HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Rabu, 30 Juni 2010

Beberapa Pendapat Berdasarkan Pengalaman akan Gerakan Wanita Revolusioner

oleh : Sulami

I. Berdirinya sebuah organisasi wanita revolusioner sangat diperlukan oleh gerakan revolusioner pada masa setelah perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan (1950), karena organisasi merupakan wadah dalam gerakan memperjuangkan cita-cita. Oleh karena itu wanita-wanita revolusioner yang kebanyakan pernah bergerak dibawah tanah selama pendudukan Belanda dan ikut serta dalam perjuangan bersenjata, berusaha untuk membangun suatu organisasi wanita revolusioner sebagai wadah untuk dapat menampung gerakan dan melancarkan perjuangan revolusioner dalam gerakan nasional untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan sejati bagi Tanah Air dan Bangsa.

Pada masa sehabis perjuangan bersenjata tahun 1945-1950 wanita-wanita revolusioner tidak puas dengan organisasi-organisasi wanita yang ada, seperti Perwari, Wanita Sosialis, Wanita Demokrat Aisyah, Muslimat NU, dsb. Tetapi tidak berarti organisasi revolusioner itu akan berjuang menyendiri, semua organisasi wanita termasuk organisasi istri-istri (AD, AURI, AL, AK)
masuk dalam wadah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).

Rasa kurang puas itu disebabkan beberapa faktor:
1. Kebanyakan organisasi wanita gerakannya terbatas soal-soal kewanitaan, ringan, monoton, tanpa risiko.
2. Hampir semua mempunyai program pendidikan, mendirikan sekolah-sekolah umum. Hal ini baik, namun bila terjadi hal-hal yang perlu diperjuangkan (secara politik), mereka tidak mau.
3. Mengenai hak-hak wanita. Tidak tergerak untuk membela wanita dalam kejadian sehari-hari umpamanya kasus-kasus perkosaan, poligami dan perkawinan anak-anak.
4. Tidak pernah ada aksi atau gerakan yang bersifat nasional secara bersama-sama.
5. Tidak mau membicarakan, apalagi mengadakan aksi menentang ijon di desa-desa, lintah darat, upah menuai padi yang sangat rendah, dan banyak problem kehidupan di desa dalam kehidupan wanita buruh tani yang sangat miskin.

Atas dasar pengalaman diatas, maka diluar organisasi wanita yang telah ada, dibentuk Gerakan Wanita Indonesia Sedar (GERWIS) sebagai organisasi wanita revolusioner yang segera mendapat sambutan hangat, terutama didesa-desa, dan cepat berkembang diseluruh nusantara (4 Juni 1950). Pendapat yang bisa kita simpulkan dari para aktivis dalam konferensi-konferensi kerja, kongres atau kursus-kursus kader antara lain sbb:

Dasar perjuangan wanita Indonesia adalah berdasarkan UUD '45, dimana kaum wanita dan pria memiliki hak serta kewajiban yang sama dalam perjuangan nasional untuk penegakkan kemerdekaan Negara dan Bangsa.

Wanita Indonesia bukan penganut faham Feminisme yang perjuangannya bersifat memusuhi kaum lelaki demi persamaan hak. Justru wanita Indonesia harus bersama-sama kaum laki-laki dalam perjuangan nasional yang telah ditetapkan sejak 1928 (Sumpah Pemuda).
Pendapat mengenai arti feminisme saat itu memang sangat dipengaruhi oleh ajaran Bung Karno yang tertulis dalam buku "Sarinah" -yang mengambil contoh perjuangan wanita Eropa sebelum Revolusi Perancis dan Amerika. Dan saat itu dunia juga belum menunjukkan gerakan wanita yang menganut Feminisme seperti tahun-tahun berikutnya. Pada saat itu kami di Indonesia masih bisa melihat wanita-wanita di Eropa, umpamanya di Swiss yang belum memperoleh hak-hak sepenuhnya seperti hak pilih, dan tidak dapat tanda tangan mengenai urusan finansial, hutang-piutang, dan sebagianya.
(Catatan: Penulis saat itu bekerja di GWDS Berlin, 1958)
Di Swiss tidak ada gerakan apa-apa. Di Basel (Swiss) wanita belum punya hak pilih. Dalam Kongres Wanita Itali, utusan Swiss menyatakan hal tersebut (1960). Di Indonesia, buku perjuangan Clara Zetkin dari Jerman dipelajari dan Hari Wanita Internasional (8 Maret) mulai dirayakan di Indonesia sejak di Istana, sampai di desa-desa. (walaupun dalam arti sempit. ??) Tetapi harus juga diakui bahwa gerakan membela hak-hak wanita di Indonesia makin menarik perhatian wanita secara luas. Terutama soal menentang poligami sebagai sisa sistim feodal.
Juga kaum lelaki ikut tertarik dan sering menghadiri ceramah-ceramah umum yang diadakan oleh organisasi. Ceramah-ceramah kadang-kadang berlangsung 4-5 jam termasuk tanya-jawab.

Pedoman ceramah pada dasarnya mengenai Perjuangan Naisonal yang harus didukung kaum pria dan wanita -perlu diorganisirnya perjuangan membela hak-hak wanita menentang poligami, pelanggaran moral, masalah hak waris, menentang kesewenang-wenangan, dsb. Soal hak-hak anak-anak, pendidikan keterampilan, PBH, TK Melati dsb. Bersatu dengan kaum tani miskin
meningkatkan kehidupan sosial kaum tani di desa-desa.

Ada sebuah pengalaman yang khas, tatkala Partai mengadakan gerakan pembersihan moral; Fungsionaris Partai tidak boleh poligami, tidak boleh memiliki tanah lebih, sehingga tidak dapat mengerjakan sendiri. Kader-kader wanita revolusioner yang terpilih ikut sibuk menangani perceraian secara damai. Sulit, tetapi bisa diselelesaikan berkat kesadaran dan kesetiaan yang tinggi para fungsionaris serta istri-istri yang bersangkutan. Banyak liku-likunya, selesai dengan perasaan mendalam, kegetiran hidup yang tiada tara. Meski demikian, tiada air mata yang mengiringi perceraian, karena kedua belah pihak telah sadar. Bagi kader yang bertugas, merupakan pengalaman yang tidak akan hapus dalam kenangan.

***

Pengalaman perjuangan yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sebuah gerakan yang hanya untuk membela hak-hak wanita tidak akan dapat menyelesaikan soalnya, bila tidak dibarengi dengan melawan sebab-sebabnya yang berakar. Yaitu sistim feodal yang masih tersisa di seluruh tanah air dan sistim ekonomi politik kolonialis dan kapitalistis.
2. Kolonialis Belanda mendukung RMS di Maluku dan OPM di Irian Barat. Gerwani mengadakan aksi-aksi menentang kenaikan harga kebutuhan pokok, menentang korupsi, tuan tanah dan setan-setan desa.
3. Pengalaman telah menunjukkan bahwa dalam gerakan tersebut tidak ada organisasi wanita lain yang ikut serta dalam aksi-aksi. Juga Kongres Wanita tidak pernah mempersoalkan pelanggaran hak-hak wanita, seperti kasus Attamimi, perkosaan serta pembunuhan di Jawa Timur, aksi-aksi tanah garapan di Tanjung Morawa, dsb. Semua aksi-aksi tersebut dilancarkan Gerwani dengan mengerahkan massa di mana-mana. Sidang Kongres Wanita untuk memprotes
Presiden Sukarno kami nilai sebagai aksi politik menentang kepemimpinan Presiden Sukarno.
4. Organisasi tidak setuju untuk menyebarluaskan protes tersebut dan jika diadakan pengambilan suara, kami tidak setuju. Akhirnya setelah perdebatan ramai dan diadakan schorsing, statement tidak jadi diadakan.

Pengalaman di atas menjadi pelajaran sbb;
a. Organisasi gerakan yang mempunyai tujuan luas secara nasional harus mempunyai pandangan luas pula, segala soal harus dilihat dari banyak segi, disesuaikan dengan keadaan konkrit pada masanya. Salah langkah bisa fatal akibatnya.
b. Berani menghadapi risiko. Pegangan pendirian yang kuat dan tidak mudah kena pengaruh.
c. Pengalaman baik atau buruk perlu disampaikan kepada aktivis di basis organisasi, sehingga semua yang terjadi dalam gerakan dapat dimengerti dan dijadikan bahan diskusi.
d. Suatu bukti, bahwa wadah organisasi revolusioner adalah mutlak.

II. Program perjuangan yang diputuskan oleh Kongres merupakan pegangan dari pusat sampai ke basis di desa-desa. pokok program adalah sbb:

1. Aktif dalam perjuangan nasional mencapai cita-cita revolusi Agustus 1945, kemerdekaan sejati, anti-feodalisme, kolonialisme dan imperialisme untuk mencapai terciptanya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
2. Membela hak-hak wanita, menentang poligami, penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap wanita, perkosaan membela hak waris, dsb.
3. Membela hak-hak anak-anak. Menentang kawin anak-anak, meningkatkan pendidikan, memperluas TK "Melati", gerakan PBH (Pemberantasan Buta Huruf) sedari anak-anak sampai orang dewasa.
4. Bekerja sama dengan organisasi-organisasi lainnya dalam hal perjuangan meningkatkan kehidupan kaum tani. Menentang pemerasan di desa-desa.
5. Meningkatkan kehidupan sosial budaya, ekonomi dengan aktif meningkatkan gerakan-gerakan yang semakin meluas, baik di pusat maupun di daerah.

Secara konkrit aksi-aksi tersebut antara lain adalah:

1. Aksi tanah di Sumatera Utara, Tanjung Morawa.
Wanita tani dipimpin Ny. Maesi, ketua Cabang Gerwani ikut berbaris di depan untuk menghalangi traktor yang akan meratakan tanaman kaum tani. Aksi ini dipimpin oleh Barisan Tani Indonesia (BTI) tahun 1955. Baik dari tentara, yang main tembak, maupun dari kaum tani sama-sama jatuh korban. Pentraktoran berhenti menunggu panen dan semua masalah dirundingkan dengan Pemerintah dan Pihak Perkebunan.

2. Aksi tanah di Jengkol (Kediri, Jawa Timur) pada tahun 1957. Juga alat negara main tembak. Banyak yang luka, wanita yang meninggal seorang, bernama Sundari. Yang luka banyak. Ada seorang wanita yang ikut delegasi menghadap Pemerintah Pusat.

