Jumat, 27 Maret 2015

Minang Kiri Sebelah Bofet Merah


Wenri Wanhar - 27 Maret 2015

Sumatera Thawalib jadi lahan subur tumbuhnya gerakan komunisme di Sumatera Barat. Saling silang pertarungan gagasan.

Bekas kantin Bofet Merah, sekarang jadi kantin Jujur. Foto: Jose Hendra/Historia.

KANTIN itu masih kantin yang dulu. Satu-satunya kantin di lingkungan Perguruan Thawalib Padang Panjang, Sumatera Barat.
“Dulu, kantin ini namanya Bofet Merah,” kata A. Rahman Yusuf, Ketua Yayasan Perguruan Thawalib, saat berbincang dengan Historia di depan kantin tua yang kini berganti nama jadi Kantin Jujur.
Bofet berasal dari bahasa Perancis, buffet. Artinya rak yang berdiri di ruangan makan, tempat menyimpan makanan untuk disajikan. Entah bagaimana pangkalnya, sampai hari ini, selain lapau, urang awak menyebut kedai atau warung makan dengan sebutan bofet.
“Bofet Merah itu tak hanya nama kedai. Tapi juga nama organisasi. Semacam koperasinya anak-anak Thawalib. Menjual kopi, dan aneka kebutuhan harian,” kenang Rahman.
Di kantin inilah persemaian bibit komunisme di ranah Minang bermula. Kantin tersebut pernah menjadi markas orang-orang kiri. Djamaludin Tamim dalam Sedjarah PKI menulis, organisasi Bofet Merah berdiri lima hingga enam bulan sebelum lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) di Semarang pada 1920.

Orang-orang Bofet Merah menerbitkan dua surat kabar, Djago-Djago! dipimpin Natar Zainuddin dan Pemandangan Islam yang pemimpin redaksinya Datuak Batuah. Donatur utama dua surat kabar tersebut Abdullah Basa Bandaro, seorang saudagar di Padang. Dia termasuk orang yang membawa Sarikat Islam ke Sumatera Barat.
“Pada awal tahun 1923 Datuk Batuah melawat ke Jawa dan juga ke Sigli. Di Jawa ia bertemu dengan Haji Misbach, tokoh Islam-komunis yang menarik perhatiannya karena mengadopsi komunis ke dalam Islam,” tulis Mestika Zed dalam Pemberontakan Komunis Silungkang 1927: Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat.
Tahun itu juga organisasi Bofet Merah menjelma jadi PKI cabang Padang Panjang. Posisi ketua dijabat Datuak Batuah. Sekretaris dan bendahara dijabat Djamaludin Tamim. Keduanya tokoh muda dan guru Sumatera Thawalib.
“Maka mulailah pelajaran di Thawalib mendapat jiwa baru, jiwa Islam yang revolusioner,” tulis Hamka dalam Kenang-Kenangan Hidup Jilid I. Paham ini lekas menyebar. Menurut Hamka, masa itu di Padang Panjang sering dijumpai kelompok-kelompok pemuda menyanyikan lagu Internasionale, 1 Mei, Kerja 6 jam sehari dengan bersemangat. Termasuk dirinya.
Bagi mereka, komunis sesuai dengan ajaran Islam. Sama-sama antipenindasan. Sama-sama membela kaum mustada’afin, kaum yang tertindas atau kaum proletar dalam terminologi Marxist.

Sumatera Thawalib didirikan dan dipimpin Haji Rasul, ayah Buya Hamka pada 1912. Diakui sebagai sekolah modern Islam pertama di Indonesia. Perpustakaan di sekolah ini, selain mengoleksi kitab-kitab agama, juga buku-buku politik, ekonomi, sosial dari macam-macam negara.

Dan juga, “berlangganan surat kabar dari berbagai negeri,” tulis Datuk Palimo Kajo dalam Sedjarah Perguruan Thawalib Padang Pandjang. Nah, berita-berita tentang revolusi Bolshevik 1917 di Rusia, yang ramai diulas suratkabar masa itu, menjadi bacaan dan buah bibir di Thawalib.

Menurut guru besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, orang-orang di Sumatera Thawalib sudah mempelajari marxisme sejak awal abad 20. 
“Langsung dari buku berbahasa aslinya. Bukan terjemahan,” katanya kepada Historia di Padang Panjang, tempo hari.

0 komentar:

Posting Komentar