Selasa, 08 April 2014

Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah


8 April 2014


Perpustakaan Medayu Agung dibentuk dari kenangan dan pengalaman pribadi sang pemilik, Oei Hiem Hwie, demi membangun sejarah yang lebih besar.

Begitu kita memasuki Perpustakaan Medayu Agung, di sebelah kanan terpajang foto hitam putih Bung Karno dalam satu pigura besar. Foto tersebut merupakan karya dari sang pemilik dan pengelola perpustakaan, Oei Hiem Hwie, saat dia masih bekerja sebagai wartawan di harian Trompet Masjarakat. Di sebelah pigura, satu kotak kaca memuat versi kecil foto tersebut, bersebelahan dengan foto Oei muda pada saat mewawancarai Bung Karno. Di sela-sela berbagai dokumen, tertata beberapa kantong kecil berisi butiran merica, cengkeh, dan silika untuk menyerap kelembapan dan mengusir serangga.

Kotak kaca berisi kenang-kenangan dari almarhum Bung Karno dan Haji Masagung untuk Oei Hiem Hwie. Foto: Kathleen Azali

Kotak itu juga memuat satu piringan hitam dan kaset-kaset berisi pidato Bung Karno, antara lain pada peringatan hari kemerdekaan ke-6 di halaman Istana Negara, dan di depan mahasiswa Unair pada tahun 1959. Di sebelahnya lagi, tampak foto Haji Masagung, seorang Tionghoa Muslim yang dikenal sebagai pendiri Toko Buku Gunung Agung dan perpustakaan Yayasan Idayu.

Memasuki Perpustakaan Medayu Agung. Foto: Erlin Goentoro

Terletak di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, daerah selatan Surabaya, Perpustakaan Medayu Agung memuat berbagai buku, koran, majalah, kliping, foto dan berbagai dokumen bersejarah. Berbeda dengan perpustakaan umum, koleksi Perpustakaan Medayu Agung cukup terspesialisasi, dan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua koleksi.

Pertama, koleksi khusus, dengan fokus utama subyek sejarah, karya-karya Pramoedya Ananata Toer (termasuk naskah aslinya), Bung Karno, dan masalah pembauran dan integrasi etnis Tionghoa di Indonesia. Kedua, koleksi langka, yang mencakup buku-buku kuno terbitan pertengahan abad 19 hingga awal abad 20, dalam bahasa Belanda, Inggris, Melayu, dan Jerman, yang sudah sangat jarang dapat ditemukan. Selain dua koleksi utama tersebut, ada banyak pula koran dan majalah terbitan lama dan kliping pers.

Tak heran, gedung berukuran 10×10 menter ini menjadi salah satu simpul arsip dokumen yang sangat penting di Surabaya. Banyak wartawan, mahasiswa, dan peneliti dari dalam maupun luar negeri telah berkunjung ke sini, antara lain Claudine Salmon, Charles Coppel, Daniel S. Lev, Benedict Anderson, Roger Tol, Rie Poo Tian, John Sidel, He Geng Xin, Tan Ta Sen, Mona Lohanda, Mira Sidharta, dan Pramoedya Ananta Toer sendiri.

Gagasan apa yang dibangun dan tertanam dalam pengarsipan Medayu Agung? Apa hubungannya dengan persoalan di sekitarnya—konteks, dan individu-individu yang turut berperan membangunnya? Kondisi (sejarah) apa yang membentuk dan mendukung seorang Oei Hiem Hwie, dan Perpustakaan Medayu Agung?

Oei Hiem Hwie di dalam Medayu Agung. Foto: Erlin Goentoro

Oei Hiem Hwie lahir di Malang pada 24 November 1935. Ayah Oei, adalah seorang totok dari Hokkian. 
 “Kawin mbek ibu saya, orang Jawa Tengah. Ibu saya itu orang qiao shen, Tionghoa sini, peranakan, trus pindah Malang, aku lahir,” jelasnya.
Sebelum Oei menjadi wartawan, dari kecil ia sudah hobi mengoleksi buku dan mengklipin. Selain itu, rupanya, dia mewarisi banyak buku kuno dari keluarganya.
“Ada banyak, tinggalane engkong.  Engkongku itu yo, engkong dari papa, dari ibu, itu…. konco Belandane banyak. Pas Belanda jatuh, Belanda pulang, buku-bukune dikek’no.”

