14-09-2006
MALAM
SEMAKIN LARUT di kawasan Jalan Prof.Dr.Soepomo, Jakarta. Jarum jam
hampir menujukan angka sebelas, saat Atit melangkah menuju ruang kerja
sang paman: Mayor Jenderal KKO AL(Korps Komando Angkatan Laut) Hartono.
Maksud hati ingin berpamitan untuk pulang ke rumahnya di Tanjung Priuk,
namun apa daya belum sempat meraih gagang pintu, gadis kecil belasan
tahun yang masih duduk di bangku SMP itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara
tangan menggebrak meja, disusul oleh bentakan keras sang paman: “Saya
hanya takut kepada Saptamarga!”
Saptamarga adalah tujuh pasal yang harus dipatuhi oleh para prajurit TNI
(Tentara Nasional Indonesia). Dalam setiap upacara militer, pasal-pasal
itu kerap dibacakan dan menjadi pengingat bahwa mereka terikat pada
sumpah tersebut.
Alih-alih melanjutkan niatnya, Atit malah memutuskan untuk balik badan
saja. Ia mafhum, sebagai seorang pejabat, pamannya itu pasti sedang
sibuk membicarakan hal-hal penting terkait pekerjaaannya sehari-hari.
Terlebih saat itu, ia tahu ada beberapa orang yang nampaknya tamu
penting tengah dihadapi oleh pamannya. Singkat kata, malam itu Atit pun
pulang ke Tanjung Priuk tanpa sempat bertegur sapa dengan Hartono.
Tengah malam telah berlalu. Hari memasuki Rabu, 6 Januari 1971. Sekitar
jam satu, Hartono keluar dari ruang kerja dan memanggil pembantunya
untuk membuatkan dua cangkir kopi. Selanjutnya, tak jelas apakah pesanan
kopi itu lantas disuguhkan langsung ke ruang kerja atau diterima di
luar ruang kerja oleh Hartono.
“Pembantu rumah yang semula mengaku dipesani untuk membuat dua cangkir
kopi oleh suami saya, pada perkembangan selanjutnya justru menyangkal
pengakuannya tersebut,” ujar Grace Barbara Walandaow (76) yang tak lain
adalah istri dari Hartono.
Menjelang adzan subuh, seperti biasa, Nyonya Prawirosoetarto ibunda
Hartono bergegas menuju dapur untuk ikut menyiapkan sarapan. Saat menuju
dapur inilah, sekilas perempuan sepuh ini melihat Hartono tengah
berbincang-bincang dengan dua tamunya di ruang depan. Baru saja akan
bersiap-siap membuat sarapan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara kaca
pecah yang datang dari tempat Hartono tengah berbicara dengan dua
tamunya tersebut. Tanpa ba bi bu, Nyonya Prawirosoetarto bergegas lari
ke depan dan begitu menyaksikan pemandangan di ruang tamu, lemaslah
sekujur tubuhnya…
“Saya temukan Hartono terduduk di kursi dengan darah membasahi bagian
belakang kepala. Di sampingnya kaca jendela pecah berantakan kena
tembakan…”demikian pengakuan Nyonya Prawirosoetarto seperti dicatat oleh
Julius Pour dalam G30S, Fakta atau Rekayasa.
DI DUNIA TENTARA, khususnya di Angkatan Laut Republik Indonesia, Hartono
bukanlah nama yang asing. Selain dikenal sebagai Panglima KKo AL yang
kharismatik dan tegas, loyalitasnya terhadap Presiden Sukarno tak perlu
diragukan lagi.”Hitam komando Bung Karno, Hitam tindakan KKo, putih
komando Bung Karno, putih tindakan KKo…”katanya dalam sebuah pidato di
depan anak buahnya.
Kata-kata Hartono itu sesungguhnya bukan sekadar gertak sambal atau
isapan jempol belaka. Buktinya, saat Jakarta “dikuasai” kelompok Letnan
Jenderal Soeharto cs pasca Gerakan 30 September yang gagal tersebut,
dari basisnya di Surabaya, Hartono konon sudah menyiapkan 30.000
prajurit KKo untuk menggempur ibu kota. “Akan tetapi, Presiden Sukarno
tidak pernah mengeluarkan komando yang sedang mereka tunggu-tunggu
tersebut…” tulis sebuah laporan penelitian dari tim Insititut Studi Arus
Informasi (ISAI) yang berjudul Bayang-Bayang PKI.
Bahkan seolah ingin meyakinkan Presiden Sukarno akan kekuatan para
loyalisnya, tepat pada peringatan ulang tahun Bung Karno yang ke-65 (6
Juni 1966), KKo AL secara besar-besaran melakukan “unjuk gigi” di
Surabaya. Selain mengerahkan hampir seluruh pasukan, semua senjata berat
seperti tank dan amphibi juga dikeluarkan untuk melakukan pawai
keliling Surabaya.
“Barisan pasukan tersebut diikuti ribuan massa, panjangnya sampai 30
km…”tulis Jenderal Soemitro dalam Perjalanan Seorang Prajurit Pejuang
dan Profesional : Memoar Jenderal TNI (Purn.) Soemitro (Saleh A.
Djamhari ; editor Soegiarto, Ramadhan Kartahadimadja)
Barisan prajurit KKo dan massa rakyat itu berpawai dalam “semangat yang
menggila”. Aksi-aksi provokatif pun dilontarkan mereka terhadap
instansi-instansi yang dinilai pro Soeharto. Sebagai contoh, saat dengan
sengaja barisan tersebut melewati rumah dinas Panglima Kodam Brawijaya
di Jalan Raya Darmo, massa secara bergelombang menyerukan kata-kata:
“Bung Karno Jaya! Bung Karno Jaya!”
Sebelumnya Hartono juga sempat memerintahkan 2 batalyon KKo untuk
membuka pos taktis di Yogya, menyusul maraknya aksi menentang Bung Karno
di kota gudeg tersebut. Menurut Julius Pour, inilah bentuk “tantangan”
Hartono untuk Soeharto yang saat itu juga tengah mengerahkan RPKAD
(Resimen Para Komando Angkatan Darat) ke Yogya untuk memburu orang-orang
PKI dan para Sukarnois.
Banyak kalangan yang menyebut loyalnya Hartono kepada Bung Karno terkait
soal ideologi. Kendati seorang militer, Hartono disebut diam-diam
adalah seorang penganut marhaenisme garis keras. Soal ini dibantah oleh
Nenny Hartono. Menurut putri ketiga dari Hartono tersebut, kesetiaan
sang ayah terhadap Presiden Sukarno semata-mata hanya karena disiplin
tentara.
“Papa itu seorang tentara tulen. Ia enggak peduli politik. Karena yang
ia tahu Bung Karno adalah pimpinan tertinggi Angkatan Bersenjata yang
segala perintahnya harus dituruti sesuai saptamarga, maka siapapun yang
melawan Bung Karno maka ia akan menjadi musuhnya pula,” ujar Nenny.
Hal ini juga diakui oleh Grace Walandaow. Menurut perempuan Manado
kelahiran Surabaya itu, suaminya memang tak pernah menampik tugas apapun
yang dibebankan kepada dirinya. Ketika di akhir tahun 60-an, Hartono
“didubeskan” oleh Soeharto ke Korea Utara, ia tak mengeluh atau berniat
menolak perintah tersebut. “Saya tak berhak menolak perintah atasan.
Saya ini seorang tentara,”ujar Grace menirukan ungkapan sang suami
kepadanya.
KETIKA DIKABARI tentang meninggalnya sang suami, Grace dan keempat
putrinya yang berada di Pyongyang sama sekali kurang percaya.
Sebelumnya, Hartono berpamitan akan berangkat ke Tokyo untuk mengikuti
pertemuan para duta besar Indonesia se-Asia Pasifik di sana. “Sebelum
ulang tahun Mama, saya pasti pulang,”ujarnya.
Tapi manusia hanya bisa berencana. Begitu sampai Tokyo dan bertemu
dengan beberapa rekan KKo-nya yang juga “didubeskan” (diantaranya
Laksamana Mulyadi), Hartono mendengar “kabar miring” sekitar KKo AL.
Selain mendengar kabar “penciutan” kekuatan KKo, ia juga diberi
informasi tentang adanya Operasi Lumba-Lumba. Itu adalah upaya
pemerintah Soeharto membersihkan Angkatan Laut dari anasir PKI. Hartono
lantas menjadi berang. Ia lantas memutuskan usai pertemuan, tidak pulang
ke Pyongyang namun langsung ke Jakarta untuk memastikan soal ini dan
jika perlu memprotes keputusan tersebut.
Selama di Jakarta, Hartono banyak bertemu dengan beberapa kalangan
penting. Mulai bertemu Laksamana Sudomo (KASAL) hingga menemui Soeharto
yang saat itu sudah menjadi presiden. Ia juga ditenggarai bertemu dengan
beberapa tokoh intelijen seperti Yoga Sugama dan Ali Moertopo. “Bahkan
sebelum ke Jakarta, ia sempat ke Bangkok untuk bertemu dengan H.R.
Dharsono yang dikenal sebagai tukang kritik kebijakan Bung Karno. Untuk
apa dua perwira tinggi yang memiliki pandangan berbeda saling
bertemu?”ujar Julius Pour.
Tak jelas apa hasil dari pertemuan-pertemuan tersebut, kecuali pada 6
Januari 1971, Hartono memutuskan untuk balik ke Pyongyang. Namun
beberapa jam sebelum ia menaiki pesawat, sebutir peluru keburu
menghabisi hidupnya. Sang loyalis yang sedang marah dan kecewa itu
akhirnya terbungkam.
Grace sendiri dan keempat putrinya baru bisa pulang ke Jakarta, dua
minggu setelah sang suami dikebumikan di Taman Malam Pahlawan Kalibata,
Jakarta Selatan. Maklum saja, pesawat rute
Pyongyang-Moskaw-Singapura-Jakarta hanya ada sekali penerbangan dalam
dua minggu.