3. Aksi-aksi menentang penggusuran tanah ladang dan tempat tinggal terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dsb. Karena aksi bersifat massal, maka seringkali yang ditangkap dan dipenjarakan juga bersifat massal. Seperti pernah terjadi di Jombang, Kediri, di Nganjuk lebih dari 600 orang, di Sragen sampai 400 orang, di Pati 200 orang, Kudus dan Jepara kl. 300 orang masuk penjara. Semuanya dibebaskan setelah Pemerintah Pusat dan Wakil-wakil DPR Pusat turun tangan dengan meninjau lapangan dan penjara-penjara. Demikian pula di Indramayu, Jawa-Barat, rata-rata separuh jumlahnya adalah wanita. Berkali-kali utusan DPP Gerwani, DPD dan cabang-cabang meninjau para tahanan untuk bertemu wicara dengan wanita tua-muda yang masuk penjara, bahkan ada beberapa yang pengantin baru, seperti di Kudus (terlihat dari bekas rias wajah dengan cukuran dahi sesuai tradisi Jawa). Juga suami-suami mereka masuk penjara. Daerah aksi tanah di Jepara sangat khas. Masuk ke daerah aksi tidak mudah. Melalui sungai dan hutan, memakai kode berantai sepanjang jalan untuk menentukan apakah yang datang itu kawan atau musuh aksi. Sesudah melalui menara penjaga di puncak pohon Jati yang besar sebagai penjagaan terakhir, maka kami melewati sungai dan sawah-sawah, yang membentang luas dengan tanaman padi yang menghijau. Tetapi ada tiga petak memanjang kosong yang memanjang dengan ujungnya jauh tidak tampak nyata."Mengapa kosong tidak ditanami?" Jawabnya, "Itu milik tuan tanah. Kami petani di sini tidak sudi menggarapnya. Dia musuh kaum tani yang suka berteman Polisi Hutan, Polisi Negara, dan Tentara yang memusuhi kami. Biarlah tumbuh rumput dan mereka makan rumput, mereka memasukkan teman-teman kami ke dalam penjara sampai beratus-ratus. Silahkan ibu tengok teman-teman kami dipenjera. Dengan bantuan keluarga, kami bisa menemui mereka yang masih dalam penjara". Meski tersirat kegetiran hidup, tetapi wajah mereka tampak tetap bergairah tegak menyala. Mereka memandang puncak matahari di atas hutan Jati. Disanalah terpancang benang-benang emas yang menentukan kemenangan aksi mereka mempertahankan tanah garapan.
Seluruh rakyat desa terikat erat dalam kesatupaduan jiwa. Tiga bulan penjara tidaklah lama. "Dua bulan lagi teman-teman akan bebas dan mereka akan kita sambut dengan pesta hasil panen tanah garapan ini, di tempat mereka diadili secara massal di Balai Desa".

Terjadi pula "aksi bongkok" terhadap kepala desa yang sewenang-wenang terhadap warganya.
Menarik uang sokongan untuk diri sendiri, jatah koperasi dikurangi, memalsu warisan tanah, memaki-maki rakyatnya sampai memukul warga, tidak pernah memberi sokongan. Suatu saat penduduk lelaki dan wanita sepakat untuk melakukan "aksi bongkok". Kepala Desa tersebut diikat dan digotong rame-rame dibawa ke kantor Kecamatan. Diserahkan kepada Pak Camat beserta surat protes serta tuntutan kaum tani agar kepala tersebut diganti. Pak Camat bijaksana. Tuntutan diterima. Setelah diperiksa, Kepala Desa tersebut dipecat lalu diadakan pemilihan kepala desa baru. Namun aparat hukum menganggap rakyat Desa Singopadu, Sragen, Jawa-Tengah tersebut main hakim sendiri. Akibatnya ratusan orang ditahan. Setelah dari Pusat campur tangan, kaum tani yang ditahan tersebut dibebaskan (terjadi pada th.1963).

Agak merata aksi-aksi bagi hasil secara sepihak, yang memaksa tuan tanah memberi bagian kepada kaum tani penggarap lebih banyak, yang tadinya 40% menjadi 'maro' atau 50 %.Dalam aksi-aksi tanah ini, menimbulkan rasa permusuhan antara pemilik tanah dan kaum tani penggarap yang pada umumnya tergabung dalam BTI dan Gerwani. Rasa permusuhan itu berlanjut sehingga menimbulkan rasa dendam. Bila kini (tulisan dibuat thun 1992) mencari tokoh-tokoh aksi itu, sudah banyak yang mati, terutama menjadi korban pembantaian pada tahun 1965. Mereka telah menjadi rabuk perjuangan.

4. Aksi-aksi mengganyang setan desa dan setan kota mengikutsertakan beberapa organisasi massa revolusioner. Perlu diketahui, bahwa tidak semua anggota ormas revolusi itu komunis. Kebanyakan setuju dengan aksi itu dan mau ikut. Mereka adalah kaum buruh tani, pemuda, dan lain-lain. Para aktivis, kader serta pengurus ormas revolusioner tidak semuanya komunis, tetapi setuju dengan perjuangan organisasi. Dan pimpinan yakin, pada akhirmya mereka banyak yang masuk Partai.

5. Aksi kenaikan harga di Jakarta dan di banyak kota sudah tentu tidak dikehendaki oleh Pemerintah. Pimpinan organisasi dipanggil dan mendapat kecaman (kritik), mengapa harus demonstrasi, menurut pendapat mereka, cukup usul pakai surat saja. Seperti halnya demonstrasi-demonstrasi 'basmi korupsi dan O.K.B (Orang Kaya Baru)' ke Kejaksaan Agung, diperingatkan oleh Pemerintah secara tajam meskipun tidak ada penangkapan.

6. Aksi protes kepada Pemerintah Jepang (di depan Kedutaan Jepang di Jakarta) soal intervensi ekonomi. Dalam demonstrasi ini Pemerintah mengambil tindakan dan menangkap lebih dari 50 orang (tahun 1958), tetapi tidak lama dibebaskan.

7. Aksi protes terhadap kecurangan Sondy (India) pada waktu Asian Games di Jakarta (tahun 1957) di muka Hotel Indonesia. Ditengahi oleh Adam Malik, saat itu sedang meniadi Dubes Indonesi untuk Sovyet Uni. Beliau sanggup menyelesaikan, karena Sondy tidak ada di Hotel tersebut.

8. Aksi menentang intervensi AS di Indonesia -- demonstrasi (1957) tidak mendapat hambatan. Karena kantor Kedubes AS tutup, massa langsung ketempat kediaman Dubes. Wakil massa ditemui oleh Dubes AS, Jones. Semua surat protes dan tuntutan diterima dan dijanjikan untuk dilangsungkan ke Pemerintah AS. Tidak ada yang ditahan. Demonstrasi ini berjalan tenang tanpa diuber oleh Tentara, seperti halnya ketika demonstrasi di muka kedutaan Jepang.

9. Dalam melaksanakan program ceramah-ceramah organisasi di Kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia, juga menghadapi larangan-larangan dari Aparat Pemerintah setempat. Setidak-tidaknya harus berhadapan dengan polisi. Larangan itu timbul karena sebelumnya sudah ada prasangka jelek. Terutama sejak garis NASAKOM dilancarkan oleh Pemerintah Presiden Sukarno (sejak sekitar 1960), maka ada saja kerewelan-kerewelan dikalangan alat-alat pemerintah di daerah. Tidak berani menentang secara terang-terangan, tetapi merintangi dari segi pelaksanaan. Umpamanya pelarangan ceramah karena izin resmi sering diberikan mendadak, walaupun permohonan sudah diajukan seminggu sebelumnya. Sering dilarang memakai pengeras suara, tidak boleh bicara tentang poligami atau menyinggung perasaan orang lain. Dan masih banyak persoalan lain, sedangkan teks pidato diminta terlebih dahulu sebelum ceramah. Banyak larangan, tetapi, jika diminta larangan tersebut secara tertulis, pemerintah setempat menolak.

10. Aksi-aksi yang melanggar adat umumnya tidak terdapat, karena sebelum mengadakan aksi, organisasi mempelajaria adat setempat terlebih dahulu dengan penuh perhatian.
Umpamanya: peristiwa Attamimi, seorang warga negara keturunan Arab di Pesuruan, Jawa Timur. Ia memperkosa dan membunuh seorang gadis di Malang. Pengadilan pertama diadakan di Situbondo, Besuki, Jawa Timur. Daerah ini fanatik Islam, sehingga organisasi sangat perlu hati-hati. Tidak mengerahkan massa setempat, hanya rombongan delegasi dari DPP dan DPD yang datang, dengan jumlah lima orang. Ketika kami (anggota delegasi) berjalan lewat lorong kampung, di depan rumah wanita-wanita usia 40 tahun keatas, mereka bersikap tidak bersahabat, mengucapkan doa sambil menutup pintu. Ternyata di situ penduduknya banyak keturunan Arab, sedang yang kami tuntut hukuman mati (Attamimi yang memperkosa dan membunuh) adalah keturunan Arab (Hadramaut, Saudi Arabia). Sedang di daerah itu belum bisa terbentuk ranting oraganisasi. Ranting yang ada hanyalah di sekitar pabrik-pabrik gula, di mana buruh-buruhnya kebanyakan pendatang dari lain daerah.
Tawaran anti-poligami ditolaknya, karena dianggap anti-Islam, karena Islam membolehkan poligami hingga empat. Yang mereka tidak mengerti ialah, bahwa boleh kawin sampai empat tetapi syarat-syaratnya sangat berat. Sesudah melalui pengajian-pengajian dijelaskan keterangan dalam Al Qur'an. Baru mereka sadari dan di daerah fanatik ini akhirnya terbentuk ranting-ranting dan cabang, walaupun tidak secepat di pulau Jawa perluasannya.

11. Aksi-aksi yang langsung mengenai kepentingan wanita rumah tangga. Kaum ibu yang tidak bekerja di kantor, pabrik, perkebunan tembakau, dll, umumnya hidupnya tergantung suami. Kalau suami mempunyai penghasilan tetap, meski tidak cukup, ada yang dijagakan untuk belanja hidup. Kalau kebetulan suaminya aktivis organisasi, jelas bahwa rumahtangganya selalu kekurangan, jika istri tidak membantu usaha. Oleh karena itu kader-kader wanita organisasi harus jeli dan pandai mencari jalan pemecahan. Banyak yang dapat dilakukan, umpamanya melalui pendidikan ketrampilan, membuat baju renda untuk anak-anak seperti di Jepara, membuat bahan lurik seperti di daerah Klaten, berdagang kue-kue, menjadi agen koran, cocok tanam yang produktif, membuat lumbung-lumbung paceklik, mengumpulkan beras secara jumputan (tiap hari satu jumput -pengambilan dengan tiga jari, Jempol, telunjuk, jari-tengah). Sekali terbuka jalan, mereka akan terus berkembang. Suami-isteri saling membantu. Pertentangan kecil-kecil dapat diatasi, kalau tidak dapat selesai, minta bantuan kader-kader lainnya.