Pertama kali berdiri pada 17 Maret 1900 di Batavia, berbagai cabangnya kemudian berdiri di pelosok Hindia Belanda. Sekolah THHK didirikan dengan dukungan iuran tahunan sebesar 3,000 guilderdari dewan, dengan tujuan menyediakan pendidikan gratis bagi semua anak keturunan Tionghoa dari berbagai lapisan sosial ekonomi. THHK juga menunjukkan perhatian khusus pada pendirian bibliotheekatau perpustakaan, dan penyebarluasan pengetahuan.


Buku-buku peringatan THHK dari berbagai kota. Foto: Erlin Goentoro

Menurut Oiyan Liu (2010), THHK dan gerakan pendidikan Tionghoa dapat dikatakan sebagai reaksi publik Tionghoa lokal pada kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda saat itu yang menyediakan pendidikan dan subsidi hanya kepada bumiputra, sementara komunitas Tionghoa tidak diberi akses pendidikan (kecuali untuk beberapa Tionghoa peranakan). Dengan mengumpulkan dana sendiri, mereka membangun gerakan pendidikan untuk menunjukkan perlawanan politis mereka, dan membangun jaringan tidak hanya ke Tiongkok daratan, tapi juga Singapura. Hubungan dengan Singapura ini dikatakan cukup membuat pemerintah kolonial Belanda mengkhawatirkan persaingan pengaruh dengan pemerintahan kolonial Inggris. Pemerintah Belanda akhirnya pada 1908 mendirikan Hollandsche Chineesche School (HCS, Sekolah Tionghoa Belanda) yang kemudian bersaing dengan THHK dalam menyediakan pendidikan bagi masyarakat Tionghoa di Hindia.

Koleksi pers Tionghoa. Foto: Erlin Goentoro

Tamat SMA, Oei melanjutkan mengikuti kursus jurnalistik, profesi yang saat itu disebut sebagai “ratu dunia”. Sebagai catatan, partisipasi masyarakat Tionghoa dalam dunia pers Hindia Belanda dimulai sebagai kontributor atau editor koran, sementara kepemilikannya dipegang oleh pihak Belanda atau Eurasia. Tapi pada tahun 1884, seiring dengan jatuhnya harga gula, berbagai pers di Hindia Belanda mengalami kesulitan finansial.

 Era ini kemudian menjadi penanda awal bermunculannya penerbitan dan jurnalisme vernakuler Tionghoa. Masyarakat Tionghoa menjadi sadar tidak saja potensi bisnis koran, tapi juga peran pers dalam pembentukan opini publik. Ketidakpuasan pada perilaku pemerintah kolonial diutarakan melalui pers, dan pada akhirnya turut berperan besar dalam pembentukan pikiran dan juga gerakan THHK.

Ijazah pendidikan jurnalistik Oei Hiem Hwie. Foto: Kathleen Azali

Karena waktu itu di Malang tidak ada sekolah wartawan, Oei mengikuti pelatihan jurnalistik di Universitas Res Publika di Yogyakarta, yang dulu didirikan oleh Baperki. (Selain Res Publika, Oei mendapat satu lagi ijazah pendidikan jurnalistik dari Pro Patria, dengan tahun kelulusan 1962.)

Kotak kaca yang memuat berbagai dokumen Baperki. Foto: Erlin Goentoro

“Aku anak buahe Siauw Giok Tjan. Jadi saya wartawan, aku juga orang Baperki. Lha, aku sekretaris Baperki Malang, gitu lho,” jelas Oei.
Lulus pendidikan jurnalistik, Oei mencari kerja di Trompet Masjarakat yang berlokasi di seberang Tugu Pahlawan, Surabaya. “Dulu di situ. Bawah itu percetakan. Atas, kantor. Jadi saya ngantor ndek nggone atas.” Awalnya hanya sebagai kontributor, Oei kemudian menjadi pekerja tetap yang ditugaskan di bidang sosial politik; dengan trem listrik, ia kerap datang meliput ke pengadilan-pengadilan.

Sepatah Dua Patah Kata oleh Goei Poo An dalam Trompet Masjarakat. Foto: Erlin Goentoro

Motto Trompet Masjarakat adalah, “Membawa suara kaum ketjil bebas dari segala pengaruh.” Trompet Masjarakat didirikan oleh oleh seorang Tionghoa, Goei Poo An, yang sudah sejak 1925 aktif di berbagai koran peranakan. Awalnya dengan Perniagaan, kemudian Sin Jit Po, Sin Tit Po, dan Mata Hari, sebelum akhirnya mendirikan Trompet Masjarakat di mana ia menjabat sebagai dirjen dari tahun 1947. Dalam tim redaksi ada juga Mana Adinda dan Amak Yunus. Pelaksana sehari-hari Trompet Masjarakat adalah Saleh Said, seorang muslim dari Ampel. “Jadi [isinya] bukan hanya orang-orang Tionghoa. Macem-macem. Karena itu saya pengen kerja di sana.”