Ketika melukisakn kedatangannya ke Jakarta 42 tahun lalu, Grace
mengenangnya sebagai persitiwa yang tidak menyenangkan. Dalam situasi
berduka, dari Bandara Udara Kemayoran, ia langsung dilarikan petugas
dari Corps Polisi Militer (CPM) ke Mess Perwira Tinggi AL di Kwini guna
menghindari kejaran para wartawan.
“Beberapa media saat itu menyebut saya tak mau memberikan keterangan
apapun. Yang benar saya tidak diberi kesempatan untuk berbicara dengan
wartawan,”kenang Grace.
Saat di Kwini, dua perwira tinggi AL yakni Laksamana Sudomo dan
Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir datang menemui Grace.
Dalam pertemuan itu, tercetuslah “versi Sudomo” tentang penyebab
kematian Hartono.
“Grace, ini sudah jelas ia…”ujar Sudomo seraya memperagakan dengan
tangannya adegan seseorang menembak kepala dengan sepucuk pistol. Sudomo
berkilah Hartono nekat bunuh diri karena kekecewaannya terhadap
keputusan pemerintah yang menciutkan KKo
“Tapi walau demikian, biar keluarga dan anak-anak senang, kami memakamkan Pak Hartono di Kalibata, “ ujar Abdulkadir.
Grace naik pitam. Dengan menahan marah, ia kemudian berkata kepada dua
lelaki yang tak lain rekan suaminya di AL tersebut: “ Saya tidak peduli
ia dimakamkan di mana. Sekalipun ia dimakamkan di depan rumah, saya
tidak masalah. Apapun yang terjadi dengan Hartono, ia adalah tetap suami
saya dan ayah dari keempat putri saya.”
Hingga kini, Grace dan seluruh keluarga besar Hartono tak pernah
mempercayai kata-kata Sudomo dan Abdulkadir tersebut. Bagi mereka,
sangat naïf jika karena urusan “penciutan” tersebut, Hartono lalu nekat
mengakhiri hidupnya. “Saya kenal Hartono, dan saya yakin dia tak akan
melakukan itu, walau separah apapun situasinya,”ujar Grace.
Grace memang wajar menyangsikan Hartono mau menembakan Makarov
berperedam suara itu ke kepalanya sendiri. Ia malah menyebut pistol yang
terletak di meja tamu rumahnya saat Hartono terbunuh, bukan sebagai
milik suaminya. “Saya tahu pistol yang selalu dibawa suami saya adalah
jenis FN,”ungkapnya. Selain itu, pihak keluarga besar Hartono juga
mempertanyakan pihak CPM yang tak membawa jasad Hartono ke Rumah Sakit
Angkatan Laut (RSAL) namun ke Rumah Sakit Pusat Angkatran Darat (RSPAD).
“Padahal jarak rumah kami dengan RSAL lebih dekat dibandingkan ke RSPAD,”kata Grace.
Hasil otopsi pun tak pernah mereka dapatkan. Bahkan alih-alih surat
hasil otopsi, barang-barang milik almarhum pun tak juga dikembalikan
sampai sekarang. “Termasuk kaset lagu anak-anak Chicha Koeswojo yang
akan Papa hadiahkan buat kami, ikut raib juga,”kenang Nenny Hartono.
Dipulangkannya jasad Hartono dalam kondisi sudah berpeti dan dilarang
dibuka kembali, menjadikan keluarga besar Hartono semakin curiga bahwa
kematian sang jenderal tidak wajar. Bahkan kepada program Lacak di Trans
TV pada 2004, Letnan Jenderal (KKo) Ali Sadikin mengatakan lebih
gamblang: “Saya mendapat informasi bahwa Hartono dibunuh akibat
terjadinya konspirasi tingkat tinggi,”kata mantan Gubernur DKI Jakarta
tersebut.
Bukan hanya keluarga besar Hartono, Korps Marinir AL pun terkesan kurang
percaya terhadap versi Sudomo dan pemerintah (disampaikan oleh Menlu
Adam Malik saat itu) bahwa kematian Hartono karena pendarahan otak.
“…bukti yang ditemukan tidak mendukung motif untuk melakukan bunuh
diri,”ujar Letnan Jenderal (Marinir) Kahpi Suriadireja, Komandan
Jenderal Marinir 1977-1988.
Empat tahun setelah pernyataan para sesepuh Marinir di Trans TV itu,
Mayjen (Marinir) Nono Sampono seolah memuncaki “ketidakpercayaan” korps
elite AL itu terhadap isu sumir kematian sang senior 37 tahun
sebelumnya. Dengan bangga, mereka mengabadikan nama “Hartono” untuk nama
kesatriaan Markas Korps Marnir di Cilandak. ” Saya yang didaulat untuk
ikut membuka secara resmi penyematan nama tersebut,”kenang Grace.
Kembalinya nama “Hartono” di lingkungan AL memang seolah sudah seperti
suratan takdir. Seperti kata sebuah pepatah: pada akhirnya kehormatan
memang selalu datang untuk yang berhak. http://www.kaskus.co.id/thread/528c5eedc3cb17e416000007/kisah-kematian-seorang-jenderal-yang-loyal-hingga-titik-darah-penghabisan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar