Senin, 25 November 2019

PGRI Non Vaksentral dan KAGI

 Didi Suprijadi*



PGRI Non Vaksentral adalah PGRI yang beranggotakan guru guru yang berafiliasi ke PKI, dipimpin oleh guru guru yang berafiliasi politik ke Pemerintah dalam hal ini Presiden Soekarno yang saat itu ditopang oleh PKI.

KAGI Kesatuan Aksi Guru Indonesia adalah kesatuan aksi yang dibentuk oleh guru guru, yang berafiliasi ke paham Nasionalis dan berazaskan Pancasila, KAGI dipimpin oleh salah satu Ketua PB PGRI yang ditopang oleh Tentara Angkatan Darat.

Awal perseteruan PKI dengan PGRI terasa saat Kongres IX (31 Oktober – 4 November 1959) di Surabaya.infiltrasi PKI kedalam tubuh PGRI benar terasa,dan lebih jelas lagi dalam kongres X di Jakarta (November 1962).

Di era Demokrasi Liberal antara tahun 1959 – 1965 ini biasa dikenal dengan prinsip “siapa kawan – siapa lawan”. Kiranya prinsip “siapa kawan siapa lawan” berlaku pula dalam tubuh PGRI.”kawan”adalah semua golongan pancasilais anti PKI yang Dalam Pendidikan mengamankan Pancasila,dan “Lawan”adalah PKI yang berusaha memaksakan pendidikan.”pancacinta”dan “pancatinggi”.

Di era ini kelompok yang dianggap lawan oleh PKI,hanya ada tiga kemungkinannya, di susupi,di pecah dua atau dibubarkan. PGRI oleh PKI berhasil dipecah dua, PGRI Kongres dan PGRI Non Vaksentral, Kemudian semua kita tahu kekuatan Pancasilais di PGRI masih lebih kuat dan mampu bertahan menghadapi tantangan tersebut.

Puncak dari perseteruan adalah ketika Kongres X PGRI dilangsungkan di Jakarta pada November 1962. Dengan semangat Manifesto Politik 1959, guru-guru yang disokong PKI melakukan “pembangkangan” di tubuh PGRI di dalam kongres.

Setelah PKI di wakili oleh guru yang ber orentasi ideology komunis tak mampu lagi melakukan taktik penyusupan terhadap PGRI, maka mereka mengubah siasat dengan melakukan usaha terang terangan untuk memisahkan dari PGRI.

Guru-guru itu melakukan eksodus besar-besaran dan membuat wadah tandingan PGRI Non-Vaksentral (PGRI NV) pada Juni 1964. PGRI Non Vaksentral dipimpin oleh guru guru yang berafiliasi politik ke Pemerintah dalam hal ini Presiden Soekarno yang saat itu ditopang oleh PKI.
Sedangkan PGRI hasil kongres di pimpin oleh M E Subiadinata menamakan dirinya PGRI kongres dan berafiliasi ke TNI angkatan darat yang ditopang kelompok Nasionalis.

KAGI (Kesatuan Aksi Guru indonesia)

PGRI bersama-sama dengan guru NU, Ikatan Guru Muammadiyah, Ikatan Guru PSII (Serikat Islam Indonesia), Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osausep), Persatuan Guru Kristen Indonesia, Ikatan Guru Katolik, Persatun Guru Islam Indonesia dan Persatuan Guru PERTI membentuk KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia).

KAGI dipimpin pertama kali oleh Drs. M. Rusli Yunus, salah seorang angguta PB PGRI, Selanjutnya KAGI terbentuk pula diberbagai provinsi.
Tiga tugas utama KAGI yaitu: Pertama, Membersihkan dunia pendidikan Indonesia dari urusan-urusan PKI dan Orde lama PGRI non Vaksentral, serikat sekerja pendidikan dan PETI (Persatun Guru Tekhnik Indonesia).

Kedua, Menyatukan guru didalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI.
Ketiga, Memperjuangkan agar PGRI menjadi organisasi guru unitaristik, independen dan non partai politik. Kelak dikemudian hari KAGI dijadikan musuh abadi oleh PKI, karena KAGI lah yang bergerak langsung menggayang dan menumpas PKI sampai akar-akarnya.

PGRI NV versus KAGI

Pergolakan keras ini menyeret PGRI Non Vaksenral ke dalam avonturisme politik baru yang selama ini samar-samar diakui.

PGRI Non-Vaksentral membawa guru bermain dalam politik praktis dengan mendukung Pemerintahan Soekarno yang didukung oleh PKI, justru awal dari hancurnya organisasi guru PGRI.

PGRI yang dibelakangnya ada Tentara, kemudian keluar sebagai pemenang dalam perebutan pengaruh politik berdarah di tahun 1965 melawan PGRI Non Vaksentral.

PGRI kongres dibantu dengan KAGI sepanjang 1966-1967 melakukan upaya pembersihan dan pengganyangan guru guru PGRI Non Vaksentral yang menjadi musuh dalam sejarah guru di Indonesia.

100 000 guru tewas dan hilang serta ribuan guru lainnya dipecat kehilangan jabatan sebagai guru. Tragedi kemanusian terhadap guru ini merupakan sejarah kelam bagi dunia guru dan pendidikan di Indonesia.

KAGI dan PGRI Kongres lah yang menekan terus untuk tidak munculnya paham Komunis di Indonesia, Sejarah mencatat PGRI hasil Kongres pimpinan ME Subiadinata bersama ABRI dan Orde Baru merupakan komponen utama dalam pemberantasan PKI di Indonesia.

Kelak dikemudian hari anak cucu keturunan PKI mempunyai perhatian tersendiri kepada PGRI ,ABRI dan Orde Baru.Untuk itu perlu kewaspadaan kita semua, anak turunan anggauta PGRI non Vaksentral dan simpatisan PKI tidak akan diam untuk melihat kejayaan PGRI.

PGRI kongres wajib meberlakukan AD ART secara benar dan konsekwen agar penyusup dan penumpang gelap tidak bisa masuk kedalam tataran pengurus, baik dari ranting sampai pengurus besar.

PGRI wajib dipimpin oleh orang yang berpaham kolektif kolegial bukan pemimpin yang otoriter dan mau menang sendiri. PGRI tetap pada jatidirinya sebagai organisasi perjuangan, profesi dan serikat pekerja.
PGRI tetap bersifat sebagai organisasi guru yang Independent, Unitaristik dan non Partai politik. Waspada..

Jakarta,29 Januari 2019

*Didi Suprijadi, Ketua MN KSPI

0 komentar:

Posting Komentar