Sisa Trompet Masjarakat (tertanggal 19 November 1960) yang dapat diamankan Oei. Foto: Kathleen Azali

Kemudian meletuslah peristiwa 30 September 1965. Trompet Masjarakat ditutup, dan Oei ditangkap. Foto-foto, koran, majalah, buku, dan berbagai dokumen dirampas dan dibakar. Beberapa dokumen yang sensitif diamankan adik Oei di atas plafon rumah mereka di Malang. Karena tidak ada cukup bukti yang menunjukkan keterlibatan Oei dalam PKI, Oei masuk dalam kategori B. Ditahan tanpa sidang. Kategori A, disidang. Kategori C, bebas.   “Katanyaa [bebas]…,” ujar Oei tertawa.

Awalnya Oei ditahan di Batu, kemudian dipindah ke Lowokwaru di Malang. Kadang-kadang, Oei dipindah ke Surabaya, di Kalisosok. Atau terkadang di Koblen, di Rumah Tahanan Militer yang sekarang sudah dihancurkan. Oei dipindah-pindahkan antara Malang dan Surabaya selama lima tahun sebagai tahanan politik. Kemudian tahun 1970, Ia “dinaikkan sepur, pagi-pagi, berangkat ke Cilacap. Sebelum ke Pulau Buru, semua ke Nusa Kambangan, masuk Karang Tengah. Cuma 2-3 bulan, baru ke Pulau Buru.”

Oei menganggap penjara sebagai akademi, tempat dia belajar. Di dalam penjara, Oei dan teman-teman tahanan membuat kelompok belajar, untuk belajar bahasa, dan juga untuk mengarahkan pikiran. Oei tinggal di Pulau Buru antara tahun 1970 dan 1978, di mana dia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Kebetulan tempat Pram ditahan berada di dekat ladang tempat Oei mencangkul.
 “Jadi kalau saya liat ndak ada seng jaga, saya mbrosot masuk.” Karena tidak ada kertas, Oei membantu Pram memotong kertas untuk menulis dari karung pembungkus semen.
Kotak memuat naskah-naskah Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru, dan surat-surat Pram kepada Oei. Foto: Kathleen Azali

Hingga akhirnya, ketika Oei dibebaskan di tahun 1978, Pram menitipkan naskah-naskah tulisan tangan dan ketikannya ke Oei Hiem Hwie untuk dibawa keluar. Untungnya lagi, Oei tidak digeledah, sehingga naskah-naskah tersebut selamat. Setelah Pramoedya dibebaskan setahun berikutnya pada 1979, Oei menemuinya untuk mengembalikan naskah-naskah tersebut. Pram menolak, meminta Oei untuk menyimpankan naskah aslinya. Pram akan menyimpan fotokopinya saja.

Foto Oei dan Pram setelah bebas di tahun 1980. Foto: Kathleen Azali

Oei tiba dengan selamat ke Surabaya. Dia, dengan lebih dari 4.000 eks-tapol (total 4.288, menurut surat), diberi surat pembebasan “pengembalian ke masyarakat”, dan mendapatkan KTP dengan tanda ET. Singkatan dari Eks Tapol, atau plesetannya, “Elek Terus.” Dengan KTP tersebut, Oei kesulitan mencari pekerjaan.
“Ndak iso kerjo. Cari kerjaan ya mbek orang ditolak. Pigi bank mau pinjem uang aja mau bikin modal, dibilang ndak ada. Yak apa. Karena tapol, ya, eks tapol,” jelasnya tertawa. “Wong orang ngasi kue lho, ditaruh di luar. Mlayu wedi.”
Status ET di KTP Oei baru dihapus setelah KTPnya diganti menjadi KTP seumur hidup (karena waktu itu Oei sudah berumur lebih dari 60 tahun), setelah Asmara Nababan menjadi sekretaris Komnas HAM.

