Rabu, 02 Mei 2018

Letjen.Purn. Johny Lumintang Tantang Prabowo Subianto Buka Kartu


Tentang MEI 1998 - Wiranto, Prabowo dan Lumintang

Ilustrasi: Johni Lumintang dan Prabowo Subianto [ist]

JAKARTA, (TNI Watch!). Letjen TNI Johny Lumintang, menantang Letjen (Purn) Prabowo Subianto, untuk tidak kepalang tanggung membongkar peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Prabowo, mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad, berencana menulis buku tentang Kerusuhan Mei 1998, yang menyebabkan jatuhnya Soeharto dan dicopotnya Prabowo dari jabatan prestisius Pangkostrad.

Johny menantang Prabowo agar jujur jika buku itu ditulis dari berbagai peristiwa seputar Kerusuhan Mei 1998 tersebut. 
"Lebih baik kalau dia buka-bukaan, semuanya. Dan harus fair. Misalnya, mengapa saya kok cuma menjabat Pangkostrad selama 17 jam," ujar Lumintang.
Lumintang, lulusan Akmil 1970, memang memiliki dendam tersendiri di seputar peristiwa itu. Setelah Soeharto jatuh, pada 21 Mei 1998, Panglima ABRI, Jendral TNI Wiranto mencopot Pangkostrad Prabowo dan menggantikannya dengan Johny Lumintang. Tapi belum sehari memimpin kesatuan terbesar di Angkatan Darat itu, Lumintang sudah diganti jendral lain, yakni Mayjen TNI Djamari Chaniago. Hingga kini, tidak ada pemberitahuan resmi kepada Lumintang, mengapa ia dicopot dalam 17 jam. 
"Saya kaget waktu itu," ujar Lumintang. Ada yang bilang, ini karena desakan kubu "ABRI Hijau", yakni jendral-jendral yang menggunakan politik aliran (Islam) pimpinan Prabowo, karena Lumintang adalah jendral Kristen.
Lumintang adalah orang Manado. Ia dan Prabowo sebenarnya masih saudara. Prabowo masih adik sepupu Lumintang. Ny. Soemitro Djojohadikusomo, ibu Prabowo, adalah seorang perempuan asal Manado dan beragama Kristen. Dari Ny. Soemitro inilah hubungan keluarga Prabowo dan Lumintang terjadi. Namun, kendati mereka berdua masih saudara, jalan yang ditempuh masing-masing berbeda. Prabowo, lulusan Akmil 1974, memilih jalan politik aliran di klik "ABRI Hijau", sedangkan Lumintang memilih berada di jalur ajaran Panglima Besar Jendral Soedirman, menjadi TNI yang Nasionalis. Ia tergabung di kelompok "ABRI Merah-Putih."

Permusuhan Lumintang vs Prabowo sudah dimulai sejak Lumintang jadi Komandan Korem 164/Wiradharma Timor Timur (1993-1995). Prabowo, sebagai Wadanjen Kopassus, sering melakukan operasi-operasi intelijen dan operasi militer di Timor Timur, di luar pengetahuan Lumintang.

Lalu, pertikaian keduanya berlanjut ketika Prabowo dan pasukan Kopasusnya datang ke Irian Jaya (kini Papua) untuk ikut menangani kasus penyanderaan sejumlah peneliti oleh gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM), 1996. Prabowo ketika itu Danjen Kopasus dan Lumintang adalah Kasdam XII/Trikora. Kodam Trikora, ketika itu Pangdamnya Mayjen TNI Dunidja, marah karena pasukan Prabowo tidak mau tunduk di bawah komando Panglima Kodam, dan bahkan melancarkan operasi sendiri, tanpa koordinasi dengan pasukan Kodam.

Soal rencana Prabowo menulis buku seputar peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Lumintang akan akan menyumbangkan versinya. Lumintang menyebut nama Jendral Wiranto yang menurutnya memegang banyak kunci dan mantan peristiwa itu.

Peristiwa Mei merupakan rencana Mabes ABRI ketika itu untuk "membakar" Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Tujuannya, seperti skenario Malari, mengkambinghitamkan mahasiswa sebagai penyebab tragedi itu. Ketika itu, para komandan tentara memerintahkan pasukannya berdiam dimarkas-markas, dan para jendral yang bertanggungjawab atas keamanan, terbang ke Malang karena ada pelantikan Panglima Divisi II/Kostrad (termasuk Prabowo yang ketika itu Pangkostrad). Sepulang dari Malang para jendral itu berkumpul di Mabes ABRI, memantau Jakarta dilalap kerusuhan, pembunuhan, perkosaan dan penjarahan.

Jika Prabowo mengungkap semuanya, hampir semua jendral Angkatan Darat yang kini masih aktif, akan terseret dalam tanggungjawab. Makanya, Wiranto dan jendral-jendral yang dulu memegang kendali keamanan ibukota, kini ketar-ketir.

Beranikah Prabowo mengungkap semuanya? Atau ia hanya akan mengungkap secuil kisah yang akan membersihkan namanya dari tuduhan perencana kerusuhan dahsyat itu?

Jika Prabowo berani benar-benar terbuka dan bersikap obyektif dalam penyusunan buku putihnya, diperkirakan akan banyak masalah yang terungkap. Baik yang masih benar-benar belum diketahui masyarakat luas, maupun yang pernah berkembang sebagai isu tanpa pernah diklarifikasi secara benar.

Di antara peristiwa tersebut, adalah beberapa kebijakan Jenderal TNI Wiranto yang dinilai bermotif memanfaatkan keadaan di masa pra dan pasca kerusuhan Mei, untuk menyingkirkan elite militer yang dianggap berpotensi untuk menjadi pesaingnya di TNI. Antara lain, Prabowo sendiri.

Sumber: politikus sipil, anonim, Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar