uang atau
bergaya-hidup melebihi anggotanya. Skandal korupsi di tubuh pimpinan SI
jaman itu, apalagi melibatkan Tjokro, benar-benar memerosotkan kiprah
politik SI di kalangan rakyat.
Rudi Hartono
http://www.berdikarionline.com/sarekat-islam-dan-gerakan-politik-islam/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar