Minggu, 08 November 2015

Orang Kiri di Perang Surabaya


Minggu 08 November 2015


"Bung, kenapa pertempuran dihentikan. Inggris sebentar lagi akan kita kalahkan."
“Bau malapetaka sudah tercium di udara," Letnan Kolonel AJF Doulton menulis pengalamannya dalam perang di Surabaya pada 1945 dalam bukunya, The Fighting Cock: Being the History of the Twenty-third Indian Division, 1942-1947.
Doulton, perwira Inggris di Divisi India Ke-23, menggambarkan suasana Kota Surabaya pada 28 Oktober 1945 pagi menjelang habisnya batas waktu 48 jam yang diberikan Panglima Sekutu di Jakarta, Mayor Jenderal HC Hawthorn, agar pihak Indonesia menyerahkan senjata.

Hampir tengah hari, para prajurit India yang tergabung dalam Brigade Infanteri Ke-49 bergerak ke seluruh fasilitas penting. Lapangan udara Morokrembangan, kantor telepon dan pusat telegraf, serta Rumah Sakit Darmo mereka duduki. Ben Anderson dalam buku Revoloesi Pemoeda menuliskan, sekitar pukul 11, Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur drg Moestopo datang ke markas Pemuda Republik Indonesia (PRI) memberitahukan Inggris sudah siap melucuti senjata. Moestopo menarik pasukannya ke perbatasan agar tak dilucuti.

Sementara itu, tulis Ben Anderson, Ketua PRI Soemarsono memilih pergi ke pemancar radio.
"Lebih baik kita mati berkalang tanah daripada kehormatan dan kemerdekaan RI diinjak-injak. Merdeka atau mati!" Soemarsono membacakan pidato singkat untuk membakar semangat perlawanan rakyat pada pukul 17.00 WIB.
Soemarsono saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh pemuda yang disegani. Dia merupakan Ketua PRI, laskar pemuda pertama dan terbesar di Surabaya.
"Anggotanya kira-kira 20 ribu pemuda, jauh lebih besar daripada Tentara Keamanan Rakyat," ujar Harsono Sutedjo atau Harsutejo, penulis buku biografi Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya yang Dilupakan.
Tak hanya kuantitas personel, perlengkapan dan persenjataan laskar PRI terbilang lengkap. Mereka menguasai senjata-senjata yang dirampas dari tentara Jepang. Bahkan, konon, kekuatan laskar PRI hampir menyaingi Tentara Keamanan Rakyat. Hanya, para anggotanya lemah dalam disiplin kemiliteran.

Letnan Kolonel A.T. Scott dari 9th Brigade, 5th Indian Division, mempelajari peta Surabaya pada 1945
Foto : Imperial War Museum

“Lebih baik kita mati berkalang tanah daripada kehormatan dan kemerdekaan RI diinjak-injak”
Soemarsono, Ketua Pemuda Republik Indonesia

Ketika hari beranjak malam, pertempuran mulai menjalar ke seluruh kota. Pasukan Inggris kira-kira berjumlah 6.000 orang dengan persenjataan lengkap dan rata-rata terlatih dalam pertempuran selama Perang Dunia II. Namun kekuatan mereka tersebar di ujung kota sebelah utara, yakni pelabuhan dan kamp-kamp Recovery of Allied Prisoners of War and Internees di bagian selatan kota.

Kekuatan bersenjata Indonesia diperkirakan sekitar 30 ribu orang, terdiri atas 20 ribu anggota PRI dan sisanya anggota laskar bersenjata lainnya dan pasukan TKR. Terdapat juga hampir 100 ribu pemuda dan rakyat dengan berbagai macam senjata tajam, mulai bambu runcing, tombak, hingga golok. Semua pos tentara Inggris dikepung. Letkol Doulton menulis,
"Sampai tengah malam pertempuran tak pernah berhenti. Orang Indonesia tidak peduli dengan kematian. Bila satu tewas, lainnya terus maju, setengah gila melihat darah."
Pihak Inggris melihat tak ada yang mampu mengendalikan nafsu amarah sebesar itu. Satu-satunya harapan mereka agar pasukan Brigade Ke-49 tak tertumpas habis hanya pada pengaruh Presiden Sukarno. Pemimpin pasukan Sekutu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta merundingkan gencatan senjata di Surabaya.

