Minggu, 14 Juni 2015

Surat Nurlan Daulay Kepada Junjungan Jiwanya

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 14 Juni 2015)


Las,
Sesungguhnya aku ingin tak henti-hentinya menulis kepadamu, tetapi kalaupun yang ini menjadi penutup tumpukan surat-surat kita sejak lima puluh tahun lalu, maka ia akan kuterima sebagai takdir. Suka atau tidak, segala sesuatu ada akhirnya. Juga pertalian antara kau dan aku.
Bila kutengok ke belakang, surat-surat kita yang balas-berbalas itu telah melampaui kodratnya sendiri sebagai muara tempat kita melabuhkan perasaan. Dia membebaskan… Ketika aku digelandang keluar kamp, mereka yang berkuasa, berselempang bedil, tidak menjelaskan—dan memang aku tak peduli—mengapa aku dipulangkan. Sementara ratusan kawanku digiring ke penjara, dan sebagian besar dilemparkan, disiksa, mati, di pulau pembuangan. Dijadikan budak kerja paksa untuk membangun pulau yang nyaris tiga kali lebih besar dari Bali, di timur sana, hanya dengan tangan kosong. Dan, tanpa alat seprimitif macam apa pun, mereka telah menyulap Buru menjadi swasembada beras. Tragisnya, bukan mereka yang menikmati hasil, melainkan tentara yang mengawal dengan todongan senjata. Sulit aku untuk tidak sampai pada kesimpulan bahwa kata-kata kita, yang saling bersambut di dalam surat-surat yang mereka sita dari kantongku itu, telah membalikkan anggapan mereka mengenai diriku. Ah …, si anak cengeng yang romantis. Bagai merpati yang sedang giring. Ditahan lebih lama hanya akan menjadi beban. Begitulah kira-kira pikiran mereka. Kebodohan mereka juga, barangkali, yang menduga bahwa aku sesungguhnya adalah calon penghuni surga, setelah mereka menyimak surat warisan yang ditulis ayahku, manakala beliau bersama emak bersiap-siap mengarungi lautan, yang acapkali menelan korban, untuk mencium tangga rumah Tuhan di jazirah Arab
Ketika namaku dipanggil untuk dibebaskan, sempat juga kecurigaan menyesakkan dadaku. Jangan-jangan aku akan dijadikan cecunguk. Tukang tunjuk. Seperti Burhan, Sartono, Djibal. Tapi, siapa lagi yang belum mereka ringkus? Timpas sudah kaumku yang terhina “sampai ke akar-akarnya!” Tak ada yang tersisa, walau keraknya sekalipun. Tak terhitung berapa kali, dengan menyeret sandal jepit, aku berjalan menyusuri rel kereta api dari rumah pemondokanku di Ancol sampai Bekasi, Tambun, kalau-kalau bertemu kawan. Tapi, tak sebatang hidung pun! Kecuali lalat langau yang terbang dari timbunan sampah dan sebentar-sebentar mengerubungi kepalaku.
Tanpa kawan, kebebasan hanyalah penjara besar dalam bentuk lain dengan tembok-tembok khayali yang menyiksa. Sesakit-sakitnya di dalam kamp, ada kemewahan komunal dari orang-orang yang memuja kekayaan batin di sana: kesetiakawanan. Aku menemukan kebebasan ini hanya menawarkan kehampaan. Mungkin ini bagian dari taktik militer untuk melumatkan pikiranku, tekad hidupku. Sama seperti teror yang mereka tonjokkan dengan menjebloskan tukang copet, tukang santet, pencuri kambing, dan bajingan-bajingan kecil ke tengah-tengah kami para tahanan. Sama melecehkannya seperti interogator yang bertanya kepada penyair Hr. Bandaharo, apa pekerjaannya. “Pengarang,” jawab si penyair. “Sehari dapat berapa karung arang?” ejek si tukang siksa.
Pinjamkanlah kupingmu kepadaku, tidak untuk kupagut lagi, dan lagi, tapi untuk kubisiki. Dengarlah, Las. Ingin kuceritakan bagaimana solidaritas dimuliakan di dalam kamp kami, tapi kumohon kau, wahai junjungan jiwaku, janganlah cemburu. Aku seorang diri di tanah Jawa ini. Tak ada yang menengok.
