Jumat, 18 Oktober 1996

Pipit Rochijat tentang pembunuhan Massal 1965

kerjabudaya.org | 18 Oktober1996



T: Bung Pipit, anda menulis kesaksian pribadi ketika peristiwa pembunuhan massal terjadi di Kediri. Tulisan anda itu, „Saya PKI Atau Bukan PKI?!“ dimuat dalam majalah „Gotong Royong,“ Maret 1984, yang diterbitkan oleh PPI Berlin, Jerman Barat. Dan kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Inggris lalu dimuat di majalah „Indonesia“ terbitan Cornell. Kami ingin tahu lebih dalam tentang pengalaman Bung itu.
Karena itu sudah ditulis 12 tahun yang lalu, dan mungkin sudah banyak data yang Bung tidak hapal lagi di luar kepala, maka kami susun daftar pertanyaan ini. Daftar ini bisa anda ubah, perbaiki, edit, tambah, dsb. Yang penting kita sama-sama setuju dengan pertanyaannya.
J: Wah, nanyaknya kok buanyak sekali. Kayak interogasi saza mek! Agak grogi juga dikasih kesempatan ngoceh bersama para pakar kesohor macam Mbah Ben dan Mbah Den atow Sinsei Tak-Aksi-Aksian. Habis, saya nggak bisa menjawab secara ilmiah. Jadi secara alamiah sazaaaa…lah!
T: Mereka itu kan orang sekolahan, kang. Mereka ndak punya pengalaman seperti sampeyan ini. Malahan mereka yang akan mendengar baik-baik pengalaman sampeyan. Karena kawasan yang anda ceritakan ini, persisnya kota Pare, adalah tempatnya Pak Clifford Geertz mengadakan penelitian tahun 52 sampai 54. Yang hasilnya selalu diomongin orang sekolahan, yaitu adanya politik ‘aliran’ di Jawa, yaitu santri, priyayi dan abangan.
Pengalaman sampeyan itu ditulis 20 tahun setelah kejadian. Kalau dirumuskan dengan satu kalimat, mengapa soal „Saya PKI atau bukan PKI?!“ itu tetap membayangi setelah sekian lama?
J: Saya telah melaluken sesuatu tanpa saya mengerti. Saya cuma ikut arus saza.
LATAR BELAKANG PRIBADI T: Karena yang mau kami tanyakan ini adalah pengalaman pribadi, bisakah dijelaskan sedikit latar belakang pribadi dan keluarga sampeyan?
J: Oow bisa saja. Ceritanya agak panjangan. Kalow kelewat ndlewer silahken situ yang nyunat sendiri. Bokap itu orang Sunda dan mokap itu orang Jawa Tengah asli, masih pakai pangkat Roro segala. Lantaran katanya ada hubungan lahir batin sama keraton Ngayojokarto. Meskipun mokap orang Jawa, dia dibesarken di Tanah Sunda.
Bokap itu anak sulung. Kluwarga bokap (orangtua, adik-adiknya atow kluwarga besarnya) termasuk kluwarga santri dan semuanya sudah pada ke Mekah. Bahken, kakek Sunda saya ada punya langgar sendiri. Di tempat dia bermukim, di Rajamandala — antara Padalarang dan Cianjur — saya punya kakek adalah orang yang disegani. Entah karena keislamannya, atow entah karena dia memang termasuk kluwarga kaya raya yang punya tanah sangat luas.
Mokap sendiri menjadi anak tertua setelah kakaknya menjadi almarhum. Bokapnya mantan kepala gudang garam di Banten jaman Kumpeni. Beliau sudah tiada ketika saya mbrojol ke alam nyata. Mokapnya lantas tinggal di Wates, 30 kilometer barat kota Yogya. Di sana, dia jadi tuan tanah. Berbeda halnya dengan kluwarga bokap yang ngumpul semua di Bandung, kluwarga mokap merantow ke mana-mana: Sulawesi lah, Medan lah, Palangka Raya lah, kemudian Ambon lah.
Di antara kluwarga mokap, dua adiknya sangat santri. Mereka berdua, satu di antaranya kemudian jadi Kadapol (Kepala Daerah Angkatan Kepolisian) Langlangbuana Jawa Barat. Dia sering bentrok sama keponakan mokap (putri kakaknya yang sudah almarhum), lantaran ini keponakan dengan suami dan anak-anaknya ada menganut agama yang menurut dia ‘salah,’ yaitu Katolik.
Perdebatan mereka sering seru, dan berakhir dengan marah-marah dan perseteruan berat. Sebabnya ya terang: menurut para santri itu, keponakan mokap (dus mbak saya), ada salah milih agama dan kapir. Alasannya, agama Katolik menyembah patung, dan Tuhan kok punya anak? Mokap juga pemeluk agama Islam yang saleh tapi dia menomorsatuken kerukunan. Dia yang sering kelabakan melerai cakar-cakaran mereka.
Bukan cuma konflik gara-gara agama yang saya alami dalam kluwarga. Karena kluwarga bokap, herannya, selalu ada mencibir kita. Kalow umpamanya mau pulang ke Jawa Timur setelah bezoek mereka di Bandung, kita suka disindir, „Mau pulang ke Jawa?“ Seolah-olah antara Tanah Sunda dan Tanah Jawa ada laut yang memisahken. Atow, „Nanaonan balik ka Jawa? Da di diyeu teh loba kadaharan.“ Artinya, ngapaiin ente mudik ke Tanah Jawa? Sebab di sini ada banyak makanan. Maklum, kala itu Tanah Sunda kan lebih makmur ketimbang Tanah Jawa.
Waktu gegeran Repolusi 45, dan gegeran selanjutnya, menurut cerita yang saya dengar, bokap tidak ikut berjuang. Dia umpamanya cuma ikut ngungsi dari Jogya ke Jawa Barat, ketika Kumpeni mengadakan Clash II.
Bokap memulai karirnya di pabrik gula milik Kumpeni (HVA) kalow nggak salah taon 50 begitu. Ondernemingnya (istilah waktu itu) ada di Turen, selatan Malang. Karena bekerja di pabrik gula, maka dia sering pindah. Bokap pernah bekerja di pabrik gula Jatiroto dan Semboro. Karena itu saya pernah sekolah di SD Katolik Lumajang dan Jember. Waktu Blanda diusir taon 58-59, bokap diangkat jadi direktur (sekarang namanya administratur) pabrik gula Ngadirejo di Kediri taon 1959. Jadi, pas umur 10 taon saya masuk ke klas empat di SD Frateran (Katolik) Kediri, kulon kali Brantas.
Waktu Blanda belon pergi, banyak Blanda-Blanda bekerja di pabrik gula. Pada waktu-waktu tertentu, kita juga ada merayaken kedatangan Sinterklas segala. Mungkin karena itulah komunikasi antara bokap dan mokap pun berlangsung dalam bahasa Kumpeni. Bokap saya sendiri, mikirnya keblanda-blandaan. Dia sering cerita Eropa dan yang dia kagumi adalah Jerman. Mungkin itulah sebab, dia ada pikiran liberal. Dia kagak pernah ngelarang trahnya misalnya buat nganut agama atow warna yang disukai masing-masing.
Kakak saya nggak pernah hidup bersama kita, terkecuali ketika dia di SMA. Kakak saya dipungut sama aki (sebutan kakek di Tanah Pasundan) dan emang (paman) di Bandung. Di Tanah Sunda dia menghabisken waktu sampai tamat SMP. Semasa SMA dia kumpul sama kita. Sebagai anak sulung tentu dia memaenken jurus diktatur. Kalow kakak saya pulang vakansi ke rumah, dialah satu-satunya yang ngomong bahasa Sunda dengan bokap dan mokap. Saya dan dua adik saya yang laen berkomunikasinya dalam bahasa Indonesia. Adik saya yang paling bungsu, gara-gara dibesarken di Jawa Timur, ngomongnya bahasa Jawa Timuran terus.
Nah, sejak peristiwa Jengkol taon 1961, bokap jadi beken di Kediri. Soalnya musuh nomor satu PKI ya bokap. Saya masih ingat, kalow ada rapat raksasa PKI, nama bokap selalu muncul. „Ganyang Karta! Retool Karta! Karta Masyumi! Karta Koruptor! Karta Borjuis! Karta tujuh setan desa!“ dan laen sebagaenya. Saya sering mendengar rapat-rapat atow konperensi-konperensi PKI, misalnya di Gedung Bioskop Wijawa di Kediri atow di Alun-Alun Kediri dan di Gedong Buruh di Margersari, Ngadirejo.
Setelah PKI keok, bokap langsung diangkat jadi Penasehat Sarbumusi (ormas buruhnya NU) se Jatim dan KBG (ormas buruhnya PNI) se Jatim. Setelah Orba menang total, taon 1967 bokap diangkat jadi Inspektur Pabrik Gula berkedudukan di Semarang. Taon 1968 dia dipindah ke Surabaya buat menjabat jadi Direktur Utama PNP XII (kalow nggak salah), mengawasi lima pabrik gula di daerah Situbondo dsb.
Taon 1969 dia digampar sama proyek Dwi Fungsi. Setelah itu dia didongkel sama seorang Brigjen Angkatan Darat. Lantas dia diplorotken pangkatnya jadi Direktur Produksi dan dibuang ke Solo, cuma kluwarga tetap tinggal di Surabaya. Kalow nggak salah, taon 72-an, dia direhabilitasi dan ditunjuk jadi Inspektur Gula sampai masa pensiunnya di Surabaya.
Saya punya bini itu putrinya mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Praha, Cekoslovakia, waktu masih jaman Orla. Dia ada di sana sejak taon 1962, ketika berusia kencur alias delapan taon. Setelah Peristiwa Gay-30S, dia bersama orangtua dan adik-adiknya lantas bersuaka politik di Jerman Timur dan bermukim di ibukota Jerman Timur, yaitu Berlin Timur. Bokap bini saya dinaekken pangkatnya jadi Dr. oleh Universitas Humboldt JerTim, lantas mengajar bahasa Indonesiana di sana.
yang ngajar bahasa Indonesiana kabarnya juga dipaksa masuk Partai Komunis. Gara-gara mereka menolak, mereka lantas diusir dari sana, dan sejak itu bermukim di Berlin Barat.
Dua adik lelaki bini saya itu kawin sama cewek Jerman Timur. Cuma, cewek-cewek Jerman Timur ini kabarnya lantas pada bentrok sama orangtuanya masing-masing. Karena kawin dengan orang Indonesia, yang setelah jaman Orba disebut negara kapitalis, jelas diharamken. Dus, tidak bersih lingkungan. Maklum orangtua mereka itu pegawai negeri: satunya pejabat di Kemlu dan yang laennya pejabat di Kementerian Perdagangan. Waktu mereka dipersulit, orangtua mereka cuci tangan dan tak tahu menahu. Hikayatnya mirip dengan Malin Kundang, cuma kebalik.
Cuma waktu jaman berubah, reunifikasi Jerman datang, orangtua mereka ya minta sori seribu sori atas sikapnya di masa lampow. Alasannya, kan mereka harus memikirken periuk kluwarga dulu? Padahal sewaktu jadi pejabat, mereka gagah perkasa.
Saya jelas bukan Angkatan 45, apalagi Angkatan 66. Saya bukan berasal dari kluwarga pejuang, apalagi pahlawan. Meskipun di kluwarga besar ada ABRInya, saya bukan termasuk kluwarga ABRI. Meskipun demikian saya bebas Gay-30S. Surat-surat pernyataan Kodim dan Polisi ada setumpuk. Saya masuk ITB taon 68, lantas awal taon 71 hengkang ke Jerman Barat. Maklum, otak blong — artinya, yang masuk kepala, langsung kluwar. Waktu itu di Indonesiana ada semboyan, yang bloon, studi ke Jerman Barat. Setelah satu taon setengah di Hamburg, sejak taon 72 saya bermukim di Berlin Barat. Studi elektroteknik di Technische Universitaet cuma bisa sampai ke tingkat Sarjana Muda saja taon 75.
Padahal, bokap pengennya saya jadi Doktor atow Ph.D segala. Agaknya saya punya otak nggak kuat. Lantas iseng-iseng nongkrong di jurusan Sosiologi di Freie Universitaet, dan studi elektro saya putus. Sejak taon 77 saya jadi anggota PPI Cabe — Cabang Berlin. Sejak taon 1983, usia paspor saya cuma dikasih enam bulan terus padahal normalnya dua taon. Taon 1986 dikasih setaon. Baru awal taon 87, paspor saya dicabut. Kendati demikian, resminya saya masih berkewarganegaraan Indonesia. Bahasa resmi Konjen: paspor saya ‘disimpan’, dan saya ‘warganegara Indonesia tanpa dokumen.’
Mainnya Bakin-Bakin itu lihai sekali. Mau cabut kewarganegaraan saya, mereka tak punya landasan hukum. Padahal, Indonesiana katanya negara hukum. Tapi karena mereka maunya mencabut saya punya kewarganegaraan, maka dipilihlah jurus Frechtstaat alias negara nakalan. Jurus pertamanya paspor saya ‘disimpan.’ Status saya resminya jadi warganegara tanpa dokumen. Nah, saya yang kerepotan meminta ijin tinggal. „Mana paspor ente nih?“ tanya pihak imigrasi Jerman Barat. Karena saya nggak punya, dan karena Jerman Barat tunduk kepada Perjanjian PBB, maka Jerman Barat musti membuat saya jadi ‘manusia.’ Karena tanpa dokumen kan jadinya demit atawa hantu. Karena itu pemerintah Jerman Barat menyuruh-nyuruh saya menerima dokumen.
Nah, inilah yang dinantiken pihak perwakilan. Kalow saya mau menerima dokumen bersifat paspor, maka perwakilan punya alasan mencabut saya punya kewarganegaraan. Sebab ada undang-undangnya, yaitu kewarganegaraan akan hilang, bila sang warganegara ini memegang dokumen bersifat paspor dari negara asing. Itulah pasalnya, setiap taon, perwakilan selalu menulis surat resmi ke pihak imigrasi Jerman, menanyakan dokumen apa yang ada saya pegang. Cuma, pihak imigrasi Jerman Barat, ogah menjawab. Beberapa kali saya perpanjang ijin tinggal, dan saya diberitahu sama mereka tentang kepengen-tahuan pihak perwakilan itu.
Taon 87, rencananya saya mau menggugat pencabutan paspor. Katanya di Indonesiana — yang negara hukum — itu bisa. LBH Jakarta mau nangani kasus saya. Saya tanyaken sama Konjen, katanya memang boleh. Syaratnya: saya musti menandatangani surat kuasa LBH, dan disahken sama Konjen. Cuma, pas saya ke Konjen meminta pengesahan, Pak Bakin-nya ogah teken. Jadi, kasus saya nggak diterima sama pengadilan Jakarta.
Meski pun saya tidak termasuk ke dalam Angkatan 45 atow Angkatan 66, tapi saya boleh membanggaken diri. Sebab sejak taon 77, ketika ada maen politik-politikan, saya kerja angkat-angkat alias nguli di pabrik-pabrik. Setelah itu angkat-angkat piring dan hidangan alias pelayan restoran. Sebetulnya bokap ada kuat membiayai. Cuma bokap ada keberatan kalow saya ada maen politik-politikan. Karena itu saya bilang ke bokap, biar saya cari nafkah sendirilah. Keberatan bokap ya bisa dimengerti, oleh sebab kala itu dia jadi pejabat. Dia dapat doku dari gapermen, lho kok sekarang ngasih makan orang yang ngelawan gapermen, katanya.
Maka, latar belakang dan latar depan hidup saya termasuk kacow- balow. Rencananya mau jadi ‘orang,’ eeee sekarang jadi ‘hantu.’ Alih-alih meraih gelar Dr, saya dikataken jadi Dukun Revolusi. Bukannya Ph.D, eee malah jadi Penghasut Durjana. Maunya menyandang gelar Gusti Pipit Kartawidjaja, eee keterusan jadi Gerakan Pengacow Kenyamanan. Mungkin hoki saya kurang bagus. Mungkin saya tidak pernah konsultasi sama Astroloog. Kalow sowdara-sowdara saya rata-rata sudah jadi ‘orang’ dan dokunya pada kenceng kabarnya.
Jadi ringkasnya, latar belakang saya sih cemar sekali. Dalam jaman apapun saya nggak bakal ‘bersih lingkungan.’ Dan kini berada dalam keadaan memar
LATAR BELAKANG KONFLIK DI KEDIRI T: Bagaimana politik lokal di Pabrik Gula Ngadirejo pada tahun 65?
J: Pokoknya, geng-geng di sana terbagi dua. PNI berkoalisi dengan NU di satu pihak. Sedangken di pihak yang berseberangan adalah PKI. Karena itu serikat buruhnya pun komposisinya seperti itu. Kesatuan Buruh Gula alias KBG (PNI/FM) dan Sarikat Buruh Muslimin alias Sarbumusi (NU) kontra Serikat Buruh Gula alias SBG (PKI). Menurut perasaan saya, terbaginya ini karena kebijaksanaan partai-partai di daerah yang berlaenan dengan di pusat.
Ke rumah sering datang bertandang tokoh-tokoh KBG dan Sarbumusi, juga PNI dan NU plus dari Pesantren-Pesantren seperti Kiyai Makhrus Ali dari Lirboyo. Bokap saya sendiri sih mengaku tak berpolitik — mungkin karena pengalaman mudanya yang traumatis itu. Cuma dia mengaku kurang sreg sama Bung Karno. Dia mengaku angkat topi sama Hatta dan Syahrir, mungkin karena keduanya pernah di Blanda.
Bokap beberapa kali cerita tentang rapat di dewan gula (nama tepatnya saya lupa). Di situ duduk pihak pabrik gula dan serikat-serikat buruh. Dia cerita juga, bahwa pihak komunis sering nuntut, dan selalu meninggalken ruangan, setelah disinis-sinisin oleh bokap. Pernah satu kali, buruh komunis mogok. Yang laennya ya tidak. Geng Komunis lantas sewot besar sama bokap, lantaran yang mogok itu lantas dipotong gajinya. Habis, orang- orangnya ketahuan, ada dipotret semua.
T: Kenapa buruh tak bersatu?
J: Mana saya tahu? Tapi menurut perasaan saya, tuntutan mereka berbeda banget dengan tuntutan era Eyang Presiden sekarang. Pabrik gula dulu kesohor sebagai pemberi nafkah yahut. Upahnya pun di atas minimum. Belon jatah-jatah laennya. SBG-nya PKI nuntutnya yang nggak kena. Umpamanya Retool Karta karena Karta Koruptor. Pada jaman itu, direktur pabrik gula belon sekaya raya sekarang. Sepeda motor kagak punya, apalagi sepeda mobil. Dus, koruptor gimana? Atow, SBG-nya PKI menuntut agar anak-anak Margersari boleh naek bus pabrik gula ke Kediri.
Catatan, menurut tatakrama pabrik gula yang diperoleh dari jaman Blanda, hanya anak-anak employee, yaitu staf pabrik gula yang jumlahnya sekitar 30 s/d 40 orang yang boleh naek bus untuk ke kota Kediri, tempat mereka sekolah. Sedangken anak-anak Margersari, yaitu anak- anaknya buruh tetap, dipersilahken mencari kendaraan sendiri kalow mau ke Kediri yang berjarak 14 kilometer itu.
Tuntutan Komunis ini dirasa nggak logis. Sebab agaknya, secara kultural pembagian kenikmatan itu diterima oleh masyarakat kala itu. Masak pantes anak Margersari misalnya bergaul dengan anak-anak employee. Buruh-buruh pabrik gula yang dipekerjaken sebagai pembantu rumah tangga bokap pun manggil kita pakai ‘ndoro,’ atau ‘den’ dan sejenisnya. Kalow di pabrik, mereka panggilnya ya ‘pak’ kepada bokap.
Setelah peristiwa 65, bokap lantas merubah kebijaksanaan ini. Buat anak-anak Margersari kemudian disediaken truk yang dirubah sebagai bus sekolah. Jadi, karena tuntutannya terlampow revolusioner dan bukan menyangkut hal-hal yang mendasar (kenaekan upah misalnya), maka buruh agaknya kagak bisa bersatu. Lagian, pembagiannya ke geng-geng itu menurut perasaan saya cuma berdasarken simpati belaka.
T: Mengapa dalam tulisan itu anda menggunakan kata ‘lapisan’ dan bukan ‘kelas,’ istilah yang memang dipakai pada waktu itu.
J: Waktu menulis artikel itu, saya ragu menggunaken istilah kelas. Apalagi saya ini nggak banyak tahu. Sepengetahuan saya, kelas itu definisi sosiologisnya berkaitan erat dengan ‘mode of production,’ cara produksi, dan bukan dengan ‘mood of production.’ Sehingga saya bingung, apa pantas bokap saya direktur pabrik gula dimasukken ke dalam ‘kelas ini,’ sedangken buruhnya ‘kelas itu.’ Soalnya, pabrik gulanya kan milik negara?
Selaen itu, karena tulisan itu dimaksudken untuk menjelasken posisi saya, maka saya kira tidak cocoklah untuk menggunaken istilah kelas. Karena pembacanya di BerBar dan JerBar kala itu hanya tahu geng mantan pelarian komunis Eropa Timur dan Cinalah yang doyan banget menggunaken istilah kelas.
