Sabtu, 03 Oktober 2015

Martono: Aku si tukang listrik, korban salah tangkap tragedi 1965!

Ari Susanto 11:18 AM, October 03, 2015 
ANTIKOMUNIS. Anggota Banser, organisasi pemuda Nahdlatul Ulama, membakar bendera komunis di Blitar, 30 September 2015. Foto oleh AFP



ANTIKOMUNIS. Anggota Banser, organisasi pemuda Nahdlatul Ulama, membakar bendera komunis di Blitar, 30 September 2015. Foto oleh AFP

SOLO, Indonesia — Aku mendengar berita banyak orang ditangkap karena terkait peristiwa Gestok. Tetapi, aku tidak terlalu peduli. Aku hanya seorang tukang listrik yang mencari penghidupan sehari-hari. Aku sama sekali tidak tertarik politik.
 
Lahir dari keluarga yang pas-pasan memaksaku harus berjuang mencari cara bertahan hidup. Sekolahku pun tak kelar. Aku memilih belajar menjadi teknisi listrik dan mekanik sebagai bekal bekerja. 

Memperbaiki mesin dan listrik bisa menghasilkan uang. Aku lebih memilih menghabiskan waktu untuk mendatangi bengkel-bengkel yang membutuhkan jasaku daripada mengikuti perkembangan politik. Bagiku, politik tidak membuat perut kenyang.

Aku hanya suka mendengarkan pidato Bung Karno, seperti kebanyakan orang. Malam itu, 10 November 1965, sekitar pukul 10.00, aku menyetel volume radio dan mencari gelombang jernih untuk mendengarkan siaran pidato Bung Karno di Hari Pahlawan. Konsentrasiku bubar seketika saat enam orang dengan penutup muka tiba-tiba masuk ke dalam rumah.


Dikira PKI

PKI. Buletin sebuah ormas yang ada di Solo menentang upaya rekonsiliasi dengan korban Tragedi 1965. Foto oleh Ari Susanto/Rappler



PKI. Buletin sebuah ormas yang ada di Solo menentang upaya rekonsiliasi dengan korban Tragedi 1965. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Mereka menyeretku keluar Kampung Kedunglumbu seperti seekor binatang buruan. Kepalaku dikepruk (dipukul menggunakan benda keras), badanku diinjak-injak, ditendang, dan dilempar ke atas mobil. Mataku ditutup dan kedua tanganku diikat erat.

Entah berapa lama aku dibawa jalan sampai mobil berhenti di suatu tempat. Beberapa orang memegang kuat lengan dan kakiku lalu melempar ke udara. Badanku melayang lalu jatuh menubruk tanah, aku mengerang, merasakan sakit yang luar biasa. Lemparan itu diulang tiga kali, sebelum aku digiring ke suatu ruangan interogasi.

“Kamu PKI?” tanya seorang berseragam dengan nada menuduh.
Sanes (bukan) Pak, saya orang biasa,” jawabku sambil masih menahan rasa sakit.
“Pekerjaan?” desak si pemeriksa.
“Teknisi. Saya ndak ngerti politik sama sekali, tetapi paham soal listrik dan mesin,” jawabku.
“Tidak mungkin, nama kamu ada di daftar A, tidak mungkin orang biasa,” bentak salah seorang dari mereka.
“Sekolah Rakyat saja saya ndak lulus, saya ndak tahu apa-apa soal PKI,” aku berusaha meyakinkan sambil sesekali meringis merasakan badanku memar dan nyeri.

Aku merasa bahwa ada orang yang tidak suka denganku, lalu memfitnah dengan melaporkanku sebagai anggota PKI agar menjadi target penangkapan.
Aku baru tahu kemudian tentang daftar A, B, dan C, saat aku menjalani masa-masa tahanan di kamp. Rupanya, para target penangkapan dikatagorikan dalam daftar yang ditandai dengan alfabet, yang terkait dengan jenis hukuman.

A adalah daftar orang yang harus dieksekusi, umumnya ini adalah orang-orang penting, pengurus atau pentolan PKI. B1 juga target yang harus dilenyapkan, sedangkan B2 dan B3 adalah target untuk dibuang ke Pulau Buru dan Nusakambangan, sementara C adalah calon tahanan penjara.

