Kamis, 15 Februari 2018

Bonnie Buru Artefak, Dolorosa Setahun Selesaikan Patung

Featured   Kamis, 15 February 2018 11:00


KOLABORASI: Iti Octavia Jayabaya menyaksikan patung Adinda saat pembukaan Museum Multatuli di Rangkasbitung (11/2). MUSEUM MULTATULI FOR JAWA POS

Orang-Orang di Balik Museum Multatuli, Museum Antikolonialisme Pertama di Indonesia
Bupati Lebak harus berhadapan dengan beragam kecaman sejak menjadikan pembangunan Museum Multatuli sebagai prioritas. Ide awal bermula dari pertemuan kecil yang melibatkan sejarawan, guru, arsitek, dan wartawan.  
ANDRA NUR OKTAVIANI, Lebak
”TEROR” itu datang bertubi-tubi kepada Iti Octavia Jayabaya. Isinya kecaman, kritik tajam, atau omongan kasar terhadap rencana bupati Lebak, Banten, tersebut mendirikan Museum Multatuli. ”Loba gaya pisan sih nyieun museum (banyak gaya sekali mau membuat museum, Red),” kata Iti menirukan salah satu kecaman. 
Ada juga, lanjut Iti, yang bilang, Lebak teu butuh museum (Lebak tidak butuh museum). ”Atau Lebak teu pantes nyieun museum (Lebak tidak pantas membuat museum),” kata Iti lagi yang menerima semua pesan itu melalui SMS (short message service) dan media sosial. 
Tapi, semua teror tersebut tak sedikit pun mengendurkan niat Iti. Hasilnya, pada Minggu lalu (11/2) resmi dibukalah Museum Multatuli, museum antikolonialisme pertama di Indonesia. Yang bisa dijangkau dari Jakarta hanya dengan merogoh kocek Rp 8 ribu menaiki kereta rel listrik (KRL).
Museum itu mengambil nama pena Eduard Douwes Dekker, orang Belanda mantan asisten residen Lebak. Lewat karya termasyhurnya, Max Havelaar (1860), dia mengisahkan penindasan dan ketidakadilan penguasa kolonial dan pribumi terhadap rakyat kecil di kawasan selatan Banten tersebut. 
Iti tentu bukan satu-satunya yang berperan dalam berdirinya museum. Ide awalnya bahkan bermula dari pertemuan kecil antara sejarawan Bonnie Triyana dan guru sekaligus penggiat kajian Multatuli Ubaidilah Muchtar, Bambang Eryudhawan dari Ikatan Arsitek Indonesia, serta wartawan Tempo Kurie Suditomo sembilan tahun silam. 
Mereka kemudian mengomunikasikannya dengan Pemerintah Kabupaten Lebak. Iti yang mulai menjabat Januari 2014 menyambut baik ide tersebut. Bahkan menjadikannya salah satu prioritas. 
Maka, dimulailah penyusunan konsep, riset, dan perburuan artefak. Menurut Ubay, sapaan akrab Ubadilah yang kini menjadi kepala Museum Multatuli, riset dilakukan sejak 2015. Termasuk untuk menentukan lokasi museum. Rumah asli Multatuli yang berada di belakang RSUD Adjidarmo Rangkasbitung dianggap kurang representatif. 
”Pada 2016 akhirnya diputuskan menggunakan eks Kantor Wedana Rangkasbitung yang merupakan bangunan cagar budaya,” kata Ubay yang juga kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.
Bonnie yang juga terlibat sebagai tim periset mengatakan, karena berbicara tentang kolonialisme keseluruhan, riset pun dilakukan dengan mencari beragam data tentang zaman tersebut. Pencarian dilakukan hingga ke Belanda. 
Sayang, pencarian itu tidak banyak membuahkan hasil. Tak banyak artefak yang bisa ditemukan. ”Tapi, kami berupaya mendatangkan beberapa barang dari sana. Ada tegel rumah Multatuli dan buku Max Havelaar cetakan pertama bahasa Prancis,” terang dia.
Setelah mengumpulkan artefak yang tidak seberapa itu, Bonnie dan tim menentukan timeline, storyline, dan konsep ruangan museum. Akhirnya diputuskanlah empat tema yang dibagi ke dalam tujuh ruangan. 
”Empat tema tersebut adalah Sejarah Datangnya Kolonialisme, Multatuli dan Karyanya, Sejarah Banten dan Lebak, serta Lebak Masa Kini,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi.
Pematung Dolorosa Sinaga ikut digandeng dalam proyek museum itu. Dosen Institut Kesenian Jakarta tersebut menghadirkan patung bermaterial tembaga yang terdiri atas tiga objek utama: Multatuli, Saidjah, dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah dua karakter yang dicuplik dari salah satu bab di Max Havelaar.