Karena sampai saat itu tidak doyan menggunaken istilah kelas, maka saya ini dinilai kurang repolusioner oleh organisasi Indonesia bernafasken komunis yang berkedudukan di Berlin Timur. Namanya OPI aliasnya Organisasi Pemuda Indonesia. Karena itu waktu taon 80 saya dan dua orang teman ke Berlin Timur, kami dilarang masuk. Padahal sebelonnya boleh. Agaknya PPI Berbar itu musuh kerasnya kelas melayu Berlin Timur. Maka mohon maklum saja kalow saya lantas memakinyapun tak berbau kelas. Saya bilang, „Ngehek!“
PERISTIWA JENGKOL-1961 T: Bisakah anda ceritakan sebab musabab konflik pertama antara PKI — dalam hal ini ormas buruhnya, Serikat Buruh Gula atau SBG — dengan militer? Apakah secara aktif pihak pabrik minta pihak militer terlibat?
J: Seingat saya, konflik antara PKI dan militer (polisi dan tentara) itu diawali dengan meletusnya Peristiwa Jengkol taon 1961. Peristiwa Jengkol ini bermula dengan niat pemerentah untuk menyatuken lahan tebu. Seperti diketahui, Jengkol (25 kilometer sebelah Timur Kediri dan 25 kilometer Selatan kota Pare) adalah pabrik gula yang tak berproduksi lagi lantaran hancur akibat perang. Karena Pabrik Gula Ngadirejo adalah pabrik gula terbesar di Kediri dan memiliki kapasitas produksi lebih. Artinya dengan yang lahan yang dimiliknya, pabrik gula Ngadirejo sering nganggur. Maka lahan Jengkol hendak digabungken dengan Ngadirejo. Sebagai perbandingan, kira-kira 5 kilometer sebelah Timur Kediri juga ada pabrik gula Pesantren. Cuma pabrik ini lebih kecil.
Sayangnya lahan-lahan pabrik Jengkol itu terpencar-pencar dan di atas lahan itu sudah banyak petani penggarap. Makanya, mereka lantas digusur dan diberi ganti rugi duit atow tanah. Rupanya PKI kala itu, istilah sekarangnya pandai ‘menunggangi’ para petani. Demonstrasi pecah, dan akhirnya meminta korban. Katanya, para demonstran itu melakuken kekerasan terhadap aparat keamanan. Ada sopir traktor yang dikubur hidup-hidup. Ada polisi yang dibakar brewoknya. Sedangken polisi dan tentara, setelah ada kasih tembakan peringatan, ada sulit mau menghalow demonstran yang maju terus pantang mundur itu. Soalnya, di barisan depan, kabarnya ada laskar Gerwani yang bugil waktu demonstrasi.
Karena peristiwa ini, militer dengan bokap bersekutu. Apalagi, sejak Blanda diusir dalam Kampanye Sita Modal Asing yang mulai 1957, pabrik gula mesti meyediaken rumah buat seorang perwira menengah tentara. Waktu itu seorang Kapten, kalow nggak salah ingat, namanya Pak Suwarno. Kluwarga perwira menengah inipun diperlakuken sebagai kluwarga employee pabrik gula.
Saya kurang tahu apa pabrik gula minta bantuan polisi dan tentara. Tapi saya kira normal kalow aparat keamanan diminta bantuannya. Sebab ini kan perusahaan negara, dan ketetapan penggabungan lahan kan juga kebijaksanaan Jakarta. Tapi konflik di pabrik gula ini saya kira tak lepas dari percaturan politik nasional kala itu.
SBG LAWAN SARBUMUSI DAN KBG T: Mengapa kemudian bokap ente yang jadi sasaran dalam demo SBG?
J: Bokap itu Direktur (sekarang istilahnya Administratur) pabrik gula negara Ngadirejo. Dus, kasus Jengkol dibebanken juga sebagai tanggungjawab dia. Kalow mokap saya selalu bilang, bokap sih orangnya kaku, kurang ramah, keblanda-blandaan, makanya banyak yang marah. Saya kira, kalow dengar omongan-omongannya, bokap ada pengalaman buruk dengan geng revolusioner macam komunis begitu di jaman revolusi dan awal-awal taon 50-an.
Yang jelas, satu ketika teman sekolahnya bokap dari Dirjen Pertanian Jakarta, datang ke rumah (Catatan: pabrik gula kan ada di bawah kekuasaannya Kementrian Pertanian). Kementerian Pertanian, merencanakan untuk memindahken bokap ke pabrik gula laen. Cuma, kabarnya bokap menolak. Katanya dia ngotot untuk tetap bercokol di pabrik gula Ngadirejo sampai persoalannya kelar. Dia nggak mau dipindah hanya karena diretool PKI. Mungkin ini persoalan harga diri. Sebab mana enak orang dipindah hanya gara-gara diretool komunis?
T: Bagaimana sikap serikat buruh dari NU (Sarbumusi) dan PNI (KGB) dalam konflik antara Direktur Kartawijaya dengan SBG?
J: Sarbumusi dan KBG — bukan KGB nyong! — berdiri di belakang bokap. Dan tanpa reserve. Saya ada kebagean rejekinya, ikut pula diangguk-anggukin kepala kalau ketemu di jalanan.
T: Ketika SBG mengadakan mobilisasi massa untuk mencegah Kartawijaya masuk kantor, terjadi mobilisasi massa tandingan dari PNI dan NU. Suasana menjadi sangat panas. Tetapi tidak terjadi bentrokan fisik. Mengapa?
J: Rencana itu seingat saya, gagal. Sebab malam sebelonnya Sarbumusi seluruh Jawa Timur bikin rapat di Ngadirejo. Pagi-pagi hari, sebelon saya brangkat ke sekolah dan sebelon rencana SBG/PKI berdemonstrasi, rumah bokap saya dijaga sama Ansor/NU. Ini tentu membikin komunis-komunis panas dingin, walowpun niatnya termasuk panas juga. Malam sebelonnya, rumah banyak dikunjungi oleh pendukung dan simpatisan bokap. Seperti komendan tentara dan polisi Kediri. Tidak terjadinya bentrokan fisik itu lantaran aparat keamanan turun dan demonstrasinya, kalow nggak salah dibatalken.
T: Sebagai anak SMA waktu itu yang jadi anggota GSNI (Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia, yang berinduk ke PNI), bagaimana perasaan anda? Sejauh mana ancaman anak-anak IPPI terhadap anak-anak nasionalis dan agama itu nyata? Bagaimana dibandingkan acaman anak-anak nasionalis dan agama terhadap anak-anak IPPI, setelah meletusnya G-30-S di Jakarta?
J: Ancaman riil geng Komunis terhadap koalisi pelajar-pelajar GSNI, pelajar-pelajar NU dan Muhammadiyah tidak ada. Cuma dalam pergaulan sehari-hari saya merasaken kebencian anak-anak IPPI terhadap saya. Yang semula, artinya sejak masih kanak-kanak masih mau maen bal-balan bersama, maka dengan adanya jaman retool-retoolan, mereka lantas menjauhi saya.
Teman-teman saya ya akhirnya dari GSNI saza. Ini mungkin bisa dipahami dari sudut laen. Teman-teman maen bal-balan saya di pabrik gula semuanya anggota GSNI. Jadi anggota GSNI, saya ada perasaan ya buanggaaaa skali. Hanya waktu peristiwa meletus, anggota-anggota IPPI kocar-kacir diburu-buru sama geng koalisi pelajar PNI dan NU. Waktu itu saya pas duduk di klas satu SMA. Sekolah pun kacow balow, pelajaran kagak ada. Makanya kurikulum sekolah mundur kira-kira enam bulan.
Jadi waktu gegeran Gay-30S itu kita sih tetap masuk sekolah. Cuma di sekolah, kita nggak blajar. Kita asyik memburu anggota-anggota IPPI dan guru-guru yang anggota PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang onderbouwnya komunis. Guru Civics (ketatanegaraan) dan guru bahasa Inggeris termasuk ke dalam menu kita. Guru Civics itu gemetaran dan nangis-nangis. Teman-teman yang pernah dapat nilai buruk atow nyontek ketahuan jadi luar biasa garangnya sama dia.
Saya termasuk beruntung sering diajak. Sebab kawan baek saya adalah aktivis Muhammadiyah dan kemudian dia menjadi algojo. Badannya guedee pula. Karena yang diburu geng onderbouw, kita ngeburunya ya pakai cara onderbouw juga. Artinya, anggota-anggota geng IPPI itu diseret ke blakang semak-semak atow tempat titipan sepeda. Jaman sekarang ‘off the record’lah istilahnya. Setelah peristiwa Gay-30S meletus, geng komunis kayaknya kesihir. Mereka tampak kagak berdaya dan lumpuh total
MENJELANG G-30-S T: Bagaimana anda menggambarkan situasi di Ngadirejo menjelang 30 September 1965?
J: Ekstra panas dan super ‘bahenol.’ Bukan berarti menjelang Gay-30S hari-harinya mengklimaks atow menjadi istimewa. Cuma, sejak peristiwa Jengkol pecah, kan empat taon sudah ada berlalu. Pada saat-saat terakhir ya jelas dong, kalow kesewotannya sudah kian memuncak. Sebab kasus-kasus bentrokan dengan geng komunis di luar Ngadirejo kan pitamin penguat second dendam on thought. Umpamanya kita dengar bahwa di Gurah (10 kilometer dari Kediri) lurah PNI dibacok PKI. Lantas PNI sama NU bergerak bersama mencari PKI.
Lagian, karena kita pernah ngganyang Blanda, lantas ada sibuk ngganyang Malaysia, dan kita punya banyak hari-hari besar, maka kita sering pawai dan baris berbaris. Kita juga sering saingan drum-band-nan. Kacownya, kalow lagi saingan begitukan setiap geng selalu berkesempatan buat menyoraki lawan-lawannya. Apalagi, waktu itukan saya dan teman-teman terbiasa sorak-sorakan, karena sudah terlatih kalow jadi penonton bal-balan.
Meskipun begitu, kalow dalam soal sorak-sorakkan ganyang- mengganyang, menurut perasaan alamiah saya (maaf saya waktu itu belon mampu mencoba berpikiran ilmiah), kita punya geng rasanya ya keok melulu. Sebabnya apa? Jaman itu kan jaman „repolusi belon selesai“ dan yel-yelnya pun selalu bernafasken „revolusioner.“ Semua hal yang berbau „revolusioner“ sudah diklaim sama geng komunis. Misalnya, „Ganyang Nekolim, Ganyang Kapitalisme, Ganyang Tujuh Setan Desa, Ganyang Kabir (Kapitalis Birokrat), Ganyang Masyumi“ dan laen sebagaenya.