Pagi-pagi sekali, Tukimin, pembantu pribadi Bung Karno, terpaksa membangunkan Presiden. Tukimin berbisik di telinga Bung Karno, ada persoalan yang amat genting. Ada utusan dari tentara Sekutu yang datang mengabarkan bahwa panglimanya ingin berbicara dengan Presiden Sukarno saat itu juga.
“Setelah saya bangun, selama tiga puluh menit saya terpaksa bicara lewat telepon,” Bung Karno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dia tak bercerita kepada keluarganya apa isi percakapan dengan Jenderal Hawthorn.
“Saya hanya bilang besok pagi akan terbang ke Surabaya.”
Bung Karno terbang ke Surabaya bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin. Pesawat yang mengangkut mereka mendarat di Lapangan Udara Morokrembangan. Sehari kemudian, pada 30 Oktober 1945 pagi, Jenderal Hawthorn menyusul tiba di Surabaya.

Soemarsono saat itu memimpin laskar PRI di wilayah Wonokromo. Menurut Harsutejo, Soemarsono mengaku sangat kaget mendengar berita kedatangan Bung Karno.
"Soemarsono disertai beberapa pengawalnya lantas mencegat rombongan Bung Karno di Ngagel, yang tak begitu jauh dari Wonokromo," ujar Harsutejo.
Pasukan Sekutu menyingkirkan barikade yang dipasang laskar rakyat di Surabaya pada 1945
Foto : Imperial War Museum

Soemarsono berdiri di tengah jalan menghentikan konvoi Bung Karno. Ia protes keras kepada Bung Karno.
"Bung, kenapa pertempuran dihentikan. Inggris sebentar lagi akan kita kalahkan," ujar Soemarsono dengan emosional.
Bung Karno diam, kemudian menggamit Amir Sjarifuddin yang berada dalam mobil yang sama. Amir keluar dari mobil, lalu merangkul pundak Soemarsono.
"Hal ini sudah kita diskusikan dengan kawan-kawan di Jakarta," bisik Amir kepadanya.
Soemarsono tak menyangka Amir, yang dihormatinya, ikut dalam rombongan tersebut.
"Mendengar kata-kata itu, saya kaget dan lemas," ujar Soemarsono seperti yang diungkapkannya kepada Harsutejo. "We have to win the war, not the battle," kata Amir lagi.
Soemarsono tak bisa mengelak ketika Amir mengajaknya masuk ke mobil untuk ikut berkeliling.
"Bung Karno sepertinya sengaja mengajak Amir karena tahu bahwa Soemarsono, yang memimpin pasukan laskar terbesar di Surabaya, adalah kader Amir Sjarifuddin," ujar Harsutejo.
Dalam perundingan di kantor Gubernur Soerjo, selain Bung Karno, Hatta, dan Amir, hadir tokoh-tokoh perlawanan di Surabaya, seperti Ketua Pemuda Republik Indonesia Soemarsono, Sutomo alias Bung Tomo, Roeslan Abdulgani, Des Alwi, serta para komandan TKR, seperti Soengkono, Atmadji, dan Mohammad Mangoendiprodjo.

Pada hari itu disepakati gencatan senjata tentara Sekutu dengan pemerintah Indonesia. Tapi gencatan senjata itu hanya berumur sangat pendek, kurang-lebih setengah hari. Saat berkeliling Kota Surabaya bersama pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat, Jenderal Mallaby terjebak dalam baku tembak di depan gedung Internatio dan tewas tertembak. Kematian Mallaby membuat Panglima Sekutu marah besar.

Mereka menuduh prajurit Indonesia sebagai pembunuhnya. Pembalasan Sekutu atas kematian Mallaby inilah yang memicu perang besar di Surabaya selama tiga pekan, dimulai pukul 06.00 pada 10 November 1945.

