Sabtu, 04 Maret 2017

Sejarah Kelam, Tragedi kemanusiaan 1965 (Bagian I)


4 Maret 2017 20:36

Foto : globalresearch.ca

Sejarah panjang bangsa Indonesia dengan perjuangan berlatang belakang ideologi yang dianut oleh para pendahulu, salah satunya ideologi komunisme.

Salah satu tokoh terkenalnya ialah Datuk Ibrahim alias Tan Malaka. Tan Malaka yang disebut-sebut sebagai the founding fathers “yang terlupakan” oleh bangsa ini merupakan seorang kiri-nasionalis yang menulis buku Naar de Republiek Menuju Republik.

Gagasannya ia tuangkan dalam buku terbitan 1925 itu tentang bentuk pemerintahan jika Indonesia merdeka. Lebih dahulu dari Moh. Hatta pada tahun 1927 yang menulis Indonesia Vrijheid, Indonesia Merdeka. Serta pledoi Soekarno Indonesia Menggugat pada 1933.

Ideologi komunisme sendiri di Indonesia dianut oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tahun 1965 Indonesia diguncang prahara.
Pembunuhan ketujuh perwira tinggi TNI diduga didalangi oleh PKI.

50 tahun lebih berlalu, dokumen otentik yang diyakini akan menjadi titik terang peristiwa tersebut yakni Supersemar entah dimana berada. Para ahli sejarah menduga tak hanya PKI yang menjadi dalang utama dalam kasus tersebut. Berkelindan antara pemerintah, militer, dan PKI sendiri.


Sejarah Kelam, Tragedi Kemanusiaan 1965 (Bagian II)

Dalam buku Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965 setelah peristiwa G-30 S itu terjadi pembunuhan orang-orang yang diduga terlibat dengan PKI.

Para “malaikut maut” dadakan itu kebanyakan dari kalangan sipil. Orang yang dibunuh pun baru sebatas terduga PKI. Kadangkala terjadi pemilihan secara acak. Kamp-kamp konsentrasi dibangun. Paling terkenal yakni Pulau Buru. Berbagai versi mulai dari 250.000 sampai 3.000.000 juta orang terbunuh pasca prahara tersebut.

Wacana rekonsiliasi nasional digulirkan. Saling memaafkan sebagai sesama anak bangsa. Ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Tragedi kemanusiaan 1965 seakan menjadi beban sejarah bangsa ini.

Perlu menjadi renungan bersama bahwa bila tak mau mengakui kesalahan di masa lalu, maka masa lalu itu kemungkinan akan terulang kembali. Histoire se repete, bunyi sebuah adagium berbahasa Perancis.

foto : :theconversation.com

0 komentar:

Posting Komentar