Kamis, 24 Mei 2018

Kesaksian Dua Jenderal

Martin Sitompul | 24 Mei 2018, 17:00

M. Jasin dan Benny Moerdani masih sempat melihat keruntuhan Orde Baru. Sikap berbeda diperlihatkan oleh keduanya.


 Benny Moerdani dan M. Jasin. Sumber: Wikipedia dan repro buku "M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto".

Letjen (Purn.) M. Jasin berusia 77 tahun ketika rezim Soeharto tumbang pada Mei 1998. Selama berkuasa, pemerintah Orde Baru mencekal Jasin dan mempersulit kehidupannya. Menjalani masa sulit sebagai pesakitan politik, Jasin hanya mengingat pesan Mr. Hardi, wakil perdana menteri sewaktu dirinya masih mengemban jabatan Panglima Kodam Iskandar Muda di Aceh.  
“Pesan Pak Hardi hanya satu, yang terpenting jaga kesehatan, agar nanti bisa menyaksikan durian jatuh,” kata Jasin kepada wartawan senior Julius Pour dalam “M. Jasin, Figur Seorang Perwira” termuat dikumpulan tulisan Warisan (daripada) Soeharto. Tanpa mengubah nada bicaranya, Jasin menambahkan, “Benar’kan, duriannya sekarang sudah lengser kebawah.”
Durian yang dimaksud Jasin tak lain Presiden Soeharto. Meski Soeharto lengser, Jasin belum cukup puas. Baginya kebenaran tetap harus tersingkap. Menurutnya, tak berbilang lagi jumlah orang yang masuk penjara akibat tangan besi pemerintahan Soeharto. Juga yang lenyap entah kemana.
“Masyarakat dipimpin dengan menyebarkan berbagai rekayasa yang menciptakan ketakutan. Stabilitas politik dijalankan dengan represi,” kata Jasin dalam pengantar otobiografinya M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto.
Mengadili Soeharto
Reformasi bergulir. Muncul wacana untuk menyeret Soeharto ke pengadilan. Jasin menjadi salah satu tokoh sepuh militer yang mendukung proses hukum terhadap Soeharto. Dia pun menolak tegas wacana amnesti terhadap Soeharto dengan syarat menyerahkan 55 persen harta kekayannya kepada negara.
Untuk mengadili Soeharto, Jasin menyurati sejumlah tokoh-tokoh penting. Mereka diantaranya adalah Presiden Habibie, Panglima ABRI Jenderal Wiranto, Jaksa Agung Letjen Andi Muhammad Ghalib, Wakil Jaksa Agung Ismudjoko hingga mantan wakil presiden Try Sutrisno. Jasin juga menuliskan pendapatnya mengenai Soeharto di beberapa suratkabar.
Kepada Presiden Habibie, misalnya. Dalam surat bertanggal 26 Mei 1998 itu, Jasin berpesan agar Habibie jangan ketularan nepotisme seperti Soeharto dan terus menegakkan reformasi. Jasin juga meminta diadakan pengusutan terhadap harta kekayaan Soeharto yang dananya tersimpan di sejumlah yayasan. Selain itu, Jasin mengangkat kembali kasus peternakan Soeharto di Tapos dan Ciomas yang sarat penyimpangan kekuasaan. Hal itu disampaikannya kepada Andi Muhammad Ghalib dan Ismudjoko.  
“Serahkanlah pemimpin yang bersalah kepada hukum yang berlaku, sama seperti semua Warga Negara Indonesia lainnya. Tidak perlu diberikan keistimewaan berlebihan,” tulis Jasin kepada Jenderal Wiranto dalam surat bertanggal 8 Juni 1998.
Proses hukum itu tak kunjung tiba hingga Soeharto wafat pada 2008 menyusul kemudian Jasin pada 2013.
Loyalitas Tanpa Batas
Lain Jasin, lain pula Benny Moerdani. Pada awal 1990, Soeharto yang mulai merapat ke kalangan Islam tak lagi membutuhkan Benny sebagai “penjaga” sekaligus orang kepercayaan. Benny terdepak lantaran menyarankan Soeharto untuk memperhatikan bisnis anak-anak dan mantunya yang sudah “keluar jalur”. Merasa keluarganya diserang, Soeharto tersinggung. Pelan-pelan, peran Benny dilucuti. Si Raja Intel pun tersingkir.
Roda hidup terus berputar. Mei 1998, giliran Soeharto yang tersingkir dari tampuk kekuasaan. Bagaimana sikap Benny? Alih-alih ikut menjungkalkan Soeharto, Benny tetap memperlihatkan diri sebagai loyalis. Menurut Jusuf Wanandi, orang dekat Benny di lembaga CSIS, kesetiaan Benny kepada Soeharto berlaku selamanya.
“Setelah ia turun dari jabatannya pun, Benny tidak pernah menjelek-jelekkan Soeharto,” ujar Jusuf Wanandi dalam memoar Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998. “Ia selalu setia, seorang tentara yang loyal, karena ia bukan politikus.”
Kendati keadaan telah berubah, Benny masih menjadikan Soeharto sebagai junjungannya. Benny akan menghardik dengan suara keras tiap kali ada pembicaraan yang bernada kritik menuju Soeharto. “Begitu kerasnya, sehingga teman-temannya ketakutan dan langsung menutup pembicaraan,” tulis Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis.
Jusuf Wanandi menyaksikan betapa marahnya Benny kepada Fikri Jufri - wartawan Tempo - yang menceritakan lelucon mengenai Soeharto di depan  Benny. 
"Dia mengancam Fikri dengan pistol, padahal waktu itu Benny sudah lama pensiun," tutur Wanandi. 
Pada 15 Desember 1998, Soeharto dan Benny bertemu di rumah Jalan Cendana atas perantaraan Mbak Tutut. Pertemuan itu adalah kali pertama setelah acara pemakaman Ibu Tien Soeharto pada April 1996. Reuni berjalin diantara keduanya. Soeharto bingung memahami apa yang terjadi pada kekuasaannya.
Sebagaimana dikisahkan Jusuf Wanandi, satu-satunya pertanyaan yang disampaikan Soeharto adalah, “Ben, bagaimana ini bisa terjadi? Apa sebenarnya yang terjadi?” Benny lantas menceritakan semuanya selama satu setengah jam.
 “Bapak sekarang tahu, karena Bapak tidak percaya kami,” jawab Benny. Yang dimaksud "kami" oleh Benny tentu saja adalah  ABRI.   
Patron dan klien yang sempat menjauh itu itu pada akhirnya  berdamai. Pada 29 Agustus 2004, Soeharto menyempatkan melayat ke rumah Benny. Di depan jenazah Benny yang telah mendahului, Soeharto membacakan doa buat loyalisnya yang sempat dia "buang" tersebut.
“Kesetiaan Benny kepada Pak Harto tidak pernah luntur dan tetap dengan kesetiaan luar biasa dia bawa sampai ke liang kubur,” tulis Julius Pour.
Sumber: Historia 

0 komentar:

Posting Komentar