Kamis, 02 Mei 2013

Jejak Buruh di Awal Mei

Fajar Riadi | 2 Mei 2013, 00:00

Mulanya menuntut pengurangan jam kerja. Kini ramai menuntut dihapusnya alih daya.


Demonstrasi memperingati Hari Buruh 1 Mei 2013 di Jakarta. Foto: Micha Rainer Pali.

SEJAK 1884, kaum pekerja di Amerika Serikat (AS) ramai menyuarakan tuntutan bekerja “Delapan Jam Sehari”. Kala itu, bahkan sejak awal abad ke-19, banyak perusahaan-perusahaan yang memaksa buruh memeras keringat selama 14, 16, bahkan 18 jam sehari. Maka ketika kelas buruh dalam jumlah besar menghimpun diri dalam serikat-serikat buruh ditambah resolusi Serikat Buruh Nasional yang menyampaikan tuntutan serupa pada 1886, gerakan itu menemukan momentumnya.
Sebelum Mei 1886, puluhan ribu buruh di AS kerap melakukan pemogokan. Pada 1 Mei, sekira 30 ribu pekerja di Chicago turun ke jalan bersama anak-anak serta istri, membuat kota lumpuh. Di seluruh penjuru AS, tak kurang dari 350 ribu diorganisasikan Federasi Buruh Amerika untuk mogok kerja.
Dua hari berselang, saat pemogokan belum juga surut, pemerintah mengirim polisi untuk meredam aksi buruh di pabrik McCormick. Polisi menembaki pemogok: empat orang tewas dan banyak yang luka-luka. Buruh pun marah, bahkan merencanakan membalas dengan senjata, misalnya saja anggota kelompok Knights of Labour.
Pada 4 Mei 1886, di lapangan Haymarket, buruh kembali menggelar aksinya dalam jumlah yang lebih besar. Ini sekaligus wujud protes terhadap tindakan represif aparat. Cuaca hari itu buruk. Banyak peserta aksi lantas membubarkan diri. Dari ribuan, yang bertahan di lapangan tinggal ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan memaksa aksi segera dibubarkan. Kala orator terakhir hendak turun dari mimbar, menuruti peringatan petugas, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang tewas dan melukai 70 orang. Kontan saja polisi menembaki kerumunan buruh. Banyak yang tewas dan luka-luka.
Pelaku pelemparan bom tidak jelas. Namun, media massa dan segolongan politisi menuduh kaum sosialis dan anarkis dalangnya. Tempat-tempat pertemuan para aktivis jadi sasaran penyerangan polisi dan tokoh-tokohnya ditangkap. Delapan tokoh yang dianggap golongan anarkis yang aktif di Chicago dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Pada 21 Juni 1886 mereka divonis hukuman mati dan digantung pada 11 November 1887.
Tragedi di Haymarket berdampak luas. Dunia turut bersimpati. Puncaknya pada Kongres Sosialis Internasional II di Paris, Juli 1889, menetapkan 1 Mei sebagai hari libur para buruh. Untuk memperingatinya, kaum buruh mengibarkan bendera merah sebagai simbol setiap pengorbanan memperjuangkan hak-haknya.
Di Hindia Belanda, pada 1 Mei 1918, Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan menggelar perayaan hari buruh. Hadir kala itu Sneevliet dan Baars dari Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV). Gerakan ini memang tak menarik animo bumiputera. Namun, konon inilah peringatan hari buruh pertama di Asia.
Pada 10 Mei 1918, Sneevliet menulis artikel dalam Het Vrije Woord berjudul "Onze eerste 1 Mei-viering" (Perayaan Satu Mei Pertama Kita). Artikel ini tentang kekecewaannya pada perayaan hari buruh yang digelar pada awal bulan Mei di Surabaya. Dia kecewa sebab yang hadir pada perayaan itu cuma orang-orang Belanda, padahal ajakan mengikuti perayaan itu telah dia publikasikan sebelumnya dalam suratkabar tersebut.
Pada peringatan hari buruh tahun 1921, HOS Tjokroaminoto, ditemani seorang muridnya, Sukarno, berpidato mewakili serikat buruh di bawah pengaruh Sarekat Islam. Dalam semangat hari buruh pula, pada 1923, Semaun berpidato dalam rapat umum VSTP (Serikat Buruh Keretaapi dan Tram) di Semarang untuk melancarkan pemogokan umum. Dia mengemukakan berbagai macam pokok masalah perburuhan yang perlu mendapatkan perbaikan. Misalnya lama jam kerja, penundaan dihapusnya bonus sampai terpenuhinya kenaikan gaji, penanganan perselisihan oleh badan arbitrase, serta pelarangan pemutusan hubungan kerja tanpa alasan.
Menjelang perlawanan PKI pada 1926, hari buruh ditiadakan. Kasak-kusuk tentang rencana perlawanan kaum komunis pada hari buruh membuat pemerintah Hindia Belanda waspada. Perlawanan itu memang benar-benar terjadi, sekalipun gagal. Namun akibatnya peringatan hari buruh sulit dilakukan pada tahun-tahun setelahnya. Di mana-mana, serikat buruh mulai mendapat tekanan dan berbagai acara perayaan terkait hari buruh dilarang.
Usai kemerdekaan, peringatan hari buruh untuk kali pertama diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk diperingati pada era Kabinet Sjahrir. Kepada para pemilik usaha, Menteri Sosial Maria Ullfahmemaklumatkan supaya upah buruh yang merayakan hari buruh tetap dibayar.
“Kepada boeroeh harian jang ikoet merajakan hari 1 Mei diberi gadjih teroes oentoek hari itoe. Kepada Kantor2 djawatan2 dan peroesahaan2 tsb diatas diperkenankan mengibarkan Bendera Merah (bendera lambang buruh –Red) disamping sang Merah Putih”.
Menurut Peneliti perburuhan dari Pusat Kajian Asia Tenggara Universitas Kyoto, Jafar Suryomenggolo, Makloemat Kementrian Sosial itu disusun sebagai jawaban positif pemerintah atas tuntutan gerakan buruh. “Beberapa minggu sebelum 1 Mei,” kata Jafar, “Barisan Boeroeh Indonesia (BBI) telah mengajukan tuntutan terbuka kepada Presiden agar 1 Mei dijadikan hari raya.”
Menurut Jafar, Kabinet Sjahrir mendukung perayaan hari buruh 1 Mei karena Sjahrir seorang tokoh sosialis-demokrat yang bercita-cita mendirikan Indonesia sebagai negara kesejahteraan dan sokongannya terhadap gerakan buruh sebagai sumber mobilisasi massa. Oleh sebab itu,  Maria yang sehaluan dengan Sjahrir, menjalankan program tersebut tanpa ragu.
Sikap pemerintah Republik Indonesia terhadap gerakan buruh ternyata mengundang simpati gerakan buruh Australia. Pada November 1946, Maria Ullfah menerima sebuah lambang persahabatan dari kaum buruh Australia yang tergabung dalam “Mackay Trade and Labour Council”. Pada 16 November 1946, lambang berupa palu itu diserahkan Maria kepada Barisan Buruh Wanita dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (Gasbi). Acara penyerahan itu berlangsung meriah, “…disusul dengan beramai-ramai menyanyikan lagu Internasionale,” tulis Pramoedya Ananta Toer, dkk, dalam Kronik Revolusi Indonesia.
Hari buruh sempat dilarang pada masa Orde Baru. Gerakan hari buruh kerap diidentikkan dengan aktivitas dan paham komunis. Namun mulai 1 Mei 1995, hari buruh mulai rutin digelar di berbagai kota. Tuntutannya tentu bukan lagi soal pengurangan jam kerja. Lebih sering soal perbaikan kesejahteraan dan dihapusnya sistem alih daya.

Sumber: Historia.Id 

0 komentar:

Posting Komentar