Sabtu, 27 Februari 2016

Menyingkap Misteri G30S

27 Februari 2016.

  • Tjatatan Bung Asahan Aidit.

PADA pertengahan Agustus 1965 saya bertemu dengan delegasi PKI yang singgah di Peking dari kunjungan ke Partai Komunis Uni Sovjet di Moskow.

     Dalam pembicaraan saja dengan Ketua PKI D.N Aidit mengatakan kepada saya bahwa beberapa hari sebelumnya saya diberi izin untuk ikut serta untuk melanjutkan perjalanan Delegasi PKI ke Vietnam. 
Tapi menjelang keberangkatan kami ke Vietnam, Ketua PKI mendapat telegram dari Jakarta yang mengatakan Ketua PKI harus kembali secepatnya ke Jakarta karena Bung Karno sakit keras hingga rencana perjalanan Delegasi PKI ke Vietnam dibatalkan dan Ketua PKI segara pulang ke Jakarta.

    Selama 3 hari saya bersama Ketua PKI, kami membicarakan situasi politik Indonesia dan sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai PKI untuk mengadakan perebutan kekuasaan. Juga salah seorang anggota delegasi yang ikut berunding dan bertemu dengan Ketua Mao Tje Tung menceritakan kepada saya situasi pertemuan yang penuh persahabatan, formalitas, protokeler, dan sama sekali tak ada perundingan tentang persiapan PKI akan menyiapkan sebuah "perebutan kekuasaan".

     Saya sebagai juga anggota partai menerima imformasi yang lengkap mengenai situasi politik Indonesia waktu itutermasuk bilapun ada penyampaian situasi yang berifat rahasia.

     "PKI sebagai dalang G30S" adalah sebuah kebohongan besar dan fitnah 100 persen. Tidak ada satupun dari ratusan anggota PKI di luar negri termasuk para pimpinan tertinggi mereka yang sedang berada di Peking waktu itu yang tau akan meletusnya Periatiwa G30S. 

     Tidak ada satupun, dan semua kami heran, heran dan heran, tidak tahu-menahu. Sedangkan persiapan suatu pemberontakan politik adalah hal yang trramat serius, tidak bisa dan tidak boleh hanya diketahui dua-tiga orang tertinggi dalam Partai dan PKI sama sekali tidak punya  tradisi segala sesuatunja hanya ditentukan oleh seorang Ketua Partai atau bebarapa orang terpenting saja.

    PKI telah kena fitnah besar dan bohong besar dalam sejarah Indonesia. Dan bohong besar maupun fitnah besar tidak akan jadi kebenaran dalam sejarah. Yang terjadi sekarang adalah fitnah besar dan bohong besar itu belum terungkap jelas. masih dibikin misterius masih digelapkan dan digelontorkan secara besar-besaran dalam kebohongan dan fitnah.

    Ucapan Soedisman dalam Mahmilub adalah ucapan seorang pengkhianat besar Partai dengan cara membikin kebohongan dan fitnah kepada Partainya sendiri yang itu digunakan sebaik-baiknya oleh musuh PKI dan Soeharto sebagai bahan fitnah jang sangat keji dan badab.

1 Maret 2016.

SAYA bukan peneliti, lebih-lebih di bidang politik yang bukan bidang saya, namun saya punya perhatian dan bahkan hingga terlibat dalam politik yang karenanya saya anggota Partai.

     Yang saya tulis adalah pengalaman saya sendiri, yang saya ketahui dan juga sebagian yang saya saksiakan sendiri dan saya coba menganalisanya, meskipun tidak sebagai peneliti. toh mungkin saya masih termasuk pemerhati.

    Kesaksian saya berdeasarkan dekatnya saya dengan Ketua PKI D.N. Aidit yang juga kebetulan adalah abang sulung saya dan juga kesaksian-kesaksian dekat lainnya sebagai anggota Partai sejak saya berumur 18 tahun. Dan pernah tinggal bersama abang sulung saya di kota Jakarta sebagai pekerja Partai, yang karena juga saya banyak mengenal petingi-petinggi PKI dan kader-kader Partai lainnya pada berbagai tingkat.

