Kamis, 07 November 2013

Lapangan Lengkong, Bekas Pembantaian PKI 1965

07 November 2013

Boleh percaya atau tidak, Misteri lapangan Lengkong; Bekas Pembantaian PKI 1965

Lapangan LENGKONG dulu aliran sungai Widas yang diurug, aliran sungai bekas pembantaian PKI 1965
Cerita ini berasal dari Mas IW yang jualan di sekitar lapangan Lengkong. Lapangan Lengkong berada di kota Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur Indonesia.

Lapangan Lengkong dibuat oleh pemerintah daerah setempat untuk memenuhi kebutuhan olah raga bagi masyarakat sekitar Lengkong.

Karena lahan yang terbatas di Lengkong akibat banyak tanah desa yang sudah dijual, maka areal tangkis yang seharusnya untuk menghindari banjir apabila sungai Widas meluap, tanah tangkis tersebut disulap menjadi lapangan bola.

Lapangan Lengkong memang berada di pinggir sungai Widas. Sebelum diluruskan, bekas tanah lapangan Lengkong itu adalah aliran sungai Widas.

Dahulu, menurut orang tua di desa Lengkong, sungai Widas pernah menjadi catatan sejarah kelam di Republik ini.

Pada tahun 1965, terjadi Tragedi Kemanusiaan di Republik Indonesia. Nyaris 1 juta jiwa melayang dengan dipenggal kepalanya!

Dan sebagaian dari 1 juta jiwa itu ada di aliran sungai Widas yang sekarang menjadi lapangan Lengkong.

Dengan terjadinya Tragedi Kemanusiaan itu, hampir seluruh warga desa Kecamatan Lengkong, alergi untuk makan ikan Lele !

Hingga kini, ada pantangan bagi warga asli Lengkong untuk memakan ikan Lele karena dulu ikan tersebut pernah menyantap tubuh-tubuh tanpa kepala di dalam sungai Widas.

Di Lengkong tidak ada bakoel yang menjual lele goreng karena khawatir gak ada yang beli.

Tragedi Kemanusiaan yang membekas itulah hingga kini tetap menjadi misteri bagi lapangan Lengkong.

Dan setiap kali ada pertunjukan musik, atau pasar malam, atau keramaian lainnya, pasti datang hujan yang sangat lebat hingga pertunjukan tersebut bubar!

Pernah ada seorang pengusaha pasar malam yang membuka pasar malam di lapangan Lengkong, setelah tenda-tenda dari besi dipasang di lapangan Lengkong, nyaris selama 2 minggu rencana pertunjukan tersebut, datang hujan lebat hingga kemudian pengusaha Tionghoa itu kolaps dan menjual besi-besi tenda pasar malamnya ke seorang pengusaha LAS di Lengkong.

Apakah kejadian itu ada kaitannya dengan mayat-mayat tanpa kepala yang dulu berada tanah bekas sungai Widas yang sekarang menjadi lapangan Lengkong?

Hari ini tanggal 7 November 2013, ada serombongan pasar malam yang berasal dari Blitar Jawa Timur. Mereka berpindah setelah membuka pasar malamnya di Ponorogo Jawa Timur. Dengan 11 truk mereka membawa peralatan pasar malam dari Ponorogo ke Lapangan Lengkong Nganjuk.

Dan belum selesai mereka memasang tenda pasar malamnya, mereka disambut awan hitam dan hujan lebat!

Hingga kini ada kepercayaan yang beredar luas di masyarakat Lengkong, kalau ada pasar malam pasti turun hujan!

Apakah mayat-mayat tanpa kepala itu merasa terusik dengan pasar malam di lapangan tersebut sehingga menurunkan hujan dan angin untuk mengusir mereka ? Wallahu'alam
_____

Foto-Foto Misteri Lapangan Lengkong [kiriman mas IW]
Mereka DATANG dari PONOROGO dengan 11 TRUK
Mereka disambut AWAN HITAM

Hari yang tadinya TERANG BENDERANG berubah menjadi GELAP


Mas IW pulang lebih cepat, HUJAN sudah mengguyur lapangan Lengkong

0 komentar:

Posting Komentar