Minggu, 19 Mei 2013

Inilah Kesaksian Prof. Drugov atas Tawa Lebar Jenderal AH Nasution dan DN Aidit yang Tak Bisa Didamaikan




Sebelum peristiwa G30S pada dinihari 1 Oktober 1965 meletus, pemerintah Uni Soviet pernah berusaha mendamaikan dua tokoh penting Indonesia, Menteri Pertahanan Jenderal AH Nasution dan Ketua Umum CC Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit.
Salah satu upaya itu adalah menggelar pertemuan ramah tamah di Kedubes Uni Soviet pada suatu hari di tahun 1963. Ada sekitar 10 sampai 12 orang yang diundang Dubes Uni Soviet Nikolai Mikhailov dalam pertemuan itu. Namun tokoh pentingnya adalah Jenderal Nasution dan Aidit yang sangat berpengaruh di masing-masing kelompok.
“Tetapi memang sulit membayangkan sesudah peristiwa Madiun (1948) dan peristiwa-peristiwa lain mereka (AH Nasution dan DN Aidit) dapat didamaikan,” ujar Prof. Alexey Drugov, seorang Indonesianis dari Rusia yang ikut dalam pertemuan di tahun 1963 itu.
Ketika itu Prof. Drugov bertugas sebagai penterjemah yang mendampingi Kepala Misi Militer Uni Soviet di Indonesia, Laksamana Gregory Chernobai. Sebelum dikirim ke Indonesia, Drugov muda bertugas di pangkalan Angkatan Laut Uni Soviet di Vladivostok. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Muda.
Drugov tiba di Jakarta pada bulan Mei 1960, tiga bulan setelah Perdana Menteri Nikita Khruschev mengunjungi Indonesia. Ia meninggalkan Indonesia di tahun 1964. Sampai kembali ke negerinya, Drugov sama sekali tidak mencium tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa setahun kemudian akan terjadi sebuah peristiwa yang begitu besar yang mengubah arah sejarah Indonesia.
Informasi mengenai upaya Uni Soviet mendamaikan Jenderal Nasution dan Aidit ini disampaikan Prof. Drugov di Wisma Indonesia di kompleks Kedubes RI di Moskow, (Selasa malam, 14/5) ketika menceritakan kisah sebuah foto yang dimuat di buku yang disusun Kedubes RI berjudul “Indonesia through the Russian Lens”.
Foto hitam putih di halaman 64 buku itu memperlihatkan Jenderal AH Nasution yang berdiri bersisian di sebelah kanan DN Aidit. Keduanya tertawa lebar sambil memandang ke arah objek yang sama.
Jenderal AH Nasution mengenakan seragam militer lengkap dengan bintang jasa yang dideretkan di dada kiri dan peci militer serta kacamata hitam. Sementara DN Aidit mengenakan kemeja yang mungkin berwarna putih dan dasi kotak-kotak. Rambutnya disisir licin ke belakang memperlihatkan dahinya yang lebar.
Tidak begitu jauh di belakang Nasution dan Aidit ada tiga lelaki yang berdiri di depan pintu. Dua dari ketiga orang itu adalah Laksamana Gregory Chernobai (berdiri di kiri) dan Prof. Drugov (berdiri di tengah). Drugov tidak dapat mengingat pasti siapa orang ketiga di latar belakang foto itu. Kalau tidak salah, ujarnya, orang ketiga itu adalah staf Kedubes Uni Soviet.
Laksamana Chernobai dan Drugov sedang memandang ke arah Jenderal Nasution dan DN Aidit. Sementara satu orang lagi membelakangi kamera.
Menurut Drugov, pemerintah Uni Soviet ketika itu tidak ingin Indonesia yang merupakan salah satu negara penting yang memiliki hubungan baik dengan Uni Soviet mengalami perpecahan akibat konflik di tingkat elit. Itulah sebabnya, Dubes Mikhailov berusaha ikut mendinginkan suasana tegang di antara pimpinan TNI dan PKI.
“Sebetulnya Aidit tidak ada sangkut paut dengan pembunuhan itu (peristiwa G30S atau Gestok). Itu lain story. Bahkan sebetulnya PKI tidak ada sangkut paut dengan G30S. Sudah jelas dan ada banyak penelitian (tentang hal ini). Peneliti yang berpendapat seperti ini, tidak boleh masuk ke Indonesia. Seperti Ben Anderson dan Ruth T. McVey,” ujar Drugov.
Namun, karena ada pihak yang membutuhkan alasan atau pretext untuk berkuasa, maka kedua hal yang terpisah itu pun disatukan dengan paksa.
Seberapa besar peranan pihak luar, dalam hal ini Amerika Serikat, seperti yang dituduhkan Bung Karno, misalnya?

Menjawab pertanyaan ini, Prof. Drugov berkata walau telah banyak studi yang dilakukan terhadap peristiwa itu, namun jawaban atas pertanyaan ini mesti sangat diperhitungkan dengan teliti.

“Saya selalu menyatakan bahwa setiap negara berusaha sendiri. Dan, jangan sampai kekeliruan ditimpakan kepada pihak lain,” ujarnya.
“Yang jelas AS pernah memberikan daftar kader komunis kepada TNI. Saya yakin ada peranan AS. Tetapi faktor utama selalu dari dalam negeri,” tegas Prof. Drugov lagi.
Faktor utama dari dalam negeri itu menurut hematnya adalah persaingan para jenderal, atau persaingan antar generasi di tubuh TNI. Bisa juga merupakan gerakan perwira muda dan menengah melawan korupsi yang ada di pucuk pimpinan.
Pertanyaan lain yang sering diajukan atas drama berdarah ini adalah apakah Mayjen Soeharto yang ketika itu Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) mengetahui tragedi itu akan terjadi.
Atas persoalan ini, Prof. Drugov kembali mengatakan ada sejumlah studi yang diangkat dari pengakuan pihak-pihak lain yang memperlihatkan bahwa Soeharto mengetahui peristiwa ini akan terjadi. Tetapi ia memilih diam dan membiarkan, karena ia juga menunggu.
“Dalam buku Soebandrio, dia mengatakan bahwa dia satu kamp dengan Letkol Untung. Menjelang eskekusi Untung mengaku bahwa dia menceritakan rencana G30S kepada Soeharto. Pengakuan Abdul Latief pun bernuansa sama,” masih kata Drugov.
Nah, waktu Presiden Sukarno tidak mau bersikap tegas menghadapi tragedi penculikan dan pembunuhan keenam jenderal dan seorang letnan TNI itu, Soeharto bertindak tegas. 

“Ia mengambil alih komando, dan itu logis,” demikian Prof. Drugov.

0 komentar:

Posting Komentar