Jumat, 06 Juni 2014

Sambutan Delegasi LEKRA Pada Kongres Ke-V “Himpunan Sastrawan Jerman”

S. Rukiah Kertapati



Sahabat-sahabat, rekan-rekan, Kongres yang mulia,
Sungguh suatu kehormatan bagi kami dari Indonesia, utusan-utusan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat, untuk menerima undangan dan menghadiri Kongres ke-V Himpunan Sastrawan Jerman ini.
Terimalah, sahabat-sahabat dan rekan-rekan, salam hangat dari Lembaga Kebudayaan Rakyat dan dari semua pekerja Kebudayaan Indonesia yang progresif dan berjuang, terutama sastrawan-sastrawannya.
Republik Demokrasi Jerman dan para pekerja kebudayaannya menempati posisi yang khas di hati pekerja-pekerja kebudayaan progresif Indonesia. Jerman bagi kami bukan hanya negeri yang tradisi kesusastraannya begitu tua dan bertaraf tinggi. Jerman bagi kami bahkan bukan hanya negeri tempat lahir Marx dan Engels, bapak gerakan kelas buruh yang besar sekali minat serta sumbangannya kepada kesusastraan Jerman. Jerman bagi kami pertama-tama negeri di mana cita-cita Marx dan Engels telah diubah dari impian menjadi kenyataan.
LEKRA didirikan di tahun 1950, ketika gelombang revolusi Indonesia surut, ketika setiap orang revolusioner menanti-nanti dan mengusahakan pasangnya kembali gelombang itu. Sejumlah tak banyak pengarang, pelukis, komponis, dan pekerja kebudayaan lainnya yang progresif mendirikan LEKRA, sembari bertekad untuk membantu menghidupkan kembali api revolusi, Revolusi Agustus kami yang kami mulai segera setelah kalahnya Hitler di tahun 1945.
Sekarang perjuangan Rakyat Indonesia sudah mencapai sejumlah hasil-hasil yang lumayan. Hampir semua kapital Belanda sudah dinasionalisasi, kapital Belgia juga sudah diambil alih, perjuangan pembebasan Irian Barat makin berkobar, partai-partai reaksioner sudah dilarang, begitu pula suratkabar-suratkabarnya. Di bidang kebudayaan telah diambil pula tindakan-tindakan positif oleh pemerintah seperti larangan atas barang-barang impor dari Amerika seperti rock ‘n’ rollhulla-hoop, buku-buku cabul, pemecatan terhadap elemen-elemen reaksioner dari panitia sensor film, dll. Dan LEKRA kini sudah tersebar di seluruh nusantara Indonesia, sudah menghimpun lebih dari 10.000 pengarang, dramaturg, pelukis, komponis, musisi, pekerja-pekerja film dan pekerja-pekerja kebudayaan lainnya. LEKRA terdiri dari Lembaga Sastra Indonesia, Lembaga Musik Indonesia, Lembaga Tari Indonesia, dan Lembaga Film Indonesia; LEKRA adalah organisasi massa pekerja-pekerja kebudayaan Indonesia. Tetapi tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 45 belum diselesaikan semuanya. Masih berat dan pelik tugas-tugas yang ada di hadapan kami. Kami jauh daripada puas atas hasil-hasil yang telah kami capai, dan kami delegasi LEKRA ini datang untuk belajar dari sahabat-sahabat dan rekan-rekan.
Betapa tidakkah kami katakan tugas kami masih berat dan pelik, sebab di samping imperialisme yang masih punya kekuasaan di Indonesia, teritorial, politis, ekonomis maupun kulturil, feodalisme juga masih punya tubuh dan nyawanya. LEKRA mendidik anggota-anggotanya supaya selalu mempererat hubungannya dengan massa, antara lain dengan metode kerja “turun ke bawah”, dan supaya senantiasa mengejar “dua tinggi”, yaitu tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik. Dengan demikian, dengan diilhami oleh perjuangan massa Rakyat melawan imperialisme dan feodalisme, pekerja-pekerja kebudayaan anggota LEKRA berusaha menambahkan kayu bakar yang sebaik-baiknya bagi api perjuangan itu.