12. Khusus pada saat Partai mengambil sikap tegas terhadap kader-kader fungsionaris atasan dan bawahan mengenai penyimpangan moral, benar-benar telah membuat kesibukan luar biasa. Sebelum diadakan tindakan konkrit, dibicarakan dahulu matang-matang. Kader-kader wanita pun siap membantu. Ini merupakan gerakan anti-poligami dalam tubuh organisasi yang kenyataannya tidak mudah dilaksanakan. Tidak cukup waktu satu bulan untuk satu kasus. Perceraian antara suami-istri merupakan hal yang menyangkut persoalan hati, perasaan, persoalan anak dan pengorbanan besar. Beberapa contoh dapat dikemukakan, antara lain:

a. Didaerah Jawa Timur ada seorang fungsionaris masih muda, kaya dan bekerja sebagai Carik Desa. Dia mempunyai dua isteri. Yang pertama punya anak empat, tidak aktif dalam organisasi tetapi menjadi anggota atas permintaan suaminya.
Isteri keduanya memang aktivis, pandai berpidato dan berorganisasi. Karena program organisasi anti-poligami, dia sadar bahwa dia bersalah menjadi isteri kedua. Timbulnya pertentangan batin yang hebat menyebabkannya sering sakit. Ketika ada instruksi dari Pusat bahwa meskipun saling cinta, isteri kedua harus dicerai, maka dalam pelaksanaan selalu diundur-undur dengan alasan sakit. Setelah beberapa bulan dibantu kader atasan untuk menyelesaikan, kebetulan ada Konferensi Kerja organisasi se-Jawa Timur dan dia harus ikut mempersiapkan, suami mengantarkan dengan memboncengkan sepeda kemana ia pergi karena belum sehat betul. Alhasil perceraian tertunda-tunda. Penulis yang bertugas memiliki akal dengan cara membuat cerpen setengah fiktif. Isteri muda diceritakan sakit pingsan hingga masuk Rumah Sakit.
Sedang suaminya dikritik teman-temannya dengan menyimpulkan bahwa dia harus menceraikan isteri mudanya kalau tidak mau dipecat Partai. Akhirnya disepakati untuk cerai dengan baik-baik. Suami tetap fungsionaris dan bekas isteri muda tetap aktivis organisasi wanita dan lebih bebas berbicara anti-poligami. Ketika Bu Carik yang muda membaca cerpen tersebut di harian
Rakyat, maka ia sadar dan meminta agar bersama-sama dengan suaminya ke Penghulu untuk menyelesaikan perceraiannya. Legalah semua kader yang bersangkutan.

b. Ada sebuah kisah lainnya. Perceraian dengan isteri muda yang justru mempunyai empat anak, sedang isteri tua tidak mempunyai anak. Kedua wanita tersebut aktifis. Meskipun suaminya berpangkat tinggi dalam pemerintahan, dia terkena disiplin. Dan mereka mempunyai kisah hidup yang unik. Dalam masa perang gerilya, karena dua-duanya satu rumah, maka anak-anak diasuh bersama, bahkan dengan isteri tua lebih dekat, karena isteri muda aktif dalam organisasi sehingga sering bertugas keluar rumah. Sedang yang tua sebagai pendamping suami, sering menonjol, jadi tidak begitu aktif dalam organisasi. Disiplin telah menjatuhkan pilihan kepada isteri pertama untuk tetap menjadi Ibu pejabat. Sedang isteri kedua dicerai dengan membawa anak bungsu yang baru berusia 7 bulan. Sementara ketiga anak lainnya tetap diasuh ayah dan ibu tua.
Riwayat demikian memang menyedihkan. Maka organisasi wanita menampung persoalannya dan membantu agar bakas isteri muda tadi tidak frustrasi. Dicarikan pekerjaan dilain kota dan dibimbing agar tidak dendam. Ia menyadari bahwa menjadi isteri orang yang sudah bersuami adalah suatu kesalahan dan ia harus menanggung risikonya. Perceraian semacam itu banyak terjadi. Ada yang mulus, tetapi ada pula yang tidak. Tetapu pada umumnya, meskipun berat, para fungsionaris itu patuh kepada disiplin Partainya. -Kecuali 1 orang yang memiliki nama baik, memililih dipecat dan di-recall dari DPR pada tahun 1963-. Dengan disiplin keras dalam pengalaman itu, maka wanita merasa aman untuk menjadi isteri orang Partai.

III. Pengaruh perjuangan terhadap kehidupan pribadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
i. Suami-isteri sama-sama revolusioner, sama-sama aktif.
ii. Suami seorang revolusioner, sedang isteri bukan, atau belum.
iii. Suami-isteri didukung oleh keluarga.
iv. Suami isteri dalam perkawinan tidak didukung sepenuhnya oleh keluarga.

Uraiannya sebagi berikut:
1. Perjalanan hidup dalam rumah-tangga banyak liku-likunya. Kalau keduanya sama-sama aktifis revolusioner, tidak terdapat ribut-ribut soal meninggalkan rumah karena tugas, saling pengertian serta ada kebanggaan tersendiri mempunyai suami atau isteri maju, aktif, pandai, tangkas dan sehat yang menjadi idaman setiap kader, sehingga kekurangan-kekurangan kecil dapat diabaikan. Namun hal ini juga tidak daphttp://www.facebook.com/editnote.php?draft&note_id=401955294505&id=1548436043at seratus persen mulus, ada saja yang rewel, meskipun sudah sama-sama revolusioner. Hal ini.dapat dimengerti karena sisa-sisa feodalisme itu masih ada, maunya saling cari enak. Tetapi meski ada pertentangan, tidak sejauh hinga cerai. Jarang terjadi perceraian, meskipun kaya ataupun punya kedudukan tinggi.

2. Suami atau isteri belum atau bukan orang revolusioner. Keduanya harus berani berkorban perasaan. Pernah terjadi, pulang rapat tidak bukakan pintu rumah. Masing-masing perlu kesabaran yang besar. Kalau wanitanya orang biasa, kesulitan akan bertambah, karena biasanya menjadi isteri pencemburu. Suatu ketika ada laporan suatu kasus, bahwa seorang isteri aktifis akan masuk sumur, jika suami terus-menerus meninggalkannya untuk rapat. Ketika suaminya marah dan berkata kalau ia tidak bisa dilarang rapat, kalau isterinya mau masuk sumur, dipersilahkannya. Isterinya menangis sambil mengumpat bahwa suaminya sudah tidak mencintainya lagi dan berarti sudah punya pacar lain. Suaminya meminta bantuan kader wanita yang lebih atasan agar bisa menasihati isterinya. Ketika ada kunjungan ke daerahnya, ia meminta kader wanita tersebut untuk menginap dirumahnya. Semula isterinya menerima dengan cemberut. Tetapi kader wanita tersebut mencoba untuk dari hati kehati dengan wawancara pribadi tentang keluarga, ekonomi, dsb. Dengan pengalaman beberapa kali kunjungan, setelah tiga bulan, isteri tersebut mulai sadar dan mengerti mengapa suami sebagai orang perjuangan harus sering meninggalkan rumah. Bagaimana menarik isteri menjadi anggota organisasi wanita atau tidak merintangi suami ternyata lebih mudah dari pada sebaliknya untuk menarik suami agar tidak merintangi isterinya menjadi aktifis.
Pengalaman pada umumnya membuktikan bahwa di Indonesia kedudukan suami adalah kepala rumah tangga. Ia wajib mengatur, membiayai, bertanggung-jawab sepenuhnya dan menghidupi isteri dan anak-anaknya.
Istri yang kader wanita, kalau tidak ada kemampuan untuk mengungguli suami, kedudukannya menjadi lemah. Meski alasan pertama adalah saling mencintai dalam keluarga, kalau tidak didukung oleh hal-hal lainnya, umpamanya, pengetahuan, ekonomi, ketrampilan, cinta bisa menipis. Karena suami tidak punya landasan ideologi yang sama, apalagi kalau berideologi lain, lebih sulit bagi sang isteri. Oleh karena itu diantara kawan lelaki dan wanita ada solidaritas untuk saling menjaga, meskipun ada kalanya ada penyelewengan moral, baik didaerah maupun di pusat,
3. Perkawinan yang didukung oleh keluarga sangat baik. Bagi suami istri pejuang dapat lancar bertugas, karena jika ada anak, sewaktu meninggalkan rumah dapat dititipkan kepada neneknya, yang tidak akan merintangi perjuangannya. Sebaliknya, jika tidak didukung keluarga, tidak mendapatkan restu, maka keduanya harus berani mandiri, berkorban perasaan, militan, dan berani menghadapi segala kesulitan.
4. Proses menyadarkan keluarga yang tidak mendukung perkawinan suami atau isteri yang revolusioner akan memakan waktu lama. Kadang-kadang sudah punya dua anak pun belum bisa diterima oleh keluarga. Perjuangan intern keluarga adalah perjuangan yang melelahkan, perjuangan merubah fikiran yang tidak mudah. Paling tidak kader yang ditentang harus dapat menuniukkan bukti bahwa dirinya menganut faham dan organisasi yang baik. Segala tindak tanduknya harus tidak tercela, syukur bisa menjadi contoh. Barulah mereka yang anti akan lunak, bagaikan gunung es yang mencair. Lebih berat lagi jika yang ditentang itu kader wanita. Untuk itu kader wanita harus berprestasi baik, bermanfaat bagi orang banyak dan tetap tegar dalam perjuangan. Baru mereka yang anti akan menyadari dan mengucapkan: "Itu bagus, saya tidak mengira". Soal penderitaan, kelelahan, ejekan dan berbagai macam kesulitan banyak
dialami kader wanita karena tradisi tanah air menghendaki wanita tempatnya dibelakang, mengurus suami dan anak. Hal-hal di atas pernah dijadikan tema dalam suatu Seminar Wanita Rumah Tangga yang diadakan oleh Gerwani pada akhir tahun 1963.

IV. Kesadaran tumbuh dan berkembang dengan tempaan dalam perjuangan kaum wanita Indonesia pada umumnya mengenal riwayat pendekar wanita 'Ibu Kartini'. Sejak jaman penjajahan Hindia Belanda, hari Kartini 21 April diperingati. Selanjutnya mengenal karya Bung Karno 'Sarinah', maupun buku-buku tentang pahlawan dan pejuang-pejuang wanita lainnya. Tulisan-tulisan S.K. Trimurti banyak membantu mengenal perjuangan wanita. Hanya wanita-wanita di pedesaan dan daerah terpencil mengenal para pejuang wanita itu baru semenjak adanya organisasi revolusioner memasuki desa dan pelosok, karena kebanyakan wanita tidak bersekolah. Pengenalan lebih lanjut dengan tokoh wanita internasional yang kemudian diperingati setiap tanggal 8 Maret sebagai Hari Wanita Internasional dengan tokoh Clara Zetkin.