     Soal MKTBP, sejak PKI runtuh, memang banyak dikritik dalam intern PKI sendiri, terutama oleh klik oportunis kanan kiri PKI (kaum oporkaki PKI). Itu menyangkut masalah teori dan praktek yang akan dijadikan taktik dan strategi perjuangan PKI dalam merebut kekuasaan,

    Ketika mempeladjari pikiran Mao Tje Tung di Tiongkok dan di Vienam, saya turut mendiskusikan MKTBP selama setahun tampa kesatuan pendapat dalam suasana perdebatan sengit dan berkepanjangan. Tapi satu hal MKTBP tidak bisa dijadikan bukti bahwa PKI adalah dalang G30S karena benang merah MKTBP adalah merebut kekuasaan dengan jalan damai (parlementer)  yang menimbulkan pro dan kontra dalam intern PKI.

    Kesimpulan saya : Pihak-pihak lawan PKI sangat sedikit mengetahui kehidupan interen PKI, tidak tidak menguasai sejarah PKI karenanya tidak akan pernah mendapatkangambaran yang obyektif tntang PKI yang sesungguhnya, yang dari sarangnya terdalam. Hampir semua imformasi tentang PKI datang dari mulut pengkhianat PKI, karenanya mereka tidak mendapai gambaran yang mendekati kebenaran maksmal tentang PKI (termasuk para peneliti profesional dalam dan luar negri).

    Tapi justru di sini juga terletak keunggulan PKI yang tertinggal di balik kehancuran dan kegagalannya: Roc pki tak mungkin lenyap. Dan arogansi dari pihak lawan-lawan PKI, juga ikut menyelamatkan roh PKI yang bersemayam dalam hati rakyat Indonesia. Pihak lawan PKI dan kaum anti komunis selalu merasa mereka lebih menguasi Marxisme dan komunisme dari siapapun termasuk orang komunis atau PKI itu sendiri.

    Saya khususnya merasa lega dan terima kasih atas percaya diri daripihak-pihak lawan PKI dan yang anti- komunis. Beladjar dari mereka dengan cara mendengar, jauh lebih efektif mendapat pengetahuan daripada membantah dan merasa diri lebih pintar.

1 Maret 2016.

SAYA termasuk orang yang berpendapat hubungan darah tidak menentukan warisan politikyang menurun menurut DNA(bukan D.N Aidit).

    Saya adalah salah seorang pengkritik tampa ampun terhadap "Politik jalan damai (parlementer)" yang dilancarkan PKI ang diketuai D.N. Aidit yang abnag sulung saya itu. Bahkan kaum oportunis kanan-kiri (oporkaki PKI) melakukan politik pemencilan terhadap saya, melancarkan kampanye pembencian hingga penyabotan terhadap aktivitas sastra atas novel-novel saya yang diterbitkan di Jakarta.

    Bahkan tidak sedikit agen-agen kaum opor kaki PKI yang menyerang dan memaki-maki serta menfitnah saya dengan keji dan menuduh saya sebagai pengkhianat abangnya sendiri. Tapi okelah, ini adalah soal "interen PKI" dan saya mengatakan semua ini hanyalah sebagai keterangan untuk menyanggah tiori bahwa hubungan politik adalah bersifat hubungan darah.  
 
     Pemerintahan yang sekarang meskipun "berbau rakyat" ("populisme") tapi dalam kenyataannya sehari-hari, pemerintahan yang sekarang tidak mampu dan juga tidak peduli terhadap pelanggaran  hak kebebasan rakyat Indonesia dalam menyatakan pendapat, berdemokrasi secara benar dan sehat , tidak memberi jaminan akan keamanan rakyatnya setjara bebas melontarkan kritik apalagi mengekspresikan semua pikiran dan keinginan rakyatnya. dan hal itu telah dibuktikan dengan tindakan tangan besi aparat negara terhadap kegiatan maupun insiatif-inisatif rakyat yang bahkan hanya bersifat kebudayaan atau pesta-pesta rakyat.

    Tapi terus terang, khususnya tentang diri saya sendiri saya ambil berat dan waspada tentang kemungkinan agen-agen kaun opor kaki PKI yang juga menggunakan kesempatan melancarkan teror gelap terhadap saya (tapi saya tidak takut terhadap mereka). Kalau toh terjadi, apalah artinya bagi saya yang sudah hampir mencapai usia 80 (setiap saat siap berangkat dengan alasan apa pun). 

     Kesaksian pribadi (apalagi kesaksian saya) tidak akan banyak punya arti menentukan dalam mengungkapkan kebanaran yang terus-terusan dibenam semakin dalam dan semakin dalam oleh pihak yang memusuhi dan menaruh dendam kesumat pada PKI dan komunisme.

    Saya bukab tokoh poitik, yang saya geluti seumur hidup adalah satra dan menulis karya sastra. Tapi karerna satra tidak akan sempurna tampa melek politik, saya pun berusaha supaya tidak buta politik dan memperhatikannya secara sungguh hati yang mungkin saya curahkan. Saya lebih suka ngomong tentang makanan tempat-tempat penjual makanan yang enak di Jakarta sambil melihat perempua-perempuan Indonesia yang canti-cantik yang lalu-lanang dan menguraukannya.

     Sebagai Ƥcluk poitik" saya tidak berharga. Sia-sia saja intel Indonesia mengikuti gerak-gerik saya. Saya punya adekdot  sungguhan waktu saja masih tinggal di Vietnam ; Salah satu intel yang kebetulan murid saya (polisi rahasia) bilang pada saya "Sudalah Pak, bapak tinggal di rumah saja, jangan pergi-pergi bikin capek kami, bikin bosan mengikuti Bapak yang cuma ergi ke bibliotik, warung makan, jalan-jalan ke pasar lihat barang di vitrine dan tidak pernah beli, lalu pulang. itu saja sepanjang tahun. Tapi kami yang harus lelah laporanya itu-itu saja".     

    Dulu ketika Ajip Rosidi masih sering nginap di ruah saya di Belanda, kami sering ngobrol sampai pagi dan kadang-kadang samapai tiga hari berturut-turut.

    Banyak oang tahu bahwa Ajip itu anti komunisnya setengah mati, tapi kami hampir-hampir tidak pernah berdebat dan dia membantu saya sangat banyak terutama dalam meberikan buku-buku hingga menerbitkan novel saya. Belakangan dia bosan dan meninggalkan saya karena dia anggap sebagai makhluk politik saya tidak ada harganya.

     Ajip betul. Pada saya memang tidak ada papa-apanya selain teman ngobrol. Dan Ajip juga tidak berhasil "meng-Islamkan" saya yang memang sudah Islam sejak lebih dari 7 turunan. Missi politik dan agamanya berhasil dengan kegagalan. Asahan hanya Asahan saja Aidit itu saya sangkutkan karena adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati dan cintai.

Semangat Tanjung Priok

17 April 2010.

PERLAWANAN rakyat dalam peristiwa Tanjung Priok pada 16 April 2010 lalu yang berbentuk kekerasan pemerintah melawan kekerasan rakyat adalah satu peristiwa yang tak mungkin terjadi di zaman Soehartotau kalau terjadi tidaklah bisa dibayangkan  orang, bagai mana rezim Soeharto akan menjadikan massa rakyat mendjadi tepung kalau berani menghadapi kekerasan militer rezim Soeharto.

     Tapi itu tidak berarti bahwa pemerintah penerus orba yang sekarang bersikap lebih manusiawi terhadap rakyat yang berani melawan perbuatan semena-mena dan main sejata memperkosa kehidupan spirituil rakyat. Pasukan polisi pemerintah yang tampa berunding terlebih dahulu dengan massa rakyat ekitar makam yang diggap suci, telah mempertontonkan kepada rakyat sikap melecehkan dan meremehkan serta menghina rakyat yang ingin begitu saja man gusur dengan dukungan polisi bersenjata yang sama sekali tidak mengindahkan kehidupan spirituil atau kebudayaan rakyat setempat.

