16 September 2010 | 17:35
“Tri, tulislah karangan, nanti kami muat dalam majalah Fikiran Ra’jat,”-kata-kata
inilah yang menggugah SK Trimurti untuk pertama kali menulis. Kata-kata
itu diucapkan oleh Bung Karno, tokoh utama pembebasan nasional
Indonesia dan sekaligus Presiden Indonesia yang pertama, di tahun 1933.
Trimurti menjawab: “Saya tidak bisa, mas. Saya belum pernah menulis dalam majalah atau koran. Dan saya memang tidak bisa.”
“Kau bisa,” tukas Bung Karno kepada Trimurti dengan nada yang sangat
menyakinkan. Ketika itu Trimurti baru saja mundur dari pekerjaannya
sebagai pengajar di sekolah Gubernemen, dan memilih untuk ikut kursus
kader yang diselenggarakan oleh Partindo, dimana Bung Karno dikenal
sebagai salah satu pemimpinnya. Dia adalah penggemar setia pidato-pidato
Bung Karno, yang menuruk kesaksiannya, selalu mendapatkan tepukan
gemuruh.
“Sepulang dari rapat umum itu, saya merenung. Saat itulah saya
tergugah ikut bergabung dengan Partindo,” kenang SK Trimurti saat
pertama kali memutuskan bergabung dengan Partindo.
Surastri, bukan sulastri—dia tidak suka dipanggil dengan nama yang
terakhir, karena nama itu adalan nama istri Janaka yang kesekian dan ia
memang tidak suka dimadu—memang keluaran sekolah guru wanita, Normaalschool, di Jebres, Solo. Dia sendiri dilahirkan di Kotagede, Yogyakarta, 11 Mei 1912.
Untuk menyalurkan keahliannya, SK Trimurti sempat menjadi guru di
Bandung, di Perguruan Rakyat, sekolah swasta yang dipimpin oleh pujangga
Sanusi Pane.
Ketika menjadi guru, kehidupan Trimurti tidak lebih baik, sebab dia
selalu berurusan dengan “onderwijs verbod”,–larangan mengajar. Pihak
kolonial menaruh curiga bahwa Trimurti telah menghasut anak-anak untuk
melawan penguasa kolonial, untuk mengikuti fikiran-fikiran politik
Partindo, partai paling berbahaya kala itu.
“Nona masih muda, sebaiknya meneruskan sekolah saja. Jangan suka
dihasut Soekarno,” ujar kepala PID suatu ketika kepada Trimurti. Tetapi
dia tidak bergeming, malah semakin bulat tekadnya untuk mengabdikan
seluruh hidupnya untuk membebaskan bangsanya.
Ajakan Bung Karno pun diterimanya. Dia mulai menulis di harian Fikir’an Rakjat,
dimana Bung Karno menjadi redaktur kepala (Pimred), sebuah majalah
politik yang berhaluan radikal, nasionlis, anti-kolonialisme, dan
anti-imperialisme.
Hanya sekali menulis di Fikiran Rakyat, dan itu sangat membanggakan
dan memompa kepercayaan dirinya, majalah kaum nasionalis revolusioner
itu tidak terbit karena pemimpinnya, Bung Karno, ditangkap penguasa
kolonial.
Ia memutuskan untuk kembali ke kediaman orang tuanya di Klaten, Jawa
Tengah. Di sana, hatinya berkecamuk, tidak dapat tenang dan tinggal diam
melihat perjuangan bangsanya. Akhirnya, untuk mengisi kekosongan
hatinya dia menulis untuk koran “Berdjoang”, yang kala itu terbit di
Surabaya, dipimpin oleh seorang pejuang juga, Doel Arnowo namanya.
Setelah pergi dari rumahnya, pada tahun 1935, bersama-sama teman-temannya mendirikan majalah Bedoeg,
—terinspirasi dari bedug di Masjid, yang dipergunakan untuk memanggil
orang islam menunaikan sholat. Dia pun menginginkan korannya ini bisa
membangunkan dan memanggil rakyat untuk berjuang.
Gara-gara mengunjungi seorang pemimpin Partindo yang baru keluar dari
penjara, ayahnya kemudian melarangnya untuk ikut kegiatan-kegiatan yang
dapat “membahayakan keselamatan keluarganya”. Apa boleh buat, SK
Trimurti tetap tidak mau tunduk, dan dengan bekal pakaian yang
digadaikannya, dia meninggalkan rumah dan berangkat ke Jogjakarta.
Di Yogya, ia dan kawan-kawannya membidani lahirnya majalah Marhaeni, sebagai suara Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI), yang merupakan underbouw
Partindo. Dimana pun dia berada, SK Trimurti selalu mengingat
ajaran-ajaran dari mentor politiknya, Bung Karno, terutama tentang
machtsvorming atau penyusunan kekuatan. Maka, digunakanlah koran itu
untuk menyusun kekuatan.