V. Perjuangan bersenjata melawan penjajahan Belanda pada periode 1945 hingga 1949 selama clash ke I dan ke II (1947-1949) wanita-wanita ikut serta.
Demikianlah tahun 1950 sudah matang untuk terbentuknya sebuah organisasi wanita revolusioner. Perkembangan kader wanita menjadi kiri, tengah atau kanan sangat ditentukan oleh tempaan perjuangannya, aktivitas maupun lingkungannya. Asal klas kadang-kadang tersisih karena banyak yang asal klas borjuasi kemudian tertempa menjadi pejuang revolusioner. Jadi mutasi klas bisa terjadi. Sebaliknya, yang asal klas buruh kecil dalam keadaan materi ekonomi menjadi bagus, tidak jarang yang beralih menjadi keluarga yang mirip feodal atau OKB dan pilih-pilih dalam menerima tugas organisasi. Sejarah Perkembangan kader memang panjang hingga bisa memiliki dedikasi penuh, militan dan tidak mengabaikan tanggung-jawabnya dalam rumah tangga.

VI. Baik kader maupun anggota biasa mempunyai naluri keibuan yang sama-sama mencita-citakan membina rumah tangga yang tenteram, serasi dan bahagia. Hal ini bisa diselenggarakan jika suami-isteri utuh sefaham dalam membentuk keluarga revolusioner, tidak banyak pertentangan. Jika masuk sesuatu organisasi, tentu memilih yang gerakannya maju dan membela kaum wanita serta anak-anak yang tertindas. Mereka merasa aman dalam ikatan suami-isteri bila menjadi anggota organisasi wanita revolusioner. Karena jika ada celakanya, ada yang membela. Juga suami merasa tidak enak bila menyeleweng, karena takut diramaikan. Selain itu, mereka juga merasa bahwa isterinya akan setia karena dibina organisasi. Jadi kedua-duanya merasa terlindungi. Suami atau isteri dapat mengadu kepada organisasi jika salah satu kurang beres.
Mengurus suami, anak, orang tua dan lain-lain diterima sebagai kewajiban seorang ibu. Jika isteri bisa menyampaikan persoalan rumahtangganya kepada suami, meskipun anak banyak, bisa diatur pekerjaan rumah tangga dengan bantuan suami. Dalam rumah tangga pada umumnya, jarang suami mau membantu isteri, seolah-olah dibawah martabatnya. Dalam keluarga yang revolusioner, jika isteri bertugas, bisa dibantu teman sesama organisasi untuk urusan rumahtangganya. Sering timbul juga kesulitan. Kalau tidak bisa diselesaikan antara suami dan isteri, bisa dibawa ke organisasi untuk dipecahkan dan diatasi. Hidup seorang ibu rumah tangga merangkap aktivis dan kader, memang tidak seperti wanita biasa. Mereka harus berani menghadapi kesulitan ganda dan memecahkannya secara kolektif. Jika pertentangan memuncak hingga diambang perceraian, dengan bantuan pemecahan dari organisasi, maka seringkali bisa membatalkan niat cerai setelah berunding secara tuntas.

VII. Pemimpin organisasi revolusioner pada umumnya memang wanita-wanita pejuang pada jamannya. Terbentuknya GERWIS merupakan fusi dari tujuh organisasi wanita yang memiliki sejarah heroik melawan Belanda, baik sebelum perang kemerdekaan maupun selama perang bersenjata melawan Belanda th 1945-1950. Dalam perang atau damai mereka tetap berjuang aktif. Pada tanggal 4 Juni 1956 terbentuklah Gerakan Wanita Sedar (GERWIS) di Semarang, dipimpin oleh Ibu SK Trimurti, Sri Panggian, Umi Sarjono. Tris Metti, dan lain-lain.
Program perjuangannya meliputi hak-hak wanita serta hak-hak anak-anak dan perdamaian, dalam negara yang merdeka dan masyarakat yang adil sejahtera. Dalam perkembangan selanjutnya, sebagian ingin perubahan nama Gerwis, agar lebih mencakup wanita pada umumnya lebih luas. Pada tahun 1951, pada Kongres di Surabaya (Ke-1) secara prinsip disetujui, tetapi karena tidak bulat, perubahan nama ditunda hingga Kongres berikutnya tahun 1954 di Jakarta, yang kemudian berubah menjadi Gerwani. Masa setelah itu, mengenal perkembangan gerakan nasional melawan kolonialisme, imperialisme dan feodalisme lebih dipacu.
Tahun-tahun selanjutnya mengalami perjuangan politik dengan garis NASAKOM, yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno, dan lahirlah Undang-undang Kepartaian dan Keorganisasian tahun 1965. Ada ketentuan bagi organisasi massa untuk berafiliasi dengan partai yang seiring programnya. Suasana politik ditanah air semakin hangat. Terjadi pengelompokan sesuai NASAKOM.

VIII. Dalam pergolakan politik selanjutnya, setiap organisasi wanita memilih
Partai Politik yang menjadi pelindungnya. Kalau Wanita Marhaen memilih Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan Muslimat NU memilih Nahdhatul Ulama (ketika itu sebuah Partai), maka bagi Gerwani tidak ada jalan lain kecuali memilih Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedang dalam PKI sudah ada Wankom (Wanita Komunis-ed). Pertentangan didalam organisasi sesunguhnya sudah ada sejak Kongres I di Surabaya, dalam menentukan perubahan Gerwis menjadi Gerwani. Juga pergantian Ketua dari SK Trimurti ke tangan Suwarti, menimbulkan debat sehingga ada mosi tidak percaya dari beberapa cabang. Pemecahannya, soal ganti nama ditunda hingga Kongres berikutnya (1954). Ibu Trimurti tampak pasif dan pada tahun 1957 mengundurkan diri dari kepengurusan, bahkan pada konferensi kerja tahun 1957 di Jakarta, dia mengundurkandiri sebagai anggota Gerwani.
PKI tidak ada pertentangan terutama didaerah-daerah. Karena pada hakekatnya, semua kader menerima garis Nasakom. Dengan argumentasi, bahwa PKI selalu menyokong gerakan wanita revolusioner, terutama dalam aksi-aksi. Maka dengan Pemilu 1955, calon-calon wanita yang dari Pengurus Gerwani, masuk dalam tanda gambar PKI (Palu Arit).
Soal gerakan feminisme tidak pernah masuk dalam agenda diskusi, rapat dan konferensi, atau Kongres. Di Indonesia, arti istilah ini tidak ada dalam bentuk organisasi wanita. Yang ada organisasi wanita sosialis yang berhaluan kanan, anti kepemimpinan Bung Karno. Partai Sosialis sendiri tidak massal, tetapi banyak kader-kadernya kaum intelektuil lulusan Universitas (UI) dan memegang kunci posisi penting dalam ekonomi. Bung Karno tidak pernah menindak tegas musuh-musuh politiknya.
Hanya ketika nyata-nyata mengadakan kerjasama untuk menggulingkan Presiden Sukarno, dan surat kabarnya setiap hari menyerang pemerintah, maka tindakan dilakukan terhadap tokoh-tokohnya seperti Syahrir, Subagio Sastroutama, Maria Ulfah Santosa, dan sebagainya.

IX. Dalam perjuangan di lapangan, apa saja bagi kader-kader pelaksana lapangan yang terasa sangat menggembirakan adalah suksesnya pekerjaan. Baik itu mengenai peluasan organisasi, aksi-aksi di desa dan kota, aksi-aksi dengan bekerja sama dengan organisasi lain, umpamanya aktif dalam perjuangan merebut Irian Barat (1962), Dwikora (Konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964/65), membantu TNI dalam menumpas pemberontakan PRRI-Permesta (1957/58 ), RMS (1956), DI-TII (tahun 1951). Kerjasama dalam memperingati hari-hari besar nasional, seperti hari Kemerdekaan 17 Agustus, hari Buruh (1 Mei), hari Kebangkitan Nasional (2OMei), hari Kartini 21 April, hari Wanita Internasional (8 Maret), hari Ibu 22 Desember, dan sebagainya. Juga dalam menyambut tamu-tamu agung untuk Sidang Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955), Festifal Film Asia-Afrika dalam Front Nasional DPR/DPRD, DPA, Kongres Wanita, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat nasional.


Mengenai hari Wanita Internasional, Kongres Wanita tidak menyetujui dirayakannya. Gerwani merintis mengadakan kerjasama untuk peringatan tersebut dengan beberapa organisasi wanita yang setuju, dengan mengadakan wadah koordinasi Badan Kontak Gerakan Massa Wanita, dengan tokoh-tokoh Ratu Aminah Hidayat (Panitia Perdamaian), Aruji Karta Winata (PSSI-Wanita), Ny Maruto Nitimiharjo (Wanita Murba) Ny. Mandagie (perorangan), dsb. Peringatan diadakan di Gedung Olah raga dan di Istana Negara, dengan sambutan Presiden Sukarno (tahun 1963).


Keberhasilan tersebut, meskipun melampaui banyak rintangan, merupakan hal yang menggembirakan. Dengan banyaknya kegiatan, maka organisasi Gerwani cepat meluas sampai ke desa-desa. Beberapa tahun menjelang 1965 organisasi memang sangat disibuki oleh latihan-latihan sukarelawati (sukwati Dwikora) yang diadakan bersama organisasi-organisasi wanita lainnya dengan dukungan Pemerintah, Front Nasional, dengan training centre oleh masing-masing organisasi. Sebelum itu, dalam rangka Trikora, organisasi mengirim sukwati-sukwatinya ke Irian Barat, dan untuk Dwikora ke Kalimantan Barat dan Riau.


Yang paling menyedihkan adalah tragedi 1965, pada saat organisasi sedang mekar-mekarnya. Pada saat itu, beribu kader wanita tanpa mengetahui sebab-musababnya, di desa dan kota, terkena akibat G30S, dibantai tanpa ampun. Partai dan ormas revolusioner hancur. Ratusan ribu tewas, disiksa sampai mati, dipancung, dipicis (umpamanya di Boyolali), ditembak dan dibunuh secara massal. Jutaan keluarga revolusioner menjadi korban kebiadaban. Mereka adalah orang-orang tak bersalah, tidak mengerti seluk beluk politik atasan (pusat). Air Bengawan Solo, air Sungai berantas, menjadi merah karena darah korban, berhari-hari mayat hanyut di alur Bengawan.


Kebiadaban tersebut dikutuk di banyak bagian dunia, kecuali mereka yang setuju atau mendukung Pemerintah Orde Baru, diktator militer Suharto bersama teman-temannya. Seandainya memang partai Komunis membuat kesalahan, namun pembantaian terhadap segenap angggota serta simpatisannya adalah diluar hukum manapun. Pembantaian jutaan manusia adalah pelanggaran berat HAM (Hak Asasi Manusia).


Fitnah merajalela. Jalan sejarah diputar-balikkan oleh 'ahli sejarah' yang mengabdi pada kekuasaan militer. Semua jasa para korban dalam melawan penjajahan Balanda dan fasis Jepang, serta perang kemerdekaan dihapuskan. Bintang-bintang jasa sudah tidak berarti bagi mereka yang dianggap terlibat G30S, segala yang berbau revolusioner atau 'kiri' dimatikan.

Terjadinya tragedi nasional membuat nama Indonesia tercemar di dunia, dan terus timbul kekerasan, kerusuhan, pemerkosaan, yang tidak henti-hentinya. Bagi kita para korban, yang pernah tersiksa dan sengsara, tidak boleh putus asa. Hidup perlu diperjuangkan. Generasi muda perlu mempelajari dan mengetahui sejarah masa silam yang sebenarnya, yang ditulis secara jujur, agar generasi penerus tidak salah menilai. Penulisan yang sebenarnya menjadi
beban para pelaku sejarah yang masih hidup. Sedikitnya, bisa memberi fakta dan data pada pakar sejarah, agar penulisan sejarah menjadi benar. Umpama saja, aksi-aksi tanah yang terkenal di Tanjung Morawa, Sambi Boyolali, Jengkol (Kediri), perlu diketahui yang sebenar-benarnya. Pengorbanan kaum tani untuk mempertahankan tanah garapan bisa kita ikuti dari masa ke masa hingga saat ini. Meski kalah, mereka tercatat dalam sejarah yang sekali waktu akan terungkap secara jujur.

*Sulami adalah mantan Sekretaris Jenderal Nasional Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), saat ini menjadi salah seorang pendiri dari LPKP '65, Lembaga Penelitian Korban Pembantaian '65


Sumber: SekitarKita 

Jumat, 25 Juni 2010

Napak Tilas Tapol


JAKARTA, 25/6 - NAPAK TILAS. Eks tahanan politik (tapol) Bedjo Untung (kiri), bersama rekannya memberi keterangan sejarah kepada para aktivis dan penduduk setempat saat menggelar napak tilas di bekas salah satu lokasi kerja paksa dan tempat penyiksaan tapol 1965-1979, di kawasan Babakan, Tangerang, Banten, Jumat (25/6). 


Napak tilas eks tapol di kamp konsentrasi ladang kerja paksa Tangerang itu digelar dalam rangka memperingati Hari Anti Penyiksaan Internasional yang jatuh tiap 26 Juni. FOTO ANTARA/Ismar Patrizki/ss/pd/10.


AntaraFoto 

Sabtu, 05 Juni 2010

Buah Tangan Bujang Parewa


Sabtu, 5 Juni 2010 | 11.01 WIB | Oleh Iwan Komindo*)
Nusa Kambangan, 1979
“Kita segera bebas,” bisik Ragil. Kumis tebalnya menggelitik daun telinga Bujang Parewa. “Ah… geli ah,” gerutu Bujang Parewa seraya mundur beberapa langkah dan menggosok-gosok daun telinga.
“Aku serius! Kita dapat amnesti internasional. Tahun 1979 ini seluruh tahanan dapat ampunan,” lanjut Ragil meyakinkan. Dia tetap berbisik.
Kali ini matanya membelalak menatap Bujang Parewa dalam-dalam guna mempertegas kabar yang dibawa itu benar adanya. Sejurus kemudian, wajahnya yang keriput dimakan usia clingukan menyapu segala arah. Bola matanya berkeliaran memeriksa keadaan.

Mereka berdua, sekamar di Lembaga Pemasyarakatan Candi, Nusa Kambangan. Meski usia bertaut jauh, keduanya berkawan akrab. Persamaan nasib membuat dua laki-laki ini kerap berbagi dalam banyak hal.

Empat belas tahun sebelumnya, paska hura-hara September 1965, Ragil tercerabut dari akar sosialnya. Lurah yang sangat dihormati di Jogjakarta itu ditangkap oleh tentara atas tudingan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Begitu pula Bujang Parewa. Aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ini ditangkap bulan Desember 1965 saat berusia 15 tahun. Kala itu dia masih duduk di kelas 3 SMP.

***

Senin hingga Sabtu, tahanan politik di Nusa Kambangan dipaksa bekerja. Ada yang menjadi kuli kasar membangun ini dan itu. Ada yang berkebun menanam berbagai sayur-mayur, umbi-umbian dan aneka pohon berbuah. Hari Minggu mereka dapat jatah libur.

Selain rutinitas itu, tahanan juga kebagian piket jaga malam. Tugasnya selain mengontrol keamanan juga memastikan gardu listrik tetap beroperasi dengan baik. Piket jaga malam ini dibagi bergiliran. Dalam seminggu, seorang tahanan kebagian sekali.

Lain halnya dengan Bujang Parewa. Dia piket malam dua kali dalam seminggu. Bukan karena tambahan hukuman, melainkan menggantikan tugas Pak Ragil yang sakit-sakitan. Sebetulnya Pak Ragil tak pernah meminta tolong agar tugasnya digantikan. Bujang Parewa-lah dengan kesadaran penuh menawarkan diri.
“Bapak istirahat saja. Tak baik berjaga malam.”
Di kamar itu Bujang Parewa dipercaya sebagai palkam-sebutan untuk kepala kamar. Dialah yang bertanggungjawab atas apapun yang terjadi di kamar yang dihuni 21 orang tahanan politik dari berbagai kota.

Bila melihat orang tua berambut putih itu kedinginan dan batuk-batuknya kumat di malam hari, Bujang Parewa seringkali berbagi selimut. Tak hanya itu, dia juga kerap memijit Pak Ragil.

Semua dilakukannya dengan senang hati. Tanpa ada embel-embel apapun. Bujang Parewa selalu ingat dengan nasehat ibunya yang mengingatkan agar selalu ikhlas melakukan apapun dan senantiasa membantu orang yang butuh pertolongan.

***
“Nih…ada titipan surat buat kamu Parewa,” tutur Pak Ragil seraya menyodorkan secarik amplop berbungkus rapi. Parewa sedikit terheran-heran, “dari siapa ya?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Surat itu disambarnya dan dipatutnya lama-lama. Setelah dibolak-balik beberapa kali, surat itupun dibuka perlahan.
Melalui surat, Pak Ragil rupanya menceritakan segala yang dialami di Nusa Kambangan kepada keluarganya di Jogjakarta, termasuk kisah tentang perlakuan Bujang Parewa. Hal itu diketahui Parewa ketika membaca surat yang dikirim Sri, anak perempuan Pak Ragil.

Beberapa hari kemudian, saat hendak berkirim surat ke Jogja, Pak Ragil bertanya,
“Parewa, mau nitip surat ndak buat adekmu di Jogja?” “Oiya, tentu. Tunggu sebentar,” sahut Parewa.
Hari demi hari telah berlalu. Senin hingga Sabtu tahanan tetap melakukan rutinitas seperti biasanya. Nguli dan berkebun. Minggu libur. Hanya saja kini Parewa punya tambahan kerjaan baru, yakni berbalas-balasan surat dengan Sri. Surat yang dikirimnya selalu satu amplop dengan surat Pak Ragil. Dalam satu amplop dua surat. Begitu pula surat datang dari Jogja.
Satu amplop untuk dua orang, Pak Ragil dan Parewa.

Kini, Parewa sudah tahu paras Sri lewat foto yang dikirim. Gadis yang duduk di kelas 3 SMA itu berparas ayu, menurut Parewa. Keayuan Sri-lah yang menginspirasi Parewa melukis sekuntum bunga di sehelai kertas. Lukisan itu dikirimkan ke Jogja berikut kata-kata penuh rayuan tentunya.

Bukan main senangnya hati Sri menerima kiriman lukisan itu. Bunga itu membuatnya berbunga-bunga. Di tempat terpisah, Parewa-pun berbunga-bunga. Padahal, semenjak kecil Parewa tipikal orang yang tak berani berhadapan dengan perempuan. Jangankan menggoda, bertegur sapapun dia tak bernyali.

Semasa sekolah dulu, tiap berpapasan dengan perempuan dia selalu merunduk. Di jalan, bila berpapasan dengan perempuan di persimpangan jalan, dia memilih menyimpang. Hal itulah yang memunculkan sindiran dari teman sebaya: Parewa jumpa perempuan lansung ciut ibarat kerupuk disiram air.

***

Di Nusa Kambangan banyak hal dipelajari. Penjara tak ubah universitas. Di sinilah Parewa berjumpa Hendra Gunawan, maestro senirupa tanah air yang bersahabat dengan pelukis Affandi. Parewa menaruh minat besar terhadap senirupa. Dia berguru kepada Hendra yang tak pernah pelit berbagi kepandaian.
“Tahanan PKI itu orangnya pintar-pintar dan tidak pernah pelit dengan ilmunya. Jadi, di sini, kalau mau belajar bahasa asing ada gurunya, belajar melukis ada gurunya…” begitu bunyi surat Parewa kepada Sri suatu waktu.
Bermacam hal terkait ilmu senirupa didulang Parewa dari Hendra Gunawan. Dia belajar melukis dan mengukir. Perkakas merupa seperti cat, kain kanvas dan pahat untuk mengukir didapat dari orang-orang yang membesuk.

Berkarya itu berhubungan erat dengan rasa. Setiap manusia tentu punya rasa. Rasa muncul karena pengaruh sekitar. Rasa dingin dan panas dipengaruhi suhu. Rasa jengkel maupun senang juga dipengaruhi hal-hal yang ada di sekitar. Pendek kata, setiap manusia tentu punya rasa. Rasa menangkap keadaan.

Saat muncul rasa ingin kencing, maka segera keluarkan. Muncul rasa ingin buang air besar, segera keluarkan. Kalau tidak dikeluarkan jadi penyakit dia. Begitupula berkarya, saat merasakan sesuatu, terbayang akan sesuatu langsung keluarkan. Tuangkan rasa itu menjadi sebuah karya. Kalau tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan jiwa. Jadi hidup ini sebetulnya perkara mengolah rasa.

Petitih itu didapatnya dari Hendra Gunawan yang terkenal dengan lukisan berjudul ‘Pengantin Revolusi’. Hendra adalah pelukis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebelum di Lekra dia pernah bergabung di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang didirikan S. Sudjojono pada tahun 1937.

Di zaman pendudukan Jepang, Persagi berusaha merealisir seni lukis Indonesia baru dengan semangat menolak estetika seni lukis Mooi Indie yang hanya mengungkapkan keindahan dan eksotisme saja.

Dengan semangat nasionalisme, Persagi ingin membawa seni lukis Indonesia pada kesadaran tentang realitas sosial yang dihadapi bangsa dalam penjajahan. Di samping itu, dia ingin membawa nafas baru pengungkapan seni lukis yang jujur dan empati yang dalam dari realitas kehidupan lewat ekpresionisme.

Tak ayal Persagi jika di ranah senirupa, Persagi ditempatkan sebagai pemberontak estetika “Mooi Indie” yang telah mapan dalam kultur kolonial feodal. Bagi mereka seni adalah implementasi dari perjuangan estetika yang mengandung moral etik kontekstualime dan nasionalisme.

Di Nusa Kambangan, sepertinya tidak beralaku pepatah siapa yang menabur angin dia yang menuai badai/siapa yang menanam dia yang memetik. Para tahanan memang diwajibkan berkebun dari hari Senin sampai Sabtu, tapi memanen tidak bisa sembarangan.

Karena lapar, lantaran minimnya makanan, tak sedikit tahanan yang diam-diam mencuri buah-buahan atau tanaman lainnya. Makanya Parewa membuat lukisan berjudul ‘Mencuri Tanaman Sendiri’.

Banyak pelajaran didapat Parewa di Nusa Kambangan, termasuk belajar melawan rasa takut terhadap perempuan. 
“Usia bertambah terus. Kalau gini-gini aja kapan punya istri. Jangankan punya istri, pacar aja nggak akan dapat,” pikirnya.
Ketakutan harus dilawan. Mulailah dia bergerilya memantau perempuan-perempuan di Nusa Kambangan. Aw…aw…pilihan jatuh kepada Ratih, anak gadis kepala sipir penjara. Ini dia perempuan paling cantik di sini…

Suatu hari, Kapten Heng, si kepala sipir memerintahkan Parewa menyapu dan mengepel rumahnya. Tak ada tahanan yang berani menolak perintah Kapten Heng. Jadilah Parewa ngesot melantai di kediaman sipir yang dikenal galak itu.

Kebetulan Ratih sedang asyik membaca di ruang tengah. Jantung Parewa berdebar-debar. Ratih tampak asyik dengan bukunya. Dalam hati, Parewa berpikir, ini saatnya mencoba keberanian dengan gadis paling cantik. Kalaupun ditolak tak apa, yang penting coba dulu. Ditolak sama gadis paling cantik apa salahnya.

Sambil ngesot tanpa menegadah sedikitpun, Parewa mendekati Ratih. Semakin dekat…semakin dekat…dan matanya tertumbuk pada betis bunting padi nan mulus. Parewa memberanikan diri menyentuh kaki itu dengan kain pelnya.
“Eh, maaf Neng,” Parewa berbasa-basi dalam kepura-puraan.
“Eh, nggak apa-apa,” Ratih menimpali.
“Nggak sengaja,” kali ini Parewa melirik ke paras Ratih nan aduhai.
Mata bertemu mata. Entah pelet apa yang dimainkan Parewa, bunga desa Nusa Kambangan itu meraih kedua tangan anak muda kita dan menariknya berdiri.
 Jangan-jangan bunga yang sedang mekar itu rindu akan sentuhan kumbang. Ratih memang kesepian. Dia tak punya teman sebaya.

Merasa dapat angin segar, Parewa langsung melontar kata, 
“Neng cantik sekali. Mau saya lukis?”
Rupanya sanjungan itu ampuh, kawan. Ratih tergoda.
“Boleh,” katanya tersipu malu.
“Saya pikir Neng sombong, ternyata tak hanya cantik, Neng juga baik hati,” lagi-lagi Parewa melempar rayuan maut. Ratih semakin melambung.
Sepi. Selain mereka berdua tak ada orang lain di rumah itu. Berbekal kertas dan pensil yang diberikan Neng Ratih, Parewa mulai berkarya.
“Hari ini sayalah manusia yang paling bahagia di dunia ini,” gumam Parewa sambil menggambar.
“Kenapa?”
“Bagaimana tidak? Saya bisa berlama-lama menatap gadis paling cantik yang pernah saya jumpai.”
“Ah, Akang bisa aja.”
Semenjak pertistiwa itu, Parewa sembuh dari sakitnya. Dia tak lagi canggung dengan kaum hawa. Makanya, ketika anak Pak Ragil menyurati, dia tak gamang sedikitpun menguntai kata-kata indah penuh rayuan.

***

Amnesti internasional menjadi topik utama. Buah bibir para tahanan politik Nusa Kambangan tak lepas dari itu. Angin segar itu menyejukkan hati Parewa. Dalam hati dia berpikir aku harus meninggalkan kenang-kenangan di sini.

Minggu, setiap hari libur Parewa berjalan sendirian ke Goa Ratu, di daerah Candi membawa perkakas ukir. Tanpa diketahui banyak orang dia membuat totem (memahat batu) di mulut goa. Kepandaian Hendra Gunawan telah turun padanya. Batu itu disulap menjadi tumpukan manusia dengan berbagai ekspresi wajah.

Wajah-wajah itu seolah menatap siapapun yang akan masuk ke goa. Ada yang melotot marah, ada yang berteriak sekeras-kerasnya, ada yang meminta belas kasihan dan lain sebagainya. Totem itu hidup. Sangat ekspresionis. Wajah-wajah itu menggambarkan perasaan orang-orang yang ditahan empat belas tahun di Nusa Kambangan tanpa pernah diadili.

Di Goa Ratu pula, Parewa menemukan dua buah batu mulia yang menurutnya punya kwalitas paling bagus. Yang satu digosoknya sampai mengkilat, satunya lagi diolahnya menjadi sebuah cincin. 
“Batu ini akan kuberikan pada Sri jika bebas nanti,” gumamnya dalam hati.
Namun sayang seribu kali sayang, totem itu belum rampung betul saat Parewa bebas. Dari Nusa Kambangan seluruh tahanan ditampung di Jogja selama dua hari, baru kemudian dipulangkan ke kotanya masing-masing.

Pak Ragil dijemput keluarganya. Sri ikut serta. Inilah kali pertama Parewa bermuka-muka dengan Sri. Tak sekadar bersalaman. Mereka berpelukan dan bertangis-tangisan. Batu yang memang sudah dipersiapkan diberikan kepada Sri.

***

Jakarta, Mei 2010

NB: Baru-baru ini saya nonton tivi. Kebetulan acaranya mengulas tentang Nusa Kambangan. Dan tivi itu menyorot totem yang saya buat dulu. Dalam siarannya reporter tivi menduga-duga kalau totem itu karya manusia goa yang hidup ribuan tahun lalu. Saya hanya bisa senyum-senyum di depan tivi. Bagaimana dengan Sri, nanti deh lain waktu saya ceritakan…

*) Penulis adalah jurnalis dan pencinta sastra. Seringkali dia dijuluki sebagai Pengabar Jalanan atau Si Tukang Dongeng.

Sumber: BerdikariOnline 

Selasa, 01 Juni 2010

Senandung Bisu 1965

 Ahmad Yunus

DI TENGAH kebun jambu mete, Leonardo Lidi, 57 tahun bersenandung. Nadanya terdengar lirih. Musik yang mengiringinya hanya bebunyian suara alam. Dari suara jangkrik hingga gonggongan anjing yang menyalak keras.
“Lagu ini diiringi dengan tabuh. Saya bisa mainkannya,” Katanya kepada saya. Udara terasa dingin. Nyamuk-nyamuk mulai menyedot darah di betis dan tangan. Leonardo Lidi memakai pakaian adat. Atasannya berwarna biru menyala dan memakai sarung tenun ikat.
Saya tidak mengerti dengan liriknya. Ia seperti merapal hendak menceritakan sesuatu. Saya mendengar lantunan dari suaranya yang tipis. Matanya menerawang menembus gelapnya kebun jambu mete. Lagu ini judulnya, Wohe Hoer atau Ratapan. Ia buat pada tahun 1965. Mengenang tragedi pembantaian orang-orang kampung yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Leonardo Lidi, ketika itu berumur 17 tahun. Ia tinggal di Rohe. Dan melihat dengan mata sendiri pembantaian dikampungnya. Ada 33 orang dikumpulkan di lapangan sepakbola. Dan algojo yang diperintah oleh tentara Indonesia melakukan ritualnya.
“Tangan mereka diikat dan kemudian dipotong kepalanya,” katanya. 
Masyarakat ketakutan. Banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan. Sembunyi dari kejaran tentara. Masyarakat tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Mereka tidak bersalah. Dan tidak ikut-ikutan politik. Mereka hanya petani biasa,” katanya. Tak jelas mengapa mereka diburu dan dibunuh. Tak ada pengadilan yang membuktikan mereka bersalah dan terlibat dengan PKI. Selain membantai dengan biadab, tentara juga membakar sekolah-sekolah umum.
Kini, Leonardo Lidi tinggal bersama suami dan kedua keponakannya. Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bilah bambu. Lantai tanah. Tak ada listrik yang menerangi rumahnya.
Mereka tinggal di Kampung Wolon Ratet, sekitar 15 kilometer dari Maumere. Dari jalan utama, saya turun ke sebuah lembah. Banyak pohon jambu mete dan sudah menutupi tanah. Rumah tinggalnya jauh dari tetangga. Dari puncak terlihat laut Maumere. Dan awan gelap menggantung di langit.
Ia mengingat peristiwa pembantaian terjadi pada 14 November 1965. Tiga hari kemudian, ia membuat lirik untuk mengenang peristiwa hitam di tanah Flores. Kejadian pembantaian ini juga menyebar di kampung-kampung lainnya. Ia mendengar langsung dari orang-orang kampung lain yang selamat. Banyak korban yang dibuang ke laut. Termasuk dikumpulkan dalam satu lubang.
“Saya angkat doa. Baunya sudah saya cium. Bau orang mati, memang,” katanya.
Menurutnya, jauh hari sebelum pembantaian, ada yang mendata nama. Mereka menulis nama-nama yang menerima bantuan makanan pokok, seperti beras, jagung dan minyak tanah. Tak jelas siapa, mengapa dan tujuan apa mereka menerima bantuan itu. Termasuk nama yang memberikan bantuan makanan pokok. Daftar nama penerima ini yang kemudian menjadi sasaran pembantaian.
“Algojonya tidak boleh meneteskan air mata. Jika tidak, mereka sendiri menjadi korban pembantaian oleh tentara. Mereka potong kepala harus satu kali. Seperti potong kepala ayam,” kata Daniel David, warga dari Maumere. Di kampungnya sendiri, dari pengakuannya ada sekitar 500 orang yang mati.
David, membantu dan ikut memberdayakan ekonomi masyarakat di Maumere. Dari mulai tenun ikat alami, mendirikan galeri tenun hingga membangun koperasi simpan pinjam. Saya mengenalnya sekitar dua tahun yang lalu. Ketika tinggal di Maumere dan membantu sebuah lembaga swadaya masyarakat.
David membantu menerjemahkan lirik lagu ini secara harfiah. Bait tiap bait dari lirik lagu itu.
[14 November 65. Pater Bolen meninggalkan Flores. Suhu politik lagi tinggi. Ia pergi ke Jerman. Kemudian terjadi musibah. Masyarakat terpecah belah. Tidak tahu kemana. Tidak tahu pegangan hidup. Mereka pergi ke hutan-hutan. Untuk mencari keselamatan diri.
Kami sendiri. Tidak tahu berlindung ke mana. Tidak tahu arah. Hanya kepada pastor dan kepada Tuhan. Ini jalan satu-satunya. Kami tidak tahu berbuat salah apa. Kemana orang-orang dibawa.
Kepada masyarakat yang masih punya telinga untuk mendengar dan mata yang masih melihat. Tidak tahu kenapa orang-orang dimusnahkan. Kepada siapa kami mengadu. Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan].
“Apa ada yang mencatat dan melakukan penelitian soal peristiwa ini di Flores?,” tanya saya.
“Setahu saya tidak ada. Di Watublapi ada tugu untuk mengenang peristiwa itu. Tapi tidak ada catatan sejarahnya. Saya mendengar langsung cerita dari kakek. Termasuk dari algojonya yang tersisa. Dan masih ada yang hidup,” kata David.
Siapa sebenarnya algojo itu? Apakah ia memang seorang eksekutor? atau orang suruhan yang diperintah oleh tentara untuk melakukan sejumlah pembantaian? Apakah algojo itu seorang pelaku atau korban yang mengalami intimidasi dan teror juga dari tentara?
Saya dan David berjalan ke Watublapi sekitar 18 kilometer dari Maumere. Jalan aspal kecil. Kiri kanan tumbuh pohon cengkeh dan asam. Sepi dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Kami naik motor menaiki daerah perbukitan. Gerimis turun dan udara jauh lebih dingin ketimbang di Maumere. Di Watublapi saya hendak bertemu dengan keluarga korban dan salahsatu eksekutornya.
Sebuah rumah kecil dan beberapa bunga hias tampak berjejer rapi di pekarangan. Rumah kecil dengan beberapa kursi kayu berada di beranda. Ini adalah kediaman Yan Jong. Seorang tokoh masyarakat dari Kanilima.
Paska proklamasi Indonesia tahun 1945 muncul istilah Kanilima. Singkatan dari KangaE, Nita dan Lio-Maumere. Mereka adalah warga masyarakat yang mendiami kerajaan Sikka dan kerajaan Nita. Warga masyarakat ini dibawah masa pemerintahan Raja Don Thomas (1925-1945).
Menurut Longginus Diogo, penulis buku “Kisah Kerajaan Tradisional Kangae Arade, Nian Ratu Tawa Tanah”(27/02/2009) mengatakan bahwa Kanilima adalah sebuah gerakan politis arus bawah. Mereka berjuang untuk membebaskan diri dari rezim feodal-otoriter. Membebaskan diri dari tindakan kekerasan, penindasan dan pemerasan. Kanilima hendak mengubah sistem pemerintahan dari dominasi Sikka agar lebih setara.
Gerakan ini muncul pada tahun 1947. Membangun basis dari satu desa ke desa lainnya. Beberapa tokoh masyarakat dari Kanilima ini antara lain barisan KangaE dipimpin Moan P. Y. Bapa dan Yan Jong, Barisan Nita dipimpin Guru Phiter Pedor dan Fr. Jati sedangkan barisan Lio Maumere dipimpin Guru Donatus Pale, G. Gego, P. Pango dan Frans Sari.
Orang-orang dari Sikka mayoritas menduduki posisi pemerintahan Raja Don Thomas. Kanilima menilai bahwa pemerintahan ini sisa bentukan dari Hindia Belanda. Ketegangan politik lokal ini kemudian pecah ketika terjadi peristiwa 1965. Tokoh Kanilima dari KangaE, Yan Jong dituduh sebagai komunis dan akhirnya meninggal dunia. Dan masyarakat di pedesaan yang menjadi basis Kanilima menjadi korban tuduhan komunis oleh pihak tentara.
Saya tidak menulis nama mereka yang menjadi korban dan eksekutornya. Saya mengantongi nama mereka. Namun mereka meminta agar saya tak menuliskannya. Keluarga dari Yan Jong, menilai peristiwa 65 sudah selesai.
“Itu masa gelap. Hukum tidak jalan. Cari jalan terang saja,” katanya kepada saya. Tubuhnya sudah ringkih. Tangannya bergetar dan bicaranya pelan. Tak mudah membangkitkan kembali ingatan pahit yang terjadi pada masa itu.
Keluarga korban memilih diam dan membenamkan ingatan pahit itu. Apalagi ketika masa Orde Baru dibawah Soeharto. Orang tak berani membicarakan tentang PKI. Apalagi mengusut kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh tentara. Dan keterlibatan Soeharto dalam peristiwa itu.
Soeharto menghanguskan setiap bentuk komunisme hingga akar-akarnya. Jutaan buku dan karya ia bakar. Tak berani ngomong. Apalagi menulis dari sudut pandang pribadi hingga era reformasi tiba. Dari 1998 hingga kini, banyak memoar yang kemudian terbit menjadi buku. Menceritakan secara detail mengenai pengalaman, ingatan dan pergulatan selama tirani Soeharto.
SAYA bertemu dengan banyak korban 65 di Bandung, Jakarta, Jogjakarta dan Semarang. Melakukan wawancara dan menulis tentang mereka. Ikut dalam diskusi sejarah dan mendengar banyak cerita. Mulai dari Oey Hay Djoen, elit PKI yang menguasai wacana ekonomi, Samsir Mohammad, sekretaris jenderal Barisan Tani Indonesia hingga anak keluarga dari Aidit.
Oey dan Samsir meninggal dunia ketika saya ikut dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Saya akan mengenang kehangatan, minum kopi dan diskusi soal kebangsaan dan sejarah republik ini.
Banyak diantara mereka, ada yang mau berbicara apa adanya. Banyak juga yang sudah melupakan peristiwa pahit itu. Keluarga korban menuntut hak kepada negara untuk memulihkan nama mereka. Dan menuntut keadilan terhadap para pelaku yang melakukan kekerasan dan kejahatan hak azasi manusia. Namun hingga kini tak ada pengadilan mengenai kekerasan 65. Dan membuktikan pelaku utama yang bertanggung jawab terhadap kekerasan dan intimidasi peristiwa tersebut.
“Yan Jong memperjuangkan kecerdasan bagi orang-orang timur. Mendirikan banyak sekolah. Dia juga bukan orang PKI. Tapi ini politik, saya tidak tahu persisnya,” kata seorang eksekutor yang saya temui tak jauh dari rumah keluarga Yan Jong. Usianya sekitar 70 tahun. Telinganya sudah samar-samar. Ia berbicara keras dan lantang. Beberapa kali menunjukkan posisi korban ketika pembantaian berlangsung.
Ia mengingat peristiwa pembantaian itu terjadi pada Februari 1966. Maumere dilanda musim kering panjang. Banyak tanaman pangan yang gagal panen. Ia bertugas sebagai eksekutor atau algojo nomor dua atas perintah tentara. Tentara mengumpulkan 10 anak muda sebagai algojo.
Tentara itu memberikan perintah bagaimana cara melakukan pembantaian berupa potong kepala dengan parang, cara mengikat dan mengikuti kode-kode penyerbuan. Mereka akan menjadi korban yang sama jika para calon korban berhasil melepaskan diri. Tentara akan mengambil lima orang korban tambahan sebagai penggantinya.
“Satu saya dan empat sisanya adalah keluarga,” begitu ancam tentara. Mereka juga mendapatkan latihan bagaimana mengikuti prosedur penyergapan. Tentara memberikan aba-aba berupa teriakan “ANJING!” dan kemudian para eksekutor menjawab “GILA!”.
Tentara ini menyebutnya sebagai “KOMOP” atau singkatan dari Komando Operasi Pemberantasan. Tentara ini mengikatkan kain berwarna merah di lengan dengan tulisan berwarna putih. Istilah “KOMOP” tak ada dalam pencarian mesin pencari Google. Termasuk sejarah peristiwa pembantaian di Maumere ini. Mesin pencari gagal mendeteksi kata “PKI”, “Komunis”, “Maumere”, “Komap”, “Flores”.
“Saya dapat jatah 10 orang. Saya tidak tahu jelas alasan mengapa mereka dibunuh. Mereka (Tentara) hanya mengatakan bahwa orang-orang itu terlibat PKI,” katanya.
Eksekusi dilakukan pada malam hari. Truk mengangkut 20 orang dengan kondisi diikat dengan tubuh mereka babak belur. Korban dalam kondisi lemah dan mengenaskan. Tentara menggunakan besi panas dan kemudian menyabet korban di bagian punggung.
Wajah korban lebam akibat pukulan. Ia tak mengenal siapa yang menjadi korban itu. Dan lubang dengan panjang dua meter, lebar satu meter dan kedalaman dua meter sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Suasananya gelap sekali. Suaranya ngeri. Kita tidak tahu orangnya (Korban). Banyak dari Dobo, Moropiring, Baubatun,” katanya.
“Dari peristiwa itu tak ada kabar sampai sekarang. Tidak ada penjelasan. Saya pernah antar dua orang mahasiswa dari Jakarta. Mereka orang Flores dan menanyakan pada Kodim alasan dan peristiwa pembantaian itu. Jawabannya, ini rahasia negara,” katanya.
Mahasiswa itu tak menemukan jawabannya. Dia juga harus memendam peristiwa paling pahit sepanjang hidupnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Termasuk ketika ia terpaksa harus mengikat kakaknya sendiri. Dan kemudian menyerahkannya pada aparat tentara.
“Saya minta jangan terulang lagi kasus 65 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM?,” katanya.
Paska pembantaian di Maumere pada Februari 1966, terjadi kekeringan panjang dan kelaparan. Tidak ada beras, jagung maupun ubi yang bisa ditemukan. Banyak pencurian hewan ternak.
LEONARDO Lidi adalah seniman sejati dan mengenang peristiwa kelam itu melalui lagu. Banyak karya berupa lagu dan tarian. Ia sering diundang untuk acara-acara tradisional di Maumere. Mulai dari perkawinan hingga acara kematian. Baik oleh masyarakat maupun pemerintah Kabupaten Sikka. Namun, kehidupan ekonominya jauh dari sejahtera. Ia dan suaminya hanya mengurusi kebun kecil dan sebagian tanahnya menjadi jaminan pegadaian.
Daniel David membantu untuk merekam semua hasil karyanya. Dan kemudian direkam di dapur rekaman. Ia bersama seniman musik lokal di Maumere menyanyikan kembali lagu-lagu milik Leonardo Lidi. Dan berharap rekaman lagu itu laku keras dan bisa membantu ekonomi keluarga Leonardo Lidi.
Tahun 1965 adalah tahun yang kelam. Dan pelanggaran hak azasi manusia yang sistemik sepanjang sejarah Indonesia. 12 ribu orang tanpa pengadilan dibuang ke kamp Pulau Buru. Dan diperkirakan dua juta orang lebih mati. Berdasarkan hasil penelitian Robert Cribb dalam bukunya The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Kejadian pembantaian terbesar terjadi di Jawa dan Bali. Peristiwa ini menjatuhkan Soekarno dan dua tahun kemudian, Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia.
Soeharto melalui pemerintahan Orde Baru-nya melarang setiap bentuk yang berkaitan dengan komunisme. Mulai dari buku hingga lagu. Militer membakar buku-buku karya macam Pramoedya Ananta Toer. Dan hingga kini, paska reformasi, pemerintah Indonesia belum mencabut ketetapannya yang melarang komunisme (TAP MPRS NO 25 Tahun 1966). Termasuk melakukan rehabilitasi, pemulihan dan bantuan terhadap keluarga korban.
Satu-satunya presiden Indonesia yang meminta maaf terhadap peristiwa kelam itu adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia berasal dari Nahdhatul Ulama. Salahsatu organisasi Islam di Indonesia.
Spanduk-spanduk anti komunisme juga masih menjalar di kota-kota besar macam Bandung. Saya sendiri menyaksikan sebuah peristiwa sweeping oleh organisasi masyarakat dan menutup diskusi buku di Toko Buku Ultimus. Mereka menganggap diskusi ini hendak menumbuhkan komunisme. Beberapa panitia dan peserta diskusi diperiksa oleh polisi. Sebelumnya di Bandung, saya juga melihat langsung pembubaran diskusi tentang sejarah Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia.
“Banyak yang menangis ketika saya menyanyikan lagu Wohe Hoer,” kata Leonardo Lidi. Keluarga korban mengenang peristiwa pahit dan mencekam itu.
“Pemerintah atau tentara tidak melarang lagu itu,” tanya saya.
“Tidak. Mereka hanya mencatat lirik lagunya,” katanya.
Flores jauh dari Jawa. Namun mengapa pembantaian juga terjadi di Flores? Sejauhmana pengaruh PKI di sini? Bagaimana persisnya peristiwa pahit ini terjadi di Flores? Mengapa tidak banyak penelitian mengenai pembantaian di Flores? Apakah peristiwa kelam di Rohe itu tidak tercatat dalam sejarah mengenai peristiwa 1965? Bagaimana gereja melihat peristiwa pembantaian itu? bagaimana hubungannya dengan PKI? Mengapa gereja tidak bisa menahan pembantaian di Flores?
Benedict Anderson, seorang peneliti tentang nasionalisme dan dikenal sebagai Indonesianis mengatakan kepada Radio Netherland, 28 september 2005. Ia memberikan komentar atas pernyataan maaf dari Gus Dur kepada orang-orang yang dikatakan komunis. Termasuk memberikan analisis tentang pertanyaan saya itu.
Banyak pembunuhan berlangsung di pedesaan. Seperti yang terjadi di Dobo, Moropiring, Baubatun. Daerah ini jauh dari pusat kota, Maumere. Menurut Benedict, di kota jauh lebih aman ketimbang berada di pedesaan.
“Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores. Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah, melihat laporan tentang ini,” ungkap Benedict Anderson.
Pemerintah Indonesia lebih dari seperempat abad melarang kedatangan Benedict Anderson karena pendapatnya soal G30S. Ia peneliti senior dari Cornell University, Amerika Serikat. Hingga kini, ia mendesak kepada organisasi-organisasi agar lebih terbuka dan jujur mengungkapkan peranan mereka pada pembunuhan massa paska G30S.
Saya mengingat ketika Hindia Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende pada tahun 1933. Ende adalah sebuah kota kecil di Flores menghadap laut. Kotanya tenang. Di tanah ini, Soekarno merumuskan Pancasila. Salahsatu silanya berbunyi, Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pancasila menjadi dasar negara Republik Indonesia. Namun mengapa, pembantaian itu justru melukai dasar kemanusiaan yang menjadi ruh bagi republik ini.
Saya dan Farid Gaban melakukan perjalanan. Melihat banyak realitas dari Sabang hingga ke Merauke. Dan republik ini menumbuhkan nasionalismenya dengan jalan banyak kekerasan dan ketidakadilan. Kemiskinan dan kebodohan menjadi akut. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya menjadi sila yang tak bermakna.
R.A.F Webb dan Steven Farram dalam bukunya “Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur” mengatakan bahwa studinya tentang komunisme di Nusa Tenggara Timur atau NTT, harus memahami masalah kemiskinan dan nilai sosial budaya. Pulau Flores dan kebanyakan pulau lain di wilayah Indonesia Timur tergolong terisolasi. Dengan kondisi geografis yang kering. Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga di Nusa Tenggara Timur dalam kondisi miskin.
Namun bagaimana potret kemiskinan di Nusa Tenggara Timur? Saya tidak ingin terjebak dalam wacana kemiskinan. Kemiskinan memiliki ukuran tersendiri. Khususnya dalam melihat standar kehidupan dasar manusia. Seperti hak pada kesehatan, pendidikan, air, tempat tinggal yang layak, misalnya.
Dua tahun yang lalu, saya tinggal di Flores. Melihat kondisi masyarakatnya yang tinggal di kepulauan ini. Pendapatan warga mengandalkan pada hasil pertanian, macam jambu mete, kelapa, pohon lontar, kakao, kopi, dan mencari ikan.
Hasil pertanian melimpah namun pengetahuan, penanganan dan pemasaran produk pertaniannya lemah. Banyak warga yang belum mendapatkan akses listrik. Termasuk mengandalkan air hujan untuk minum.
Saya bertemu dengan Maria Goreti, perempuan dari Watublapi. Ia tinggal di sepetak tanah yang baru ia beli tiga tahun yang lalu. Nilai tanah itu sekitar empat juta rupiah. Ia beli dari hasil penjualan tenun alami. Di belakang rumahnya yang terbuat dari bilah bambu, ia menenun. Membuat pewarnaan alami dan mengambil motif-motif tenun tradisional. Setiap tahunnya, ia bisa menghasilkan sekitar 1o lembar kain tenun. Dengan nilai jual sekitar 300 ribu untuk selendang dan dua juta rupiah untuk sarung tenun.
Perekonomian keluarganya terdongkrak dari hasil tenun. Ia menyimpan pendapatannya pada koperasi kelompok tenun. Dan sanggar membantu setiap penenun dalam pemasaran dan pengelolaan keuangan. Maria Goreti dan anggota kelompok penenun lainnya bergerak untuk keluar dari lubang kemiskinan.
“Saya bisa beli motor. Kakak saya jadi ojek,” kata Maria Goreti kepada saya. Perempuan-perempuan di Watublapi bergerak untuk memberdayakan diri agar mandiri. Terlepas dari jerat hutang dan kemiskinan. Watublapi daerah perbukitan dan di daerah sini banyak rumah mengandalkan pasokan air hujan sebagai air minum. Pada tahun 1965, Watublapi hingga Dobo, banyak warga yang menjadi korban pembantaian dan kekerasan.
“Kemelaratan memberi peluang PKI memasuki alam harapan dan aspirasi rakyat ,” tulis R.A.F Webb dan Steven Farram. Program-program PKI menyentuh dan menjalankan dari kondisi-kondisi lokal masyarakat. Mulai dari masalah pertanian hingga tetek bengek masalah kesenian. Partai ini menjadi partai terbesar ketiga dunia setelah Cina dan Uni Soviet.
Di NTT sendiri gerakan komunis tumbuh sejak zaman Belanda. Diperkirakan komunisme tumbuh pada tahun 1924. Pelopornya, Christian Pandy, JW Toepoe, dan Franz Djami, dengan total orang “komunis” sejak 1924-1926 adalah 2.280 orang. Menurut Webb dan Farram diperkirakan jumlah orang yang dibantai pada tahun 1965-1966 di Nusa Tenggara Timur antara 50 ribu hingga 200 ribu orang.
Namun, apakah keluar dari kemiskinan monopoli ideologi? bukankah tujuan kehidupan adalah kesejahteraan, keadilan dan membuatnya agar lebih betah di muka bumi? Setiap manusia memiliki hak untuk keluar dari kemelaratan hidup dan mendapatkan kemerdekaannya.
SAYA tak menemukan banyak referensi sejarah yang lengkap soal peristiwa ini. Kebanyakan penelitian mengenai 1965 banyak dilakukan di Jawa, Sumatra Utara maupun Bali. Tidak mudah untuk melacak kejadian persisnya. Dan menemukan kebenaran mengenai peristiwa pembantaian di Sikka.
Perlu penelitian lebih lanjut. Melakukan wawancara dengan banyak keluarga korban, meminta kesaksian dari para “algojo” yang masih hidup, dan menemukan “daftar nama” yang akhirnya menjadi korban pembantaian itu. Memastikan setiap nama korban, pelaku dan sebagainya. Hingga melihat hubungan agama, ideologi, sosial, budaya hingga ekonomi saat itu.
Penggalian lebih lanjut, juga mengenai kejadian masa sekitar 1950 – 1960. Periode penting ketika pergolakan “politik lokal” muncul. Bagaimana kemunculan istilah “Kanilima”. Apa yang diperjuangkan, ketegangannya seperti apa, siapa saja, dan mengapa kemudian tokoh-tokoh Kanilima akhirnya dituduh sebagai PKI. Siapa saja pemimpin pemerintahan saat itu?
Verifikasi, pelacakan dokumen, kesaksian dan penggalian korban akan membuktikan fakta-fakta yang terjadi pada masa itu. Tak mudah melacak kebenaran yang terjadi pada 45 tahun yang silam. Namun, kejadian pahit dan tragedi kemanusiaan di Maumere dan mungkin di wilayah Flores lainnya, meninggalkan luka mendalam. Dan ingatan peristiwa kelam itu membekas pada keluarga korban. Tak hanya di Flores bahkan di Jawa, Bali dan wilayah lainnya di negeri ini.
Leonardo Lidi, mengenang peristiwa 1965 itu melalui senandung. Bahwa ia dan masyarakat lainnya tak mengerti mengapa peristiwa bengis itu terjadi di Flores. Ia mencatat sejarah hitam melalui sebuah lagu. Dan mereka akan selalu mengenang dan tidak melupakan kejadian pahit itu. Hanya doa, obat penenang kegelisahannya. Seperti liriknya, kepada siapa kami mengadu. Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.
Ini bagian yang tersulit sepanjang perjalanan saya dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Sulit membayangkan bagaimana kejadian saat itu. Merasakan luka, menahan amarah, hingga memendam ingatan pahit. Dan akhirnya harus menerima keadaan. Dengan cara melupakan tragedi kemanusiaan sepanjang sejarah republik ini.
Rasanya tak mudah. Dan pasti, siapapun orangnya, yang masih memiliki hati nurani dan kemanusiaan akan mengutuk peristiwa biadab itu. Dan apa artinya kebenaran, jika ia tak berdaya dan lumpuh? Apa artinya kemerdekaan, jika hidup dalam kemelaratan? Kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah.
***
Amad Yunus, adalah wartawan lepas dan saat ini bersama wartawan senior Farid Gaban, tengah berkeliling dengan bendera “Zamrud Kathulistiwa.”
Ahmad Yunus
Sumber:  IndoProgress