Selasa, 02 Juni 2015

Tentang Siksa, Tentara dan Agama: Kisah Hidup Antonius Pudji Rahardjo dari Koblen sampai Buru


JUN 02, 2015 - oleh: SOE TJEN MARCHING

Saya bertemu Antonius Pudji Rahardjo untuk pertama kali pada September 2013, diantar seorang sahabat, Djuir Muhammad, dengan sepeda motornya. Jalan ke rumah pak Pudji ternyata cukup berliku, melewati gang-gang kecil. Kami tidak mengabari akan datang, tapi pak Pudji menyambut kami dengan amat ramah. Inilah kisah Pudji Rahardjo:

Foto: Dokumentasi Pribadi

Saya lahir pada 7 September 1929, tapi kemudian saya buat menjadi 7 September 1932 setelah keluar dari penjara. Waktu itu saya tengah membuat surat-surat baru. Jadi, sekalian saya mengganti tanggal kelahiran saya supaya bisa kerja lebih lama lagi, tidak perlu pensiun dini.

Saya dulu bekerja di PT BAT (British American Tobacco), perusahaan rokok, asuransi, bengkel dan macam-macam. Kantor pusatnya di Jakarta, tapi perkebunannya di mana-mana. Saya pertama menjadi asisten, lalu pemimpin akuntan. Tapi, kemudian, saya juga menjadi aktivis buruh. Tahun 1964, saya diberi wewenang oleh Oei Tjoe Tat, yang saat itu adalah Menteri Negara, untuk menjadi komandan pengambilalihan perusahaan BAT di Indonesia.  Inilah proses nasionalisasi perusahaan asing waktu itu. BAT lalu diambilalih oleh militer dengan beberapa wakil dari kaum buruh.

Pada tanggal 27 September 1965, para pemimpin serikat buruh seluruh Indonesia di tempat saya bekerja, mendapat panggilan dari KKU (Kepala Kuasa Usaha) perusahaan di Jakarta, untuk membicarakan masalah jaminan sosial buruh. Diharapkan tanggal 28 September, mereka sudah berada di kantor pusat Jakarta, untuk mengadakan perundingan.

Jadi, tanggal 30 September itu, saya masih berada di Jakarta.  Pada sekitar jam 23.30, saya lewat Menteng melihat beberapa kendaraan lapis baja.  Waktu itu, saya kira mobil itu untuk persiapan hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober nanti.  Kurang lebih jam 24.00, saya sudah sampai di penginapan.  Kemudian, saya dan beberapa teman menyalakan radio.
Sambil mendengarkan lagu, kami ngobrol. Tiba-tiba ada siaran RRI mengenai pengumuman Dewan Revolusi.  Waktu itu, kira-kira sudah hampir jam 7.00 pagi.  Bunyi siaran itu antara lain begini:

Dewan Revolusi telah menyelamatkan RI dari usaha kudeta Dewan Jendral dan mengumumkan bahwa Kabinet dinyatakan domisioner, segala urusan kepemerintahan diurus oleh Letkol Untung, dan diumumkan bagi seluruh jajaran Angkatan bersenjata RI yang berpangkat Kolonel ke atas diturunkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel, sedangkan bagi segenap prajurit yang ikut aktif dalam menggagalkan usaha kudeta oleh dewan Jendral akan mendapatkan kenaikan 2 tingkat. Ini adalah masalah intern Angkatan Darat.

Pagi harinya, kami keliling kota dan melewati RRI.  Ternyata di situ banyak terlihat tentara berbaret hijau.  Lalu jam 15.00, kami melewati RRI lagi, dan di sana tidak ada baret hijau, tapi yang ada tentara berbaret merah (RPKAD).

Hari selanjutnya, tanggal 2 Oktober 1965, di belakang Hotel Indonesia, terlihat para pemuda berpakaian putih-putih dengan kedua ibu jarinya terikat dimasukkan ke dalam truk, dan menurut orang-orang di sekitarnya, mereka yang ditangkap adalah Pemuda Rakyat.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, saya pergi ke kantor dewan nasional SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), namun saya sudah tidak dapat menemukan seorang pun.  Saya lalu pergi ke Jl. Dempo 2, untuk menemui seorang teman. Dia juga sudah tidak ada dan tidak ada yang tahu kemana perginya.

Tanggal 4 Oktober, saya mencoba menemui wakil KKU Letkol Mamesa, dan untunglah beliau bersedia menemui.  Saya mohon pamit untuk meninggalkan Jakarta dan untuk keamanan, minta surat jalan.  Setelah mendapat surat jalan, segeralah kami membeli tiket ke kota asal masing-masing.

Tanggal 5 Oktober, pagi-pagi sekali saya dan seorang teman, Kardono, sudah berada di stasiun kereta api.  Sepanjang perjalanan itu, kami melihat Angkatan Darat beserta hansip-hansipnya di pinggir-pinggir jalan dan sawah-sawah, terutama di perbatasan kota.  Ada pemeriksaan kendaraan dengan ketat sekali. 

Setelah kereta api yang kami tumpangi sampai di stasiun Cirebon, kereta berhenti agak lama, karena ada operasi militer di dalam gerbong.  Ada beberapa yang diturunkan oleh tentara-tentara itu, termasuk seorang perempuan yang duduknya tidak jauh dari saya. Pada saat diperiksa, perempuan itu ada baju hijau di tas ranselnya.  Apa karena baju hijau itu, dia diperintahkan turun? 
Kami tidak mengerti dan tidak berani banyak tanya.  Kami juga diperiksa, dan setelah menunjukkan surat jalan, mereka langsung memeriksa yang lain.

Jam 22.00 malam, kami tiba di stasiun Turi Surabaya.  Sampai di rumah, istri dan keempat anak saya sudah tidur semua. Saya disambut istri dengan mesra dan keluarga terlihat tenang-tenang saja. Paginya, saya masuk kerja seperti biasa. Tapi di tempat kerja sudah banyak perubahan. Saya banyak ditanya dan gerak-gerik saya selalu diperhatikan oleh pemimpin perusahaan.

Tanggal 27 Oktober, di pertigaan jalan, ada militer yang saya kenal.  Di situ dia bilang: “Bung, kompleks perusahaan asing Anda sudah dikepung.  Anda mau menyerah sekarang atau ditangkap di sana?” Saya pun menyerahkan diri. Saya pikir, saya ini apa, paling-paling diinterogasi saja.

Saya dibawa kantor polisi lokal, lalu dibawa ke Corps Polisi Militer (CPM) di Jl. Ngemplak, Surabaya. Empat hari kemudian, saya dikirim ke penjara militer Koblen di Surabaya. Di Koblen, semua isi kantong kami dirampas.  Termasuk uang gaji saya sebulan, beserta bolpen dan kertas-kertas. Saat itu, jumlah tahanan di Koblen baru 76 orang.  Hari-hari pertama, makanan kami di sana, masih lumayan. 

Kami mendapatkan air manis yang kadang dirupakan kolak pisang.  Tapi setiap hari, jumlah penghuninya bertambah, dan makanan kami pun semakin berkurang. Tidur pun makin kacau, berhimpit-himpitan di lantai seperti ikan pindang, dan sebagian besar tidak ada lagi tikar atau alas apapun. Kamar yang mestinya sudah sesak untuk 20an orang, diisi 60 orang lebih. Makanan pun kadang dicampur gabah, lalu pasir. Sedangkan sayurnya hanya kangkung beserta akar-akarnya yang dicincang lalu direbus saja.
Setiap kali ada tambahan baru, yang baru ditangkap dan dimasukkan ke Koblen, selalu ada info baru tentang pembunuhan, pengejaran dan penyiksaan yang sadis sekali.

Lalu, saya dikirim ke Jl. Musi 21, kantor serikat buruh gula, yang sudah diubah fungsinya menjadi tempat untuk penahanan TAPOL.  Di atas, dijadikan ruang periksa, sedangkan di bawah untuk mereka yang baru ditangkap. Di sana, saya diinterogasi. Mereka menanyakan tentang kegiatan serikat buruh perusahaan BAT, termasuk pengambilalihan perusahaan ini. Anehnya, semua proses ini seolah sudah direkayasa sebelumnya. Sebelum saya diperiksa, saya diharuskan menandatangani pernyataan, tanpa bisa membaca isinya. Lembaran itu ditutupi dengan kertas dan tidak dibacakan terlebih dahulu.

Di Musi 21, setiap ada pemeriksaan, tahanan lainnya dikumpulkan di ruang belakang.  Dari ruang itu, baik siang maupun malam hari, kami sering mendengar jeritan atau gebukan benda tumpul ke tubuh manusia, bahkan terkadang diiringi suara radio yang cukup keras juga. Setelah itu, akan ada pemeriksa yang memanggil-manggil Tapol yang berkerumun di belakang, untuk membawa ke belakang teman yang habis disiksa dan sudah tidak mampu berdiri itu.

Suatu hari, tanggal 21 Maret 1966, sekitar jam 10 pagi, saya dipanggil oleh petugas piket.  Saya terkejut dan tegang sekali. Ternyata, ada keluarga yang ingin menemui saya. Istri saya sudah menunggu dengan wajah pucat, sambil menggendong anak saya yang terakhir. Waktu saya ditangkap, dia memang sedang mengandung 3 bulan. Kami tidak bisa bersua lama, hanya sekitar 5 menit. Lalu, saya harus masuk kembali.

Saya lalu dikirim ke penjara Kalisosok. Saya dioper sana-sini dan kini sudah lupa tempatnya satu per satu. Lalu, kembali lagi ke Kalisosok.Di penjara Kalisosok, jam 9 pagi, kita punya kesempatan mandi sekaligus mengambil air untuk keperluan minum.  Ini biasanya digilir dari kamar per kamar.Mulai mandi maupun selesai diatur dengan bunyi sempritan.  Lamanya mandi ditentukan sekitar lima menit lebih, kadang-kadang kalau mencuci celana dalam dan baju, tidak ada waktu lagi untuk mandi. 
Jika semprit(pluit) selesai mandi dibunyikan, kami harus selesai.Kalau tidak, akan ada bogem mentah.  Yang mengawasi kami mandi adalah napi kriminal, dan kalau kebetulan napi itu jahat, dia menghitung tapol dengan menggunakan alat pemukul. Napi ini bisa memukul tapol seenak udel mereka, sampai kami banyak yang berdarah-darah.

Saat itu, keluarga sudah bisa kontak saya.Pengiriman makanan diatur hanya seminggu sekali oleh pejabat yang berwewenang di penjara.
Tapi kiriman dari keluarga juga tidak bisa sepenuhnya masuk, kecuali bagi mereka yang berduit karena mereka bisa menyogok petugas.Mula-mula yang bisa masuk hanya karak(nasi aking) dicampur gula, karena makanan lain yang enak-enak dimanfaatkan oleh penjaga penjara.

Lama-kelamaan, bahkan kiriman dari keluarga dihentikan sama sekali tanpa alasan. Padahal makanan di penjara ini sangat minim, sehingga banyak yang menderita busung lapar. Banyak dari mereka yang sudah tidak bisa bergerak atau duduk. Lalu, nafasnya mulai terengah-engah. Tapi selama masih bisa dimasuki air gula, biasanya bisa tertolong. Mereka yang sudah tidak mampu menelan air gula lagi, berarti hanya menunggu kematian.

Waktu kiriman masih bisa masuk, gula adalah barang yang sangat disayangi.  Bila tidak perlu, tidak akan kami meminumnya. Baru setelah badan terasa lemas sekali, kami mencampurnya dengan air. Gerakan-gerakan yang memakan energi berusaha dihilangkan. Jadi, kami seringkali berusaha diam dan menutup mata, untuk menghemat energi.

Tahanan yang baru masuk Kalisosok dari penjara Koblen, beberapa ada yang hanya bertahan 35 hari, lalu meninggal. Kami wajib melaporkan bila ada yang meninggal. Tapi seringkali kami diam saja, karena berharap jatah makan orang mati ini bisa diambil.Barulah kalau badannya sudah kaku atau bau, akan kami laporkan.

Saya berada di Kalisosok ini selama 3 bulan, lalu dipindah kembali ke Koblen.Sebelum dipindah, kami digeledah. Mengetahui itu, catatan saya langsung saya masukkan mulut dan saya telan, sambil pura-pura batuk. Bersama itu, daftar nama-nama orang yang meninggal di Kalisosok pun lenyap pula.

Di Koblen, ada seorang teman bernama Masri.  Dia pelukis dan istrinya muda dan cantik sekali. Waktu istrinya mengirim makanan, seringkali dia diajak masuk kantor dan diajak ngobrol lama sekali oleh petugas.  Lama-lama, dia diminta untuk melayani keinginan sang petugas itu.  Namun, sang istri dengan gigih mempertahankan harga dirinya.  Tapi apa balas dendam para petugas itu?  Mereka menyiksa Masri habis-habisan, sampai dia akhirnya sakit jiwa, kemudian dia dibawa kemana tidak ada yang tahu. Yang jelas, tidak ada yang bisa menemukan dia lagi setelah itu.

Ketika saya kembali lagi ke Kalisosok, ada orang yang pernah saya kenal waktu masih di Koblen dulu, namanya saya sudah lupa, tapi dia bekas lurah di desa Wringinanom – Gresik.  Seingat saya, dia sudah dibebaskan. Tapi sekarang, kok masuk lagi? Dia lalu bercerita kalau waktu dia keluar penjara, dia mendapati  tentara yang menangkapnya memperdaya dan menikahi istrinya. Jelas, dia marah. Tentara itu dibunuhnya, karena itu dia dijebloskan ke penjara lagi. Tapi katanya dia tidak menyesal, malah lega. Paling tidak, bangsat itu sudah lenyap, katanya.

Pada Agustus 1969, pemberangkatan tapol ke Pulau Buru tahap pertama dilakukan melalui Nusakambangan. Kami diberitahu bahwa akan ada yang dikirim ke pulau Buru dan nantinya di sana, para tapol akan mendapat kebebasan untuk mengelola tanah dan hasilnya untuk keperluan sendiri.
Satu bulan sebelum pemberangkatan, para tapol dikumpulkan di Nusakambangan dulu, baru dikirim ke Buru.

Pada akhir Juni 1970, jatuh giliran tahap kedua ke pulau Buru. Dua hari sebelum dikirim, para keluarga diberi kesempatan untuk bertemu. Saya pun bisa bersua dengan istri dan kelima anak saya. Pertemuan digilir, karena keterbatasan tempat. Pada saat pertemuan dengan keluarga, anak pertama saya menangis tak henti-hentinya. 
Sedangkan anak-anak yang lain hanya terdiam.  Istri saya sudah membawa berbagai perlengkapan, termasuk kelambu, pakaian yang baik-baik termasuk pakaian dalam dan baju tidur.

Nusakambangan

Di sini, kami mendapat informasi bahwa bagi kelompok pelajar, mahasiswa, sarjana dan intelektual, akan diberangkatkan ke pulau Buru paling akhir. Baru kurang lebih tiga minggu saja, kami sudah kehabisan bekal, termasuk vitamin-vitamin, sedangkan jatah makanan yang kami terima di sini sedikit sekali.

Tiap pagi kami diperintahkan untuk senam pagi. Selanjutnya kami digiring untuk mandi ke sungai. Saat istirahat di dalam LP itu ada beberapa teman yang memanfaatkan waktu untuk mengambil lumut-lumut yang tumbuh di tanah, setelah dicuci bersih dengan air, kemudian dimakan.

Waktu berangkat atau pada saat pulang mandi, atau saat mengambil kayu bakar, juga kesempatan untuk mencari tambahan makanan. Bila petugas yang mengawal lengah sedikit, kami bisa memasuki kebun dan mengambil singkong untuk dimakan bersama, atau dimakan di jalan dengan teman.

Pada suatu hari, saya berhasil mengambil singkong yang cukup banyak saat berangkat mandi. Lalu singkong itu saya sembunyikan di balik pohon karet.  Setelah selesai mandi, singkong saya ambil, saya sembunyikan ke dalam celana dalam, yang kemudian saya tutupi dengan jins.  Dan lainnya saya masukkan ke topi, saya selipkan di dalam lapisan kain topi itu. Waktu itu, kebetulan ada anggota kelompok makan saya yang sakit, yaitu Suryono Hadi (bekas wartawan Antara Jatim).
Namun sial bagi saya, sampai di muka penjara, pada saat diapel oleh salah satu anggota Polsus (Polisi Khusus), saya lupa melepas topi. Begitu Polsus berjalan di muka saya, cepat-cepat topi saya lepas dan saya pegangi. Tahu-tahu dia menyambar topi itu dan dilempar ke muka saya. Karena dirasa topi itu beratnya tidak wajar, diperiksanya topi itu, dan terkuaklah singkong yang sudah dikupas di dalamnya. Segeralah, saya dipukul dan ditendang sepuasnya.

Kemudian, saya dibawa ke dalam sel khusus tempat saya hanya bisa duduk dan berdiri saja karena sempit sekali. Seharian tidak diberi makan. Pada malam hari, sel itu gelap sekali dan yang jaga berada di pos penjagaan. Kesempatan itu saya ambil untuk mengambil singkong yang saya ikat dalam celana dalam. Kemudian memakannya cepat-cepat. Seluruhnya saya makan sehingga bila diperiksa sudah tidak ada apa-apa lagi.

Hampir tiap hari kami digilir untuk bekerja di luar LP untuk membersihkan jalan ataupun jalan di kompleks perumahan. Saat ini juga kesempatan baik untuk mencari tambahan makanan, kalau kebetulan dekat ladang apapun, ya kami mencuri apa saja yang ada di sana. Kalau ketemu kadal, tikus, belalang juga kami sergap.
Yang paling disukai teman-teman adalah bekicot, yang banyak menempel di batang-batang pisang. Bekicot ini rasanya memang enak sekali dan kandungan proteinnya tinggi. Biasanya kami membakar sampah-sampah yang kami kumpulkan dan bekicot itu kami masukkan api juga, setelah kami kira sudah mati terbakar, kami kuliti dan kami makan.

Buru

Setelah tiga setengah bulan di Nusakambangan, kami dimasukkan ke dalam kapal besar dan jangkar mulai dikerek. Banyak sekali teman yang mabuk, sehingga yang sehat harus membersihkan muntahan mereka. Pada hari keempat, mulailah mereka yang mabuk itu sehat kembali. Dan pada hari ketujuh, kami tiba di Dermaga Namlea, yang letaknya di ujung Pulau Buru.
Setiba di barak, penjaga segera memeriksa kami dan tidak segan merampas barang yang disukai mereka. Misalnya, seorang teman yang sedang memakai baju bagus dengan topi. Barang tersebut langsung diminta, dan bila tidak segera diberikan, maka risikonya adalah bogem mentah. Barang pemberian istri saya juga ikut dirampas. Topi dan dan sepatu kerja saya lenyap. Yang selamat hanya baju dan celana dalam yang saya masukkan ke dalam bantal sejak dari Nusakambangan.

Dari sana, kami berjalan menuju ke unit IV – Sanleko (Savanajaya). Pada saat kami datang, di pulau Buru sudah ada 13 unit yang terdiri dari 3 unit lama dan 10 unit baru. Kami biasanya mulai bekerja jam 7.00 pagi sambil membawa ompreng berisi nasi bulgur dengan lauk ikan asin yang sudah busuk. Jatah makan kami sehari 600 gram nasi bulgur, yang dijadikan tiga kali. Pagi 200 gram, siang 200 gram dan malam 200 gram.  Semua pekerjaan harus dilakukan dengan cepat, bahkan kadang kalau tidak memenuhi target, kami harus bekerja malam hari sampai jam 24.00 dengan menggunakan lampu petromax, terutama untuk pencetakan sawah dan pembuatan bendungan dan saluran air.

Pernah pada saat membikin bendungan, dengan mengerahkan tenaga yang cukup banyak, tanpa diberi istirahat kecuali untuk makan. Pekerjaan diawasi oleh tonwal (peleton pengawal. ed) dengan ketat sekali. Seorang teman saya, Salim, karena fisiknya yang lemah, ketika memikul tanah, terjatuh sampai muntah darah. Badannya gemetaran dan pucat, sehingga oleh teman-teman disembunyikan di tempat yang aman dan gelap untuk beristirahat. Dalam masa-masa demikian, kalau terdapat salah seorang yang sedang duduk untuk melepas lelah sedikit saja, sudah didatangi petugas untuk dihukum dengan kejam.

Di unit, kami diharuskan membuka lahan, lalu membuat jalan setapak untuk sawah.  Lha, bikin jalan itu kan harus diinjak-injak tanahnya. Dikira penjaga, kami sedang mainan, maka kami pun gebuki. Kemudian, kami juga diminta bikin pelabuhan kecil, kalau nanti ada keluarga yang dikirim.

Waktu saya di sana, ada dua orang yang bunuh diri.  Keduanya sarjana.  Yang satu sastrawan, karena istrinya mau nyusul, dia tidak mau. Lalu, dia memutuskan untuk menghabisi hidupnya, supaya istrinya tidak jadi ke pulau Buru. Yang satu lagi dokter hewan. Dia sakit dan kecapekan, dan dituduh tidak mau kerja oleh penjaga. Maka dia diambil dan dimasukkan suatu penjara untuk disiksa, tapi dia menggantung diri di situ.

Di Savanajaya, saya juga harus merakit papan untuk dijual oleh komandan unit.  Tapi beberapa dari kami bisa menyelundupkan dan menjual papan itu langsung kepada pembelinya. Uangnya, bisa kami buat beli celana dalam. Kalau tentara butuh perempuan, ya kami yang disuruh membuat tempat tidur untuk mereka berdua. Dulu kan Jepang juga sempat mengirim beberapa perempuan ke pulau Buru.  Katanya mau disekolahkan, tapi buat hiburan oleh mereka di pulau itu.  Nah, beberapa perempuan itu masih ada sebagian di sana. Sebagian lagi sudah dihadiahkan kepada kepala-kepala suku.

Tapol yang dari pulau Buru sendiri juga ada. Biasanya mereka dijadikan tahanan rumah, lalu disuruh kerja paksa tanpa gaji dan tanpa makan. Makannya harus cari sendiri atau minta orang di rumah.

Istri Saya

Istri saya juga kena. Waktu saya ditangkap di Surabaya, istri saya juga ikut ditangkap dan dijadikan tahanan rumah. Harta benda saya hampir dirampas oleh mereka. Tapi, surat-surat sudah saya sembunyikan di rumah teman, jadi mereka tidak bisa merampas rumah saya.Kemudian, istri saya harus berhenti dari pekerjaannya sebagai guru SMA.  Untuk mendapat pekerjaan lagi, istri saya membuang semua ijasahnya, lalu ia sekolah lagi SPG dan jadi guru SD.  Semua surat digantinya, hingga ia bisa dapat pensiun.

Saya dipenjara hampir 15 tahun. Sesudah keluar penjara, saya dan istri pindah agama. Dari Islam menjadi Katolik, karena ya agama ini yang lebih menerima kami. Istri saya mengganti nama dari Supiah menjadi Maria.  Saya sendiri memakai nama baptis Antonius.  Saya lalu kirim surat ke walikota, dan dengan pertolongan beberapa orang, KTP saya dan surat-surat lainnya bisa diganti, dan tanda ET saya dihapus.

Pada tahun 1999, saya dan beberapa keluarga korban mendirikan YPKP (Yayasan Penelitian Korban Peristiwa ’65). Dengan para korban yang lain, kami beramai-ramai menuntut DPR lalu MPR untuk hak-hak kami, tapi tidak pernah digubris.  Karena itu, saya sangat mendukung penulisan ini, supaya sejarah kami tidak dilupakan begitu saja. Saya masih suka membaca, masih suka meneliti, tapi sayang ingatan saya sudah lemah.

Tapi saya tidak pernah melepaskan kasus ini.  Oh ya, salah satu anak kakak ipar saya ternyata sempat menjadi kapten di waktu itu.  Dia bilang banyak yang dibunuh di laut, lalu dibuang. Dan di laporan, mereka diharuskan bilang bahwa para tahanan lari ke hutan. Latihan pembunuhan ini dilakukan di Australia. Begitulah mungkin sebagian kisah mereka yang hilang. Yang kematiannya tidak pernah tercatat atau dilaporkan.

Saya sendiri setelah lepas dari penjara, banyak menulis tentang sejarah ’65, apa yang saya ketahui, termasuk korupsi dan manipulasi Suharto. Saya sekarang sudah sering pikun, jadi harus melihat kembali catatan-catatan saya. 
Untungnya saya suka menulis dan mengumpulkan kliping atau artikel apa saja.  Saya kira catatan saya tentang pulau Buru lebih lengkap dari Pramoedya, karena punya Pram dibakar oleh tentara. Saya berharap suatu ketika tulisan-tulisan saya bisa diterbitkan.

0 komentar:

Posting Komentar