     Dan dalam menghadapi perbuatan dan tindakan pasukan polisi bersenjata yang main hantam kromo saja bagaikan serdadu-serdadu Jepangdi masa lalu, rakyat tidak mau lepas tangan dan mengadakan perlawanan sengit, keras lawan keras, senjata polisi lawan "senjata"rakyat. Meskipun tidak punya sejata seperti yang dimiliki pasukan poliisi penindas, tapi rakyat dengan menggunkana apa saja, benda apa saja di sekitar kehidupan mereka sehari-hari, telah berlawan  sengit antara hidup da mati melawan pasukan polisi bersenjata lengkap yang mebidas mereka.

     Rakyat yang semula bertanga kosong, tapi dengan serta mertan menggunakan senjta apa saja seperti batu, kepingan besi, kaju,pisau parang, dsb. untuk membela diri dan menyerang balik untuk melindungi jiwa mereka sendiri dan memepertahankan wilayah suci speritualitas mereka dengan gagah perkasa meskipun tidak sedikit jatuh korban di kalangan mereka sendiri. Meskipun ini belu suatu gerakan politik melawan penindasan dan kesemena-menaan pasukan bersenjata penguasa yang ingin memperkosa kehidupan spperituil rakyat dengan mengandalkan serdadu fasis sebagai alat penguasa.

    Dan meskipun masih bersfat lokal sebatas Tanjung Priok, tapi semangat perlawanan rakyat sudah jelas menunjukan bahwa rakyat sudah tidak seperti rakyat di zaman Soeharto yang dibkin Soeharto tidak berdaya dibikin takut, dibikin bodoh, dibikin masa bodoh dan dibikin menyerah tampa syarat dan dijadikan rakyat paria atau budak dalam satu negara rezim fasis milter yang korup dan kejam.

     Penyembelihan 3 juta rakyat yang dilakukan oleh Soeharto, tidak bisa lagi dilakukan oleh rezim penerusnya dengan cara gratis tampa perlawanan, tampa korban dipihak penguasa. Meskipun rakyat yang belawan dan berani masih kalah dan menderita korban lebih banyak, tetapi semangatperlawanan mereka terhadap kekerasan dan kekejaman serta kesemena-menaan penguasa sudah tidak bisa dianggap sepi oleh penguasa. Setiap tidak kekerasan alat negara atau pasukan bersenjata penguasa akan dibalas oleh rakyat dengan kekerasan dan sejata apa saja yang bisa terjangkau dan dipunyai rakyat.

    Ini suatu kesimpulan dan kenyataan yang harus dicermati oleh kaum sosdem yanga dalam peristiwa ini pun suara mereka bungkam dan tidak berpihak kepada rakyat yang dalam pada itu seorang tokoh Pemuda Ansor (dulu ikut menjembelihkepala rakyat dan komunis) menuntut agarpihak pemerintah meminta maaf kepada rakyat Tanjung Priok. Sungguh absurd sikap bungkam kaum sosdem dan partai mereka yang katanya selalu gembar-gembor sebagai "pembela wong cilik". Dalam kenyataan dalam kata pun tidak berani membela rakyat kecuali cuma tekantuk-kantuk di kursi DPR dan sigap terbangun ketika sudah waktunya ngambil gaji.

      Pelajaran besar yang bisa ditarik dari peristiwa perlawanan rakyat di Tanjung Priok itu bahwa rakyat yang berani melawan dengan mempersenjatai diri (meskipun sudah teramat sederhana dan apa adanya) akan menjadi kekuatan riil dan kekuatan yang bisa berkembang luasdan terorganisasi di masa yang akan datang, kekuatan yanga akan dipimpin oleh sebuah partai pelopor rakyat sendiri bagi menghancurkan rezim penguasa anti-rakyat, penghisaprakyat, penindas rakyat yang bersekutu dengan musuh-musuh rakyat dalam selimut rakyat yang berpura-pura berteriak "pembela wong cilik" yang adalam perbuatannya pembela wong gede yang belum sempat korupsi dan tertangkap sebagai koruptor.

    Rakyat hanya memerlukan sebuah partai pelopor yang kuat dan setia mutlak kepada rakyat dan hanya memiliki partaipelopor demikian rakyat akan mampu memperjuangkan nasib mereka dan menempuh jalan ke sosialisme yang nyata dan bukan sosialisme utopi kaum sosdem yang mereka pancing di geung DPR dengan menggunkan umpan kepala rakyat.
[]

0 komentar:

Posting Komentar