Sehari sebelum pecahnya pertempuran 10 November, Soemarsono ada di Yogyakarta untuk mengikuti Kongres Pemuda IV. Menyimak kabar genting di Surabaya, dia buru-buru pulang kembali ke Surabaya. Pada pagi-pagi buta, sebelum mesin-mesin perang Sekutu mulai membombardir Kota Surabaya, Soemarsono tiba di kota itu. Dia segera bergegas ke markas PRI di Jalan Pacarkeling.

Relawan Palang Merah di Surabaya pada 1945
Foto : Imperial War Museum

Ditaksir, lebih dari 6.000 prajurit dan anggota laskar Indonesia tewas dalam Perang Surabaya. Sedangkan dari pihak Sekutu ada sekitar 600 korban jiwa.

* * *

Pada awal September 2009, puluhan orang dari sejumlah ormas yang tergabung dalam Front Anti Komunis menggeruduk kantor Grup Jawa Pos di Surabaya. Mereka datang untuk menyampaikan protes. Semua bermula dari tiga tulisan Dahlan Iskan, pemimpin Jawa Pos, soal pertemuannya dengan Soemarsono. Mereka menilai Dahlan ‘mempromosikan’ jasa-jasa Soemarsono yang seorang komunis.

Soemarsono lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Setelah menyelesaikan Schakel School, ia masuk ke berbagai kursus kejuruan dan akhirnya bekerja di perusahaan Belanda. Pada zaman Jepang, ayah enam anak ini bekerja di Sendenbu (Departemen Penerangan dan Propaganda Jepang) bersama Sukarni dan Adam Malik.

Sukarni pulalah yang mengirimnya ke Surabaya pada Agustus 1944 untuk membantu perjuangan menyongsong proklamasi. Soemarsono kala itu bekerja pada perusahaan minyak Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Belakangan ia bergabung dengan gerakan bawah tanah di Surabaya melalui jaringan aktivis komunis Widarta.

Sebelum Perang Surabaya 1945, Soemarsono memang sudah dekat dengan kelompok kiri. Soemarsono kenal tokoh komunis Amir Sjarifuddin sejak 1941. Pelukis Sudjojono-lah yang mempertemukan keduanya di Gedung Permufakatan di Gang Kenari, Jakarta. Kala itu, tempat tersebut merupakan salah satu pusat pergerakan. Tedjabayu, putra Sudjojono, membenarkan peristiwa tersebut. Amir dan Sudjojono saat itu aktif di organisasi pemuda Gerakan Rakyat Indonesia atau Gerindo.
"Diperkenalkan dalam satu pertemuan Gerindo. Pak Marsono memang dekat dengan organisasi kiri," ujar Tedjobayu kepada detikX.
Tentara Gurkha di Surabaya pada 1945
Foto : Imperial War Museum

Selain kedekatan secara ideologi, menurut Harsutejo, Soemarsono sering bertemu dengan Amir Sjarifuddin di Gereja Kernolong, Kwitang, Jakarta. Amir sering membawakan khotbah tentang humanisme kekristenan. Soemarsono mempraktikkan ajaran itu dengan terjun ke gerakan politik untuk kemerdekaan.
"Dari situ Soemarsono menjadi dekat dengan Amir dan menjadi salah seorang kadernya," ujar Harsutejo.
Saat geger komunis di Madiun pada September1948, Soemarsono adalah salah satu tokoh kunci. Dia menjadi Gubernur Militer dalam Front Nasional yang dibentuk oleh Partai Komunis Indonesia di Madiun. Amir Sjarifuddin dihukum mati dan arsitek utama peristiwa Madiun, Musso, tewas tertembak. Soemarsono berhasil ‘selamat’ dan ‘menyepi’ di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Setelah peristiwa 30 September 1965, Soemarsono ditangkap tentara dan dijebloskan ke penjara. Lepas dari penjara, dia ‘mengungsi’ ke Australia dan menjadi warga Negeri Kanguru.

Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad hasim

Sumber: Detik.Com 

0 komentar:

Posting Komentar