Tersiksa mental di kamp penahanan

Sasono Mulyo, Keraton Surakarta, pernah dijadikan kamp penahanan oleh tentara. Foto oleh Ari Susanto/Rappler



Sasono Mulyo, Keraton Surakarta, pernah dijadikan kamp penahanan oleh tentara. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Tuhan masih menolongku. Mereka percaya namaku keliru masuk daftar A, sehingga aku lolos dari maut. Aku dikirim dengan mobil jeep ke kamp penahanan. Pada hari ketiga, aku diangkut ke Balai Kota Solo. Aku bergabung dengan tahanan lainnya di sana.

Semuanya ditelanjangi, demikian juga aku. Hanya menggunakan celana dalam saja, kami disuruh push up dan jongkok dengan tangan terlipat di belakang kepala. Kami semua dijemur di halaman balai kota, dan dijadikan tontonan banyak orang. Setelah matahari tergelincir lewat tengah hari, kami baru digiring masuk.

Setelah dijemur, aku tak juga dilepaskan. Malahan, bersama yang lainnya, kami dipindahkan ke kamp Sasono Mulyo di Keraton Surakarta. Di tempat pengap yang dipaksakan menampung sekitar 2.000 orang itu, aku menjadi tukang kebun, tukang listrik, dan juru masak. Aku bertahan satu tahun di kamp itu, sebelum akhirnya dipindah lagi.

Pengalaman di Sasono Mulyo sungguh mengerikan. Meskipun jarang ada siksaan fisik di sini, tetapi teror mental terjadi hampir setiap malam. Di kamp itu, detik demi detik terasa seperti penantian maut yang mendebarkan.
Setiap truk datang, suasana menjadi hening. Semuanya menduga-duga siapa yang akan meninggalkan kamp. Mereka yang namanya dipanggil melalui mikrofon berarti akan diambil dan dibawa pergi. Mereka tak akan pernah kembali lagi. Wajah-wajah mereka pucat saat digiring ke atas truk, mengira sebentar lagi ajal akan menjemput.

Disetrum di kamp di Solo

TRAGEDI 1965. Kuburan 24 orang yang dibunuh karena diduga anggota Partai Komunis Indonesia di Kampung Plumbon, Semarang. Foto screengrab Youtube



TRAGEDI 1965. Kuburan 24 orang yang dibunuh karena diduga anggota Partai Komunis Indonesia di Kampung Plumbon, Semarang. Foto screengrab Youtube

Aku akhirnya dipindah ke sebuah kamp lain, tetapi masih di Kota Solo. Di sana, aku kembali diinterogasi. Pertanyaannya sama seperti pada saat pertama kali aku diculik.

“PKI atau bukan?” tanya petugas interogasi.
“Bukan, saya ndak tahu soal PKI, Pak,” jawabanku tetap sama.
Namun, kali ini aku merasakan kengerian. Di hadapanku, setiap tahanan yang diinterogasi disetrum ujung jari kaki dan tangannya agar mengaku. Tetapi, siksaan dengan aliran listrik malah membuat banyak tahanan mati satu per satu sebelum mengaku. Kejutan listrik tinggi membuat orang kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya dalam hitungan menit.

Aku seperti merasakan akan mati sebentar lagi. Kepalaku kosong, tak ada harapan lagi. Giliranku tiba. Aku disetrum seperti tahanan lainnya agar mengaku.

“Saya bukan PKI, bukan PKI!” teriakku.

Aku merasakan sesuatu yang aneh. Kejutan aliran listrik tidak sampai membuat jantungku berhenti berdetak. Otakku masih sadar. Aku masih bisa melihat orang-orang di sekelilingku. Aku yakin aku belum mati.
Mereka melakukannya berulang-ulang, menyetrumku di beberapa bagian tubuh, tetapi aku masih hidup dan tidak mati-mati. Aku sendiri heran dengan apa yang terjadi dengan tubuhku.

“Orang ini kebal listrik, ia pasti punya ilmu kanuragan,” kata salah seorang di antara mereka.
“Berarti dia bukan PKI. Seorang komunis tidak percaya ilmu kebal.”
“Kita lepas saja, tetapi suruh dia bekerja untuk kita,” ujar yang lainnya sambil geleng-geleng kepala heran menyaksikanku tidak mempan sengatan listrik.

