Sabtu, 11 Maret 2017

Sukarno, Soeharto, dan Supersemar dalam Pantauan CIA Tahun 1966

Sabtu 11 Mar 2017, 12:05 WIB
Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews


Soeharto (Istimewa/Getty Images)

Jakarta - Surat Perintah Sebelas Maret atau sering disingkat Supersemar masih terus menjadi teka-teki sejak tahun 1966 hingga kini. Rupanya Central Intelligence Agency (CIA) memantau situasi politik Indonesia saat Supersemar dikeluarkan.

Dalam dokumen CIA yang dikutip detikcom, Sabtu (11/3/2017), tergambar bagaimana transisi kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Jenderal Soeharto terjadi. Dokumen CIA itu dilaporkan pada tahun 1966 dan baru dipublikasikan pada Desember 2016 lewat situs resmi lembaga tersebut.

CIA menulis kronologi transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto pada tahun 1966. Laporan itu menuliskan bahwa pemicu perpindahan kekuasaan adalah demonstrasi mahasiswa.

Mahasiswa menduduki kantor Kementerian Luar Negeri dan melakukan penjarahan. Situasi politik Indonesia digambarkan memanas terutama setelah peristiwa G-30-S atau Gestok pada 1965.

Laporan CIA itu juga menuliskan bagaimana Sukarno sebetulnya tidak bermaksud menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto. Namun Soeharto tetap merasa dirinya mendapat mandat dan langsung membentuk kabinet.

Namun laporan CIA tak menuliskan secara detail bagaimana 'penyerahan kekuasaan' dari Sukarno ke Soeharto itu terjadi. CIA hanya menulis Sukarno tiba-tiba meninggalkan rapat pada tanggal 11 Maret 1966. 

Begini kronologi perpindahan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto dalam pantauan CIA:

3 Maret
Dalam menghadapi kelanjutan demonstrasi mahasiswa di Ibu Kota, Sukarno memerintahkan penutupan Universitas Indonesia di Djakarta.

8 Maret
Mahasiswa Indonesia mengintensifkan demonstrasi antipemerintahnya, menduduki dan menjarah kantor Kementerian Luar Negeri.

8 Maret
Pemuda dari gerakan kiri membuat serangan kecil ke kantor Kedubes AS.

10 Maret
Menindaklanjuti pertemuan dengan Sukarno, pemimpin partai politik mengeluarkan pernyataan dukungan untuk presiden dan mengutuk agitasi antipemerintah.

11 Maret
Dalam pertemuan dengan kabinet barunya, Sukarno, bersama Menlu Subandrio, tiba-tiba meninggalkan Istana Kepresidenan Bogor.

12 Maret
Menghadapi ultimatum militer, Sukarno menandatangani penyerahan otoritas eksekutif kepada Jenderal Soeharto. Soeharto tiba-tiba mengeluarkan pemerintah "atas nama" Sukarno secara resmi melarang Partai Komunis.

16 Maret
Dalam pengumuman kepresidenan, Sukarno mencoba mendapatkan kembali otoritas yang dia berikan kepada Soeharto, menegaskan bahwa perintahnya untuk Soeharto adalah kesalahpahaman dan bahwa dia sendiri bisa menentukan komposisi kabinet Indonesia. Dalam pernyataan terpisah, Jenderal Soeharto sepakat bahwa otoritas presiden belum surut.

18 Maret
Bertindak untuk memenuhi kekuasaan yang dia asumsikan, tentara menahan 15 menteri dari aliran kiri, termasuk target utama mereka Menlu Subandrio, dan menggantinya dengan yang berasal dari kalangan moderat. Pimpinan tentara dan sekutu sipilnya mulai membicarakan formasi kabinet baru.

23 Maret
Sukarno membuat kemunculan yang mengejutkan dalam sebuah resepsi diplomatik dalam rangka mencoba memperbaiki citra dirinya yang hancur.

27 Maret
Kabinet moderat yang baru diumumkan didominasi oleh Jenderal Soeharto; Sultan Yogyakarta, bertanggung jawab atas kementerian ekonomi; dan Menlu yang baru Adam Malik. Jenderal Nasution kembali ke pemerintahan dengan jabatan kementerian sebagai deputi komandan tertinggi dari Kogam, 'Komando Ganyang Malaysia'. Sukarno mempertahankan posisinya sebagai presiden dan perdana menteri.

4 April
Menlu Adam Malik dan Sultan Yogyakarta mengumumkan pernyataan publik tentang peletakan dasar moderat dalam kebijakan ekonomi dan luar negeri. Adam Malik mulai intens untuk mengembalikan keanggotaan Indonesia di PBB dan memulai upaya untuk mengakhiri konfrontasi melawan Malaysia yang sudah dilakukan selama tiga tahun. Sultan menerima bantuan asing dari berbagai sumber dan memberi garis program stabilisasi atas ekonomi Indonesia yang chaos.

10 April
Pemerintahan yang baru mengumumkan penekanannya untuk memperpanjang pengakuan kembali ke Singapura tetapi menegaskan kembali permusuhannya terhadap Malaysia.

Sukarno, Soeharto, dan Supersemar dalam Pantauan CIA Tahun 1966Dokumen CIA tentang Supersemar (Dok Istimewa)
(bpn/dnu)

https://news.detik.com/berita/d-3444276/sukarno-soeharto-dan-supersemar-dalam-pantauan-cia-tahun-1966



0 komentar:

Posting Komentar