Selasa, 17 November 2015

Tragedi 1965 dan Kebencian LGBT Meminggirkan Lengger Lanang


17 Nov 2015 

Dariah (85 tahun) yang merupakan seorang penari tradisional laki-laki dari Banyumas bersama Didik Nini Thowok (kanak) saat mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang masih tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo

Penari pria Dariah (kiri) saat ikut menari saat Penari pria Didik Nini Thowok ingin mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo
Seni Tari Lengger Lanang terancam punah. Meningkatnya sentimen negatif terhadap kelompok LGBT meresahkan penari warisan Banyumas ini untuk tampil secara bebas dan terbuka.

Agus Widodo was-was. Penari lengger lanang ini berhati-berhati bila menerima tawaran untuk manggung di saat meningkatnya ajakan menolak dan mengharamkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

"Saya rajin bertanya ke pengundang aman atau tidak sebelum mau pentas lengger. Takut digrebek," ucap Agus yang bernama panggung Agnes. 

Lengger lanang merupakan tari lintas gender yang banyak dipentaskan laki-laki. Tari rakyat Banyumas ini berkembang secara turun temurun sebagai bagian dari ritus kesuburan. Budayawan Banyumas Yusmanto memperkirakan, tari rakyat ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. 

Penari lengger adalah laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Dalam Bahasa Banyumas, lengger berasal dari dua kata yakni leng yang berarti lubang sebagai simbol jenis kelamin perempuan dan ger berasal dari kata jengger yang artinya mahkota ayam jago sebagai simbol laki-laki. 

Agus dikenal sebagai satu diantara lengger lanang muda yang sedang moncer di Banyumas dan sekitarnya. Ia pernah diundang menari di Festival and Celebrating The 40th Anniversary of Korea-Indonesia Diplomatic di Korea Selatan pada Desember 2013.

Menari sejak usia 7 tahun membawa Agus akhirnya memutuskan menjadi penari lengger. Dia mulai menampilkan tarian lengger sejak 2004 di Banyumas dan sekitarnya. Pilihannya menjadi penari lengger mendapat tentangan sejumlah orang. Beberapa di antaranya menganggap Agnes yang berjenis kelamin laki-laki tidak pantas mengenakan pakaian perempuan ketika menari. 

Di luar panggung, Agus mengenakan pakaian laki-laki. Berbeda ketika di atas panggung. Dia mengenakan pakaian lengger lengkap dengan riasan sanggul berkonde, sampur, kemben, jarit dan riasan wajah seperti penari perempuan. "Saya total menjadi lengger saat di panggung," katanya. 

Menurut Agus, diskriminasi terhadap lengger lanang kerap terjadi. Cibiran dan cacian menjadi hal biasa ketika memilih menjadi penari lengger. "Mereka menyebut saya banci dan memandang penari lengger sebelah mata," katanya.

Ketika pentas, perlakuan buruk juga kerap mereka terima. Penonton yang mabuk mengolok-olok mereka dengan sebutan bencong sembari meraba-raba bagian tubuh mereka. “Saya takut dan trauma,” kata Fizay Nurhamid ketika menceritakan pengalamannya tampil di Kebumen, Jawa Tengah, pada 2017 lalu.

Fizay yang bernama panggung Fifi mulai menari lengger sejak 2011. Laki-laki dari Cilacap ini dulu dikenal sebagai penari kesenian jaran kepang di komunitas seni kuda kepang Mekar Budaya Kencana. Dia kemudian mengikuti jejak kakeknya yang menari lengger. 

Sepekan sejak kejadian di Kebumen, Fizay kembali menerima tawaran. Tetapi, dia menampik tawaran itu karena masih trauma.

Otniel Tasman, koreografer yang menciptakan tari kontemporer dari tradisi lengger Banyumasan juga memiliki pengalaman buruk saat hijrah ke Solo, Jawa Tengah. Suatu hari dosennya di kampus ISI Surakarta bahkan menertawakannya ketika menari lengger. 