Aku masih tidak percaya mereka mengira aku memiliki ilmu kebal. Mungkin ini keajaiban Tuhan untuk menyelamatkanku. Ada hal yang mungkin tidak mereka ketahui bahwa aku adalah tukang listrik yang sudah makan asam garam.
Sengatan listrik dengan berbagai voltase sudah menjadi makananku sehari-hari. Mungkin karena sering kena setrum, tubuhku menjadi akrab dengan listrik. Sampai sekarang pun aku bisa memegang aliran listrik di instalasi rumah tanpa tersengat. 

Orang pun sering heran, dan suka mengetes dengan menempelkan tespen di lenganku yang dialiri kabel listrik. Lampu tespen menyala.
“Kamu harus tetap di sini,” ujar salah satu dari mereka.

Menjadi pengangkut mayat korban

Jembatan Bacem, di atas aliran Bengawan Solo, dikenal sebagai lokasi penghilangan paksa massal para tahanan terduga komunis selama 1965-1966. Foto oleh Ari Susanto/Rappler



Jembatan Bacem, di atas aliran Bengawan Solo, dikenal sebagai lokasi penghilangan paksa massal para tahanan terduga komunis selama 1965-1966. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Aku dibebaskan tetapi dengan syarat aku mau bekerja sama. Aku akhirnya menjadi tenaga teknisi di kamp. Pekerjaanku serabutan, dari mulai tukang kebun, tukang masak, memperbaiki instalasi listrik, memperbaiki mobil tahanan yang rusak, sampai menjadi sopir pengantar mayat.

Yang terakhir ini membuatku merasa ngeri saat pertama kali melakukannya. Akhirnya aku pun menjadi terbiasa memperlakukan tawanan yang sudah tak bernyawa. Sebenarnya ini bukan bagian pekerjaanku. Tetapi karena aku sering memperbaiki dan membawa mobil, aku pun diperintah untuk mengangkut tahanan yang mati di kamp.

Setiap pagi dan siang ada yang mati, malam hari aku bekerja. Selepas maghrib, aku mengangkut mayat-mayat itu ke Jembatan Bacem untuk dibuang ke sungai Bengawan Solo atau ke kuburan massal. Setiap malam, minimal tiga mayat aku angkut dengan mobil. Setiap Sabtu dan Minggu, jumlahnya bisa 20 sampai 30. Aku mengantarkan jenazah setiap malam selama dua tahun.

Aku terpaksa bekerja di kamp tahanan, meskipun hatiku tidak di sana. Jika tidak mau bekerja sama, aku pasti sudah tewas. Aku mungkin tahan sengatan listrik, tetapi kulit dan dagingku tidak anti peluru.

Bebas, namun ditandai

TOLAK REKONSILIASI. Ormas Islam garis keras menentang dukungan agar pemerintah meminta maaf kepada korban tragedi 1965. Foto oleh Ari Susanto/Rappler



TOLAK REKONSILIASI. Ormas Islam garis keras menentang dukungan agar pemerintah meminta maaf kepada korban tragedi 1965. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Setelah aku bebas, aku tetap ditandai sebagai eks-tahanan politik. KTP ku berbeda dengan orang biasa. Anak-anakku pun tak bisa menjadi pegawai negeri, tentara, atau polisi. Selama Orde Baru, aku berusaha untuk menyembuhkan trauma dan mencari makan sendiri. Aku membuka bengkel untuk menyambung hidup.

Aku pernah bergabung dengan organisasi korban 65. Tugasku adalah mencari dan mendata jumlah korban pelanggaran HAM berat 1965. Aku berhasil mendapatkan ribuan orang korban yang masih hidup di wilayah Solo, Klaten, dan Boyolali. Tetapi, aku akhirnya berhenti karena aku sudah lelah dengan ketidakpastian nasib korban.

Lima puluh tahun sudah tragedi itu berlalu. Aku tak menyimpan dendam meskipun lima tahun di tahanan. Aku hanya ingin negara tahu dan mengakui bahwa aku adalah satu dari sekian banyak orang tak bersalah yang menanggung penderitaan karena pergolakan politik.

Aku bukan pemberontak, bukan pengkhianat, bukan komunis. Aku si tukang listrik, korban salah tangkap!

Namun, selepas Oktober, semuanya kembali senyap.— Rappler.com

Kisah di atas seperti yang dituturkan Martono YS (82), seorang survivor (penyintas) yang pernah diperiksa oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada 2008 sebagai korban dan saksi pelanggaran HAM 1965-1966, kepada Rappler
http://www.rappler.com/indonesia/107929-martoyo-tukang-listrik-disiksa-dikira-pki

0 komentar:

Posting Komentar