Minggu, 25 Februari 2018

FPI Kerap Bakar Bendera PKI, Lantas Darimana Mereka Dapat Bendera Itu?


Gema Indonesia
Minggu 25 Februari 2018 - 11:27





Dalam beberapa waktu belakangan ini, isu mengenai kebangkitan PKI kembali mencuat di publik. Konon dikatakan bahwa PKI dengan jutaan anggotanya siap merebut kekuasaan di Indonesia.

Dalam beberapa momen, ormas keagamaan seperti Front Pembela Islam (FPI) pun kerap terlihat menggelar aksi demonstrasi untuk menolak kehadiran PKI kembali di Indonesia. Sembari itu, mereka sangat yakin bahwa PKI kini sedang menyiapkan kebangkitannya.

Entah darimana keyakinannya itu datang kepada mereka. Namun saat ditanya bukti, mereka pun mengaku punya buktinya.

Kemudian, untuk meyakinkan publik, mereka sering membakar bendera PKI di aksi-aksi demonstrasinya. Selain itu, mereka juga mengaku mengetahui lokasi persembunyian PKI itu.

Namun, dengan berbagai cuplikan informasi di atas, tentu kita bisa bertanya balik dengan kritis:

Pertama, "Bila ada kebangkitan PKI, dan mereka tahu titik lokasi dan buktinya, kenapa mereka tidak segera melaporkan ke pihak berwajib?"
Pertanyaan kedua, "PKI jelas sudah habis dibabat sejak pertengahan tahun 1960-an dan simbolnya telah dilarang hingga kini. Lantas dari mana anggota FPI bisa mendapatkan bendera PKI yang kerap mereka bakar saat demonstrasi?"
Kedua pertanyaan tersebut, secara kritis bisa mengarahkan kita pada titik temu mengenai motif di balik isu kebangkitan PKI saat ini.

Apalagi, sebelumnya tidak tersiar satu pun kabar bahwa FPI telah melakukan sweeping di kantor PKI dan menemukan alat bukti berupa bendera PKI. Apakah bendera PKI yang dibakar FPI turun dari langit? Rasanya tidak mungkin.

Agar dapat memiliki suatu bendera PKI, tentu hanya dengan dua cara. Pertama dari pihak lain, seperti dari hasil melakukan sweeping. Kedua dari cetak sendiri.

Dengan kondisi demikian, sekarang sudah jelas darimana FPI mendapatkan bendera PKI. Yaitu, dengan mencetak sendiri bendera PKI yang akan mereka bakar.

Hal itu kemudian dikuatkan dengan beredarnya kabar bahwa anggota Banser/Ansor NU menemukan bendera PKI di markas FPI. Bendera-bendera itu baru saja dicetak untuk dijadikan bahan kampanye dan perangkat demonstrasi.

Dengan analisa singkat tersebut, kini bisa ditarik suatu kesimpulan tentang isu kebangkitan PKI yang sering dihembuskan oleh FPI tersebut. Bahwa itu tak lain dan tak bukan merupakan isu fiktif yang sengaja disebarkan oleh FPI.

Adapun tujuan dari aksi tersebut tentu sangat politis. Yaitu, untuk menyudutkan pemerintahan yang sah saat ini. Mereka ingin menjatuhkan nama Presiden Jokowi dan partai pendukungnya sebagai katalisator kebangkitan PKI.

Mereka yang menyebarkan isu kebangkitan PKI dapat diidentifikasi sebagai pihak-pihak yang berada di seberang Istana hari ini. Hal itu sesuai dengan survei SMRC beberapa waktu lalu, dimana mereka yang percaya PKI 'bangkit' kebanyakan merupakan pemilih PKS (37 persen), Gerindra (20 persen), dan PAN (18 persen).

Kini, mereka ingin menggalang isu seakan pemerintahan Presiden Jokowi mendukung kebangkitan PKI. Tujuannya agar pemerintah mendapatkan gambaran buruk dari masyarakat.

Caranya adalah dengan membangkitkan kembali isu hantu komunis di Indonesia. Dengan begitu, memori buruk mengenai suatu rezim pemerintahan akan terbentuk dengan sendirinya. Harapannya suara Presiden Jokowi nanti akan jeblok saat Pemilu.

Namun, bila diamati sebenarnya cara adu domba ala FPI di atas tak lebih baik dari PKI itu sendiri. Mereka berusaha memecah belah masyarakat dengan desas-desus dari informasi yang sesat. Persis cara PKI saat menjelang peristiwa kudeta pada 1965 lalu.

Dengan memahami alur logika di atas, kini kita tahu bahwa di balik isu kebangkitan PKI saat ini terdapat tujuan yang politis. Isu kebangkitan PKI itu sendiri bukanlah suatu kebenaran, melainkan desas-desus yang disebarkan untuk mengacaukan masyarakat.

Untuk itu, kita tak perlu mudah terprovokasi dengan adanya isu tersebut. Selain itu, juga jangan sampai kita turut menjadi bagian dari mereka dengan menyebarkan ulang isu sesat di atas.

Sumber: Kumparan.Com

0 komentar:

Posting Komentar