Otniel kemudian dilarang menari lengger di pendopo padahal waktu itu dia sudah siap mau pentas. Waktu itu Otniel dan kelompok penari dari Banyumas hendak pentas lengger untuk menyambut seorang menteri yang datang ke ISI Surakarta. Mereka sudah berlatih menari lengger jauh hari hingga hari H acara. 

Tapi, dosen itu melarang dengan alasan lengger penarinya adalah perempuan, bukan laki-laki.
"Lengger dianggap hanya sebatas hiburan saja apalagi ketika laki-laki yang menarikannya," ujarnya.
 [https://players.brightcove.net/3734026318001/default_default/index.html?videoId=5966724815001]
Penampilan lengger lanang di Festival Kendalisada, Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah (TEMPO/Shinta Maharani)

Banyak yang risih menonton tarian lengger. Danang salah satunya. Penonton Festival Lengger yang berlangsung September lalu itu mengaku enggan menonton tarian tersebut. Namun, malam itu, Danang terpaksa datang menonton karena harus mengantarkan tamu ke Desa Kaliori, tempat berlangsungnya acara. 
"Saya agak takut, risih, dan tidak nyaman," katanya.
Meski mendapat cap jelek, Agus dan Fizay masih berusaha menunjukkan dirinya mampu menjadi penari lengger yang baik. Mereka ingin mempertahankan kesenian tradisional yang hampir hilang karena masyarakat lebih memilih pertunjukkan organ tunggal. 

Maestro tari lintas gender Didik Nini Thowok mengakui jumlah penari lengger kini semakin menipis akibat diskriminasi. Sebagian dari mereka tidak diterima, dikucilkan dan diskriminasi. 
“Tidak gampang bertahan sebagai lengger lanang. Buat yang tidak kuat dan takut akan sulit bertahan,” katanya.
Foto Presiden Sukarno bersetelan jas masih terpajang di ruang tamu rumah keluarga Dariah. Potret itu mengingatkan kejayaan Dariah sebagai penari lengger lanang di masa akhir Orde Lama hingga Orde Baru. Rezim Orde Baru memberangus semua kesenian rakyat termasuk lengger lanang karena dianggap dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Hanya segelintir laki-laki yang bisa menarikan tarian ini. Salah satunya Dariah. Dariah mengawali karir sebagai penari lengger dari satu kampung ke kampung lainnya. Bersama sekelompok musik sederhana seperti calung, kendang, gong kecil dan gambang, Dariah mbarang (mengamen) di wilayah Banyumas.

Karir Dariah menanjak pada periode 1930 hingga 1960-an. Pria yang bernama asli Sadam ini menjadi idola pada waktu itu di Banyumas. Tariannya yang lemah gemulai layaknya seorang perempuan selalu menjadi magnet bagi warga Banyumas. 

Sejak diberangus, Dariah menghabiskan hidupnya di Desa Plana, Kecamatan Somogede, Banyumas, Jawa Tengah, bersama keponakannya, Misti. Mereka tinggal di rumah berdinding bata dengan cat yang mengelupas di sana sini. Dariah menghabiskan hidupnya sebagai perempuan. Dia memakai baju perempuan dalam aktivitas sehari-hari di rumah dan beralih menjadi penata rias pengantin di desa-desa Banyumas dan Purbalingga demi menyambung hidup. 

Pada 12 Februari 2018 lalu, Dariah meninggal pada usia 97 tahun. Keluarga mengenang Dariah hidup dalam ketakutan akibat peristiwa 1965. 
"Semua hartanya habis karena peristiwa 1965," kata Nur Kholifah, anak Misti kepada Tempo di awal November lalu. 
Pada 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Dariah gelar Maestro Seniman Tradisional. Untuk menghormati Dariah, Pemerintah Desa Kaliori, Banyumas dan komunitas seni desa menggelar Festival Kendalisada pada 14-16 September lalu.

Teks: Shinta Maharani
Editor: Edy Can
Tulisan ini adalah produk dari program fellowship Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Ardhanary Institute

0 komentar:

Posting Komentar