Surat “pengembalian 4.288 orang tahanan G-30-S/PKI Gol. “B” ke masyarakat” yang membebaskan Oei di tahun 1978. Foto: Kathleen Azali

Oei kemudian dihubungi oleh Haji Masagung (Tjio Wie Tay), seorang Tionghoa Muslim yang dikenal sebagai pendiri Toko Buku Gunung Agung.
 Selain TB Gunung Agung, Haji Masagung juga mendirikan Yayasan Idayu di Jakarta, yang juga mengelola dokumentasi dan perpustakaan. Haji Masagung mengusulkan Oei pindah tempat tinggal dari Malang agar tidak terus menerus dipantau, karena ada banyak tangan militer hingga tingkat RT/RW. Meskipun KTP Oei tetap beralamat Malang, Oei pindah ke Surabaya, bekerja di Toko Buku dan Perpustakaan Sari Agung, yang juga didirikan oleh Masagung di Jalan Tunjungan.

Dari pekerjaannya dengan Masagung ini lah, Oei mengenal dan mempelajari pengelolaan perpustakaan. Toko Buku dan Perpustakaan Sari Agung, meski kini sudah tidak ada lagi, tampaknya banyak meninggalkan ingatan yang membekas bagi banyak masyarakat Surabaya, terutama karena koleksinya yang terbilang cukup lengkap. Selain itu, Oei juga menjadi sekretaris pribadi Masagung yang bertugas mengantar Masagung berdakwah ke berbagai pesantren dan masjid di Jawa Timur.

Ketika Masagung meninggal di tahun 1992, Oei pun pensiun. Bermodal pengalamannya mengelola perpustakaan Sari Agung, dengan hati-hati ia memindahkah buku-buku dan dokumen-dokumennya dari Malang ke Surabaya. Pada awalnya, Oey bercerita saat itu belum berani menurunkan dokumen-dokumen tersebut dari atas plafon, apalagi karena Orde Baru masih berkuasa dan larangan masih berlaku. Setelah Reformasi, baru Oei berani menurunkannya secara bertahap. Kondisinya cukup rapuh karena disimpan di atas plafon selama 13 tahun lebih.
“Buku-buku ini bolong semua. Dimakan renget. Tapi untung bolongnya ndak ke tulisan. Ada yang bolong bisa tembus gitu. Coba’o rayap, habis, dibakar.”
 Saat itu, Oei sempat didatangi dua orang peneliti Australia, yang ingin membeli seluruh koleksinya untuk diboyong ke Negeri Kangguru dengan harga satu milyar rupiah. Oei kesulitan mengkonfirmasi nama peneliti tersebut, tapi ada yang menyebut bahwa salah satunya adalah Charles Coppel yang menulis Indonesian Chinese in Crisis (1983), disertasi yang kemudian menjadi salah satu buku rujukan utama dalam kajian Tionghoa Indonesia.

Oei kemudian bertemu dengan Ongko Tikdoyo, seorang pengusaha yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan di Buddhist Education Center (BEC) Surabaya. Oei bercerita sebenarnya sudah mengenal Ongko ketika ia masih kecil, karena ayah Ongko dulu adalah bendahara Baperki Kepanjen, sementara Oei adalah sekretaris Baperki Malang. Ongko mendorong Oei untuk membentuk perpustakaan. Hanya saja, sempitnya rumah Oei saat itu, dengan usaha berjualan air minum isi ulang dan elpiji, tidak memungkinkan untuk membuka perpustakaan. Ongko berjanji akan membantu pendanaan sewa tempat.

Perpustakaan Medayu Agung sekarang. Foto: Erlin Goentoro

Tahun 2001, Perpustakaan Medayu Agung dibuka di rumah sewa kontrak di Jalan Medayu Selatan VII/22. Sebentar saja, rumah kontrakan itu pun penuh dengan koleksi buku-buku, arsip majalah, dan kliping yang terus bertambah. Ongko kembali menemui Oei Hiem Hwie, dengan mengajak Sindunata Sambudhi, pemilik Hakiki Donarta, dan Ir. Juliastoro. Menyadari bahwa rumah kontrakan itu tidak lagi cukup, mereka mengusulkan mencari tanah dan membangun rumah baru.

Pada praktiknya, Sindunata Sambudhi dan Ongko Tikdoyo banyak mendukung dana, baik dari uang mereka sendiri maupun mencarikan dari donatur lain. Sementara Juliastono, dalam kapasitasnya sebagai insinyur, banyak membantu pro bono dalam pembangunan gedung perpustakaan, yang sekarang sudah berpindah di atas tanah sendiri di Jl. Medayu Selatan IV/42-44.