Kamp itu dikelilingi kawat berduri. Kalau hanya mengandalkan jatah sebesek dua kepal nasi campur kacang-panjang berbelatung pada waktu siang, dan sebesek lagi sore hari, kujamin dalam setengah tahun aku mati tinggal tulang. Tahanan yang menerima uang sekadarnya, saat besuk, yang dijulurkan istri atau sanak-saudara dari celah kawat berduri, bisa membeli bahan makanan dari tukang sayur yang lewat.
Retak tangan tak menunjukkan nasib. Mujur, aku bisa diterima oleh kelompok riungan yang terdiri dari beberapa tahanan. Jangan tertawakan aku, Las. Orang boleh mengatakan aku terlalu muda untuk ditahan. Sayang untuk tidak ditaksir gadis-gadis. Tubuhku bertenaga. Di dalam bui, semua itu tak ada gunanya. Aku tak punya apa-apa. Modalku cuma satu: aku bisa menanak nasi tak berkerak di kaleng mentega. Itu artinya aku bisa membuat kawan-kawan riunganku menghemat paling tidak dua loyang nasi dalam sehari.
Sekali waktu, pada jam besuk, namaku diteriakkan. Ada seorang gadis, manis, yang mengunjungiku, membawa sekeranjang bekal. Aku tertanya-tanya di dalam hati. Siapa gerangan? Kakakku dari kampung? “Terima saja, Bung… Jangan tanya,” bisik seseorang menghampiriku. Kutandai dia dulunya adalah pegawai tinggi kementerian pendidikan. Dengan gadis itu aku bertukar senyum. Kuucapkan terima kasih, dan dia berpaling, untuk selamanya. Selamanya.
Surat-surat kita itu, Las. Surat-surat itu untunglah tidak membangkitkan rentetan pertanyaan yang bisa berakhir dengan siksaan. Di setiap pojoknya tertulis, di antara dua tanda kutip, “SER”. Dengan tatapan mata yang tajam menyelidik, interogator menyidik apa artinya? Kukuatkan hatiku, kutatap balik matanya dengan gentar, dan kubilang bahwa itu adalah kode kasih-sayang di antara aku dan kekasihku. Dia kelihatannya yakin. Kalau dia terus mendesak dan mengancam dengan kejutan listrik, atau kaki meja yang akan digencetkan ke jempol kakiku, apakah aku kuat bertahan untuk tidak menyerah dan mengatakan bahwa itu adalah singkatan “Semangat Elang Rajawali” yang kita kutip dari pidato Soekarno. Bahwa saling-mengasihi di antara kita, akan kita pertahankan dengan semangat burung semberani, yang tidak hanya kuat menadah terjangan badai, tetapi juga mampu mengalahkannya. Semboyan itu juga ditemukan si interogator di pojok selampai yang kau berikan kepadaku. Syukur, dia tak bertanya lagi. Surat-surat itu, selampai itu, tidak mengkhianat. Tidak! Dan, tahulah aku, cinta tak terkalahkan. Jika ia sejati.
Las,
Aku bahagia, sama melambungnya perasaanku seperti ketika untuk pertama kali kau membalas tatapan mataku, jari kita saling bertemu, manakala aku tahu kau masih menyimpan surat-surat kita itu. Surat wasiat ayahku itu. Selampai putih itu. Kau simpan baik-baik, seperti kau menjaga hatimu sendiri. Mereka adalah pertanda zaman yang telah kita lalui selama setengah abad. Kita akan terus memelihara kenangan itu. Karena kau, aku juga, tidak punya rasa takut untuk menyimpan ingatan itu. Betapa manis, betapa getir pun ia. Karena kita adalah korban. Bukan seperti kekuasaan yang ingin—dan sudah—menggerus semua tanda-tanda kejahatannya. Sementara sejarah kita, kenangan kawan-kawan kita, akan mengepung mereka senantiasa.
Kemarin, aku ke Bank Indonesia. Bukan yang berdiri anggun di Jalan Thamrin, tetapi yang di bagian belakangnya, yang menghadap Jalan Budi Kemuliaan. Aku menahan napas. Menginjakkan kakiku kuat-kuat. Di situ sudah tak ada Komando Distrik Militer 0501, markas Operasi Kalong untuk membinasakan orang-orang yang harus ditumpas habis, sebagai balasan terhadap para jenderal yang diculik dan dibunuh oleh satu gerakan militer yang hanya berumur beberapa jam. Kekerasan berdarah dengan bedil yang dikokang, maupun golok dan pedang kampung yang ditebaskan, membuat negeri ini malu di depan sebuah peradaban.
Aku layangkan pandanganku menyeberangi Jalan Budi Kemuliaan. Jalan dari mana, dulu, ibu-ibu hamil yang baru pulang dari rumah sakit bersalin di ujung sana, sering, dengan mencuri-curi, melambaikan tangan, paling tidak kerlingan simpati, kepada kami para tahanan. Kamp konsentrasi bergelung kawat berduri sudah tak ada di situ. Kutarik napasku, kuinjakkan kakiku kuat-kuat. Sakitnya hatiku, Las. Begitu mudahnya kekuasaan menghilangkan jejak kezalimannya. Di situ, sekarang, dengan pongahnya berdiri gedung Indosat.
Aku masuk ke ruangan tamu. Berada di dalam ruangan itu terasa seperti terkurung di kardus raksasa yang terbuat dari pualam. Terang keemasan. Aku tegak persis di tengah-tengah, mengamati sekeliling.
“Mau ketemu siapa?” tanya seseorang berpakaian serba hijau.
“Nyaman. Nikmat sekali berada di sini. Tidak seperti lima puluh tahun yang lalu,” jawabku sekenanya, memperteguh pijakan kakiku. Sebelum petugas itu melanjutkan pertanyaan, cepat kubilang: “Maaf, saya tidak ingin bertemu sesiapa. Hanya ingin minta izin. Bolehkah saya berdiri barang sesaat di pekarangan itu?” Dia menoleh ke arah telunjukku, ke pekarangan dengan hamparan rumput hijau. Petugas itu menganggukkan dagunya dan aku melangkah ke luar.
Di bawah terik matahari aku mencari-cari di mana kamar mandi Komando Distrik Militer 0501 itu dulu. Masih terang dalam ingatanku, di situ pemimpin redaksi Harian Rakyat, Mula Naibaho, disiksa dengan kejutan listrik. Disuruh buka baju, dan belakangnya hancur digerus ekor pari kering. Teman dekat Cornel Simanjuntak itu tidak menjerit kesakitan. Dia hanya menggelatuk. Disuruh masuk bak kamar mandi. Dia dicemplungkan ke situ dengan darah yang terus meleleh di punggungnya. Dikeluarkan dari bak mandi, lantas dengan bentakan dia dipaksa menghabiskan sepiring sambal merah.
Di mana pula dapur yang dijadikan tempat kurungan untuk Tarni dan lima anaknya, termasuk si Butet, yang baru berusia dua bulan, masih merah… Dapur ini cuma selangkah dari kamar interogasi. Dan saban malam istri Njoto itu, juga anak-anaknya, dibangunkan jerit dan rintih pesakitan yang disiksa dengan rupa-rupa cara. Kau juga, Las, kau disekap di situ, digaruk bersama Bulikmu yang dituduh aktivis Gerwani. Pedih hatiku, ingin rasanya aku membalas, karena ketika kita sudah berumahtangga, kau ceritakan bahwa kau sering dipanggil tengah malam untuk mengepel darah yang berceceran di lantai ruangan interogasi. Dan .., dan.., kau bilang.., kau katakan.., kau pernah gemetaran, berdoa gemelatuk, memohon dalam hati, karena kau percaya pada kekuatan doa, Ya Allah, lenturkanlah hati komandan Operasi Kalong itu, si Kapten Suroso, untuk tidak melecehkanmu, memperkosamu… Padahal, dia yang minum berbotol-botol bir untuk mematikan perasaan, sudah meraih tanganmu, mendudukkanmu di pangkuannya.
Di manakah letak bekas dapur dan kamar mandi itu di halaman yang terhampar begitu mewah? Aku berdiri tepat di jantung batu yang menjadi pusat sebuah lingkaran besar. Kurenggangkan kakiku. Kutancapkan tapak kaki sekokoh-kokohnya. Di sini dapur dan kamar mandi jahanam itu, kataku meyakinkan langit. “Pak, saya hanya menjalankan perintah. Tak boleh berdiri di situ,” sekonyong-konyong petugas yang mengenakan stelan hijau-hijau tadi menghalauku.
Las,
Orang itu, siapa pun, bisa mengusirku, namun tak mungkin membungkam kenanganku. Juga ingatanmu. Tidak!
Sampai sini dulu, Las. Tertumpang pelukanku yang lama, selalu, Nurlan Daulay. (*)
________________
Martin Aleida, Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, menghabiskan lebih 50 tahun usianya di Jakarta. Menerima Penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas(2013) dan Anugerah Seni Kementerian P & K (2014)

https://lakonhidup.com/2015/06/14/surat-nurlan-daulay-kepada-junjungan-jiwanya/

0 komentar:

Posting Komentar