Minggu, 29 Maret 2015

Sulawesi Bersaksi: Tuturan Penyintas Tragedi 1965

29/03/2015

 Sulawesi Bersaksi: Tuturan Penyintas Tragedi 1965 
 Tuturan Penyintas Tragedi 1965 
 Alamsyah A.K. Lamasitudju, Gagarisman, Muh. Abbas, Nurlaela A.K. Lamasitudu, Putu Oka Sukanta (Ed). 
 Esai 
 Lembaga Kreativitas Kemanusiaan 
 2013 
 21 x 14,8 cm 
 xiv + 224 hal. 
 

Buku ini merupakan kisah dari korban peristiwa tahun 1965 yang dipenjarakan tanpa tahu kesalahan mereka. Kisah-kisah yang ditulis oleh generasi muda Sulawesi ini bercerita tentang pengalaman mereka selama berada dalam penjara dan pergulatan mereka setelah keluar dari ambang pintu penjara.
Disunting oleh penulis Putu Oka Sukanta, yang pernah dipenjara selama 10 tahun oleh Orde Baru, buku tersebut, ditulis oleh para aktivis HAM muda dari Sulawesi Tengah, mengetengahkan wawancara dari seorang yang membantu pembunuhan empat orang tahanan di provinsi tersebut, selain juga memuat wawancara dengan 12 penyintas dan anak serta istri penyintas yang pernah disiksa, dipenjara, dan dipaksa bekerja setelah tragedi 30 September 1965.


Sejarawan Hilmar Farid mengatakan pada diskusi di Goethe Institut di Jakarta bahwa buku ini luar biasa karena kebanyakan laporan mengenai 1965 terpusat di sekitar Jawa, “Ketika Sulawesi maju ke depan, harus kita sampaikan pujian.”
Gagarisman, anak seorang pimpinan PKI Sulawesi Tengah, membacakan sebuah puisi di panggung di Goethe, menceritakan kisah keluarganya setelah ayahnya, Abdul Rahman Dg. Maselo ditahan pada 1965 dan dinyatakan hilang pada 1967.
Mereka tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang terjadi pada Maselo sampai 2007, ketika seorang pensiunan tentara, Ahmad Bantam datang dan menceritakan kepada keluarganya apa yang terjadi.
Bantam mengatakan bahwa ia dan dua sejawat berpangkat kopral pernah menggali dua lubang di sebuah bukit antara Donggala dan Palu. Ia mengatakan bahwa ia diperintah oleh atasannya, Kapten Umar Said, untuk duduk di mobil sementara Umar, dua tentara lain, dan seorang yang bersenjata api Sten mengawal tiga tawanan yang terikat, termasuk Maselo, ke lubang tersebut.
Terdengar suara letusan keras dan tiga orang tersebut kembali tanpa tahanan, kata Bantam.
Cerita Bantam, disampaikan lewat wawancara dengan Nurlela AK Lamasitudju, atau Ella, adalah satu-satunya laporan dari seorang yang membantu pembunuhan.
Semua laporan yang ditulis oleh Ella, Alamsyah AK Lamasitudju, Gagarisman, Muhammad Abbas, dan Nurhasanah, didasarkan pada wawancara mereka yang didukung oleh kelompok advokasi hak azasi manusia SKP HAM Palu, tempat Ella bekerja.
Sebagian besar penutur cerita berasal dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Ella mengatakan bahwa SKP HAM telah mendokumentasikan 1.210 cerita korban di Sulawesi Tengah, dan beberapa lagi di provinsi lain.
Buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan dan didukung oleh Tapol Campaign (London), adalah bagian dari kerja SKP HAM untuk menjelaskan apa yang terjadi di Sulawesi, terutama di Palu.
Kerja bertahun-tahun ini telah menghasilkan sebuah permohonan maaf dari pejabat publik, suatu hal yang sangat langka di Indonesia. Pada Maret 2012, setelah melewati banyak diskusi, Walikota Palu Rusdy Mastura menyatakan permohonan maaf secara terbuka kepada korban dan penyintas pembantaian di Palu.
Walikota Palu mengatakan bahwa para penyintas, sebagian besar adalah orang-orang berusial lanjut yang telah dimiskinkan selama ini, akan mendapatkan layanan jaminan kesehatan dari anggaran pemerintah kota.
Sumber: Skp-HAM.Org 

0 komentar:

Posting Komentar