Untuk memenuhi persyaratan izin membuka perpustakaan dari pemerintah kota, diperlukan adanya pustakawan resmi dengan latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Akhirnya dengan dukungan dana dari yayasan, Oei membiayai kuliah S1 Ilmu Perpustakaan untuk pekerja pertamanya, Harun. Selain itu, untuk mendapatkan izin, diperlukan adanya pos satpam di depan gedung perpustakaan untuk penjagaan. Untunglah, lokasi Perpustakaan Medayu Agung sekarang berada tepat di depan pos penjagaan kompleks perumahan. Sebuah kebetulan yang patut disyukuri.

Lantai 2 Medayu Agung. Foto: Erlin Goentoro

Saat ini, ada enam pekerja di Medayu Agung, selain Oei sebagai pengelola utama yang bekerja tanpa gaji. Di lantai dasar, ada dua ruangan tertutup, satu memuat koleksi langka, satunya koleksi khusus. Ruang koleksi langka adalah satu-satunya ruang dengan pendingin ruangan, memuat banyak buku kuno dan buku sejarah yang sudah rapuh dan perlu dijaga suhu dan kelembapannya. Di dalam ruangan ini, dapat ditemukan Oud Batavia, Soerabaja Oud and Nieuw, The History of Java karya Raffles, berjilid-jilid katalog koleksi seni rupa Bung Karno, hingga cetakan awal Mein Kampf. Oei bercerita bahwa kebanyakan koleksi ini ia dapatkan dari engkongnya. Ruang koleksi khusus memuat buku-buku dengan subjek Pramoedya Ananata Toer, Bung Karno, dan masalah pembauran dan integrasi etnis Tionghoa di Indonesia.

Di tengah-tengah lantai dasar, rak-rak berisi bendel-bendel majalah berjejer berderet-deret. Ada beberapa kotak kaca di sela-selanya. Salah satu kotak berisi naskah-naskah tulisan tangan dan ketikan Pramoedya Ananata Toer, berdampingan dengan surat-surat Pram kepada Oei. Satu kotak lain, yang telah saya sebutkan di awal tulisan, memuat koleksi kenangan dari Bung Karno dan Haji Masagung, berisi naskah Sosialisme Utopia yang ditandatangani oleh Bung Karno, beserta piringan hitam pidato, dan foto-foto Bung Karno dan Haji Masagung. Kotak kaca yang lain lagi, memuat buku-buku lama, salah satunya Max Havelaar. Ada pula kotak kaca yang khusus memuat dokumen-dokumen Baperki, seperti koran Berita Baperki dan buku Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar oleh Siauw Giok Tjhan. Pada tiap kotak kaca, terpasang pigura aluminium menjelaskan isi kotak.

Oei menunjukkan satu bendel klipingnya. Foto: Erlin Goentoro

Sedikit tersembunyi di sudut ruangan, di dekat mesin fotokopi, beberapa rak memuat buku-buku yang ditulis dalam bahasa Tionghoa. Di dekatnya lagi, ada rak yang memuat berbagai kliping koran yang Oei kumpulkan dan bendel dalam map yang dibuat sendiri dari kardus. Subjeknya mungkin cukup acak, tapi jelas menunjukkan minat pribadi dan konteks zaman Oei, antara lain: Masagung, Pers Indonesia, Resensi dan Peninjauan Buku, KGB, India, SARA, Vietnam, Timor-Timur, Mahasiswa, Kasus Tanah, Cersam Sie Djin Koei, ASEAN, Polandia Bergolak, Sejarah Surabaya. Topik Bung Karno, G30S, ditempatkan dalam kardus buatan sendiri karena banyaknya.

Di lantai atas, ada lebih banyak lagi buku-buku dan berbendel-bendel koran, dibungkus rapat dalam plastik. Beberapa butir kapur barus diselipkan di dalamnya. Ada satu komputer di pojok ruangan untuk digitalisasi katalog. Printer di sebelahnya tampak berdebu. Subjek di lantai dua lebih beragam, meski tetap mencerminkan minat sosial politik Oei, antara lain agama, wayang, militer dan politik, Pancasila, Soeharto, pers dan jurnalistik, perang dan kemerdekaan, sosial budaya, ekonomi, filsafat.

