Jumat, 01 November 2019

Mari Tinggalkan Budaya Elitisme Dan Warisan Angkatan ‘66


Oleh: Siti Sundari, mahasiswa - 1 November 2019 


Tahun ini merupakan tahun bersejarah bagi kita, rakyat Indonesia, terutama kaum muda mahasiswa. Kita, kaum muda bersama rakyat menunjukkan kemarahan kepada pemerintahan Jokowi — yang tampaknya sedang panik dengan krisis ekonomi — dengan mengeluarkan regulasi-regulasi anti-rakyat untuk mempermudah investasi lebih leluasa masuk di tahun 2020 mendatang[1].

Suatu hal yang lazim dalam setiap rumusan rezim kapitalis-neoliberal: melakukan deregulasi atau melakukan revisi hukum dan perundang-undangan untuk memuluskan masuknya modal (capital) dari negeri-negeri imperialis ke negeri dunia ketiga seperti Indonesia. Revisi perundang-undangan yang belakangan banyak menimbulkan penolakan—oleh rezim Jokowi dianggap dapat memuluskan keran investasi—serta menjawab krisis ekonomi global yang berdampak terhadap Indonesia. Beberapa bulan yang lalu Jokowi pernah berpidato bahwa yang ia tak segan-segan untuk menghajar siapapun yang menghambat investasi.[2].

Melihat meluasnya kecaman publik, rezim dengan segera merespon berbagai demonstrasi yang terjadi dengan segala cara. Selain tindakan represi brutal aparat di lapangan yang akhirnya menelan korban jiwa sebanyak 5 orang, rezim juga menggunakan jasa para pendengung atau kerap kita sebut buzzer guna melakukan framing terhadap aksi demonstrasi dengan tuduhan menjijikkan: bahwa aksi telah “ditunggangi”.

Belum cukup sampai di situ, pada tanggal 26 September 2019 yang lalu presiden Jokowi segera memanggil Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan (Menristekdikti), meminta agar mahasiswa tidak turun ke jalan melakukan aksi[3]. Empat hari berselang Menristekdikti Mohammad Nasir menindaklanjutinya dengan mengadakan rapat bersama 130 rektor dari seluruh perguruan tinggi, supaya tidak ada rektor yang mendukung atau membiarkan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa[4].

Tak hanya mahasiswa, kawan-kawan pelajar STM pun mendapatkan tekanan serupa. Para pelajar nampak terlibat dalam aksi beberapa waktu lalu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy merespon dengan mengeluarkan surat edaran berupa larangan melakukan aksi terhadap kawan-kawan pelajar[5].
Melihat fenomena keterlibatan para pelajar menunjukkan kepada kita, sebagai mahasiswa khusunya, bahwa kawan-kawan pelajar merupakan unsur yang tidak bisa kita acuhkan. Bisa kita lihat bahwa kawan-kawan pelajar merupakan unsur perlawanan yang paling militan dalam demonstrasi menentang rezim. Bahkan dua dari 5 korban kekerasan aparat berasal dari kawan pelajar, mereka adalah Bagus Putra Mahendra dan Akbar Alamsyah. Mari tundukkan kepala kepada kawan-kawan kita yang telah gugur dalam perjuangan.

Budaya Elitisme dan Hal Lain yang Menghambat Perjuangan Saat Ini
Patut diakui bahwa masih ada dari kaum muda mahasiswa yang menganggap kekuatan kawan-kawan pelajar sebagai yang sepele atau sekadar melihat mereka sebagai kawan-kawan yang hanya “suka tawuran”. Misalnya seperti di Palu, para pelajar kurang diterima oleh mahasiswa yang sedang aksi, padahal kawan-kawan pelajar sangat ingin bergabung dengan aksi mahasiswa.
Hal seperti ini menunjukan watak budaya elitisme mahasiswa yang berkesaradaran palsu, kalau boleh saya mengistislahkannya menjadi kesadaran mahasiswais: merasa punya keistimewaan dan kuasa karena punya pendidikan yang lebih tinggi dari kawan-kawan pelajar.

Jika ditarik ke belakang, sejarah budaya elitisme ini terlihat pada generasi angkatan ’66 . Wataknya memperlihatkan seolah-olah mahasiswa itu tahu segalanya. Teman saya yang saking jengkelnya dengan pengagungan berlebihan terhadap mahasiswa ini, sampai memplesetkan slogan agent of change (agen perubahan—sebutan yang sering disematkan pada mahasiswa) menjadi “agen of segala-galanya”.

Contoh lain budaya elitisme mahasiswa yang masih kental terasa hingga sekarang adalah merasa “lebih” dan menganggap remeh terhadap sesama mahasiswa lainnya yang tidak mempunyai jabatan struktural di dalam kampus. Padahal mereka yang berpartisipasi sebagai massa aksi dalam aksi beberapa waktu lalu merupakan mahasiswa yang tidak memiliki jabatan dalam kampus. Bahkan bisa dibilang bahwa mereka juga tidak berorganisasi, baik di internal kampus maupun eksternal kampus. Bila terhadap sesama mahasiswa sudah seperti itu, maka bisa kita bayangkan bagaimana terhadap sektor lain seperti terhadap buruh, kaum tani, dan sebagainya.

Watak ini diperparah dengan ego primordial antar kampus yang masih cukup tinggi, terutama ketika menentukan siapa yang harus memimpin aksi. Jumlah massa yang dibawa bergabung dan nama beken kampus adalah 2 hal yang biasanya dijadikan senjata daya tawar guna memenangkan posisi pimpinan aksi. Hal ini makin runyam ketika dikombinasikan dengan motif persaingan mencari popularitas dari para “pimpinan” massa mahasiswa—maka makin menjadil-jadilah persoalan persatuan di antara kita semua sebagai mahasiswa dan (apalagi) juga terhadap sektor lainnya.

Gejala lain bisa kita lihat misalnya saat beberapa ketua BEM dari kampus besar tampil di sebuah stasiun televisi swasta, tvOne, dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC). Ketua BEM lain yang merasa tak terwakili, seperti Presiden Mahasiswa Universitas Az-Zahra, Nowan Ermawan menyayangkan tindakan ini. Nowan berkata, “Kami sama-sama kena gas air mata, sama-sama dikejar polisi, tapi kok tiba-tiba ada (yang) muncul di ILC, apa-apan?”[6] 
Di Palu, Sulawesi Tengah, saat aksi pada 25 September 2019, para “pemimpin” mahasiswa hanya berebutan naik ke atas mobil komando berebutan mic dan sekadar menjadikan aksi massa menjadi semacam festival: ajang pencarian bakat—mana yang lebih wow di depan penontonnya (alias massa aksi)—agar mendapatkan piala berharga (alias popularitas).

Sejarah Indonesia adalah (memang) Sejarah Kaum Muda, Tetapi Warisan Angkatan ’66 Menghambatnya.

Tak ayal lagi, seperti yang sering diulangi oleh sastrawan besar kita, penulis novel Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, bahwa sejarah negeri kita (Indonesia) merupakan sejarah angkatan muda. Dalam suatu wawancara, sastrawan yang juga sejarawan ini dengan tegas mengatakan: “semua kemajuan di Indonesia itu dimotori oleh angkatan muda dan mahasiswa.”[7]

Ya, benar apa yang dikatakan oleh ‘Pram, karena sejarah telah membuktikan hal itu. Bila melihat ke belakang dalam era-era masa sebelum kemerdekaan sampai pada 1965, ada nama-nama pemuda(i) seperti Tirto Adhi Suryo, Kartini, Marco Kartodikromo, Tan Malaka, Semaun, Aliarcham, Haji Misbach, Sukarno, Hatta, Amir Syariffudin, Aidit, Wikana, dll., termasuk ‘Pram sendiri menjadi pemuda yang terlibat “memotori” kemajuan di Indonesia. Berkat jasa-jasa merekalah bangsa Indonesia lahir. Mereka terdiri dari angkatan muda berasal dari tiga angkatan: angkatan tahun belasan, angkatan 1920-an, dan angkatan ’45.

Mereka memotori kemajuan di negeri kita dengan terlibat bersaman perjuangan rakyat, membentuk organisasi rakyat dan mengorganisasikan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Apa yang menyebabkan mereka bisa melakukannya? Karena mereka merasa bukanlah pemuda(i) di jamannya yang elitis—merasa istimewa hanya karena mempunyai pendidikan atau kedudukan sosial yang tinggi—di tengah rakyat yang saat itu sekitar 90% buta huruf alias tidak berpendidikan[8]. Namun, semua budaya kerakyatan yang dibangun oleh pemuda(i) itu hilang seketika saat peristiwa ’65-66 terjadi.

Ada hal yang menarik disini, yakni, ‘Pram sendiri tidak mau mengomentari tentang angkatan ’66. “Tak ada sesuatu yang perlu dinilai”, katanya saat berpidato[9] cerita mengenai angkatan-angkatan kaum muda dari masa ke masa.

Bila kita melihat sejarah berdirinya Orde Baru yang militeristik—angkatan ’66 sangat mempunyai andil  besar dalam melegitimasi berdirinya kekuasaan Suharto—karena merekalah yang terlibat mengorganisasi aksi-aksi demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menuntut  Sukarno turun dan menimbulkan malapetaka dengan berdirinya kediktatoran militer. Maka benar bila ada pendapat yang menganggap bahwa Angkatan ’66 bertanggung jawab (langsung atau tak langsung) atas kejadian pembantaian tiga juta manusia Indonesia yang dituduh komunis dan para pendukung Sukarno, selain yang dijebloskan ke dalam penjara dan pembuangan di Pulau Buru.