Kegiatan utama PMI adalah mendidik anggota-anggotanya tentang
pemikiran politik. Meski sebagian besar anggotanya wanita, SK Trimurti
mengatakan, “Kami tak semata -mata mengurus “urusan wanita”. Titik berat
perkumpulan ini adalah: mencapai kemerdekaan.
Ketika terjadi pergantian pengurus dan Trimurti terpilih sebagai
ketuanya, dia pun harus pindah ke Semarang. “Bagaimana caranya
menyebarluaskan cita-cita perjuangan kemerdekaan pada rakyat banyak?”
tanya saya kepada Sutarni, sekretarisnya di PMI, dengan hati gundah.
“Itu gampang,” jawab Sutarni, “kita bikin pamflet gelap. Lalu disebarkan malam hari.”
Lantaran famplet gelap itulah SK Trimurti dan Sutarni ditangkap oleh
PID dan dijatuhi hukuman penjara selama 9 bulan. Di dalam penjara,
Trimurti mengetahui dengan sangat jelas tentang diskriminasi antara
tahanan yang orang Belanda dan orang Indonesia.
Keluar dari penjara, dia bekerja di percetakan kecil milik Suwondo dan teman-teman seperjuangannya, dan menerbitkan majalah “Suluh Kita”.
Karena tidak berperan sebagai pemimpin majalah itu, Trimurti pun
dibebaskan untuk membantu surat-kabar yang lainnya, yang salah satunya
adalah “Sinar Selatan”, dimana dia bertemu dengan calon suaminya
kelak—Sayuti Melik.
Suatu hari, ketika SK Trimurti menjadi redaktris surat kabar ini, ia
menerima sebuah kiriman artikel bekas buangan Boven Digul, Sayuti Melik,
teman yang baru dikenalnya dan menjadi calon suaminya. Isi artikel itu
adalah: Rakyat Indonesia tidak usah membela belanda. Sebab Belanda itu
imperialis. Juga tidak perlu membantu Jepang sebab Jepang kemungkinan
akan jadi imperialis juga. Yang baik sikap bangsa Indonesia ialah
memperkuat diri sendiri, untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Trimurti paham betul, bahwa jika pihak Belanda mengetahui kalau
penulis artikel itu adalah Sayuti Melik, maka dia akan dibuang kembali
Boven Digul. Akhirnya, setelah dikonsultasikan dengan Sayuti Melik,
Trimurti akhirnya bersedia bertanggung jawab atas artikel itu dan
ditangkap.
Di luar penjara, Sayuti Melik terus berjuang dan mengembangkan
majalah “pesat”, namun lantaran artikel Sri Bintara, Sayuti Melik pun
harus mendekam dua tahun dalam penjara sebagai bentuk
pertanggung-jawaban sebagai pemimpin redaksi. Lantas, sekeluarnya
Trimurti dari penjara, ia langsung melanjutkan majalah tersebut. Tak
lama setelah suaminya keluar dari penjara, Trimurti kembali ditahan
polisi PID karena dianggap memihak kepada Jepang.
Di bawah pendudukan Jepang, Trimurti dan suaminya bolak-balik masuk
penjara, hingga suatu hari Bung Karno mendengarkan nasibnya dan telah
berusah untuk memindahkan mereka ke Jakarta. Di Jakarta, oleh Bung
Karno,Trimurti dipekerjakan di Putera (Pusat Tenaga Rakyat).
Demikian kehidupan sulit ketika Trimurti berjuang melalui pers, rumah
perjuangan yang telah membuatnya bolak-balik masuk penjara. Menjelang
proklamasi kemerdekaan, SK Trimurti banyak mengambil peran bersama
suaminya, Sayuti Melik, sang pengetik naskah proklamasi itu.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1946, SK Trimurti menjadi
anggota Pengurus Besar Partai Buruh Indonesia (PBI) di Yogya, sebelum
dirinya dibujuk oleh Setiadjid—yang mewakili Amir
Syarifuddin—membujuknya menjadi menteri perburuhan. Di pergerakan
perempuan, dia yang dikenal sangat anti-poligami ini pun turut
mendirikan Gerakan Wanita Indonesia Sedar atau Gerwis, pada tahun 1950,
yang lalu berganti nama menjadi Gerwani.
Nasib, wanita penentang keras poligami ini harus menerima kenyataan,
bahwa suami yang sudah bersamanya selama tiga jaman (Belanda, Jepang,
dan Kemerdekaan), telah jatuh cinta kepada wanita lain. Dia akhirnya
memilih cerai pada tahun 1969.
Di Jaman Orde baru, SK Trimurti berpaling pada gerakan kebatinan, dan
mendirikan sebuah majalah mental-spiritual “Mawas Diri”. “Sejak lahir
saya sudah merasuk ke dalam kebatinan. Jadi, kebatinan itu bukanlah
permulaan atau akhir,” ujar wartawan tiga jaman ini.
Di tengah perayaan kebangkitan nasional, tepatnya 20 Mei 2008, dia
meninggal pada pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
(RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Rudi Hartono, Pimred Berdikari Online
http://www.berdikarionline.com/sk-trimurti-wartawati-pejuang-pembebasan-nasional/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar