Minggu, 22 Desember 2013

Reza Rahadian dan Oma-nya yang Tak Bisa Pulang ke Indonesia Karena Peristiwa Tahun 1965

Minggu, 22 Desember 2013 08:14:06 | Wayan Diananto
























TABLOIDBINTANG.COM -
SEMARANG, Sabtu, 7 Desember 2013. Beberapa menit sebelum penerima Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik diumumkan, Tio Pakusadewo bicara empat mata dengan Reza.
"Gue percaya lo yang menang. Gue punya keyakinan itu. Dan gue akan berjuang untuk itu. Gue support dan berdoa buat lo. Tapi kalau lo gak menang, gak papa, ya?" kata Tio, hati ke hati. Ucapan Tio membuat Reza bimbang.
Nyalinya seketika menciut. Menyembul satu pertanyaan, "Sebenarnya saya ini dapat (piala-red) atau tidak?" Ucapan Tio membuatnya kurang percaya diri. Jujur, gagal membawa pulang piala tentu membuat bintang sinetron Culunnya Pacarku sedikit sedih. Itu wajar. Manusiawi. Apalagi, untuk peran Habibie, Reza mempertaruhkan banyak hal. Habibie, peran paling berisiko yang pernah diambilnya.
Pesaing yang paling bikin Reza minder lahir batin, Lukman Sardi (Rectoverso) dan Ikranegara (Sang Kiai). Malam itu, Reza makin lemas saat pihak SCTV meminta semua nomine Pemeran Utama Pria Terbaik naik panggung untuk mengomentari peran mereka. Sesaat sebelum naik panggung, Reza, Abimana Aryasatya, Lukman, Ario Bayu, Joe Taslim, Tio Pakusadewo, dan Donny Damara berkumpul di belakang panggung. Mereka mengobrol. Tio lantas mendekatkan kupingnya ke dada para nomine.
"Wah, yang paling deg-degan siapa, ya?" sindir Tio sambil terkekeh. Sejurus kemudian, bintang film Lagu Untuk Seruni mengeluarkan amplop berisi nama pemenang lalu melambai-lambaikannya ke hadapan para nomine. Reza dan keempat kandidat semakin gugup. Sampai akhirnya, Donny dan Tio menyebut nama Reza Rahadian. "Gue bangga dan senang sekali lo menang malam ini!" bisik Donny ke telinga Reza sambil memeluknya. Yang terjadi kemudian, Reza berpidato di atas pentas.
Reza menggenggam Piala Citra ketiga. Lalu berpidato. Ada yang salah? Tentu tidak. Tapi bagi Bintang yang mengikuti perjalanan Reza dari awal, agak mencurigakan mengapa pidatonya sesingkat itu. Pidato diakhiri ucapan terima kasih kepada nenek, Fransisca Casparina Fanggidaej. Reza menyebut Fransisca perempuan revolusioner. Siapa sebenarnya Fransisca? Mengapa Bung Karno mengutusnya ke Kuba? Ada hubungan apa antara nenek Reza dengan Sang Proklamator?
Nenek Reza dan Bung Karno
Berita meninggalnya Fransisca diterima Reza pada 13 November silam. Fransisca meninggal di Utrecht, Belanda. Ia terpaksa menanggalkan status WNI dan menjadi warga negara Belanda sampai akhir hayat. "Yang penting, Oma saya sebut di pidato. Tidak bisa bertahan lama di atas panggung. Kalau saya nekat menyebut banyak nama, saya akan emosional dan menangis," ucap Reza.
Fransisca bekerja sebagai wartawan. Begitu Reza memperkenalkan nenek. Dia wartawan wanita Indonesia pertama yang mewawancarai Presiden Kuba yang berkuasa selama 32 tahun, Fidel Castro. "Oma berjasa besar untuk negara tetapi dianggap kiri. Ia jurnalis, Opa juga jurnalis. Dia orang Timor. Besar dan dekat dengan sosialis. Ia ditugaskan pemerintah Indonesia di era Bung Karno untuk menghadiri kongres di Kuba. Berangkatlah Oma ke Kuba," demikian Reza mengingat neneknya.
Nyaris bersamaan dengan itu, kata Reza, meletuslah peristiwa politik 1965. Terjadi pergantian pemimpin di kursi RI 1. Sejak itu, Fransisca tidak bisa pulang ke negerinya. Fransisca baru bisa pulang ke Tanah Air pada 2003, setelah Gus Dur naik takhta. Saat itulah untuk kali pertama, Reza bertatap muka dengan nenek. Sayang, pertemuan bintang Perahu Kertas dengan Oma tak berlangsung lama. Karena alasan kesehatan, Fransisca harus pulang ke Belanda.
Pertemuan dengan Fransisca berlangsung saat Reza masih berusia 16 tahun. Ia menggambarkan pertemuan berlangsung haru sekaligus absurd.
Pasalnya, Fransisca sudah tidak mengenali wajah anak. Apalagi cucunya. Ketika Reza diperkenalkan sebagai anak Pratiwi Widhiantini, Fransisca butuh waktu untuk mengingat, yang mana yang namanya Pratiwi. Pertemuan kedua Reza dengan Pratiwi terjadi di Utrecht, Belanda. Saat itu, Reza tengah syuting H&A.
Saat itu, terjadi percakapan mengharukan antara Reza dan Oma. "Saya bertanya, mengapa Oma memilih berpisah dengan anak dan cucu? Dia bilang: 'Seandainya Oma bisa pulang ke Indonesia, tentu Oma akan kembali. Apa pun akan Oma lakukan untuk pulang. Tapi kalau informasi tentang anak cucu tersebar, Oma khawatir keselamatan kalian terancam.' Mendengar jawab itu, saya hanya bisa menangis. Memeluk Oma erat-erat. Oma juga meneteskan air mata," papar Reza panjang.

Kata Oma, "Tetaplah Cintai Negara Ini"
Jawaban Fransisca membuat Reza sadar betapa besar pengorbanan nenek. Ia rela hidup dalam dilema puluhan tahun asalkan generasi berikutnya selamat dan bahagia. Betapa seorang ibu terpisah dari anak. Tidak diakui negara. Keinginan terakhir Fransisca, dibuatkan video dokumentasi hari-hari terakhir sebelum napasnya terlepas. Reza sendiri butuh waktu untuk mengenali rekam jejak Oma.
Salah satu yang diperoleh Reza beberapa hari setelah Oma mangkat, sepucuk surat dari institusi Rakyat Demokrasi Filipina yang isinya turut berbelasungkawa atas meninggalnya Fransisca. Ia bahkan menyelidiki dengan memasukkan nama lengkap sang nenek di situs Google. Salah satu informasi yang didapat, kiprah politik Fransisca pada masa pergerakan nasional.
Salah satu laman menulis, Fransisca lahir tahun 1925. Ia pernah bekerja sebagai reporter Radio Gelora Pemuda Indonesia. Pada 1964, Fransisca pernah menjadi penasihat Presiden Soekarno dalam kunjungan kenegaraan ke Aljazair. Pada 1965, ia berkunjung ke Cile sebagai anggota delegasi Indonesia di kongres Organisasi Wartawan Internasional. Saat itulah, meletus tragedi G 30S. Fransisca tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia tinggal 20 tahun di China. Sejak 1985, Fransisca menetap di Belanda.
"Saya berpikir, pasti ada kebaikan dan sisi positif selama Oma hidup. Entah jika ia disebut dekat dengan negara-negara yang selama ini image-nya kiri. Entah jika ada fakta sejarah yang bias. Itu yang membuat Oma tidak bisa pulang ke Indonesia. Sekarang, abu jenazah Oma pulang ke Indonesia. Oma ingin abunya disandingkan dengan abu suaminya, opa saya," sambung Reza dengan mata berkaca.
Itu sebabnya saat karier Reza kian melambung, sebagian honor dipakai untuk memberangkatkan ibu dan tante-tantenya ke Eropa. Selain pelesir, Reza ingin ibunya menyambung tali silaturahim yang sempat merenggang dengan nenek. Meski hanya dua kali bertemu nenek, ada satu nasihat yang diingat Reza. Nasihat itu diucapkan pada 2006, saat bertemu di Utrecht, Belanda.
"Oma bilang begini: tetaplah mencintai negara ini. Bagaimana pun kondisi negara ini nantinya, jangan pernah berpikir pindah ke negara lain. Jangan pernah tinggalkan Indonesia. Berkaryalah melalui seni. Hindari penyakit meninggalkan bangsa di kala negara susah dan membutuhkan," demikian Reza menurukan nasihat nenek. Ada satu kalimat lagi yang ingat Reza dari neneknya, "Merdeka itu pulang."
Fransisca secara fisik (mungkin) belum merdeka lantaran gagal pulang ke Indonesia. Tapi abu jenazahnya akan mengecap kemerdekaan. Yang terpenting, anak dan cucunya mengecap kemerdekaan. Reza merasakan kemerdekaan dalam berkesenian. Merdeka untuk menjadi yang terbaik. “Oma melihat saya meraih Piala Citra di surga. Ia senang pasti senang dan bangga,” pungkasnya.
(wyn/adm)
http://www.tabloidbintang.com/articles/berita/polah/1520-Reza-Rahadian-dan-Oma-nya-yang-Tak-Bisa-Pulang-ke-Indonesia-Karena-Peristiwa-Tahun-1965

0 komentar:

Posting Komentar