Nah, di antara yang diganyang, jelas bukan hanya „Amerika kita seterika atow Inggeris kita linggis.“ Tapi kan ada bokap saya, kiayi-kiayi Pesantren atow Kepala Desa PNI. Soalnya mereka-mereka ini kan dituding Kabir, Tujuh Setan Desa, Masyumi dan laen sebagaenya. Lha, makhluk-makhluk ini bercokol di PNI, NU atow misalnya Muhammadiyah. Jadi ngganyang orang-orang itu jelas nyindir organisasi dong.
Makanya, mau ngebalesnya ya gimana? Masak mau tereak-tereak „Hidup Karta“, „Karta Bukan Tujuh Setan Desa“ atow „Hidup Pak Kiayi anu“, „Pak Kiayi anu bukan Tuan Tanah.“ Paling top, geng non-komunis ya cuma bisa bilang yang netral-netral saja, „Ganyang Malaysia, Ganyang Nekolim, Hidup Bung Karno“ dan sejenisnya lah. Lha yang ginian ada ditereakken juga sama geng Komunis.
Mana lagi, di kalangan pemuda kayak saya, ada semacam kejengkelan terhadap keadaan. Lha, pas-pasnya jadi fansnya The Beatles, The Rolling Stones, The Beeges atow Koes Ploes, eee, merekanya dilarang dan dituduh sebagai lagu ngak-ngik-ngok. Benar Bung Karno yang ngelarang, cuma karena kita sewot sama geng-komunis, kita menuding ini ulah geng-komunis.
Mau nonton pilem koboi yang kita sukai, eeee, dilarang. Nonton pilemnya cuma pilem-pilem dari Eropa Timur atow Cina. Pilem-pilemnya pun motifnya sama: perang melulu, dan isinya kegagahan geng komunis belaka. Kalow pilem dari Cina misalnya silat begitu, mungkin laen. Pilem-pilem India saja yang kita juga gemari, tiba-tiba lenyap. Yang menghibur, ya cuma kalow njajan — meski pun nasi campur jagung dipopulerken. Soto atow satenya misalnya masih ‘murni’ dan ‘belon ditunggangi.’ Resep mie godog dan baksonya Cina kagak dipengaruh oleh paham Maoisme.
T: Bagaimana pengaruh berita di media massa (koran, radio, TV) sejauh yang anda ingat? Apakah ada perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah G-30-S?
J: Ya jelas dong ada bedanya. Sebelon Gay-30S pemberitaan di media massa cuma bernafasken kerepolusioner-repolusioneran. Setelah Gay-30S mulai liberal dan bernafasken napsu birahi. Pilem-pilem koboi dan James Bond penuh cewek bahenol dan berwajah syahdu jadi laris keras. Menggusur pilem-pilem dari Eropa Timur dan dataran Cina yang penampilan cewek-ceweknya ‘sepo’ dan galak pula. Kacowlah.
The Beatles atow Koes Ploes boleh ngak-ngik-ngok lagi. Rasanya jadi serba normal kembali lah, nggak usah membuang tenaga buat ikut-ikutan pawai atow menyabung nyawa via jurus ‘Vivere Pericoloso.’ Ini istilah muncul dalam Pidato Bung Karno, artinya „Hidup nyerempet-nyerempet bahaya.“ Padahal kala itu saya masih ada pakai celana kampret.
Yang jelas, setelah Gay-30S dan setelah ketahuan ‘belang’nya PKI, media massa jadi ramai memberitaken hari-hari terakhirnya geng komunis. Suasananya jadi panas dingin, ketika kekejaman komunis mengedel-edel enam Jendral di lubang buaya ketahuan. Di sana juga diberitaken kisah seperti jagonya para Jendral yang digerus — dielus-elus dulu lantas dipotong. Saya juga mengikuti sidang-sidang Mahmilub lewat radio. Yang saya inget misalnya penyidangannya Subandrio, kesohor dipanggil Durna. Yang dikagumi bokap kala itu adalah Mister Yap, yang meski bukan komunis, tapi ngebelain mereka-mereka di pengadilan.
Sesudah Gay-30S pecah, suasananya ya jadi super tegang. Saya menyaksiken keanehan, sebab bokap lah yang memerintahken menutup pintu dan jendela ketika malam tiba. Biasanya sekitar jam 22.00. Bokap cuma bilang, ada sesuatu yang aneh di Jakarta. Kita sekeluarga penuh was-was dan saya punya bulu tengkuk ada bergidik penuh idih-idih. Mokap dan adik saya yang perempuan jadi lebih kenceng sembahyangnya — meski pun sembahyang itu juga dilakuken sewaktu konfrontasi dengan geng komunis sebelon Gay-30S meletus. Kalow bokap dan kedua adik saya enggak. Karena dirasa nggak cukup, lantas mokap malam-malam mbakar kemenyan, dan membakar dupa di bawah pohon beringin yang terletak di pekarangan blakang rumah.
OKTOBER 1965 T: Dalam artikel anda disebut suasana di Ngadirejo dan daerah sekitarnya (Kediri, Tulungagung, Blitar) sangat tegang pada tgl 1 Oktober itu. Tetapi selama dua minggu tidak terjadi bentrokan fisik. Setelah dua minggu itu terjadi satu kali bentrokan fisik. Bisakah anda menceritakan kembali bentrokan pertama sekitar tgl 15 Oktober itu? Apa sebabnya?
J: Berita betapa kejamnya PKI membunuh para Jendral, terutama putrinya Jendral Nasution, kan merupakan satu bukti akan kekejaman PKI. Sebelonnya kebueenciaan kita terhadap geng komunis kan sudah mbludak sekali. Lha ini kontol jendral kok dicopot segala?! Wuaaah, keterlaluan!
T: Siapa yang memulai kekerasan? Dan bagaimana bisa berhenti?
J: Waktu itu, tentu saja kita bersyukur, bahwa geng non-komunislah yang memulai tindak kekerasan. Sebab, kala itu semboyannya, „Kalow nggak kita duluan, komunis lah yang bakal ngeduluin.“ Jadi, huajaaar dulu! Apalagi, saya dengar, PKI sudah ada menyediaken ‘Lubang Buaya’ buat kluwarga saya.
Seingat saya, bentrokan pertama terjadi di Kediri. Pihak NU yang mengambil inisiatif, yang kemudian diikuti oleh kaum Marhaen. Rencananya berdemonstrasi ganyang komunis. Selaen itu, minta tumbal satu jendral dituker sama 100.000 nyawa PKI.
T: Apa yang kemudian terjadi?
J: Tapi yang terjadi bukan demonstrasi damai. Melaenken huajar-huajaaaran! Gedung-gedung partai komunis dan perkumpulan-perkumpulan Cina yang akrab sama komunis ada dihancur-leburken. Akibatnya, komunis-komunis yang mempertahanken markasnya pada jontor semua. Suasana kota Kediri jadi tegang dan panas-dingin. Kenapa para demonstran bisa berhenti? Ya, targetnya sudah tercapai. Semua sudah dibumi-rataken. Beberapa orang komunis sudah menjadi bangkai, kalau nggak salah 11 orang. Lantas mau apa lagi?
T: Bagaimana sikap polisi dan tentara waktu itu?
J: Tentara dan polisi jelas memihak geng non-komunis. Kadang-kadang saja mereka ada kelihatan sibuk menenangken. Cuma, kalow nggak berpihak, ya gimana ada jiwa bisa melayang-layang dan bangkai-bangkai bisa berserakan?
NOPEMBER 1965 T: Setelah bentrokan pertama tgl 15 Oktober itu, menurut catatan anda ada 3 sampai 4 minggu yang ‘tenang’ walaupun sangat tegang. Sejauh yang anda tahu, apa yang dirasakan oleh masyarakat pada saat tenang tapi tegang ini?
J: Saya nggak tahu apa yang dirasaken dalam masyarakat. Tapi di sekolah saya, SMA Negeri I, kita sempat berdebat sama anggota-anggota IPPI yang onderbouwnya PKI. Kita langsung melabrak mereka, bahwa PKI ada terlibat dalam pembunuhan para jenderal dan putrinya Pak Nas. Tapi anggota-anggota IPPI malah menyalahken Dewan Jendral.
T: Setelah 3-4 minggu yang tegang tapi tanpa bentrokan fisik itu, kemudian terjadi pembantaian di mana-mana. Bisakah anda ceritakan kembali sejauh yang anda tahu dan anda ingat? Apakah diantara yang membunuh dan dibunuh itu ada yang saling kenal? Kalau iya, faktor apa yang membuat mereka sampai hati melakukannya?
J: Setelah bentrokan pertama itu, keadaan tenang sebentar. Cuma, seperti api dalam sekam, dan malam harinya ada terasa mencekam. Biasanya, saya dan teman-teman kompleks pabrik gula, ada suka kluwar malam, ada melakuken operasi nyolong ayam atow tebu, maka, dengan adanya gentayangan Gay-30S itu, kita jadinya pada menghentiken operasi. Setelah itu operasi pembersihan dilakuken malam-malam. Desa-desa yang diduga ada anggota geng Gay-30Snya, lantas dikepung. Kalow sudah dapet orang-orang yang dicari, biasanya dibawa ke Sungai Brantas.
Saya ada punya sahabat karib (kita duduk sebangku di klas dan di blakang sekali, berhubung untuk memperlancar urusan ngerpek), tinggalnya di Pare, 25 kilometer sebelah Timur Kediri. Dia itu menganut Gereja Kristen Jawi, indekosnya di Kediri. Nah, menurut penuturan teman ini, di Pare, anggota geng komunis itu dibawa ke satu lokasi. Di situ sudah disediaken lobang besar. Saya masih ingat, sahabat karib saya itu pernah menunjukken letaknya, di bawah pohon gede, di dekat jalan antara Pare dan Gurah. Ya, kalow sudah sampai ke tempat eksekusi, komunis-komunis itu lantas dijadiken bancakan. Satu persatu dicoblosin, kayak nyoblos gambar pemilu. Atow dipenggalin, sambil didorong, gayanya kayak maen golf. Dus, gayanya semacam melakuken eksperimen. Yang belon dicoba, ya dijajal lah.
Banyak yang dicemplungken ke Sungai Brantas. Pagi-pagi kalow saya ke sekolah atow siang-siang pulang dari sekolah (karena kalow ke SMA saya, saya harus ada melalui Kali Brantas), selalu ada tontonan mayat mengapung. Mereka umumnya diikat sama bambu, supaya bisa berenang dan nggak tenggelam lah. Teknologinya canggih juga. Gayanya macem-macem: ada yang tanpa kepala, ada yang ususnya terurai kluwar, ada yang belah dua.
Tontonan begini jelas membikin hati orang keder, dan terang membuat geng komunis yang masih hidup cepat rontok mentalnya. Tapi meski pun tiap hari dipertontonken mayat-mayat bermacem-macem adegan begitu, saya masih bisa makan dengan lahap. Kawan-kawan saya juga begitu. Padahal gaya orang-orang komunis menjadi almarhum itu selalu ada di kepala. Kayaknya menjagal mereka terasa seperti sesuatu yang lumrah. Seperti olahragalah.
Sebagai seorang muslim yang baek saat itu, saya pribadi berpendapat, bahwa memang sewajarnyalah membunuhi Komunis. Sebab komunis itu ateis. Lagipula, pidato Pak Nas sangat mengesanken. Dia bilang, „Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.“ PKI telah melakuken fitnahan terhadap bokap saya. Dus, saya memang sudah benci sama PKI. Begitu pula dengan kawan-kawan saya sekelas yang anggota organisasinya PNI, NU, Muhammadiyah atow Partai Kristen.
Dalam soal ini, menurut ingatan saya, PKI sangat agresif. Dari dendam kesumat ini, akhirnya dianggap wajarlah pembunuhan-pembunuhan yang mengeriken: kepala dipancung, usus diedel-edel, turuk (vagina) ditusuk bambu runcing. Ini nggak ada bedanya dengan nggebukin maling yang ketangkep basah. Rasanya, makin lama korban ada tersiksa, makin nikmat lah pembalasan dendamnya.
Waktu itu, kita yang masih muda belia pun maennya juga hal-hal yang horor. Dikasih pelajaran kimia tentang aer raksa, eeee, kita colong aernya untuk diprakteken ke katak. Kataknya menggelepar-gelepar, eee kitanya senang. Kita sengaja cari anjing cowok dan cewek, lantas disuruh ngewek. Dan ketika kedua anjing sedang empot-empotan, lantas kita lemparin batu, dan langsung copot terus anjingnya pun kaing-kaingan. Eee kitanya malahan senang. Saya nggak tahu, darimana saya atow yang laen ketitisan sadisme itu.
Makanya, waktu PKI ada disikat, ada yang sudah membayangken disobekin dulu kulitnya, lantas dikasih garam. Sayangnya, begitu kata orang-orang, kita nggak ada aer laut. Karena sewot dan dendamnya sudah on thought dan menjadi second dendam, maka apalah artinya kenal dan saling mengenal. Kita semua di sekolah pun atow dalam kehidupan sehari-hari terbagi ke dalam geng-geng. Kita ada kenal siapa anggota IPPI, kita ada kenal siapa guru kita yang PGRI onderbouwnya PKI. Jadi waktu pembersihan ya gampang dong, wong mereka ketahuan kok belangnya.
T: Menurut pengamatan Bung apakah para korban itu semuanya benar-benar PKI atau hanya karena dilabeli PKI?
J: Wah mana saya tahu. Cuma saya mendengar, ada yang keliru kecoblos. Nama sama, eee ternyata orang PNI. Berabe betul. Dari bokap, saya mendengar, satu kali kepala polisi Kediri datang bertandang ke rumah dan bilang, „Pak, kalow bapak punya musuh, bilang saja. Lebih baek sekarang dihabisi.“ Bokap cuma geleng-geleng kepala.
T: Untuk melakukan pembunuhan sebagaimana Bung gambarkan tentunya mereka memerlukan peralatan dan angkutan. Sejauh Bung tahu apakah mereka yang melakukan penggropyokan itu dapat memenuhi sendiri semua peralatan dan kendaraan yang diperlukan?
J: Peralatan apa sih? Wong model pembunuhannya juga maen kroyok — kayak ngroyok maling yang kepergok basah kuyup. Jadi, kalow Ansor-Ansor dari pesantren tertentu turun gunung, gabung dengan geng yang laen, umpamanya dari Pemuda Marhaen, maka jumlahnya bisa mencapai ribuan. Jadi tiga ribu misalnya, lantas mengepung desa. Dus jurus PKI ala Mbah Mao, yaitu desa mengepung kota, sudah kena skak maat duluan. Desa yang diduga jadi surga kumpul kebonya PKI, diserbu duluan. Lantas laskar PKI dicidukin lah, dan rata-rata mereka kagak melawan.
Anehnya, kalow mereka demonstrasi, tereak-tereaknya revolusioner sekali. Cuma ketika Pahlawan Revolusi sudah skak maat duluan, dan pembalasan datang, banyak PKI yang menangis tersendu-sendu, minta dikasih panjang umur. Cuma, ya sudah telat. Saya dengar dari teman saya yang jadi algojo, ada satu-dua biji saja yang ngelawan, kayak orang kesurupan. Cuma katanya nasibnya jadi kayak ayam dipotong. Menggelepar-gelepar.
Habis, para pahlawan revolusi dan putri Pak Nas yang berusia tiga taon sudah jadi korban, maka mereka pun harus merelaken jiwanya dong. Kalow satu desa ketangkep sepuluh, arit, pisow, bambu runcing, gada rujakpolo pun ada cukup laah buat menghabisi nyawa mereka. Banyak PKI yang pada ngacrit ke Surabaya, sehingga lolos dari pencoblosan.
Ada yang lari ke Kodim di dekat gedung bioskop Wijaya Kediri (jalannya lupa lagi), dekat perampatan jalan Dhaha. Cuma, sel di sana ya nggak sanggup nampung. Kalow mau, asal ada kendaraan, malem-malem orang PKI itu boleh dicomot sesuka hati.
T: Bagaimana sikap atau peranan polisi dan tentara (Kodim) selama masa pembunuhan itu berlangsung?
J: Tentara dan Polisi rasanya berpangku tangan. Malahan mereka diam-diam membantu. Saya pernah ngeliat satu ketika tentara membawa muatan penuh orang-orang PKI dalam satu truk terbuka ke gunung Klotok. Sekembali dari sana truknya kosong. Kabarnya mereka sudah dibrondong habis
SIKAP AYAH T: Bagaimana sikap ayah anda sendiri ketika orang-orang PKI yang tadinya memusuhi keluarga anda itu dikejar-kejar?
J: Ya, itulah keheran-heranan saya. Bokap justru banyak melindungi orang-orang SBG, ormas buruhnya PKI. Saya ingat bagaimana bokap menampung dan menginapken buruh-buruh pabrik gula gengnya komunis di gedung pertemuan para employee pabrik gula. Lantas, suatu ketika bokap ada memerentahken saya untuk menjemput Pak Hariyo, seorang employee yang tinggal bertetanggaan dengan rumah kita, letaknya di sebelah Utara rumah kita, ketika terdengar dia mau digorok oleh geng non-komunis. Cuma, waktu dia punya pintu saya gedor-gedor, dia kagak bukain. Akhirnya, keesokan harinya, pagi-pagi sekali bokap sendiri yang ke sana. Dia langsung ada bawa Pak Hariyo ke Surabaya dan disembunyiken di sana.
Riwayat Pak Hariyo ini sungguh mengenasken. Dia tadinya pegawai administrasi pabrik gula tingkat bawahan, dan tinggalnya di Margersari, kompleks para buruh gula. Oleh bokap saya, dia dinaekken pangkat jadi employee, dan kemudian boleh mendiami rumah employee di sebelah rumah kita. Pak Hariyo ini aktivis dan tokoh SBG, dan anaknya ada sembilan kalow nggak salah. Orangnya lebih tua ketimbang bokap, rambutnya sudah putih, eee masih punya bayi pula. Waktu bokap dinaekken pangkat jadi Direktur Utama dan dipindahken ke Surabaya, kemudian jadi Inspektur Pabrik Gula, saya dengar bokap masih sering menengok Pak Hariyo. Dia jadi pedagang eceran di satu tempat yang bokap tak mau sebut. Bokap cuma cerita, kasihan nasibnya. Bokap ada sering ngasih duit.
T: Bagaimana pendapat Bung sekarang tentang rumor atau ancaman bahwa keluarga Kartawidjaja sudah dipersiapkan Lubang Buaya?
J: Lho, saya sih percaya betul bahwa geng Gay-30S ada telah menyiapken Lubang Buaya buat kita. Habis, menurut saya ada perasaan, kelakuannya sebelon peristiwa meletus sangat kasar. Tidak ketimur-timuran lah. Kalow ditanya apa betul rumor tentang Lubang Buaya yang disiapken buat kita punya kluwarga? Wah, mana saya tahu? Kalow nggak percaya, ya sulit buat saya. Sebab PKI itu buencinya bukan maen sama bokap. Kalow geng kita saja bisa menjagal komunis demikian sadisnya, maka saya percaya, bahwa pihak sono pun bisa berbuat yang sama.
Saya ngelihat, seni orang kita nyiksa atow ngebunuh itu memang ngeri sekali kok. Janganken waktu jaman gegeran itu. Sekarang kita bisa baca bagaimana cara pembunuhan yang ada di media massa. Ada mayat dipotong-potong lah, ada yang disiksa lantas disuruh ngejilatin air kencingnya atow melahap tinjanya sendiri lah. Kayaknya, menurut perasaan saya, setelah merdeka 51 taon ini, di bidang ini tak ada perubahan. Padahal, ada Komnas-Ham segala.
SIKAP KAKAK T: Bagaimana hubungan anda sendiri sebagai aktivis GSNI yang pro Bung Karno dengan kakak anda di Bandung yang menjadi aktivis KAMI?
J: Panas-dinginlah. Mula-mula baek. Habis justru PNI di Kediri itulah yang termasuk ngebelain bokap dan turut menghancurken Komunis. Kakak saya datang kemudian, ketika Orde Baru sudah kelihatan menang. Lama kelamaan saya jadi bingung, kok KAMI sekarang melabrak PNI segala? Karena itu sama kakak saya, saya habis dipermak. Dia bisa mengurai secara detail kesalahan-kesalahan Bung Karno. Saya bungkam, nggak punya argumen. Lagian secara kekluwargaan pun hubungan ya kurang harmonis. Soalnya kakak suka ngasih banyak larangan dan ngasih perentah.
ANAK TERLANTAR T: Anda membuat catatan tentang anak-anak terlantar yang mengemis di sepanjang rel kereta api di Kertosono. Bisa tolong anda ceritakan kembali tentang mereka? Bukankah keadaan ekonomi Indonesia saat itu memang sangat parah?
J: Setiap Lebaran, kluwarga kita selalu pergi ke Bandung dan ke Rajamandala. Karena saya sudah ada di SMA taon 1966 dan begitu juga taon 1967, maka waktu bulan puasa dan liburan sekolah, saya ada pergi sendiri ke Bandung. Kluwarga menyusul kemudian. Kalow ke Bandung, saya harus nyegat kereta api dari Kertosono. Di sepanjang jalan kereta api ke barat setasion, saya banyak menyaksiken anak-anak kecil (tadinya nggak ada tuh) yang mengemis meminta makanan, kalow kereta api lewat.