Angkatan ’66 jugalah yang mewarisi budaya elitisme, korup, pengejar karir, dan terlalu mengistimewakan mahasiswa pada masanya. Seperti yang pernah dituturkan oleh Saut Sitomorang[10]: “… merasa diri terpelajar, betul terpelajar… jadi berlagak  seolah-olah kalau dia orang terpelajar, sudah cukup itu. Terpelajar buat dirinya (sendiri), dapat kedudukan yang baik (dalam masyarakat). (Seolah-olah)  sudah menjalankan tugasnya. Tidak ada tugas politik (untuk terlibat bersama rakyat) dalam keadaan mana (rakyat padahal ingin belajar bersama mereka).”

Soe Hok Gie, sebagai salah satu pemimpin angkatan ’66, yang terkenal dengan gagasan-gagasannya mengenai idealisme[11]  mahasiswa masih berpengaruh memberikan pengertian yang keliru tentang ‘politik’—berpendapat bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh menjadi gerakan politik pengambil kekuasaan. Dan hal ini masih berdampak hingga sekarang pada generasi kita, yang melihat gerakan sekadar menjadi gerakan moral (moral force) semata—melakukan aksi sekadar mengkritisi—bukan karena ada yang perlu diubah dari sistem kapitalistik yang ada, tetapi hanya pada persoalan moral semata atau “panggilan hati nurani”; kita seolah-olah menjadi pahlawan dalam dongeng: datang ketika dibutuhkan oleh rakyat dan setelah masalah rakyat “selesai”, kita kembali ke tempat asal  (kampus) kita, belajar, dan tidak usah berurusan dengan kekuasaan (politik) lagi, biarkan sektor-sektor lain di luar mahasiswa yang mengurusi kekuasaan.

Politik di mata ‘Gie (nickname dari Soe Hok Gie) adalah seolah-olah hanya sesuatu yang “kotor”, sesuatu yang negatif belaka: “Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”
Generasi kita sekarang mendengar kata “politik” saja menganggapnya sebagai sesuatu yang jahat, penuh manipulasi, intrik, dsb. Tentu hal ini bukan kesalahan semata dari Soe Hok Gie, tetapi juga akibat dari perilaku-perilaku dari elit-elit/partai politik yang menunjukkan kebobrokkannya dengan korupsi, kolusi dan nepotisme sejak dulu (terutama di masa rezim Orba berkuasa selama 32 tahun) hingga sekarang. Disini pendapat Soe Hok Gie sarat dengan pengistimewaaan mahasiswa—seolah mahasiswa itu “suci”—kerjaannya hanya belajar dan tidak boleh ikut-ikut organisasi politik di jamannya.

Tetapi Gie pulalah salah satu orang yang menyadari kekeliruannya dalam membantu kekuasaan Orba berdiri, karena secara tidak langsung telah membuat pembunuhan massal dalam hitungan bulan terjadi dimana-mana[12]. Ia juga mengkritik kawan-nya yang dulunya sama-sama berjuang, malah bergembira masuk ke pintu-pintu birokrasi dan (terutama) Golkar untuk mengejar karir, menerima hibah kekuasaan dari Suharto[13].

Mari Memperbaiki Kekeliruan-kekeliruan Kita dan Membangun Politik Alternatif

Tak ada cara yang paling ampuh untuk memperbaiki kekeliruan ini  kecuali menerima dengan rendah hati bahwa menjadi mahasiswa bukan berarti “tahu segalanya” dan punya jabatan itu bukan berarti bisa sesuka hati. Nyoto—salah satu orang yang paling dibenci oleh kekuasaan Orba pernah bilang “orang bisa saja mengetahui banyak hal, tetapi tidak mungkin mengetahui segalanya.” Menjadi mahasiswa memang suatu “keistimewaan”, karena dengan menjadi mahasiswa kesempatan kita untuk belajar itu lebih banyak ketimbang elemen-elemen atau kelas sosial lain, seperti kelas buruh dan kaum tani.

Tetapi, justru “keistimewaan” itulah, kita harusnya lebih bisa care dan mau bersatu dengan mereka-mereka yang minim waktu luang untuk belajar. Kita punya tanggung jawab moral dan pikiran terhadap kelas buruh dan kaum tani. Termasuk terhadap kawan-kawan pelajar—sebagai sesama kaum intelektual—untuk kita lebih saling merangkul, berbagi pikiran dan pengalaman perjuangan bersama.

Menghilangkan sikap elitis dan hal lain yang menghambat persatuan di antara kita, tak bisa memang hanya dibangun dengan dekrit atau pernyataan saja. Tetapi hal itu mesti dibangun dengan melakukan aksi-aksi bersama, diskusi bersama, baik di antara kita sebagai sesama mahasiswa maupun dengan sektor rakyat lainnya dengan lebih intens. Agar terbangun suatu kesadaran bersama, bahwa kita mempunyai nasib yang sama sebagai kaum yang tertindas oleh pemerintahan kapitalis-neoliberal Jokowi. Dengan lebih sering melakukan kerja-kerja bersama, sikap elitis bisa perlahan dapat diminimalisir atau bahkan menghilang. Hanya dengan begitulah ekslusifitas mahasiswa bisa terkikis.

Kita harus mampu melepaskan diri dan melawan budaya Orba yang diwariskan oleh angkatan ’66 yang korup, elitis, ingin populer semata, eklusif mengejar karir, dsb. Karena itulah salah satu hal yang menghambat perjuangan kita saat ini. Jangan biakan oportunisme merajalela. Bila generasi kita masih kental dengan hal-hal demikian, maka kita hanya akan mencetak Budiman Sudjatmiko atau Andi Arif-Andi Arif yang baru. Terlebih, tuntutan-tuntutan mendesak rakyat hingga hari ini belum dipenuhi oleh rezim Jokowi, saatnya berbenah demi kebaikan perjuangan!

Di tengah situasi politik pemerintahan Jokowi yang semakin menyatu dengan kelompok oposisinya saat pilpres sebelumnya, kita semua membutuhkan persatuan demokratik di antara seluruh gerakan rakyat untuk memenangkan tuntutan-tuntutan yang ada. Jokowi tanpa malu-malu merangkul Prabowo sebagai Menteri Pertahanan (Menhan)-nya. Hal ini sebetulnya bukan baru kali ini terjadi, karena memang tak ada perseteruan serius di antara mereka. Tetapi rakyatlah yang menjadi korban tipu muslihat pada saat pemilu di antara dua kekuatan para elit-elit/partai politik borjuis yang ada sekarang. Rakyat sebenarnya sangat membutuhkan politik/partai alternatif di antara kedua kubu yang sebelumnya bertarung dan pada akhirnya berakhir dengan bagi-bagi kue kekuasaan. Bagi para elit-elit/partai borjuis, perseteruan diantara mereka itu relatif, sedangkan membuat regulasi yang anti-rakyat miskin itu keharusan bagi mereka untuk saling dukung.

Kita tak bisa lagi menganggap bahwa mahasiswa cukup sebatas mengkritisi dan tidak mengambil kekuasaan politik (seperti Soe Hok Gie maksud). Adalah suatu keharusan sejarah bagi kita semua untuk membangun alat politik/partai alternatif, untuk merebut kekuasaan politik rakyat dan membangun bangsa Indonesia yang demokratis. Karena hanya dengan mengambil kekuasaan politik dari para elit/partai politik borjuis saat inilah, sistem kapitalis-neoliberal rezim Jokowi dan sisa-sisa Orba yang masih bergentayangan dalam pemerintahan Jokowi bisa dikalahkan.

Catatan:

[1] https://m.liputan.com/bisnis/read/4050253/sri-mulyani-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2019-hanya-208-persen
[2] https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190714210826-32-412032/jokowi-soal-penghambat-investasi-saya-akan-kejar-dan-hajar?
[3] https://nasional.kompas.com/read/2019/09/26/11492101/panggil-menristekdikti-jokowi-minta-mahasiswa-tak-turun-ke-jalan
[4] https://m.cnnindonesia.com/nasional/2019/0930132603-20-4353/menristekdikti-panggil-130-rektor-minta-mahasiwa-tak-demo
[5] https://nasional.kompas.com/read/2019/09/28/2320/4521/mendikbud-edarkan-surat-pencegahan-peserta-didik-ikut-aksi-unjukrasa?page=all
[6] https://tirto.id/di-balik-gembosnya-aksi-reformasi-dikorupsi-30-september-ei2y
[7] https://youtu.be/j5GkMZIdhCU
[8] https://tirto.id/sekolah-sekolah-di-zaman-belanda-bXbV
[9] https://nalarpolitik.com/pramoedya-ananta-toer-tentang-angkatan-muda/
[10] Saut Situmorang merupakan mantan ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), suatu organisasi kebudayaan yang dekat dengan Partai Nasional Indonesia. Ia seorang loyalis Sukarno yang membela Sukarno hingga akhir hayatnya. Pernah dipenjara 8 tahun oleh Orde Baru.
[11] Idealisme yang dimaksud merupakan pengertian pasaran-masyarakat awam, yaitu hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap ideal, berprinsip dan sempurna. Bukan dalam pengertian yang lebih tinggi, yakni dari sudut pandang ilmu filsafat.
[12] https://www.qureta.com/post/soe-hok-gie-di-antara-pergulatan-moral-dan-politik#
[13] ibid

0 komentar:

Posting Komentar