Kamis, 23 Mei 2019

Di Balik Kitab Suci Kaum Komunis: Inspirasi Jawa untuk Karl Marx


Mahandis Yoanata Thamrin - Kamis, 23 Mei 2019 | 07:00 WIB

Karl Marx dan "Das Capital" pada sebuah perangko Soviet, 1967.

Kapan Karl Heinrich Marx menjejakkan kakinya di Jawa? Sampai jenggotan dan ubanan pun, dia memang tidak pernah singgah ke Jawa. Marx, yang dikenal sebagai sang begawan ekonomi dan sosiologi sohor asal Jerman, pernah mempelajari sekelumit tentang Jawa. Marx melihat Jawa sebagai contoh bentuk sederhana sebuah perekonomian rakyat yang lestari. Bagaimana bisa?

Marx pernah tinggal di beberapa negara Eropa, sebelum akhirnya menghuni London pada 1849. Ketika beberapa tahun menjadi warga London, ia berkesempatan membaca kabar lawas tentang Jawa dari sebuah buku yang tersimpan di British Museum.

Ia sudah pasti mengetahui kabar peresmian Reading Room, ruang baca yang berada di jantung British Museum. Bahkan, selama sepekan peresmiannya pada Mei 1857, lebih dari 62 ribu pengunjung terpukau dengan pesona Reading Room.  Kabarnya, ruangan bundar dan berkubah megah itu menjadi salah satu tengara kota, sekaligus salah satu pusat pembelajaran di dunia.

Bayangkan, perpustakaan ini memajang koleksinya dalam kotak buku melingkar sepanjang hingga lima kilometer. Belum lagi rak-rak kecil, yang apabila direntang panjangnya mencapai 40 kilometer!

Lantaran setiap pengunjung yang hendak membaca harus mengajukan izin secara tertulis, museum ini masih menyimpan arsip pengunjungnya.
Abraham “Bram” Stoker yang kelak sohor dengan novel horor berjudul Dracula; Sir Arthur Ignatius Conan Doyle yang menulis kisah detektif Sherlock Holmes; Jacob Richter yang belakangan diketahui sebagai Vladimir Ilyich Ulyanov alias Vladimir Lenin; hingga Karl Marx.

Di Reading Room pula Marx menemukan buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles, yang terbit dua bundel di London pada 1817.

Suasana "Reading Room" di British Museum. Ruangan baca ini diresmikan pada 1857, dan digunakan sampai 1997. Di tempat inilah Karl Marx pernah membaca koleksi buku dan menuliskan buah pikirannya untuk bukunya, Das Kapital, Kritik der politischen Oekonimie.

Reading Room menjadi salah satu tempat pilihan Marx untuk membaca dan menuliskan buah pikirannya. Di ruangan inilah, Marx menyusun buku ekonomi politik yang mengkritik kapitalisme dalam tiga bundel. Das Kapital, Kritik der politischen Oekonimie, demikian tajuk bukunya. Bundel pertamanya terbit pada di Hamburg, Jerman, 1867. Das Kapital, yang bermakna modal, merupakan sebuah pencapaian penting pada sejarah pemikiran ekonomi masyarakat Eropa pada abad ke-19. 

Sebelumnya, ia dan Friedrich Engels melansir Das Manifest der Kommunistischen Partei, yang akrab di telinga kita sebagai Manifesto Komunis, terbit pertama kali di London pada 1848. Buku ini membeberkan perjuangan antarkelas, kelas kaum jelata melawan kaum bangsawan. Ujungnya, pembentukan partai komunis sebagai alat perjuangan buruh.
"Boleh dikata, Das Kapital merupakan kitab suci bagi gerakan komunisme," tulis Serge dalam prakata buku tersebut, "sementara  Manifesto Komunis merupakan agamanya."
Serge L. Levistsky menyajikan Das Kapital dalam sebuah versi tinjauan ulang yang terbit pada 1996. "Boleh dikata, Das Kapital merupakan kitab suci bagi gerakan komunisme," tulis Serge dalam prakata buku tersebut, "sementara Manifesto Komunis merupakan agamanya."

Das Kapital, utamanya mengungkapkan bahwa kapitalisme senantiasa menyala-nyala karena memiliki sumber eksploitasi buruh dan modal pengusaha. Buruhlah yang utamanya telah melanggengkan kapitalisme. Pembahasannya meliputi delapan perkara, yang terbagi dalam 33 bab.
“Hukum, yang mengatur pembagian kerja di suatu masyarakat, bertindak dengan wewenang hukum alam.” 
 Demikian ungkap Marx dalam Das Kapitalpada bab keempat tentang pembagian kerja dan manufaktur dan pembagian kerja dalam masyarakat.

Menurutnya, pembagian kerja dalam manufaktur bersesuaian dengan kecenderungan dari berbagai masyarakat sebelumnya untuk menjadikan suatu pekerjaan atau keahlian yang diwariskan. Ia menambahkan bahwa bersamaan dengan bekerjanya sistem hukum, setiap individu yang memiliki kemampuan tertentu, tukang besi, tukang kayu, dan sebagainya, berkarya pada bidangnya. Pekerjaan-pekerjaan tradisional itu tampak berjalan mandiri, tanpa mengenal aturan yang mengikatnya.

Bangku dan meja di British Museum. Di sinilah para peneliti, pemikir, dan penulis membaca berjam-jam di meja yang beralas kulit.
“Kesederhanaan organisasi produksi pada komunitas mandiri yang terus-menerus mereproduksi dirinya dalam bentuk yang sama, dan bila tidak sengaja dihancurkan, muncul lagi di tempat dan dengan nama yang sama pula. Kesederhanaan ini memasok kunci rahasia dari ketidakteraturan masyarakat Asia, sebuah ketidakteraturan yang mencolok dari keruntuhan dan penyatuan yang ajeg negara-negara Asia, dan perubahan dinasti yang terus-menerus. Struktur elemen ekonomi masyarakat tetap tak tersentuh oleh awan badai di langit politik,” tulis Marx.
Marx tengah menggambarkan betapa sebuah perekonomian masyarakat yang sederhana mampu bergulir. Sampai pada pembahasan ini Mark menambahkan catatan kaki ke-38. Catatan itu berisi kutipan yang merujuk halaman 285 dari The History of Java karya Thomas Stamford Raffles yang terbit di London, 1817.
“Sudah sejak dahulu para penduduk daerah tersebut hidup di bawah pemerintahan kotapraja yang sederhana. Batas-batas desa bisa diubah, tetapi ini jarang terjadi. Meskipun para penduduk sendiri kadang terluka, dan bahkan didera perang, kelaparan, dan wabah penyakit; mereka tetap memiliki kesamaan nama, kesamaan batas, kesamaan kepentingan, dan bahkan kesamaan keluarga, tetap menjalani hidup bertahun-tahun. Para penduduk tidak membuat masalah dengan melepaskan diri dan membentuk kerajaan sendiri. Sementara para penduduk tinggal, mereka tidak peduli siapa yang memegang kekuasaan pemerintahan. Perekonomian internalnya hampir tidak berubah.”
Raffles memahami bahwa hukum yang berlaku di desa-desa di Jawa berasal dari peradaban leluhur warganya. Namun demikian, sejatinya, untaian kata yang dikutip Marx tadi bukanlah buah pemikiran Raffles semata. Letnan Gubernur yang berkuasa di Jawa itu sekadar mengutip pernyataan dari narasumbernya atau seorang pengamat yang memberi laporan investigasi kepadanya. Boleh jadi, narasumber atau pelapor tadi memang orang Jawa.

Mungkin, inilah sumbangan kecil dari peradaban Jawa, yang meruaya ke benak Marx. Kelak, sumbangan peradaban itu diganjar dengan maraknya gerakan politik sosialisme-komunisme lewat perjuangan antarkelas di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. 

Celakanya, Raffles nyaris tidak pernah mencantumkan nama narasumber atau pelapornya. Bahkan, dalam kasus lain, ia tidak ragu untuk menyalin beberapa larik kalimat dari sebuah buku tanpa menyebutkan kutipan atau rujukan sumber. Rupanya, inilah perkara memalukan yang membuat The History of Java tidak perlu disanjung dan dipuja layaknya karya bermutu ilmiah.

Batu nisan Karl Mark di Permakaman Highgate, London.

London menjadi kota kenangan bagi Raffles dan Marx, kendati mereka tidak hidup semasa. Keduanya dimakamkan di kota yang sama, London. Rafflesdimakamkan di permakaman Gereja St Mary di Hendon, sementara Marx dimakamkan di Highgate Cemetery.

Sayangnya, selama pembangunan kembali British Museum pada akhir 1990-an, ruangan baca tempat Marx merumuskan Das Kapital pun menjelma sebagai ruang pameran. Namun, ada yang lebih tragis lagi. Marx, yang mengkritik kapitalisme, tampaknya harus bersepakat dengan kapitalisme karena para pengunjung harus membayar sejumlah uang untuk sekadar menyaksikan batu nisannya.

Kembali ke persoalan penerbitan buku. The History of Java dirilis dalam dua bundel pada 10 Mei 1817 di London. Buku ini berisi tentang sejarah dan budaya di Jawa, yang dilengkapi statistik semasa. Setengah abad kemudian, Das Kapital terbit di Hamburg. Ketika buku yang "mengutuk" kaum pemilik modal ini beredar di seantero Eropa, kaum pemodal Hindia Belanda tengah berlega hati karena roda-roda kereta api mulai resmi menggelinding di Jawa.

0 komentar:

Posting Komentar