Di Bandung, saya kebetulan punya kluwarga banyak. Salah satunya tinggal dekat setasion. Satu kali, iseng-iseng sama emang (paman) saya ke setasion, dan ngluyur di antara gerbong-gerbong kereta api yang nganggur. Di sana kami banyak menemui juga anak-anak kecil terlantar. Mereka cerita, bahwa mereka berasal dari berbagai daerah. Mereka juga cerita, bahwa orangtua mereka sudah nggak ada. Memang keadaan ekonomi waktu itu parah dan banyak pengemis. Tapi gerombolan anak-anak kecil di stasiun kereta api Kertosono itu, baru saya lihat pertama kali. Dan itu pun setelah Gay-30S.
TAHUN 1966-67 T: Setahun setelah pembunuhan massal itu, RPKAD datang dan mendirikan markas di Kediri. Sasaran berikut adalah PNI yang pro Bung Karno. Bisakah anda ceritakan tentang tahun 1966 ini. Menurut anda mengapa PNI yang sudah bantu menghabiskan PKI itu kemudian menjadi sasaran?
J: Itu lah yang kagak saya mengerti. Knapa bersamaan dengan RPKAD datang, kok PNI yang ada jadi sasaran usrek-usreknya RPKAD?. Waktu itu, PNI di Jakarta terpecah menjadi geng A-SU (Ali Sastroamidjojo dan Surachman) dan geng Osa-Usep (Osa Maliki dan Usep Ranuwijaya). Kita yang di Kediri semboyannya, enggak ikut siapa-siapa. Tapi pokoknya ada di blakang Bung Karno. Maunya berdiri di tengah, eeee akhirnya jadi terengah-engah. Lha, Bung Karnonya sendiri lama kelamaan tambah kepepet.
Satu ketika sekolah dengan berbagai organisasinya, ikut rapat raksasa merayaken kemenangan Orba di stadion bal-balan Kediri. Tentu saya ikut GSNI. Sampai di sana, eee, kita dicaci maki sebagai Orde Lama. Ganyang PNI segala macam. Suasananya panas. Saya ada takut. Diam-diam, saya lantas ngacrit dari sana. Pokoknya bingung. Di sekolah pun pada hari-hari kemudian, saya dicari-cari sama anak-anak KAPPI. Meski pun saya tidak digebuki, berkat peranan bokap saya yang dianggap kluwarga besar NU, tapi saya keder juga. Saya ditanyain macem-macemlah. Siapa saja yang anggota GSNI. Dan karena gemetaran, saya ngoceh. Itulah sebabnya, banyak teman-teman dari GSNI yang kemudian mencap saya sebagai pengkhianat.
Pengalaman jadi pengkhianat inilah yang bikin saya resah. Juga sampai sekarang, meskipun saya selalu menghibur diri, ah itu kan dosa remaja. Benar, kawan-kawan saya yang GSNI itu tak diapa-apaken. Artinya kagak dibunuh kayak PKI. Tapi merekapun pada jadi susah hidupnya. Inilah yang membuat saya merasa berhutang nyawa juga.
KAMI DAN KAPPI T: Apa peranan KAMI dan KAPPI?
J: Wah, mereka jadi ganas terhadap kita. Mungkin karena ada di pihak yang menang, dan dibeking pula sama RPKAD. Ganasnya seperti kita terhadap PKI, waktu kita menjadi pihak pemenang. Makanya geng PNI bisa agak bernafas sebentar waktu KKO mulai bentrok melawan RPKAD. Kabarnya, keoklah itu RPKAD. Saya mendengar, rumahnya Jendral Yasin, Pangdam Jatim pun kala itu, diserbu KKO (Korps Komando Operasi, sekarang namanya pasukan Marinir kalow nggak salah). Gudang berasnya pun habis diobrak-abrik. Untung Jendral Yasin sedang ada di Tretes. KKO rupanya balas dendam. Sudah susah payang berjuang mengganyang Malaysia, pulang kampung, eee ternyata banyak kluwarga mereka yang mampus. Kabarnya memang banyak anggota PKI atow PNI yang masuk KKO.
T: Apa yang dikerjakan oleh RPKAD waktu itu?
J: Melakuken pembersihan-pembersihan terhadap unsur-unsur Orde Lama. Mereka rata-rata pada menyamar. Yang kagak menyamar dan memperagaken diri dengan baret merahnya, pernah aksi-aksian melempar pisow di depan gedung PNI yang kacanya sudah hancur dan ditutup kayu (di jalan Dhaha, pojok gang, Utara Setasiun). Gangnya apa saya lupa. Di sana dulu ada warung Cina yang enak, tempat saya ada makan mie godok. Di sana juga ada lapangan tenis dan pabrik rokok kretek.
RPKAD alias Resimen Para Komando Angkatan Darat (kini namanya Kopassus) kan kesohor sebagai pelempar pisow yahut. Sekali lempar, kabarnya langsung nancap. Cuma, waktu mereka demonstrasi sore-sore di depan gedung PNI yang udah hancur itu, ada beberapa pisow yang nggak nancep. Teman-teman PNI yang ngeliat dari kejauhan, ya senang dong. Katanya, kalow bisanya cuma sebegitu, ya „Aku yo iso rek!“ (saya juga bisa, bung!).
MASUK BUI T: Mengapa anda sempat ditahan dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1967?
J: Ceritanya, SMA Negeri I ikut pawailah. Kalow nggak salah 17 Agustusan begitu. Karena pawai kita pun boleh mengenaken pakaian macem-macem. Saya pakai blangkon dan surjan, celananya ala The Beatles. Ada teman yang berdandan ala wak haji. Saya ditunjuk jadi kepala pasukan.
Nah, dari alun-alun Kabupaten slatan Kediri kita start, dan finishnya ya di alun-alun lagi. Waktu itu saya senang sekali karena penonton tertawa dan tepuk-tepuk melihat pawai sekolah kita. Waktu sampai kembali di alun-alun, saya dapat kabar, teman yang berpakaian wak haji hilang, dicomot sama kelompok Ansor di jalan Dhaha.
Celakanya, sebagai kepala romobongan saya dilarang meninggalken lapangan, padahal hari matahari sudah hampir tenggelam sore itu, dan saya siap kabur pulang ke Ngadirejo. Saya harus mempertanggung-jawabken hilangnya anggota pasukan. Waktu itu saya menyumpah-serapah. Tahu begitu, lebih baek saya nggak jadi kepala pasukan. Lantas saya ada harus menghadap Kodim, yang waktu itu markasnya ada di bekas sekolah Cina. Jadi, kalau jalan Dhaha habis di sebelah selatan, ada perampatan. Ada jalan ke sebelah Barat. Nah di situ markasnya Kodim.
Dari Pak Tentara yang ngenterogasi (ada empat biji alias dua orang), saya dengar, bahwa anggota pasukan saya yang diambil sama Ansor itu, diperkaraken karena menghina. Sudah pakaian wak haji, eee dia ada ngitung-ngitung duit pula. Apa saya ada tahu? Sebagai kepala pasukan, saya tokh musti tahu, dan mencegah hal-hal yang dapat menghina. Saya bilang, mana saya ada tahu. Wong saya barisnya paling depan, sedangken teman itu paling blakang. Mana lagi, mana kepikiran ngitung-ngitung duit begitu dapat dianggap menghina? Yang penting kan memeriahken suasana, bikin orang ketawa.
Setelah itu interogasinya merembet kekeanggotaan organisasi saya. GSNI dan PNI lah ditanya-tanya, seperti halnya kelakuan KAPPI di sekolah. Saya ya ada ndredeg, habis wibawanya Pak Tentara ada bukan maen. Namanya ya pak Integrator, luar biasa seksinya. Ya saya menyanyilah. Entah lagu apa yang saya dendangken kala itu. Saya nggak peduli lagi, apa yang saya ocehken itu merupaken pengkhianatan atow bukan. Pokoknya, saya cari slamat. Itu jelas dong. Dengan harapan bisa pulang. Mana lagi lapar.
Eee, setelah berjam-jam diinterogasi, lantas saya dipersilahken masuk sel. Di sana saya ketemu sama temen yang diciduk itu. Kami berdua lantas dikunci dari luar. Temen saya mencoba menerima nasib dengan enteng. Enak juga katanya, biasanya kita ngunci sendiri pintu kamar, eee sekarang kamar kita ada yang ngunciin. Cuma, setelah itu dia ada maki-maki: „Wong teman sendiri kok diculik.“
Maklum, teman saya ini aktivis Pelajarnya Muhammadiyah dan anggota KAPPI pula. Seingat saya, dia ini anaknya yang punya toko kain di jalan Dhaha, Kediri. Malamnya kita nggak bisa tidur. Perkaranya, kita dengar cerita dari penjaga sel, bahwa di sel itu ada yang gantung diri. Jadinya, semalam sibuk komat-kamit baca-baca ayat-ayat Qur’an, supaya tamu yang nggak dikenal jangan datang donk. Apalagi, menurut kepercayaan waktu itu, laskar Gay-30S pasti lah jadi genderuwo, dan yang Gerwani jadi wewegombel.
Keesokan harinya, kita dapet sarapan. Ceritanya, soto daging. Tapi, pas masuk mulut, lantas kita muntahken lagi ke piring. Bah, baunya busuk sekali, dan rasanya anyir. Baru ketahuan kalow itu makanan sisa. Teman sesel saya lantas mencoba menghibur diri, „Jangan-jangan soto dagingnya itu soto mayat komunis“.
Maka, waktu siang dikasih makan daging, kita berdua jadi pada sibuk meneliti daging yang disodorken. Daging Gerwani, apa daging hewani? Lagi-lagi kita nyumpah-nyumpah. Mau makan saja repot. Untungnya, pada malam harinya saya dibebasken. Ini semua berkat usaha mokap saya yang punya kolusi ke mana-mana. Sedangken teman saya harus ada mendekam seminggu lebih lama. Karena peristiwa ini, saya pun ogah politik-politikan. Saya kluwar dari GSNI, dan saya nggak masuk KAPPI
MAHASISWA ITB, 1970 T: Setelah menjadi mahasiswa ITB, satu-satunya pengalaman yang anda catat dalam tulisan anda adalah tentang pembunuhan Rene Louis Conrad tahun 1970. Bisakah anda ceritakan kembali peristiwa ini? Mengapa peristiwa ini sangat mengesankan bagi anda?