Sistem katalogisasi Oei. Foto: Erlin Goentoro

Di awal proses katalogisasi, Oei membuat sistem kategori sendiri. Misalnya, MPI adalah kode untuk Masalah Pembauran dan Integrasi. SHT adalah Masalah Soeharto. PJ, Pers dan Jurnalistik. Tiap buku yang datang, dikategorikan dalam kategori-kategori tersebut, kemudian diberi nomor, seiring dengan bertambahnya koleksi. Sekarang, beberapa koleksinya mulai diberi Kode Desimal Dewey (Dewey Decimal Code, DDC), ditempelkan di bawah kode lama yang Oei buat. Namun mungkin DDC pun tidak akan terlalu membantu, melihat begitu spesifiknya koleksi Medayu Agung.

Hingga saat ini, setiap hari Oei masih tekun menandai koran yang akan dia kliping. Selain koran-koran berbahasa Indonesia, Oei juga berlangganan koran berbahasa Mandarin dan majalah berbahasa Jawa. Karena penglihatan yang makin kabur, Oei bercerita dalam sehari rata-rata hanya mampu menggunting empat kliping. Sementara persediaan buku dan koran yang perlu disortir dan dikliping datang berkardus-kardus.

Bertumpuk-tumpuk koran dalam bungkusan plastik dengan kapur barus di dalamnya. Foto: Erlin Goentoro

Ada beberapa hal yang dapat kita garisbawahi dari Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung. Oei memiliki ketekunan dan integritas yang luar biasa dalam mengarsip, terutama karena hubungan yang erat antara sejarah perpustakaan ini dengan sejarah pribadinya. Keluarga, pendidikan, dan individu-individu di sekitarnya berperan besar dalam pembentukan sejarahnya, pribadinya, dan pertemanannya, yang kemudian juga terbangun dan tertanam dalam gagasan arsip Medayu Agung. Koleksi buku dari keluarganya (dan teman-teman keluarganya) mengisi koleksi buku langka.
Pendidikan Tiong Hoa Hwee Koan, Universitas Res Publica, pekerjaannya sebagai wartawan, dan aktivitasnya di Baperki, berperan besar dalam pembentukan pribadi, pertemannya, dan koleksi khususnya. Begitu pula perjumpaannya dengan Pram di Pulau Buru.

Tidak hanya mereka membentuk koleksi arsip Medayu Agung, tapi juga membangun reputasi dan spesialisasinya. Dengan mengembangkan gagasan arsip yang erat berhubungan dengannya, Oei tidak memposisikan dirinya sekedar sebagai arsiparis atau pustakawan pasif, tapi dengan aktif berpartisipasi membentuk pemahaman mengenai berbagai subjek yang ia rangkai dalam koleksinya.

Foto kenangan Oei mewawancarai Soekarno. Foto: Erlin Goentoro

Sampai sekarang, Medayu Agung tidak pernah mendapatkan dana sepeserpun dari pemerintah. Hanya pengakuan sebagai perpustakaan yang sah pada 23 Mei 2005, dan penghargaan Board Preference dalam Surabaya Academy Award 2004. Pengorbanan, ketekunan, dan kerja keras Oei hanya disokong oleh inisiatif pribadi teman-temannya. Biaya operasional perpustakaan ini sekitar 10 juta per bulan, untuk membayar gaji enam pegawai, listrik, dan air. Semua dana didapatkan dari yayasan melalui kocek pribadi anggota dan teman-temannya. Selain di ruang koleksi langka, pendingin ruangan tidak dinyalakan untuk menghemat listrik. Meskipun dewan pembina pun memiliki keinginan untuk membuat acara dan digitalisasi koleksi, hal tersebut memerlukan langkah-langkah dan komitmen yang tidak sedikit.

Yang kemudian menjadi beban pikiran Oei—dan kita semua—adalah regenerasi dan keberlanjutan Medayu Agung ke depan. Sudah terlalu banyak perpustakaan swadaya dengan koleksi legendaris di Indonesia yang hilang dan koleksinya tersebar ketika sang pendiri tidak dapat lagi mengelolanya—perpustakaan H.B. Jassin dan perpustakaan Bung Hatta biasanya langsung meloncat ke pikiran. Sejujurnya saat menulis ini, saya teringat pada nasib “mentor” Oei, Haji Masagung, dan perpustakaannya, Perpustakaan Yayasan Idayu.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya terpaku pada jerih payah dan ketekunan mereka, tapi mulai memikirkan bagaimana kita dapat menciptakan lingkungan dan kondisi yang berkelanjutan agar kerja keras mereka dapat dinikmati dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar