Kamis, 19 November 2015

Sempat Berhenti Kamisan Karena Percaya Jokowi

Prima Gumilang , CNN Indonesia

Kamis, 19/11/2015 18:20 WIB


Maria Katarina Sumarsih, ibu BR Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas dalam Tragedi Semanggi I, 13 November 1998. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Sejak Januari 2007, Maria Katarina Sumarsih menyempatkan satu hari dalam setiap pekan untuk berdiri di hadapan Istana Merdeka. Dari total 420 aksi diam itu, Sumarsih menyebut ketidakhadiran dirinya sekitar 20 kali.

Namun aksi tiap Kamis masih berlangsung. Tak bermaksud melawan takdir, hanya saja Sumarsih menolak rasa penasaran terus dipasung.

Sebelum aksi ke-420, Sumarsih mengurai awal kisah dia bersama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) mencari penjelasan negara. Kepada jurnalis CNN Indonesia, Prima Gumilang, wanita kelahiran Semarang 28 Desember 1950 ini menceritakan ihwal gerakan yang kini akhirnya menjadi agenda rutin di pusat Ibu Kota.

Bagaimana ide awal menggagas Kamisan?
Dari awal 2003, saya sudah mengajak ibunya Yun Hap korban Semanggi II dan ibunya Sigit. Kami ngobrol. Idenya beragam mulai dari mengelilingi Bundaran HI tanpa bicara, membawa selembar kertas. Mereka mau. Lama-lama ibunya Yun Hap sakitnya macam-macam. Ibunya Sigit juga begitu. Akhirnya enggak jadi-jadi. Itu belum pernah terwujud.

Tahun 2005, kami mendirikan paguyuban korban namanya JSKK, setelah saya menerima penghargaan Yap Tiam Hien Award. Romo Sandiawan mengumumkan bahwa saat ini telah berdiri organisasi korban bernama Swabela.

Kegiatannya sosialisasi ke sekolah, mengunjungi korban bom, mengunjungi Pak Harto (Presiden kedua RI Soeharto) sakit. Lucu waktu itu, bawa bunga yang ditulisi kasus kasus. Saya dan Mbak Suci (Suciwati, istri mendiang Munir Said Thalib) sempat menulis di buku tamu, bunyinya “Semoga lekas sembuh, pengadilan menunggu Pak Harto”.

Saya juga pernah mengajak bikin kegiatan rutin, kayak aktivis 99, ada aksi damai di Bundaran HI tapi akhirnya dilarang polisi, dituduh ditunggangi Gerwani. Ada konvoi motor Munir tiap Selasa. Waktu itu yang datang pertemuan, selain JSKK, ada Jaringan Relawan Kemanusiaan dan Kontras. Akhirnya menentukan hari, maskot, dan tempat. Jadilah itu Kamisan. 18 Januari 2007.

Soal maskot payung, apa pesan yang ingin disampaikan?
Itu Mbak Suci, maskotnya payung. Warna hitam. Bagi kami, hitam itu lambang keteguhan. Jadi duka cita kami sudah bertransformasi ke cinta kasih kepada korban, dan cinta kasih bertransformasi kepada perjuangan untuk meningkatkan hak asasi manusia. Payung itu perlindungan.

Mengapa memilih hari Kamis?
Senin itu banyak kerjaan, Selasa ada konvoi Munir, Rabu ada yang kuliah, Kamis diam, dan Jumat hari pendek. Sabtu-Minggu libur. Akhirnya Kamis. Soal jam, pagi mengganggu absen, siang nanti enggak balik kantor, akhirnya sore.

Awalnya berapa orang yang ikut aksi?
Sekitar 30 orang.

Aksi Kamis selalu diwarnai dengan mengirim surat kepada Presiden, siapa yang membuat surat?
Kamisan itu jam 16.50 kami bikin lingkaran, lalu ada satu orang yang memimpin refleksi. Biasanya anak-anak yang baru pertama kali datang. Refleksi ditutup doa. Sebelum doa, diumumkan, Kamis depan siapa yang akan menulis surat kepada presiden. Tema ditambah hal-hal yang aktual seminggu ke depan. Surat yang sudah dibuat, dikirim ke saya, bapaknya Wawan, Mbak Suci, Pak Bejo Untung, Yati Andiani Kontras, LBH Jakarta, Kontras, supaya diedit. Rabu biasanya sudah final. Ini benar-benar kerja bareng, didukung anak muda.

Doa apa yang Ibu panjatkan saat Kamisan?
Kamisan selalu ditutup dengan doa. Saya selalu berdoa dalam hati, jadikanlah aksi Kamisan ini menjadi alat bagiMu untuk mewartakan kebenaran dan keadilan. Saya tidak pernah memikirkan siapa yang menembak Wawan. Tidak pernah mikirin hukum harus ditegakan.

Selama delapan tahun ini, paling sedikit berapa orang yang ikut aksi?
Selama hampir sembilan tahun, jumlah delapan orang itu dua kali. Itu bulan Desember menjelang Natal dan Tahun baru. Itu paling sedikit. Kami kapan mau bubar? Kalau tinggal tiga orang. Siapa saja? Saya, Mbak Suci, dan Yati Kontras.

Dulu waktu evaluasi, ada anak muda yang bertanya program jangka panjang, jangka pendek. Kami enggak pernah mikirin program, yang penting kami adakan kegiatan saja, ringan tapi bisa bertahan terus. Lama-lama ada orang yang mau mengajari manajemen demo. Tapi itu belum pernah, karena orangnya enggak muncul lagi. (rdk)


https://www.cnnindonesia.com/nasional/20151119182051-20-92800/sempat-berhenti-kamisan-karena-percaya-jokowi/

0 komentar:

Posting Komentar