J: Mengesanken karena waktu itu terlihat kecenderungan bagaimana tentara mulai menyapu kawan-kawan se-gengnya. Di kalangan mahasiswa ITB kala itu, memang ada rasa ketidak puasan terhadap militer. Apalagi, kita benci sama kurikulum Wajib Latih Mahasiswa (Walawa). Mana waktu di SMA sudah militer-militeran, kok sekarang dipaksa mengenaken baju ijow. Apalagi kita sengaja pengen kursus jadi insinyur, supaya nggak jadi tentara kok.
Lantas, janji-janji Orde Baru buat memperbaiki Orde Lama itu ternyata cuma rayuan gombal doang. Militer mulai merajalela. Lantas, bokap saya digeser sama jenderal. Nah, menjelang peristiwa Rene, ada razia besar-besaran yang dilakuken oleh pihak kepolisian terhadap mahasiswa berambut gondrong. Yang melaksaneken operasinya adalah Akabri Polisi (entah dulu namanya apa) yang sedang praktek.
Jadi, di jalan-jalan mahasiswa digunduli. Keadaan jadi tegang. Rencananya, mau diadaken rekonsiliasi. Jadi Akabri Polisi maen bal-balan melawan ITB. Cuma dalam kesempatan itu mahasiswa Bandung ada balas dendam. Mahasiswa dari perguruan laen pun pada datang, seperti Unpad dan Unpar. Ada yang bawa gunting segala. Lantas mereka mengejek-ngejek, minta digunduli.
Tentu, AKABRI Polisinya jadi sewot, marah, lantas mengeluarken pestol segala. Lantas mereka diusir kluwar kampus. Eee ndak tahunya mereka manggil balabantuan. Brimob pun datang. Yang sial itu si Rene. Dia nggak nonton bal-balan, tapi keliling kampus, show of force dengan sepeda motor Harley Davidsonnya. Di depan kampus, pas ada ribut-ribut, eeee Rene lewat situ. Dia ada didor-dor segala.
Lantas kabarnya, mayatnya dibuang ke atas kendaraan polisi begitu saja, kemudian ditaruh di gudang. Katanya, kalow langsung dibawa ke dokter, mungkin dia masih bisa hidup. Ini yang menyulut kemarahan para mahasiswa ITB. Waktu peristiwa dor-doran begitu saya sudah ngacrit kabur dengan Vespa saya. Saya kos di jalan Purnawirawan kalow nggak salah. Dekat ITB juga.
Lantas, setelah itu kita demonstrasi besar-besaran. Kita nyegatin oplet. Kalow ada tentara yang naek, kita tanya, „Bayar enggak?!“ Kalow nggak bayar, kita usir. Polisi yang markasnya di jalan Dago pun pada ngacrit. Mereka sembunyi semua. Panser-panser yang dikerahken menghadang demonstranpun kagak berdaya apa-apa. Luar biasa massa yang turun ke jalan. Untuk menjaga segala kemungkinan, saya demonstrasinya di tengah-tengah.
Setelah terbunuhnya Rene, baru ketahuan, kalow yang ngedor Rene katanya adalah Akabri Polisi itu. Cuma, karena dia anak Jindrol, maka yang dikorbanken adalah krucuknya Brimob itu. Makanya, di pengadilan — waktu itu yang jadi advokat Abang Biyung Nasution kalow nggak salah — para mahasiswa ada sorak-sorak, menyaksiken ketidak adilan yang sedang dipentasken itu. Akhirnya, anggota laskar Brimob yang dikorbanken itu dipecat dan masuk bui. Karenanya, para mahasiswa ITB lantas bikin solidaritas buat anggota laskar Brimob ini. Mereka pada mengumpulken sumbangan buat anak istrinya. Orde Baru sudah menampakken kebauannya.
JERMAN BARAT 1980-AN T: Bung menulis artikel itu dua puluh tahun setelah peristiwa pembunuhan massal dan setelah bermukim di Jerman Barat cukup lama. Apa yang mendorong Bung menulisnya?
J: Sampai artikel itu diturunken, saya aktif di PPI Cabe (singkatan Cabang Berlin) sudah tujuh taon. Kala itu PPI Cabe dinilai sebagai PPI ternakal di Jerman Barat. Yang mengheranken tentunya, perwakilan kita jadi mencak-mencak. Berbagai usaha perwakilan dan utusan-utusan dari Jakarta untuk ‘menjinakken’ PPI Cabe sampai saat itu gagal terus. Dari mulai bujukan kolusi, tawaran kerja, sampai ke gertakan halus ekstra sopan ala Timur dan tuduhan ‘komunis.’ Malahan, dari pendekatan-pendekatan persuasif ala hombreng ini, anak-anak nakal itulah yang selalu meraub rejeki. Mereka disodorin dan ditraktir santapan nikmat terus: udang, sate atow steak Argentina, plus rokok kretek dan rokok putih.
Sejak taon 1981 terdapat peningkatan kegiatan utusan Jakarta bergerak-gerik di Jerman Barat dan Berlin Barat. Staf Ahlinya Menmudurmud (Menteri Muda Urusan Pemuda) Abdul Gafur, ikut campur dan turun tangan sendiri, serta melancarken aksi-aksi sepihak seperti gertak sana dan gertak sini. Aksi sepihak, lantaran yang digertakin ya cuma anak-anak nakal melulu. Bahkan beberapa aktivis PPI diancam mau ‘dibuntungi’ segala dan tak sedikit yang diperkasai oleh Bakin-bakin. Pendek kata, kenakalan PPI Cabe kurang berkenan di hati para penguasa Republik.
Ini mungkin berkaitan dengan gebrakan-gebrakan NKK/BKK di tanah aer. Bersamaan itu digalakken pula aksi sepihak gapermen, yaitu menggelar Penataran P4. Dalam hal ini PPI Cabe selalu menolak diajak menyelenggaraken karena bertentangan dengan AD/ART PPI Jerman Barat. Itulah pasalnya, isu-isu pengkomunisan sebelonnya terhadap PPI Cabe jadi ngepas. PPI Cabe itu dituding anti-Pancasila dan komunis. Dalam gegeran ini, saya dianggap ‘paling seksi, paling bahenol atow paling sintal.’ Padahal semua tahu bahwa saya waktu itu adalah pemuda kerempeng dan tepos.
Sejak awal tahun 1983, perwakilan RI di Berbar alias Berlin Barat mengalami revolusi. Konsulat dirubah menjadi Konsulat Jenderal. Konsulnya bukan lagi pejabat Deplu, melaenken perwira menengah tentara dan Bakin. Kebijaksanaan barunya pun selalu bernafasken Kong Fu Lat. Gebrakan-gebrakannya bukan ala Timur, tapi ala Timor dan karenanya Konjen RI Berbar jadi Konjen RI Barbar.
Selaen itu, pertengahan taon 1982, iklim politik di Jerman Barat (juga Berbar) pun kebetulan berubah. Gapermen Partai Sosial Demokrat di bawah Kanselir Helmut Schmidt terjungkal. Diganti sama gapermen Kristen di bawah pimpinan Kanselir Helmut Kohl. Jangan heran, kalow umpamanya taon 83, Wakil Konjen Berbar bisa sesumbar bahwa gapermen Jerman itu Kristen, jadi „Kita bisa berbuat semaunya.“
Awal taon 1983 itulah Pak Bakin mulai nembakin usia paspor beberapa aktivis PPI Cabe, yang waktu itu biasanya berusia dua taon. Saya dan teman se-flat cuma dikasih perpanjangan paspor enam bulan, seorang teman laen dibonusin satu taon. Sebelon kita bertiga ditembakin paspornya, akhir taon 82, seorang aktivis PPI Berbar yang kebetulan mudik ke Tanah Jawa dan dianggap ‘seksi, sintal dan bahenol’, dicekal, dan nggak boleh kembali ke Berbar. Sementara dua kawan saya itu pada perpanjangan paspor di kemudian harinya dikasih normal kembali, saya terus dikasih enam bulan, yang akhirnya dicabut pada pada awal taon 1987.
Selaen nggebukin saya punya paspor, Pak Bakin (dan ini bedanya dengan sebelon-sebelonnya) turun tangan sendiri. Dia dan wakilnya ada ngoceh terus menerus, bahwa saya ini ‘komunis.’ Konsep mereka jelas: yang ‘paling seksi, paling bahenol atow paling sintal’ digrayangi dulu. Isu ini kebetulan ngepas, oleh sebab pertengahan taon 1983 saya kawin sama seorang putri mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Praha pada jaman Orla. Karena mertua dituduh mantan komunis, katanya, saya, wow, jelas ditunggangi sama roh jahanam itu. Mungkin Pak Bakin ini menduga mas kawin yang telah saya setorken itu berupa palu dan arit.
Perkawinan saya dengan putri mantan pejabat Orla ini ternyata juga membikin tidak sreg beberapa kawan aktivis. Maklumlah, kita bergerak-gerik itu harus super hati-hati, jangan sampai kita kena penyakit sampar komunis. Puncak dari pengkomunis-komunisan ini adalah munculnya surat pembaca di majalah PPI Cabe, yang menuntut penjelasan kedudukan saya yang sebenarnya. Itu lah pasalnya, beberapa kawan menghasut saya buat bereaksi. Menurut kawan-kawan, ‘pembelaan’ ini katanya perlu, demi mereka juga. Lantaran mereka pun mendapat rongrongan kurang sedap itu. Cara-cara Pak Bakin itu jelas bukan cara-cara PKI. Sejak itu, Bakin di Berbar bukan kesohor sebagai Barisan Komunis Indonesia, melaenkan Badan Koordinasi Intrik.
Tulisan itu, yang kemudian di-Inggerisken dalam majalah Universitas Cornell taon 85, tidak saya sukai. Ia diturunken karena keterpaksaan. Riwayatnya begini. Sehabis menulis buku ‘agak alamiah’ (komplit dengan nalar dan penularan) hikayat PPI Jerman Barat (termasuk PPI Berlin Barat), kawan-kawan se-geng mendorong saya buat menulis semacam ‘riwayat hidup’ saya dan gerak-gerik aktivitas di Berlin Barat. Naskahnya selesai taon 82, sudah dipereksa oleh kawan-kawan dan tinggal diketik kembali. Tapi saya tidak puas. Karena itu mulai saya garap kembali.
Adapun ‘riwayat hidup’ ini dimaksudkan sebagai pembelaan diri. Mencoba menjelasken proses sosialisasi mahasiswa/i Indonesiana di Jerman Barat dan khususnya di Berlin Barat. Juga sebagai ‘pembelaaan diri,’ bahwa PPI sebagai organisasi sosial-kontrol seperti yang termaktubken dalam AD/ARTnya. Dus, anggota-anggotanya adalah ‘warganegara.’ Maka adalah lumrah kalow anggota-anggotanya ngomong politik, terlepas ‘warna’ yang dimiliki masing-masing.
Seperti diketahui, mahasiswa/i Indonesiana yang studi di JerBar dan BerBar berbeda dengan yang di Amerika Sarekat misalnya. Rata-rata mereka melarat, harus mencari nafkah sendiri, kendati pun studinya gratis. Khususnya yang tak bisa menggantungken kiriman uang dari Indonesiana, mereka menerobos masuk ke kota-kota besar, seperti BerBar. Dengan harapan di situ mereka mudah mencari nafkah sambilan. Nah, di dalam kehidupan sehari-harinya itu muncul konflik-konflik yang tiada dinyana-nyana antara nilai-nilai bangsa kita yang ‘luhur’ dengan nilai-nilai masyarakat Barat yang katanya ‘bobrok’ dan berlangsung proses sosialisasi plus politisasi.
Jadi, tulisan itu sendiri, karena juga keterbatasan tempat di majalah Gotong Royong, tidak bisa komplit. Selaen itu, ‘riwayat hidup’ itu dimaksudken sebagai satu ‘pertanggung-jawaban.’ Artinya, kita yang ngaku-ngaku sebagai ‘warganegara’ dan ‘agen pembangunan’ perlu penilaien dunia luar. Sebab, sampai saat itu, perusahaan politik yang dibangun oleh gerak-gerik PPI Cabe tokh berada dalam jaman keemasan, sehingga semakin kelamlah kita punya kaca. Karena kita hidup di BerBar, maka otokiritiklah yang diharapken, dan dengan sikon BerBar, semestinya otokritik itu bisa dilakuken.
Lantas, alasan laen kenapa tulisan itu tidak saya sukai adalah dengan munculnya tulisan itu, berarti gagal lah proyek ‘Aufklaerung’ (pencerahan) yang pada awal gerak-gerik di PPI Cabe taon 1977 dicanangken. Tadinya diharapken dengan keberadaan kita di negeri bebas ini kita cuma berkeley soal pendapat doang. Terlepas, warna yang dimiliki orang. Karena, menurut saya, walowpun maling, pasti ada omongannya yang benar juga. Jadi, ngapain mempersoalken ‘warna’? Jadi, dengan munculnya tulisan itu, saya dipaksa untuk membuktiken diri dulu, bahwa saya bukan ‘komunis.’ Baru setelah itu, logisnya, orang mau dengar.
Ini artinya sama dengan tuntutan bahwa pendapat baru bisa diterima, kalow ‘cara-cara’ penyampaiannya benar atow ‘sosok penampilan’nya sopan dan jelas masih keTimuran. Maka, dengan munculnya tulisan saya itu, gagal pulalah impian saya. Sekaligus menyimpulken kepada saya beberapa konsekuensi tentang ‘kehidupan bermasyarakat.’
T: Setelah munculnya tulisan „Saya PKI atau Bukan PKI?!“ ini, bagaimana reaksi yang sampeyan terima?
J: Dari orang Konsulat justru saya tak mendengar apa-apa. Rupanya, mereka rada kewalahan. Mau menuduh saya PKI, ya mana tahan? Yang kacow balow justru reaksi dari anggota-anggota PPI sendiri (baek kawan maupun lawan) dan para mantan pelarian dari Eropa Timur (baek yang di Berlin Barat, Jerman Barat dan Blanda). Dari geng PPI saya ditanya, brapa orang yang sudah saya bunuh? Dari geng mantan pelarian komunis, saya ada disemprot malah dicaci-maki. Yang repot, ada kawan-kawan mertua yang ikut intervensi ke mertua
KILAS BALIK T: Kalau mengingat kembali semua yang sudah anda alami sejak tahun 65 sampai sekarang, apa yang sering anda renungkan? Dan menurut anda sendiri, pelajaran apa yang bisa kita tarik dari pengalaman itu?
J: Kok sulit sekali pertanyaannya? „Sampai sekarang“ itu maksudnya apa? Sampai ‘interogasi’ yang anda ajuken ini? Itu ada dua pertanyaan, renungan dan pelajaran. Saya jawabnya sekaligus saza.
Pertama, zaman itu cepat berubah. Yang dulunya jaya, cepat pula ambruknya.
Kedua, menurut saya pengalaman taon 65 itu buruk. Maka harapan saya adalah supaya peristiwa begitu tak terulang kembali. Saya mengataken tak terulang kembali, lantaran saya kuatir, bahwa kebijaksanaan Orde Baru saat ini bisa mengantarken kita ke pengulangan peristiwa lampow. Sebab Orde Baru selama ini tidak mendidik kita untuk berkehidupan masyarakat secara damai. Melaenken kita dididik mempertajam instik dendam. Cara-cara penuntasan masalah misalnya Tanjung Priok, Aceh, TimTim, Cina, Gereja, Petrus membikin saya kuatir. Cara-cara ini tak ada bedanya dengan cara-cara penumpasan terhadap Gay-30S. Dus, di bidang ini tak ada kemajuan.
Lantas, saya ambil kasus jaman Orla dulu. Ketika bokap diganyang PKI, kawan maen bal-balan saya yang anggota IPPI, onderbouwnya PKI, menjauhi saya. Kalow ditengok ke belakang, kelakuan ini apa bedanya dengan sekarang? Yaitu mempersulit trah mereka-mereka yang dianggap ada terlibat Gay-30S? Dus, kalow mau laen dari komunis yang ‘biadab’ itu, kita sewajarnyalah tidak memojokken mereka. Cara-cara begini hanyalah mempertajam dendam belaka. Bukan „Mikul dhuwur, mendhem jero,“ itu dalil Eyang Presiden. Tapi misuh dhuwur, mendem jeroane.
Orang Jerman, berusaha menanggulangi masa lampownya dengan cara membongkar-bongkar dan mempelajari sejarah serta menarik konsekuensinya. Saya sendiri tidak tahu, apakah cara-cara ini tepat diterapken di Indonesiana? Apakah mengungkit luka lama dalam kondisi kita yang serba cepat beringas itu — sementara tatanan masyarakatnya tak mengalami perubahan — bisa menghindari peristiwa lama itu terulang kembali? Orang Jerman beruntung, sebab dalam membongkar-bongkar luka lama, keadaan ekonominya bagus, tatanan masyarakat pun berubah dan mendukung. Kemakmuran dan perubahan tatanan masyarakat ini tokh membikin orang lebih tentram, dan berkepala dingin.
Agar peristiwa demikian dapat dihindari — misalnya kalow sebentar lagi Eyang Presiden jatuh — napsu balas dendam terhadap dia dan kluwarga dan gengnya harus dihindari. Bagaimanapun besarnya napsu kebencian terhadap Eyang Presiden, namun mesti ada kebesaran hati, misalnya buat menahan diri. Tidak mengulangi peristiwa Gay-30S. Kalow tidak begitu, kapan kita mengalami perubahan atow kemajuan? Nah karena itu, mustilah dimulai dengan mencoba tunduk kepada aturan maen.
Ketiga, dari pengalaman pribadi saya, menjadi pengkhianat atow penyanyi itu gampang. Soalnya tak semua manusia itu brani. Karenanya, mohon diampunilah para pengkhianat atow penyanyi atow intel. Yang penting adalah menciptaken suatu sistem atow iklim yang tak memerluken penyanyi atow intel.
Keempat, Indonesia itu bukan hanya negara Bhineka Tunggal Ika, melaenkan negara penuh dengan konflik. Saya rasakan itu sejak dalam keluarga saya sendiri. Maklumlah, Indonesia kan sedang mengalami proses ‘das Werden.’ Karenanya kita mesti blajar menanggulangi konflik-konflik itu. Cuma saya ada curiga, selama rejim sekarang berkuasa, sulitlah menjalanken proses ini. Soalnya, legitimasi rejim sekarang kan konflik, demi kesatuan dan persatuan.
Kelima, sampai saat itu PKI adalah partai legal. Makanya, waktu itu tak ada yang melarang orang-orang masuk PKI, seperti halnya saya masuk PNI. Maka, kalow anggota dan simpatisan geng komunis bisa mbludak, pertanyaannya pun musti dikembaliken, „Kok knapa bisa begitu?“ Itu kalow memang tidak dimaui komunis hidup. Maka, kalow tokh terbukti memberontak, musti dilalui prosedur hukum. Bukan membunuhi anggotanya dulu, baru pembuktian kemudian. Kalow ngomong siapa yang doyan brontak, ya Angkatan Darat pun demikian. Cuma selalu dibilang ‘oknum.’
Keenem, kalow sejarah dimengerti sebagai perkembangan, maka menurut saya semuanya juga punya andil dalam pembentukan Indonesiana. Perkembangan itu bukannya perkembangan di dalam negeri, akan tetapi Indonesiana sebagai bagian poleksosbud marcapada. Seperti kelakuan adikuasa, perang panas-dingin, dsb. Indonesia sendiri terbentuk karena penjajahan Belanda, yang juga produk kapitalisme dunia. Maka, ide-ide yang masuk ke tanah Indonesiana adalah produk-produk perkembangan kapitalisme dunia. Itulah pasalnya, menurut saya, komunismepun punya andil membentuk Indonesiana. Terlepas kita pro atow kontra sama ideologi ‘haram jadah’ itu.
Bahken, menurut saya orang macam Kahar Muzakar atow Kartosuwiryo pun punya andil. Bukan keinginan mereka berseparatis yang kita bedebah-bedebahin itu. Melaenken kenapa kok bisa terjadi pemberontakan-pemberontakan itu?
Ketujuh, ideologi-ideologi yang masuk ke Indonesiana kayaknya resep-resep yang sudah jadi, untuk mengusir penjajahan. Sedangken paham-paham itu sendiri merupaken jawaban terhadap tantangan yang dihadapi oleh tatanan masyarakat pada jamannya. Eropa untung, karena seiring dengan kelahiran paham-paham itu, tatanan masyarakatnya juga berubah.
Sedangken di kita, ide-idenya mungkin ‘revolusioner.’ Cuma tatanan masyarakatnya masih tatanan tradisional. Sehingga ide-ide itu seolah-olah menjadi pengganti ikatan lama. Kalow dulu, kluwarga, suku, agama, teman, yang menjadi ikatan geng, maka kini ide-ide itulah yang menjadi penggantinya. Saya dikucilken oleh teman bal-balan saya, oleh karena bokap saya musuhnya PKI. Komunis itu jadi geng, tapi bukan kumpulan persamaan ide, misalnya.
Udah dulu, ya!
T: Kok sudah? Ini semua penting kang! Tapi tentu kita ada terima kasih (Habis).

Sumber: WatchIndonesia.Org 

0 komentar:

Posting Komentar