Senin, 15 Februari 2016

PETA Blitar Berontak, Jepang Buru Kader PKI

Senin, 15 Februari 2016 – 12:55 WIB

Tentara PETA. Foto: Dok.Nationaal Archief, Belanda.
PERTENGAHAN 1944, Partai Komunis Indonesia (PKI) Komisariat Jawa Timur memindahkan kantor mereka dari Lodaya, di selatan Sungai Brantas ke dalam kota Blitar.
"Melalui perwira PETA, Kusno dan Dr. Ismail, PKI melakukan propaganda anti-fasis di kalangan perwira, bintara dan prajurit PETA di Blitar," tulis Busjarie Latif, dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI.
14 Februari 1945. Dipimpin Supriyadi, Muradi dan  Suparjono, tentara Pembela Tanah Air (PETA) Blitar berontak.   
Sudah diingatkan Bung Karno, tapi anak-anak muda itu tetap yakin pada pilihannya. 
Alhasil, dalam waktu sekejap saja, pemberontakan itu berhasil dipadamkan. 
Setelah pemberontakan itu gagal, Jepang berburu mangsa. 
"Pagi-pagi, setelah pemberontakan PETA ditindas, pimpinan komisariat meninggalkan kota Blitar ke Pandaan," ungkap Busjarie, dari Lembaga Sejarah PKI.
Jepang menangkap Suharti alias Ny. Umi Sardjono istri Sukisman, pimpinan komisariat PKI Jawa Timur yang sedang berada di Pandaan.
Para serdadu "saudara tua" terus memburu dan melakukan penangkapan. 
Sukisman menghindar ke Pringen, kemudian ke Gunung Calukan terus ke Batutulis. Maksudnya mau ke Surabaya. 
Dalam perjalanan ke Krian, Sukisman, kader PKI yang dikenal militan itu tertangkap. 
Menurut Busjarie, Sukisman dibawa untuk ditahan di penjara Blitar, kemudian dipindahkan ke Kediri lalu diadili di Jakarta, bersama sejumlah pimpinan PETA Blitar.
Sekadar catatan, saat balatentara Jepang datang, mengalahkan Belanda dan menguasai negeri yang hari ini bernama Indonesia, CC PKI pimpinan Pamudji yang berkedudukan di Surabaya mengeluarkan instruksi, mengerahkan segenap kekuatan menghadapi fasisme Jepang. (wow/jpnn)
http://www.jpnn.com/news/peta-blitar-berontak-jepang-buru-kader-pki

0 komentar:

Posting Komentar