Kamis, 19 Maret 2015

Menapaki Jejak Kekerasan di Pulau Kemaro

MAR 19, 2015 | TRULY HITOSORO

“Cepat…! Cepat…! Ayo, cepat naik!” Terdengar suara panggilan menggegas di siang hari di pelabuhan depan Benteng Kuto Besak, kota Palembang, 9 Januari 2015. Kapten kapal yang berpakaian serba hitam berdiri di tepi kapal sembari meneriakkan perintah. Wajahnya kelihatan tak sabar. Para penumpang kapal, termasuk saya, sontak menuruti perintah, berjalan masuk ke dalam kapal dengan patuh.

Cuaca hari itu sungguh bersahabat. Langit berwarna biru cerah dirambati gumpalan awan berwarna putih cemerlang. Waktu yang tepat untuk menyusuri sungai Musi dan mampir ke delta sungai: Pulau Kemaro, tanah kecil seluas kurang lebih 24 hektar yang menggenggam sejarah kelam sebagai tempat pembuangan ratusan tahanan politik.

Palembang, setelah peristiwa berdarah 30 September 1965, juga terlibat dalam aksi pembunuhan massal. “Banyak orang diangkut dengan truk. Bertruk-truk. Mereka dibantai, lalu mayatnya dilempar ke sungai,” ujar Rusdi (bukan nama sebenarnya), bekas tahanan politik.

Saya bertemu Rusdi sehari sebelumnya di rumahnya.  Ia salah satu dari ratusan tahanan politik yang dipenjarakan Pemerintah Orde Baru pasca peristiwa 30 September di Pulau Kemaro tanpa melalui proses hukum.
Selama lebih dari sepuluh tahun ia mesti melewati masa-masa paling menyiksa dalam hidupnya di pulau kecil itu, mengumpulkan kenangan buruk yang kelak akan mengusik masa tuanya.

Kapal nelayan yang saya tumpangi melaju gesit di permukaan sungai dan menyusup masuk ke bawah Jembatan Ampera. Saya teringat Rusdi. “Dulu,” ujarnya sambil sesekali tangannya gemetar mengelus rambutnya yang berwarna putih “banyak orang dibantai, lalu dibuang dari atas jembatan ini.”  Dari atas kapal saya memandang air sungai yang berwarna coklat gelap, mencoba membayangkan berapa banyak tubuh manusia yang tak berdaya melawan kekerasan terbaring di dasar sungai ini.

Saya memandang Jembatan Ampera–jembatan yang menjadi kebanggaan orang Palembang, dengan hati pilu. Di bawah matahari siang yang terik, tulang-tulang besi yang menjulang sebagai penopang terlihat berwarna merah. Ia seolah bercerita tentang masa lalunya yang berdarah-darah.

Rusdi kembali hadir dalam pikiran saya, seolah menceritakan kembali malam-malam paling mencekam selama sepuluh tahun paling memilukan dalam hidupnya.


“Kalau malam sekitar jam 9, ada masuk petugas (berkata), ‘Siapa yang mau ikut pikul?’ Saya buru-buru nunjuk. (Ia) bilang,  ‘Lho kok senangnya ikut mikul-mikul?’ Saya bilang daripada saya dipikul, mending ikut mikul. Gitu, lantas, dipukul, dibawa ke motor, motor sungai kan. Di atas motor itu sudah disediakan besi… kadang besi pelat, kadang ‘H’, kadang ‘U’  sisa pembangunan Jembatan Ampera. Besi tu dipotong-potong, ikatnya itu kawat duri itu, jadi mayat itu ditumpuk  di atas besi-besi itu, diikat dengan kawat..”

Saya mencoba membayangkan kejadian saat itu. Kapal-kapal motor, di tengah pekatnya malam, hilir-mudik mengangkut tubuh-tubuh tak berdaya yang terikat kawat duri untuk diceburkan ke dalam sungai yang dingin. Saya menatap air Sungai Musi. Tak nampak dasarnya.  Suara Rusdi kembali bergema dalam pikiran saya.

“Satu hari itu minimal 5 orang. Pernah sampai 16 orang. Itu tinggal kerangka, tinggal kulit dengan tulang. Pernah kami ini mikul, satu kali pikul 16 orang.”

Sungai Musi kini adalah sebuah sungai yang penuh dengan kehidupan. Beberapa kapal  parkir di tengah sungai. Ada kapal besar bermuatan batu bara, kapal berukuran sedang, dan kapal kecil dengan nelayan yang sabar menanti ikan. Ia melambaikan tangannya waktu kami melintas. Di kanan sungai, sederet rumah mengapit bangunan klenteng berwarna merah dan musala berwarna hijau cerah. Tak jauh dari situ, kapal besar berwarna putih bersih, mengapung, membawa papan bertuliskan kalimat: Klinik Terapung.

Makin menjauh dari Pelabuhan Benteng, berbagai bangunan kawasan industri, milik PT Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju, berbaris memadati tepi sungai. Pangkalan armada Angkatan Laut berada di antaranya. Bangunan ini berwarna abu-abu dan nampak paling terawat dibanding bangunan besi di sekitarnya.

Setelah hampir lima kilometer berjalan dari Jembatan Ampera, sebuah bangunan beratap merah mencuat dari kejauhan. Inilah Klenteng Kuan Im, sebuah klenteng tua, yang berdiri di atas pulau tujuan saya. Semakin mendekati pulau, kapal melambat, merapat perlahan ke dermaga.

Klenteng Kuan Im (dokumentasi foto oleh Gunawan)

Para penumpang pun bergegas turun, termasuk saya. Saya lantas  berjalan masuk ke pelataran klenteng. Tulisan “Selamat Datang” terpampang jelas di papan di pintu masuk. Saya berjalan perlahan, mengamati keadaan sekitar klenteng. Bangunan ini terlihat rapi.

Berdasarkan cerita Rusdi, kamp Pulau Kemaro dikelilingi oleh dua lapis pagar. Di tiap sudut, ada pos dengan empat orang penjaga mengawasi dengan ketat. Saat itu, walau tak banyak jumlahnya, masih ada penduduk asli yang bermukim di pulau. Akibatnya, pulau dibagi dua: Hulu menjadi pemukiman penduduk, sedangkan bagian hilir menjadi kamp tahanan politik yang dijaga dengan ketat dan khusus oleh Polisi Militer dan Angkatan Darat. Bila ada kapal yang mendekati kamp, penjaga yang ditempatkan di enam titik pos akan siap menembak (Anisa, Ali Imrom & Muhammad Basri, 2012: 5).

Kini, pohon-pohon tinggi yang rindang memenuhi dan menjaga halaman klenteng. Bayang-bayangnya memayungi jalan setapak menuju pagoda bertingkat sembilan. Klenteng ini dibangun tahun 1962, sedangkan pagoda dibangun lama sesudahnya. Klenteng Kuan Im yang bersahaja ini juga menjadi salah satu saksi dari kehidupan para tahanan politik yang dibuang di Pulau Kemaro sejak tahun 1965.

Dengan detil Rusdi menuturkan:

“Kebanyakan, kematian itu karena lapar, (kecuali) yang penyiksaan itu, pada waktu, itu apa namanya apa tuh Oktober Pembalasan, yaitu malam 30 September, malam tanggal 29 September, malam tanggal 30 September, malam tanggal 1 Oktober, 3 malam berturut-turut. itu pembunuhan massal.

“Pada waktu mulai jam 11 malam, lampu dimatikan, kemudian salah seorang petugas itu membuka pintu, dipanggil, si anu keluar. Gak masuk lagi. Si anu keluar, gak masuk lagi. Sampai jam 2 malam…Rupanya, waktu siang tanggal 28 itu didaftarkan seluruh (penghuni) barak itu. Waktu itu, kalau gak salah kami lebih kurang mungkin 200 lebih. Sekitar 260 atau 270. Didaftar, rupanya yang dipanggil ini yang dari anggota PKI dan Pemuda Rakyat… Nah, sudah malam ketiga mulai lagi pemanggilan.”

Kisah tersebut mengingatkan saya pada dokumentasi pelanggaran HAM di Indonesia yang dibuat oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada isu-isu hak asasi manusia: kurang-lebih 30 ribu orang di Sumatera Selatan, hilang tanpa proses hukum. Tahanan dari Sungai Liat Belinyu, Bangka, sekitar 200 orang, dan tahanan dari Pulau Bangka sekitar 300 orang (Elsam, 2015). Belum lagi ratusan dari tempat lainnya, turut memenuhi pulau.

***

Pulau ini memang tak pernah sepi manusia. Taufik, seorang wartawan lepas yang sedang berada di klenteng, bercerita soal ramainya Pulau Kemaro ketika perayaan Cap Gomeh. Orang-orang berduyun-duyun datang memenuhi pekarangan klenteng. Bahkan pengunjung dari negeri tetangga pun turut hadir. 
Terbayang di benak saya hiasan lampion kecil berwarna merah bergelantungan, kelap-kelip cahaya lilin merah, warung-warung yang menjual pelbagai makanan dan minuman dan senyum dan tawa ceria pengunjung perayaan yang memenuhi pulau dengan keriaan.

Berbeda dengan hidup mereka, sebagaimana kisah Rusdi, para tahanan politik merasakan getir karena derita, siksa dan penahanan di pulau ini.

“Kami datang di situ pada waktu bulan Juli 66. Makannya masih dua kali sehari, tapi kira-kira tidak sampai paling-paling 100 gram. Paling banyak 100 gram, sayur nangka, sayur gori kata orang Jawa, dua-tiga potong begitu. Nah, kadang-kadang kangkung, dua-tiga potong. Nah, kemudian itu hilang. Berapa hari gak dikasih makan. Cuma dikasih air minum.
Sudah itu diganti dengan jagung. Itu tiap-tiap jam 12 siang, jadi 24 jam itu cuma makan sekali. Jagung itu kita hitung antara 25 butir sampai 30 butir. Bayangkanlah, kalau satu tongkol jagung itu buat makan enam orang tujuh (orang) itu. Bahkan orang 10…”

Taufik menemani saya menapaki jalan menuju Pagoda. Asap dari kertas berisikan doa terlihat membumbung ke langit. Dengan simpatik ia menunjukkan dan menjelaskan beberapa titik wisata di pulau ini. Langkah kami pun terhenti di sebuah pohon besar yang dikelilingi pagar bambu. Letaknya bersebelahan dengan pagoda. “Ini namanya Pohon Cinta, biasanya pasangan suka datang ke sini, supaya bisa jadi jodoh,” cerita Taufik sambil tersenyum. Terlihat dari kejauhan batang-batang pohon menjuntai dan menjulur panjang, dipenuhi dengan guratan-guratan nama. Saya bertanya-tanya, apakah ada tahanan politik yang coba mengguratkan nama kekasihnya di sini? Suara Rusdi kembali terdengar berbisik.

“Istri saya kan suka masak air, diam-diam dimasukkan dari lubang…sampai dipanggil Komandan.”

Dokumentasi foto oleh Gunawan

Seperti mitos kisah cinta Siti Fatimah, putri dari Kerajaan Sriwijaya dan Tan Bun An, pangeran dari Negeri Cina yang tenggelam di sungai sekitar Pulau Kemaro, tak sedikit juga kisah cinta tragis dari para tahanan politik di sini. Bila Siti Fatimah dan Tan Bun An membawa cintanya hingga ke liang lahat, beberapa tahanan politik harus menguburkan cintanya di pulau ini. Mereka harus kehilangan pasangannya sejak dalam pembuangan. Ada yang menghilang entah ke mana, ada yang menikah lagi dengan orang lain, bahkan ada pasangan sesama tahanan politik yang hubungannya kandas setelah masa tahanan usai.

Dalam pertemuan yang sama sehari sebelumnya, Rusdi yang kini hidup dari berkebun bercerita, ia ditinggal kawin oleh istrinya yang sudah bebas terlebih dulu. Setelah bebas dari penahanan di Pulau Kemaro, Rusdi kembali ke Palembang dan mendapat kabar dari seorang petugas jaga jika istrinya sudah menikah lagi. Ia terkejut, tapi tak bisa menyalahkan istrinya, karena sebelumnya ia diberitakan akan dibuang ke Pulau Buru entah untuk berapa lama. Nasib baik masih meliriknya. Ia dibebaskan sebagai tahanan pulau, walau bersama sekitar 125 orang lainnya harus menjalani status sebagai tahanan rumah. Tahanan politik lainnya ada yang bernasib lebih naas. Ia ditembak mati di hutan, karena dikira suami dari seorang perempuan yang diinginkan oleh seorang tentara.

Saya dan Taufik kembali melangkah, menapaki jalan di sekitar pagoda yang teduh dan sejuk. Beberapa pasangan tampak bercengkerama di bawah pohon. Taufik melanjutkan,”Biasanya lebih banyak lagi yang datang kalau pas musim liburan.”

Beberapa warung yang buka di sepanjang jalan setapak sepi pengunjung hari ini. Seorang pedagang memamerkan kaos sablon bergambarkan pagoda dengan tulisan Pulau Kemaro. “Dibeli mbak, buat oleh-oleh. Ada pagoda mini juga,” ujarnya seraya mengeluarkan pagoda mini dari sebuah rak didekatnya. Selain warung yang menjual oleh-oleh, tampak warung lainnya yang berjualan kelapa muda, kopi, teh, dan penganan ringan. Bungkusan kopi instan, bertumpuk-tumpuk memenuhi tiang warung. Deretan mie instan pun berjajar di rak.

Kisah Rusdi kembali terngiang. Setiap hari, ia diminta bekerja di luar. Suatu hari, ia mampir ke sebuah warung kopi, sebelum bekerja. Di situ ia minta kepada pembantu warung untuk tidak membuang kulit pisang, ubi kayu dan selo, supaya bisa dibawa untuk dimakan. Usai kerja ia kembali ke warung untuk mengambil pesanannya. Tak disangka, pembantu warung memenuhi plastik dengan pisang goreng, ubi rebus, dan pepes ikan. Dengan penuh haru, ia santap makanan mewah itu, bersama kawan-kawan lainnya.

Juru kunci klenteng tampak sedang menyapa para pengunjung. Ia tersenyum ramah. Lagi, saya teringat kisah tentang seorang petugas penjaga tapol yang turut prihatin akan kondisi para tahanan politik di Pulau Kemaro.

“…Gak usah kamu makan ikan itu. Kalau kamu makan kan, gak akan kenyang kamu itu. Kamu bawalah ke warung, kamu jual untuk tukar dengan beras.”

Inilah Pulau Kemaro, pulau yang sempat ditakuti karena dianggap mengekap maut. Air sungainya sempat dipenuhi dengan bangkai manusia, hingga hasil sungainya berupa ikan dan udang pun sempat orang segan memakannya. Kini, tak nampak sama sekali bekas jejak kekerasannya. Penduduk asli yang beragama Islam pun hidup berdampingan dengan pendatang Tionghoa yang beragama Budha. Kehidupan tampak harmonis. Walau begitu, jejak kelam tentangnya, selalu akan ada. Seperti dalam benak Rusdi yang akan selalu mengingat berbagai kisah diatas tanah pulau ini.

Penulis adalah Peneliti Pusat Kajian Kriminologi, Universitas Indonesia  

0 komentar:

Posting Komentar