Kamis, 12 November 2015

Pembunuhan Massal 1965 Untungkan Australia

11 November 2015

Dr Adam Hugges Henry, mengungkap adanya sikap janggal dari Australia, Australia, AS dan Inggris dalam pembunuhan massal 1965 di Indonesia
Pakar sejarah dan bahasa dari Universitas Nasional Australia, Dr Adam Hugges Henry, menulis analisa yang menuding bahwa Australia mendukung dan merayakan pembunuhan massal 1965 di Indonesia yang dikenal sebagai pembantaian anti-PKI.
Dalam sebuah kolom di independentaustralia.net, Selasa (10/11/2015), akademisi itu juga menyebut sekutu Australia seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris ikut senang dengan tragedi kelam yang terjadi di Indonesia itu.
Dalam tulisannya, Henry ikut mengutip dokumen CIA yang berjudul ”Indonesia 1965; The Coup tha Backfired”. Bunyi kutipan dokumen itu adalah; ”Dalam hal jumlah tewas, pembantaian anti-PKI di Indonesia sebagai salah satu pembunuhan massal terburuk di abad kedua puluh, bersama dengan pembersihan Soviet dari tahun 1930-an, pembunuhan massal Nazi selama Perang Dunia Kedua, dan pertumpahan darah Maois dari awal 1950-an. Dalam hal ini, kudeta Indonesia tentunya merupakan salah satu peristiwa yang paling signifikan dari abad kedua puluh, jauh lebih signifikan daripada banyak peristiwa lain yang telah menerima banyak publisitas.”
Pada tanggal 11 September , Universitas Nasional Australia menggelar konferensi bertajuk ”1965 dan Kudeta Indonesia: Lima Puluh Tahun”. Konferensi ini diadakan di bawah naungan Australian Institute of International Affairs, Australian National University dan Departemen Australia Luar Negeri (DFAT).
Dalam konferensi itu, Henry memperoleh banyak pengalaman dari “saksi mata” untuk memperkut penelitiannya tentang (Sir) Keith Shann (Duta Besar Australia untuk Indonesia) selama periode itu. “Saya senang untuk membahas acara ini dengan Baskara Wardaya, pengunjung asal Indonesia yang datang ke konferensi ini,” tulis Henry.
Dalam tulisannya, Henry mengulas sosok mantan Dubes Australia itu yang data-data soal perannya di Indonesia pada tahun 1965 juga tersedia di Arsip Nasional Australia. “Tidak ada analisis keterlibatan diplomatik Australia dengan Indonesia yang lengkap tanpa memeriksa tindakan Shann selama 1965,” lanjut tulisan Henry.
Henry melanjutkan, pada hari-hari berikutnya 1 Oktober 1965, Shann mengawasi kampanye propaganda dari Jakarta. Dalam kampanye ini, Shann bertujuan untuk menghitamkan nama PKI dan merongrong Soekarno.
Informasi yang diberikan oleh Shann dirancang untuk digunakan oleh Radio Australia untuk disiarkan ke Indonesia. Shann juga mengkoordinasikan upaya propaganda Australia dengan rekan-rekan Inggris dan Amerika-nya, dengan beberapa informasi yang diberikan dalam bimbingan Shann untuk Departemen Luar Negeri (DEA, cikal bakal DFAT). Informasi dari Shann itu datang langsung dari tentara Indonesia.
“Sepertinya AS dan Inggris, rekan-rekan Australia sangat senang dengan hasil politik 1965-1966, pada kenyataannya, mereka siap untuk melakukan bisnis dengan Indonesia baru. Sebuah Indonesia yang dibersihkan dari PKI. Munculnya Soeharto disambut sebagai pengembangan yang sangat positif,” tulis Henry.
Kejanggalan sikap Australia dan sekutunya itu, menurut Henry, ketika negara-negara itu tidak melakukan hal apapun untuk mempertanyakan atau mengutuk pembantaian yang terjadi di Indonesia. Sebaliknya, negara-negara itu memandang ke depan untuk menempa hubungan diplomatik baru dengan Indonesia yang kala itu di bahwa pemerintahan Presiden Soeharto.
http://jakartagreater.com/pembunuhan-massal-1965-untungkan-australia/

0 komentar:

Posting Komentar