Patung Saidjah setinggi orang dewasa berada di bagian depan. Tubuhnya tegap bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana sepanjang betis. Tangannya terbuka seakan mempersilakan pengunjung untuk masuk melihat dua objek patung lainnya yang berada di atas panggung.
Di atas panggung, patung Adinda seorang diri duduk di bangku panjang. Matanya menatap lemari yang berisi beragam buku. ”Adinda digambarkan sedang melihat koleksi buku di lemari. Itu menunjukkan ketertarikannya akan sejarah,” jelas Dolorosa.
Di samping lemari, duduk sosok Multatuli. Kepalanya tertunduk menatap buku. Bukunya dibuat jauh lebih besar daripada tubuh. Dolorosa sengaja membuatnya demikian karena ada pesan yang ingin disampaikan. 
”Buku Multatuli itu melambangkan sumber persatuan yang mencerdaskan kita semua, baik pikiran maupun jiwa. Ukurannya lebih besar daripada dirinya karena buku itu sangat berharga,” terang pematung 64 tahun tersebut.
Tak mudah bagi Dolorosa membuat patung tokoh besar seperti Multatuli. ”Ya, di tengah kesibukan lain seperti mengajar, saya butuh waktu setahun (membuat patung-patung tersebut, Red),” ungkap Dolorosa.
Hasil semua kerja keras itu adalah sebuah museum yang dinilai Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid bakal membantu menjawab pertanyaan bagaimana masa kolonialisme berlangsung di tanah air. Dan bagaimana rakyat berjuang untuk keluar dari masa-masa suram tersebut.
”Museum ini merekam dan mengangkat kembali perjuangan antikolonialisme. Di Museum Nasional pun, narasi antikolonialisme kurang. Ini akan melengkapi sejarah,” katanya.
Bagi Iti, museum itu merupakan bagian upaya mengangkat Lebak dari ketertinggalan. Sebab, sebagai kawasan nonindustri, tak mudah mengajak orang datang ke kabupaten yang beribu kota di Rangkasbitung tersebut. ”Kami sudah punya akses KRL langsung ke Jakarta. Museum ini bisa jadi pintu masuk orang yang mau ke Lebak,” katanya. 
Dari Stasiun Tanah Abang, Rangkasbitung bisa dicapai dalam 1 jam 53 menit menggunakan KRL. Dengan tiket hanya Rp 8 ribu. Dari Stasiun Rangkasbitung, museum hanya berjarak 1,5 kilometer. Kalau malas jalan kaki, bisa naik angkot seharga Rp 4 ribu saja dan turun di alun-alun. 
Iti menyadari, kabupaten yang dipimpinnya memang butuh prasarana jalan yang lebih baik. Tapi, dengan dibukanya museum yang diharapkan bisa jadi ikon, roda ekonomi turut terdorong. Jika sudah demikian, ada tambahan dana untuk membangun infrastruktur yang memadai. Apalagi, agar semakin menarik bagi kaum muda, film-film pendek pun disajikan. Koleksi museum juga terus dilengkapi. 
Menurut Bonnie, Museum Multatuli sudah bekerja sama dengan Multatuli Haus di Amsterdam, Belanda, untuk mendatangkan berbagai artefak tambahan. Salah satunya payung dari abad ke-18. 
Payung tersebut, kata Bonnie, milik mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Mijer. Payung yang menjadi simbol kekuasaan feodal itu dibawa Mijer ke Belanda. ”Akan disumbangkan oleh keluarganya,” ungkap dia.
Dibukanya Museum Multatuli juga melengkapi Perpustakaan Saidjah Adinda yang sudah terlebih dahulu dibuka pada Desember lalu. ”Kami ingin museum ini menjadi tempat yang menarik dan Instagrammable. Dan akan lebih banyak orang yang datang ke sini untuk belajar sejarah,” kata Iti. 
Dalam artikelnya di Deutsche Welle, esais Anton Kurnia menulis bahwa salah seorang pengagum Multatuti adalah sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Dan Pramoedya pernah menyebutkan, politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus kejam. ”Pertama, karena dia tidak kenal sejarah Indonesia. Kedua, karena dia tak mengenal perikemanusiaan,” tulis Anton.  (*/c9/ttg)

Sumber: PontianakPost 

0 komentar:

Posting Komentar