Tetapi segala yang berat terasa ringan, karena kami tahu bahwa di mana-mana kami punya sahabat, apalagi di Jerman ini. Kami sangat berterima kasih atas segala bantuan yang diberikan oleh rakyat RDD (Republik Demokrasi Djerman–red.) kepada perjuangan kami, khususnya perjuangan pembebasan Irian Barat. Sahabat-sahabat di sini masih harus menyatukan kembali negeri. Kami pun demikian. Dan baik diingat bahwa Irian Barat yang kini masih diduduki kaum imperialis Belanda yang dibantu oleh kaum imperialis Jerman Barat, luasnya kurang lebih 3,5 kali Jerman Barat. Apakah tidak adil kami menuntut pembebasannya? Kami menyokong sikap sahabat-sahabat di sini terhadap Jerman Barat, sepenuhnya dan tanpa syarat, seperti sahabat-sahabat menyokong kami sepenuhnya dan tanpa syarat.
Berjuang untuk kemerdekaan nasional yang penuh bagi kami, yang terkadang disebut orang “perut Asia Tenggara” berarti sekaligus berjuang untuk perdamaian, perdamaian di antara bangsa-bangsa, perdamaian dunia yang kekal, seperti halnya bagi sahabat-sahabat, bagi Jerman–“jantung Eropa”. Dalam hal ini pun, kita seia-sekata.
Tetapi karena sahabat-sahabat di sini berada dalam taraf perjuangan yang lain daripada kami, karena sahabat-sahabat sudah memilih jalan Sosialisme dan sedang membangunnya secara besar-besaran, karena dalam “Undang-Undang tentang Plan Tujuh Tahun untuk pengembangan ekonomi nasional Republik Demokrasi Jerman dari tahun 1959 hingga tahun 1965” antara lain ditetapkan bahwa selama masa itu akan ditanamkan penanaman negara sebesar 600 juta mark dan dibangunkan 12 rumah kebudayaan dengan kapasitas 9.000 di pusat-pusat industri dan 65 rumah kebudayaan dengan kapasitas 30.000 di kota-kota kecil dan daerah-daerah pedesaan, tentulah masalah-masalah yang dihadapi sahabat-sahabat dan rekan-rekan di sini berlainan daripada masalah-masalah kami. Sungguh pun demikian, dalam hal-hal yang hakiki seperti mengembangkan azas kerakyatan dalam literatur, azas “Politik adalah panglima”, azas “dua tinggi – tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”, dan sebagainya, saya yakin bukan saja masalah kita bersamaan, tetapi sikap kita, juga metode kita, bersamaan. Di sinilah, dalam pendapat saya, perlunya saling belajar antara sastrawan kedua bangsa kita.
Hubungan-hubungan kita bukanlah hubungan-hubungan yang baru dibangun tadi malam. Ketika LEKRA belum lagi berumur setahun, yaitu pada Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Berlin sini, LEKRA mengirimkan seniman-senimannya yang terkemuka seperti Henk Ngantung, Hendra, Sudjojono, Sudharnoto, M.S. Ashar, Hadi Sosrodanukusumo, dll. Dan dengan demikan, hubungan luar negeri yang pertama yang dilakukan LEKRA adalah justru dengan negeri-negeri sahabat. Kami merasa sangat berbahagia bahwa ketika kami melangsungkan Kongres Nasional LEKRA yang pertama di awal tahun 1959 dari sini datang Sdr. Prof. Nathan Notowocz dari Himpunan Komponis, dan bahwa di tahun itu juga berkunjung ke negeri kami penyair Kurt Barthels alias Kuba. Sekarang sedang berkunjung di Indonesia pemiano Brettschneider dan sejumlah seniman lainnya lagi datang dari RDD, mempererat hubungan-hubungan kebudayaan kita.
Kami yakin bahwa bahasa tukar-menukar kebudayaan ini akan kian berkembang, karena apa yang lebih terdengar oleh rakyat selain bahasa ini?
Sekali lagi atas nama LEKRA, dan khususnya Lembaga Sastra Indonesia, saya menyampaikan salam yang sehangat-hangatnya kepada sahabat-sahabat, rekan-rekan dan Kongres yang mulia, dan saya berharap, ya, saya percaya bahwa Kongres ini akan menyelesaikan pekerjaannya dengan berhasil!
Terima kasih atas perhatiannya.

Sumber: Indoprogress 

0 komentar:

Posting Komentar